Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 143



Sinful Angel Bab 143


Pagi ini mood Tya kembali membaik setelah semalam sebelum tidur hampir satu jam merajuk karena ingin jambang Bisma yang dicukurnya kembali seperti semula. Dengan sabar Bisma mengayomi mood swing sang istri sembari tertawa geli dalam hati. Tya sendiri yang merengek ingin mencukur, tetapi beberapa menit kemudian malah ingin jambang yang sudah habis dibabatnya itu tumbuh lagi dalam sekejap.


Udara segar menyergap saat pintu depan vila dibuka pagi ini. Tya memakai hoodie hangat warna dusty pink kesukaannya satu set dengan celana treningnya. Tak lupa bergo yang dipakai dan kaus kakinya pun berwarna senada.


Di mata Bisma, istrinya itu saat ini tampak laksana permen manis. Dari atas sampai bawah berwarna dusty pink menggemaskan.


“Mas, ayo. Katanya kita mau jalan-jalan pagi sambil lihat-lihat kebun teh. Dedenya ini udah enggak sabar,” protes Tya antusias sembari menunggu Bisma mengikat tali sepatu. Mengelus-elus perutnya memberi isyarat. Padahal beberapa menit lalu ia masih dilanda morning sickness meskipun tak separah sebelumnya.


“Ini sebenarnya Mamanya atau dedenya yang udah enggak sabaran ya?” kekeh Bisma menggoda.


“Ya dua-duanya lah. Satu paket. Mang Jaka bilang, enggak jauh dari sini ada penjual lontong sayur khas daerah setempat, ramai yang beli katanya. Aku kepingin buru-buru makan, takut enggak kebagian.”


Bisma menghampiri Tya, berjongkok untuk memastikan Tya memakai sepatu dengan benar. Memeriksa tali sepatu yang melintang, mengikat ulang supaya kencang dan aman, khawatir Tya terjatuh. Sungguh, perhatian yang sangat manis dari seoarang suami pada istrinya meski terkesan hanya hal kecil.


“Nah, sudah aman kalau begini. Ayo berangkat, Mama.” Bisma mengelus lembut kepala Tya juga perut istrinya itu, mengecup sayang dan menyapa si janin di salam sana.


“Ayo, Papa. Kita kencan pagi. Selama ini kita belum pernah berkencan bukan?” kata Tya kemudian.


“Kencan yang berbeda ya. Di kebun teh, bukan di mall,” tukas Bisma sembari mencubit gemas hidung Tya.


“Ini sebenarnya baru kencan pemanasan saja, kencan di mall juga tetap harus!” tuntut Tya dengan bibir mengerucut lucu.


“Hey, kemaruk,” ledek Bisma usil.


“Biarin. Harus kemaruk kalau sama suami sendiri. Yang enggak boleh itu kemaruk sama suami orang! Aku pokoknya kepingin kencan ke mall juga. Nonton film horor, beli popcorn, pulangnya makan es krim terus beli boneka. Kayak muda-mudi yang pernah aku lihat,” cicit Tya bersemangat menerangkan apa yang pernah diamatinya dulu.


“Oke. Bila perlu kubeli toko bonekanya sekalian,” tukas Bisma membuat Tya berjingkrak senang.


Tak sungkan lagi, Tya bergelayut manja di lengan Bisma. Berjalan bergandengan. Mereka memang berencana berjalan-jalan keluar vila di hari ketiga liburan ini. Berjalan kaki ringan menyusuri indahnya hamparan hijau kebun teh, yang dilingkupi atmosfer sejuk menyegarkan bermandikan hangatnya binar mentari pagi. Bercanda tawa khas dua insan jatuh cinta yang tengah dimabuk asmara.


“Bunda ada usulan dan belum sempat bilang sama kamu.”


“Tentang rencana selamatan empat bulanan. Bunda rencananya ingin acaranya digabung dengan resepsi kita yang tertunda. Tapi itu juga kalau kamu setuju, yang lebih tahu kondisi tubuhmu ya kamu sendiri. Aku khawatir kamu tumbang lagi kalau terlalu capek,” jawab Bisma menjelaskan.


Tya tampak berpikir, menimbang-nimbang. Ia ikut ambil bagian atas batalnya resepsi pernikahannya dengan Bisma. Tya juga teringat dengan gaun pengantin cantik yang dibuatkan spesial oleh Viona dan Nara. Jika ditunda lebih lama lagi, gaun indah itu pasti tidak akan terpakai dan berakhir sia-sia. Sungguh Tya tak enak hati.


