
Sinful Angel bab 134
Pillow talk tak terasa berlanjut hingga satu jam lamanya. Sewaktu di rumah sakit, mereka tak bisa mengobrol seleluasa seperti halnya di rumah.
Keduanya bercakap-cakap begitu lama, Menambal komunikasi suami istri yang bolong satu bulan lamanya, bertukar kata tentang banyak hal, membahas ini dan itu.
“Lusa, kalau dokter menyatakan hasil kontrolmu baik, aku ingin mengajakmu liburan ke Pangalengan. Aku sedang ingin menghabiskan waktu berduaan saja denganmu. Tadinya aku berniat membawamu berlibur ke Lombok, tapi karena kamu sedang hamil muda terlebih lagi kondisi kesehatanmu baru pulih, lebih baik berlibur tempat yang dekat saja.”
Bisma mengutarakan isi kepalanya yang memang langsung terpikirkan ketika akhirnya mereka dipertemukan lagi. Ingin mengisi kekosongan hatinya yang sempat menganga tersayat sembilu sepi, merindu tak terperi pada wanita yang telah menawan relung kalbu.
“Kalau cuma pingin berduaan di rumah juga bisa, Mas. Di manapun asal sama kamu, aku selalu merasa seperti sedang berlibur,” sahut Tya yang berbaring miring menengadahkan wajah di pelukan Bisma.
“Tetap saja beda, Sayang. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu di suasana tenang seminggu penuh.”
“Terus, gimana dengan pekerjaan Mas kalau kita pergi satu minggu?” tanya Tya penasaran. “Memangnya enggak apa-apa?”
“Tinggal berkoordinasi dengan Poppy dan aku masih bisa mengerjakan pekerjaanku dari jauh secara daring. Aku akan meminta Poppy untuk memundurkan jadwal pertemuan yang membutuhkan kehadiranku langsung. Dan seingatku seminggu ke depan enggak ada janji temu bisnis urgent, masih bisa diwakili Poppy bersama para staf,” jelas Bisma menjeda kalimatnya sejenak.
“Di perkebunanku di Pangalengan, ada vila yang biasa kutinggali. Walaupun vilanya kecil, tapi cukup nyaman dan lebih terawat di bandingkan vila di perkebunan baruku di puncak. Fasilitasnya juga lebih lengkap. Tempat sejuk dan udara segar sangat cocok untuk merelaksasi tubuh serta pikiran, juga ideal mendukung pemulihan pasca sakit. Aku ingin berduaan saja denganmu di sana untuk mengganti waktu kita yang hilang. Sekalian mengontrol kebun teh dan anggap saja sekaligus berbulan madu. Sejak menikah, kita belum pernah berbulan madu kan?”
Tya tersipu. Mendengar kata bulan madu pipinya menghangat. Sebetulnya bisa bersatu dan bertemu kembali dengan Bisma dalam suasana saling menerima seluruh keluarga saja sudah sangat membahagiakan bagi Tya. Ditambah ide bulan madu ini membuat taman hatinya semakin bersemi indah.
“Berduaan dengan Mas di tempat damai dan sejuk kedengarannya menyenangkan,” cicit Tya sembari tersenyum malu.
Bisma terkekeh senang mendengar istrinya setuju dengan usulannya.
“Semoga hasil kontrolmu semuanya baik. Supaya rencana kita bisa terealisasi. Oh iya, ngomong-ngomong tentang harus saling terbuka menyangkut hal apa pun di antara kita, bisakah kita memulainya sekarang?” Bisma berujar rendah dengan sorot mata maskulin berbeda.
“Huh, saling terbuka yang bagaimana maksudnya, Mas?” tukas Tya mengerjap lucu, terlambat paham dengan maksud terselubung.
Jemari Bisma tiba-tiba merayap di bahu Tya, menggeser si tali spaghetti gaun tidur dengan gerakan sensual juga tatapan penuh arti hingga melewati bahu kemudian berkata, “Terbuka yang seperti ini, Sayang?” bisiknya serak.
Kekehan renyah Tya mengudara, tulang pipinya bersemburat merah. Balas menatap bola mata maskulin itu dengan mata teduhnya yang berangsur sayu.
“Bagaimana kalau kita saling membuka?” tawar Tya, menggigit bibirnya menggoda dan hal itu membuat Bisma semakin sulit menahan dorongan rasa haus keinginan mencerup bibir merah ranum istrinya itu sepuas-puasnya.
“Deal!” jawab Bisma yang tanpa basa-basi lagi langsung menyatukan bibir mereka. Mencerup mesra dan menyapu bibir merah Tya dengan kelembutan serta kehangatan yang mampu meremangkan seluruh pori tubuh masing-masing.
Tya tak mau kalah, sama-sama mecurahkan cinta dengan membalas pagutan Bisma yang semakin diperdalam. Meneguk manisnya madu asmara sebanyak-banyaknya, menuntaskan dahaga tertahan.
