
Sinful Angel Bab 111
Mercy hitam mewah mengkilap yang sedang terjebak kemacetan itu terus saja membunyikan klakson tak sabaran. Bisma meninggalkan kantor secepat kilat seperti orang gila, melajukan kendaraan ke ruas jalan daerah Antapani, menuju arah pulang ke rumahnya setelah mendapat penjelasan dari Poppy yang lumayan paham cara membaca foto USG meski sekretarisnya itu masih lajang.
“Ck, kenapa siang-siang begini macet parah? Padahal ini bukan weekend! Terus lampu lalu lintas di depan sana kenapa merahnya lama sekali!” gerutu Bisma, memukul setir mobilnya kesal.
Di tengah-tengah terjangan keresahan berpadu jantung berdebar tak karuan. Bisma lagi-lagi mengeluarkan si foto USG dari saku kemejanya. Memandanginya lekat-lekat di tengah-tengah kepadatan kendaraan di jalanan.
“Benarkan aku akan jadi ayah?” gumamnya dengan sembari menyentuh permukaan rongga dadanya sendiri yang disesaki haru.
Bisma terngiang-ngiang akan sesuatu, teringat percakapannya dengan Poppy sebelum meninggalkan kantor.
“Tapi Tya tidak bilang apapun padaku? Jangan ngawur!”
“Kalau bukan punya Bu Tya, lantas milik siapa? Dari foto USG ini menunjukkan bahwa pemilik foto sedang mengandung. Dari gestational age yang tercantum diketahui kehamilan si pemilik foto adalah delapan minggu. Dan pemiliknya tentu saja nama yang tercantum di sini, nama istri Bapak. Tidak ada karyawan yang bernama Cintya Angela di kantor ini, cuma Bu Tya istri Bapak yang punya nama lengkap begini.”
“Yakin ini asli? Tapi, dari mana kamu dapat foto USG ini? Kalau iya milik Tya kenapa malah nyasar ke kantor ini?”
“Setahu saya ini asli, bahkan tanggal pemeriksaan pun ada di foto ini. Saya juga tidak tahu kenapa sampai ditemukan di bawah meja saya. Nina yang menemukan foto ini kemarin. Yang bebas bolak balik naik ke sini selain Bapak, cuma keluarga Bapak, saya dan orang-orang tertentu saja.”
“Periksa CCTV seminggu ke belakang dan kirimkan padaku hasilnya secepatnya. Tangani sisa pekerjaanku. Aku harus pulang sekarang.”
Jarak tempuh rumah ke kantor biasanya hanya memakan waktu tiga puluh menit, begitu pula sebaliknya. Akibat kemacetan, berimbas pada waktu tempuh yang menjadi molor lebih lama. dan setelah hampir satu setengah jam, ban mobilnya menggilas lantai garasi rumah yang gerbangnya dibukakan Teh Erna.
Bisma masuk tergesa ke dalam rumah. Teh Erna yang menyambutnya pun tak disapa seperti kebiasaannya. Menerobos sembari memanggil-manggil nama istrinya. Seolah-olah Teh Erna hanya makhluk tak kasat mata tidak terlihat, menyisir setiap area kediamannya.
“Tya, Cintya? Sayang? Kamu di mana?”
“Den, Neng Tya kan lagi per_”
“Tya, Cintya. Sayang?”
Niatan Teh Erna yang hendak memberi penjelasan terpotong. Bisma seolah tuli. Melangkah ke sana kemari tak memedulikan hal lain. Teh Erna sampai pusing sendiri menyaksikan tingkah aneh majikannya.
Kedua kaki panjang Bisma kini terayun masuk kamar utama sembari kembali memanggil-manggil lantang nama sang istri. Bukan seruan marah, melainkan lebih pada perpaduan bahagia, cemas juga haru tiada tara. Tak sabar ingin segera bersua.
“Sayang, kamu di mana?”
Masih tak kunjung menemukan Tya maupun mendapat sahutan, Bisma mendorong pintu kamar mandi setelah mengetuk tiga kali terlebih dahulu. Merangsek tak sabaran, semisal Tya sedang mandi pun tak peduli, yang penting ingin segera berjumpa dengan si pemilik sekeping hati. Hasilnya tetap nihil, sosok yang dicari dan ingin segera ditemuinya tidak ada juga di sana.
“Sebenarnya Tya ke mana?” ujarnya bertanya-tanya sendiri.
