Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 36



Sinful Angel Bab 36


Bisma, Marsha dan Jerry keluar dari kamar perawatan Tya beriringan. Meninggalkan Tya sendiri dengan sejuta tanya menjejali otak. Hasrat hati ingin menyusul. Namun, apa daya tubuhnya yang terasa remuk redam tak leluasa bergerak, membutuhkan bantuan orang lain.


Bisma memimpin jalan, menuju sebuah kafe di seberang rumah sakit. Menghindari berbincang topik semacam ini di area rumah sakit, khawatir mengganggu ketenangan orang lain.


“Berapa total yang harus saya bayar?” tanya Bisma begitu pinggulnya mendarat di kursi kafe.


Si duda tampan bersahaja itu to the point saja. Tak berminat berbasa-basi, ingin secepat mungkin menyelesaikan urusan Tya dengan Marsha lantaran setelah ini dia punya urusan lebih panjang dengan Tya. Konsekuensi dari sikap impulsifnya pasti membuat Tya kebingungan, dan penjelasan panjang lebar mutlak diperlukan.


“Totalnya jadi 17 juta, Mas Ganteng. Tapi bisa didiskon sih, dengan syarat Mas Ganteng memakai jasa Date House sekali lagi kalau butuh jasa serupa, jangan pakai jasa lain. ” Jerry menjawab sembari tersipu-sipu. Mengedip-ngedip penuh genit, bertumpang kaki gemulai, sedangkan Bisma terlihat ingin muntah dengan reaksi Jerry yang kentara berminat padanya.


Marsha membeliak. Menginjak kaki Jerry menggunakan hak sepatu tingginya seraya memelotot memperingatkan agar jangan main-main dengan angka rupiah yang sangat disukainya.


“Dia hanya asal bicara, Pak Bisma. Totalnya 17 juta tanpa ada diskon sedikit pun,” jelas Marsha cepat, menjegal mulut Jerry yang hendak terbuka lagi.


“Baik, akan saya transfer uangnya sekarang juga ke rekening yang sama seperti transaksi minggu lalu. Tapi, saya butuh perjanjian tertulis hitam di atas putih, di sini, sekarang juga, saat ini juga sebelum uangnya masuk ke rekening Anda. Saya ingin, Anda secara tertulis mengeluarkan Tya dari Date House, karena setelahnya Tya akan terikat kontrak kerja dengan saya, akan menjadi karyawan saya di perusahaan sebagai cara pelunasan ganti rugi. Saya butuh berkas fisik karena saya tidak mau merugi dua kali. Sebagai pebisnis saya selalu belajar dari pengalaman," tegas Bisma tanpa senyuman sedikit pun. Mempertontonkan mimik marah. Nada bicaranya meninggi, jelas tak menerima bantahan.


“Jerry, ambil tas hitam berisi berkas perjanjian untuk agen di mobil, waktumu lima belas menit!” titahnya pada Jerry yang meringis menahan nyeri bekas injakan kaki Marsha. Meski terpincang-pincang, Jerry pontang-panting menuju mobil Marsha yang terparkir di parkiran rumah sakit.


“Jangan lupa ya, Pak. Totalnya 17 juta. Kalau di lain waktu Anda butuh jasa Date House lagi, barulah nanti saya beri potongan harga,” kata Marsha bersemangat dengan mata berbinar, tak sabar menanti nominal uang tujuh belas juta masuk ke rekeningnya secara cuma-cuma.


Bisma menyilangkan kedua lengan di dada. Sudut bibir kanannya terangkat, menyeringai miring.


*****


Tya menoleh begitu pintu kamar perawatannya didorong dari luar. Kilat tatapannya sengit saat melihat sosok Bisma yang masuk.


“Pak, Anda hutang penjelasan pada saya! Apa maksud tuduhan Anda pada saya tentang menghilangkan perhiasan berharga milik Anda? Jelas-jelas kita memiliki janji bertemu sebab saya ingin mengembalikan cincinnya!” sembur Tya geram, dadanya kembang kempis tak terima.


“Dan untuk apa Anda mengaku sebagai calon suami saya? Kenapa Anda memberikan sejumlah uang pada Pak Sarif untuk pemakaman Caca? Saya juga tadi bertanya pada perawat yang mengganti infus ketika Anda keluar dengan Bu Marsha, untuk apa Anda membayar biaya rumah sakit saya dan menempatkan saya di ruangan mahal tapi setelahnya malah menuduh saya menghilangkan benda berharga milik Anda? Apa maksud Anda sebenarnya! Jangan hanya karena saya orang susah lantas Anda seenaknya semena-mena menuduh demikian! Saya tidak butuh pertolongan Anda kalau pada akhirnya hanya untuk direndahkan! Biarkan saja saya membusuk dan mati!” Tya mencerocos marah tak terima, dadanya kembang kempis menahan emosi.


Bisma menghampiri sisi ranjang di mana Tya berbaring. Menghela napas panjang.


“Kalau kamu ingin tahu sekarang juga apa alasan saya berbuat begini sama kamu, akan saya katakan. Di sini, justru sayalah yang butuh pertolongan kamu, bukan sebaliknya. Saya dalam situasi terdesak akibat kecerobohan mulut saya yang ternyata berbuntut panjang. Kamu tidak boleh mati, saya sangat butuh pertolongan kamu.”


Kalimat Bisma membuat Tya makin kebingungan sekarang. Belum lagi mimik wajah Bisma yang tadi sempat sedingin es, kini kembali menguarkan rasa aman dalam setiap riak pahatan tampannya.


“Anda jangan bercanda Pak. Bagaimana caranya saya menolong Anda sedangkan kondisi saya saat ini bahkan tak mampu menolong diri sendiri?” cecar Tya menelisik.


Bisma membasahi bibir. Menunduk sejenak tanpa kata sebelum kembali bertemu pandang dengan Tya kemudian berkata, “Caranya, jadilah istri saya, Cintya.”


Bersambung.