
Sinful Angel Bab 59
Sudah sepuluh menit lamanya Tya termenung di depan pintu kamar mandi. Enggan untuk membukanya. Ia baru selesai bersih-bersih dan berganti pakaian. Mengganti gaunnya dengan baju tidur panjang semata kaki model terusan berbahan lace. Sedangkan Bisma sudah bersih-bersih lebih dulu sebelum dirinya.
“Apakah Mas Bisma akan mengganggapku murahan karena malah balas menciumnya? Pasti enggak kan? Lagipula kita hanya membuat pertunjukan. Kalau aku mendadak marah dan meninjunya, nanti mantan istrinya yang lagi nontonin bakal curiga akan hubunganku yang sebenarnya dengan Mas Bisma,” gumamnya bertanya-tanya sendiri dan menjawabnya sendiri pula.
Menyentuh bibirnya, adegan intim di balkon tadi kembali berkelebat. Bisma memang bukan yang pertama bagi Tya, tetapi saat Bisma berlaku mesra dan intim padanya meski ia tahu hanya demi kepentingan problem solving, selalu berhasil menelusupkan getaran-getaran tak biasa menggelitik segumpal daging di balik rongga tubuhnya.
“Tapi, kenapa kali ini aku malah menikmatinya? Ck, ada apa denganku!” Tya menjitak kepalanya sendiri, berdecak kesal. Bukankah seharusnya ia merasa marah? Akan tetapi kenapa malah terbuai.
“Duh, mana tidur satu kasur lagi. Keluar sekarang jangan ya? Mas Bisma sudah tidur belum ya? Mudah-mudah sudah nyenyak,” ujarnya bertanya-tanya sembari mondar-mandir.
Setengah jam kemudian saat jarum menunjuk ke angka pukul setengah satu malam, Tya baru keluar dari kamar mandi. Teringat harus meminum obat pemulihannya yang tak boleh terlewat juga karena ia terus menguap. Sungguh, badannya lelah dan matanya mengantuk, butuh istirahat.
Tya berjinjit, mengendap-endap seperti maling. Membuang napas panjang begitu melihat Bisma sudah memejamkan mata rapat, berbaring miring di sisi kiri ranjang berukuran king size itu. Sebuah guling benar-benar ditaruh di tengahnya, sebagai pembatas yang sudah disepakati tadi sore.
“Syukurlah, Mas Bisma sudah tidur,” desahnya lega. Sebab kecanggungan terasa membunuh saat mereka hanya sedang berdua selepas kejadian tak terduga di balkon tadi.
Setelah meneguk sebutir obat, dengan sangat pelan Tya naik ke atas kasur pada sisi lainnya. Yakni di sisi kanan. Sama-sama berbaring miring membelakangi posisi guling di tengah-tengah.
“Ffuh, ayolah Tya. Jangan deg-degan terus. Tubuh ini butuh tidur! Hari besok acaranya masih seabrek!” sewotnya, mengomeli jantungnya sendiri.
Suasana kamar hening kemudian. Menyisakan bunyi jarum jam di dinding mengisi kesunyian dan gelapnya kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaran di salah satu sudut kamar. Gemerisik seprai menyusul kemudian, seiring pergerakan Bisma yang mengambil posisi terlentang. Rupanya dia belum tidur. Tadi, matanya memejam dalam upayanya mencari jalan ke alam lelap, namun gagal terganggu resah gelisah mengingat kali ini dia harus tidur seranjang dengan Tya.
Melirik punggung Tya, pikiran Bisma menerawang pada kejadian beberapa jam lalu di balkon. Lembutnya bibir Tya juga hangatnya tubuh ramping itu kala didekap merapat dengannya, efeknya sungguh berbahaya. Kali ini memantik lebih dahsyat naluri purbanya yang sekian lama betah berhibernasi, yang biasanya tak mempan tergerak meski banyak bunga yang menghaturkan rayuan.
Daya pikat Tya mengaburkan kewarasannya dalam hitungan detik. Bahkan tanpa disadarinya, dengan lancangnya meninggalkan jejak merah di leher Tya, tergerus arus memabukkan.
Sebuah balasan pesan masuk dari username 'Tukang semen'. Sepertinya Bisma lah yang menghubungi Vero terlebih dahulu dan baru mendapat balasan sekarang. Di saat Bisma tengah mengetikkan balasan pesan, Vero menyambungkan panggilan telepon.
Buru-buru Bisma turun dari tempat tidur. Nyaris terjungkal sebab terlalu tergesa-gesa. Bisma menghampiri jendela dan barulah mengangkat panggilan Vero.
"Kenapa malah menelepon!" Bisma memelankan suaranya meski menggerutu. Tak ingin menganggu tidur Tya.
["Ya karena isi pesanmu tak jelas! Memangnya hal darurat semacam apa yang terjadi di situ? Katanya enggak terjadi kecelakaan atau hal buruk, tapi kenapa isi pesanmu sewot dan susah dipahami!"]
"Tapi ini lebih darurat dari kecelakaan!"
'Ya terus apa, Tukang Teh! Jangan bikin orang bertanya-tanya penasaran! Untung saja Rona sedang menginap di rumah orang tuanya membawa serta anak-anak. Bisa-bisa aku disalahpahami bertelepon ria tengah malam begini. Makanya ngomong gamblang!"]
"Aku menciumnya! Bukan kecupan sekilas, tapi aku benar-benar menciumnya! Tadinya aku hanya ingin memanasi Prita. Tapi jujur saja aku malah terbuai. Tapi sekarang aku bimbang, khawatir Tya menganggapku kurang ajar meski tadi dia tak menamparku."
Sejenak tidak ada yang bertukar kata, membiarkan gelombang telepon tanpa frekuensi suara sekitar beberapa menit.
["Oh, begitu. Ya cium saja. Bahkan mencium seluruh tubuhnya pun silakan. Bukan suatu dosa. Kamu lupa ya, Tya itu sudah kamu nikahi meski secara siri. Artinya dia itu sudah jadi milikmu, istrimu, wanita yang boleh digauli olehmu. Walaupun alasan pernikahan kalian adalah untuk problem solving masing-masing, tapi kalian berdua tetaplah suami istri yang sah."]
Bisma terpaku dengan ponsel masih menempel di telinga. Tanggapan santai Vero membuatnya linglung.
Tanpa Bisma sadari, Tya juga sebetulnya belum tertidur. Hening bentang malam menjadikan suara sekecil apapun bisa terdengar dengan baik, sehingga Tya pun bisa mendengar seluruh percakapan Bisma dan Vero tanpa terkecuali, ditunjang jarak jendela dari tempat tidur hanya sekitar dua meter saja.
Bersambung.