Bisma merogoh saku celana mencari ponselnya bermaksud menghubungi Tya. Berdecak frustrasi saat tersadar ponselnya tidak ada dalam saku, meraba saku lainnya termasuk saku kemeja juga jas yang dipakainya dan memang benar-benar tidak ditemukan.
“Haish, pasti masih masih di dalam tas kerjaku di kantor!” gerutunya kesal sendiri. Saking terburu-burunya Bisma terlupa membawa gawai pintarnya, karena yang memenuhi kepalanya saat ini hanya Tya dan Tya.
Di ambang pintu kamar, Bisma hampir menabrak Teh Erna yang hendak kembali angkat bicara pada tuannya terkait keberadaan sang nyonya.
“Teh Erna, di mana Tya? Kenapa istriku enggak ada di mana-mana?” cecarnya sewot pada Teh Erna yang sejak tadi diabaikan. Baru bertanya setelah beberapa saat berlarian di dalam rumah.
“Haish, tadi pagi kan Tya sudah izin padaku, tapi kenapa aku mendadak pikun?”
Embusan napas Bisma nyaring seraya menepuk jidat. Tadi pagi Tya sudah meminta izin pergi keluar padanya, pantas saja Tya tidak ada di rumah. Tak banyak kata, Bisma gegas kembali ke garasi, bermaksud menyusul Tya ke rumah Khalisa. Tak mau menunda lagi.
Saat hendak menutup pintu mobil, terdengar deru mesin Fortuner putih miliknya yang dikendarai Mang Eko berhenti di depan pagar. Bisma hampir tersandung saking tak sabarannya menghampiri pintu kursi penumpang si mobil putih dan secepat kilat membukakannya, membuat wanita cantik yang duduk di dalamnya terperanjat kaget.
“Lho, Mas. Kok sudah pulang? Kenapa enggak ngasih kabar mau pulang cepat?” tanya Tya sembari mengelus dada.
Bukannya menjawab, Bisma malah meraup tubuh Tya. Membopong istrinya itu menuju kamar tanpa basa-basi membuat Tya makin terkejut juga terheran-heran.
“Mas ini kenapa mendadak gendong-gendong?” Tya mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya supaya tidak terjatuh dari gendongan Bisma, meski tanpa berpegangan pun sudah pasti kuat dan aman.
Bisma masih belum menjawab. Sesampainya di kamar, Bisma menurunkan Tya ke atas ranjang dengan sangat hati-hati, memastikan Tya duduk dengan nyaman di tepian kasur disusul dirinya yang mengambil tempat duduk bersisian.
“Mas ini kenapa? Apa ada masalah mendadak di kantor?” Tya kembali bertanya, penasaran dengan gelagat suaminya yang berbeda hari ini.
Bisma merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan si foto hitam putih dan menunjukkannya pada Tya.
“Punya siapa ini?” desaknya.
Kedua mata Tya membola. Terhenyak saat foto USG bayi yang belum disampaikan eksistensinya kini berada di tangan ayah si bayi.
“Dari mana Mas dapat foto itu?”
“Dapat dari mananya tidak penting. Jawab dulu pertanyaanku,” tegas Bisma agak tak sabaran.
Tya menelan ludah, mengangguk tipis. “Iya, itu punyaku.”
“Ini foto USG kehamilan, benar?”
Lagi, tya menjawab dengan anggukan.
“Jadi, kamu benar-benar sedang mengandung sekarang?” cecar Bisma dengan riak mata yang kian melembut penuh sayang.
Tya membasahi bibir sebelum akhirnya kembali buka suara meski sangat pelan.
“Maaf, aku belum ngomong sama Mas terkait hal ini. Iya, aku tengah mengandung sekarang. Ada bayi kita bertumbuh di sini.” Tya mengelus perutnya yang masih rata penuh sayang.
Seketika Bisma merengkuh Tya ke dalam dekapan. Punggungnya berguncang, Bisma terisak di ceruk leher Tya, meluapkan segala rasa haru serta bahagia yang menyeruak hebat dalam dada.
“Aku akan jadi ayah?” tanya Bisma lagi dengan suara serak setelah melonggarkan pelukan.
Meski dengan gulir mata sendu yang sebetulnya di baliknya sedang menyembunyikan tangis pilu. Tya mengulas senyum cantiknya kendati hatinya tengah tercabik. “Iya, Mas. Kamu akan jadi ayah.”
Air mata bahagia Bisma kian pecah. Menghujani kecupan sayang di pipi mulus Tya. Menangkup seraut paras ayu bermata teduh itu dengan kedua telapak tangannya. “Makasih banyak, Sayang. Makasih.”
Bersambung.