Efek dari hormon kehamilannya membuat raga lembut Tya lebih sensitif terhadap sentuhan. Bisma yang dapat merasakan sinyal itu makin gencar saja membelai merambat di mana-mana hingga napas Tya terengah dan tak tahan lagi ingin meminta lebih.
“Mash….”
Mendengar desisan Tya yang mendesahkan namanya berat penuh hasrat, Bisma tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Menyudahi menu pembuka dan gegas beranjak ke menu utama. Menyuguhkan kasih sayang nyata dengan tetap berhati-hati mengingat buah hatinya sedang bertumbuh di dalam sana.
*****
Sepulang dari rumah sakit di hari Jum’at sore ini, Bisma langsung berbenah dan meminta Teh Erna juga Mang Eko membantu mengepak keperluan liburan. Kali ini Teh Erna turut diajak untuk membantunya menjaga Tya di vila nanti, terutama bantuan dalam memperhatikan dan menyiapkan keperluan Tya.
Setumpuk vitamin ditambah obat mual muntah Bisma masukkan ke dalam tas yang berisi keperluan pribadi Tya. Sementara wanita bermata indah itu diminta duduk diam tanpa di atas ranjang dan tidak diperbolehkan ikut mengepak barang. Hanya diizinkan menonton kesibukan berbenah.
“Mas, aku pingin bantu-bantu juga. Masa duduk terus dan cuma ngelihatin. Aku bukan bayi baru lahir yang masih pakai bedong!” protes Tya yang geregetan ingin ikut mengepak keperluan liburan. Rasanya tangannya gatal ingin ikut membereskan ini dan itu.
Telunjuk Bima bergoyang ke kanan dan ke kiri. “Enggak boleh. Pokoknya tugasmu cuma duduk dan menjaga bayi kita di dalam sana. Jangan membantah, Oke?”
Tya kehabisan kata. Bernegosiasi dengan cara apa pun selalu tak mempan. Memilih menenuk wajahnya cemberut.
“Jangan cemberut dong, Mama. Mama harus selalu tersenyum manis, biar dedeknya juga punya senyum yang manis,” goda Bisma pada Tya yang sedang memberengut seraya menutupkan resleting tas terakhir yang akan dibawa pergi. Mendekati Tya dan mengecup bibir yang mengerucut itu.
“Sudah selesai, ayo kita berangkat. Biar nyampenya enggak terlalu malam.”
Tya yang semula cemberut, berangsur riang saat mobil mulai melaju pergi. Mood swing yang dialaminya memang berpengaruh pada perubahan situasi perasaanya yang cepat berubah-ubah.
Bahkan kini Tya bergelayut manja di lengan suaminya yang sedang mengemudikan si Fortuner putih, bercicit ceria dan meminta beberapa kali berhenti saat melihat penjual makanan dan melewati restoran yang tampak menggoda terdorong fase mengidamnya.
Meski tahu istrinya sedang mengidam, Tidak semua makanan yang ditunjuk Tya dibeli oleh Bisma, tetap memilih yang sekiranya aman dikonsumsi ibu hamil dengan kondisi trimester awal seperti Tya. Memberi pengertian dengan lembut, demi menjaga kesehatan wanita tercinta dan bayinya.
*****
Sementara itu di tempat lain, sepasang suami istri tampak sedang berdebat di atas ranjang mereka. Sama-sama hanya terbungkus selimut tanpa pakaian.
“Kenapa makin ke sini Mas makin sering kalah duluan di saat aku belum keluar? Bikin kepalaku pening tahu!” kesal Prita yang tak puas dengan aktivitas ranjang mereka.
“Kayaknya efek dari kehamilan yang semakin besar deh, Ta. Cobalah bersabar, Sayang. Nanti kita lihat setelah kamu melahirkan, pasti bakal balik kayak dulu lagi,” bujuk Radhika yang sebenarnya dirinya pun tak yakin.
Sebetulnya Radhika juga sadar akan stamina jantannya yang kian menurun. Hanya saja dia tidak mengakuinya atau pun memeriksakan kondisinya ke rumah sakit untuk mengetahui penyebabnya.
Prita hanya membuang napas lelah. “Ya sudah deh. Tapi seenggaknya Mas harus usaha buat bikin aku juga puas, bukan menunggu nanti!” sungutnya jengkel.
Radhika menarik punggung Prita merapat padanya. “Iya, iya. Aku bakalan terus berusaha. Tapi sebaiknya sekarang kita tidur lebih awal. Besok kan jadwal kita ke Bandung buat melancarkan misi.”
Raut masam Prita seketika terusir, berganti cerah dan semringah saat mendengar kalimat suaminya.
“Mas benar. Ayo, kita cepat-cepat tidur. Duh, aku sudah enggak sabar nunggu besok.”
Bersambung.