“Aku merasa kesehatanku semakin membaik setelah kembali bersama dengan Mas. Aku setuju dengan usulan Bunda. Obatku ada bersamaku sekarang, apalagi yang kucemaskan? Aku yakin aku kuat dan akan baik-baik saja.”


Senyuman Bisma merekah seiring dengan gandengannya yang mengerat. “Bunda pasti senang mendengar kabar ini. Oh iya, kamu ingin hadiah apa dariku? Mas kawin yang kuberi saat menikahimu di rumah sakit hanya ala kadarnya. Walaupun kali ini bukan sebagai mahar, tapi aku ingin memberimu hadian sesuai dengan yang kamu inginkan yang kamu sukai. Anggap saja sebagai mas kawin susulan. Jadi, apa mas kawin impianmu? Setiap wanita pasti punya impian dan harapan spesial terkait hal yang satu itu.”


Langkah kaki Tya terhenti. Mendongak dan menatap suaminya dengan mata sedikit memicing diterpa silau sulur sang surya.


“Mas menerima apa adanya aku tanpa menghakimiku itu sudah lebih dari cukup bagiku. Yang aku mau cuma Mas seutuhnya hanya milikku. Setia dan menaruh kepercayaan padaku, menggenggam tanganku sampai akhir hayatku dan jangan pernah meninggalkanku. Jika Mas melakukan itu, aku pasti akan hancur. Cuma itu harapan dan impianku. Harta bisa dicari, tapi kesetiaan dan kepercayaan tak bisa dibeli, harus dipupuk dan dirawat sepenuh hati,” sahut Tya sembari mengukir senyum lembutnya.


Bisma mengulum senyum. “Hanya itu saja? Mungkin kamu ingin saham atas namamu di perusahaan?” tawar Bisma lagi. Padahal tanpa Tya minta pun, Bisma dan bundanya memang sudah berencana memberi hadiah berupa saham atas nama Tya dan bayinya setelah Tya melahirkan nanti, sesuai tradisi keluarga Viona dan Bima dulu.


“Aku sama sekali enggak paham dengan sistem sebuah perusahaan. Jadi punya saham pun aku enggak ngerti hal-hal kayak gitu. Tapi, kalau Mas tanya apakah aku punya sebuah keinginan dan harapan yang sangat ingin kuwujudkan segera tentu saja ada.”


“Apa itu, bilang saja. Selama aku mampu, aku akan mengusahakannya.”


Bisma meremas lembut bahu Tya dengan benak menebak-nebak penasaran dengan harapan yang dimaksud Tya seperti apa. Lantaran istrinya ini bukanlah tipe pribadi aji mumpung, melainkan seseorang yang selalu penuh syukur.


“Aku punya impian, saat aku sudah punya uang yang cukup, di setiap hari Jum’at aku ingin membagikan makanan paket ayam krispi dari salah satu restoran sepat saji, lengkap dengan nasi dan minumannya. Ingin kubagikan untuk para pemulung juga anak-anak panti asuhan yang kekurangan donatur. Aku sangat ingin berbagi dengan niat bersedekah atas nama Caca. Almarhumah Caca suka sekali dengan makanan itu, makanan yang akhirnya bisa Caca makan tepat beberapa jam sebelum Caca berpulang,” tutur Tya dengan bola mata yang mulai mengkilap. Bibirnya tetap tersenyum, tetapi setiap kali teringat Caca air matanya selalu menggenang tanpa diundang.


Binar mata Bisma berkilat bangga. Keinginan wanita tercintanya yang tengah mengandung anaknya ini memang selalu tak terduga. Hati Tya selalu dipenuhi kasih sayang terhadap sesama tanpa si empunya menyadari, yang luasnya melebihi samudera meski Tya tak berpunya.


Tya adalah bidadari tak bersayapnya walaupun pernah berlumur dosa. Bisma mengusap sudut mata Tya. Lantas meraih kedua tangan Tya dan membawanya untuk dikecup mesra.


“Mulai hari Jum’at mendatang, kita wujudkan keinginanmu. InsyaaAllah, kita lakukan rutin sampai akhir hayat kita, Sayang.”


Bersambung.