
Sinful Angel Bab 147
Bisma kembali ke kantor sekitar pukul dua siang. Bisma melaksanakan salat Jum’at di masjid yang terdapat di dekat kediaman sang bunda. Lanjut makan siang bersama di rumah bundanya itu dan menyempatkan diri berbincang singkat bertiga terutaman dengan bundanya, berdiskusi tentang langkah antisipasi andai Prita dan Radhika benar-benar merealisasikan niatan busuk mereka.
“Pak, dokumentasi sedekah Jum’at berkah perdana sudah saya kirimkan ke alamat surel Anda. Acaranya berjalan lancar sesuai harapan.” Poppy melaporkan sigap, tangkas seperti biasa.
“Kirimkan juga salinannya pada Tya. Istriku pasti senang karena sejak tadi dia menunggu-nungu laporan Jum’at berkah perdana yang batal kami hadiri,” titah Bisma yang langsung teringat pada Tya begitu mendengar kata dokumentasi.
“Baik, Pak.”
“Perwakilan kita dari Jakarta sudah mengabari?’ tanya Bisma yang tetap berusaha fokus pada pekerjaan meski pikirannya terbagi, tetap professional.
“Sudah, Pak. Perusahaan kita masuk kandidat lima besar termasuk Sinar Abadi. Hasil penentuannya akan diumumkan minggu depan.”
“Bagus, bila perlu minggu depan aku sendiri yang akan datang ke Jakarta. Agendaku hari ini tinggal apa saja? Aku berencana menyelesaikannya lebih awal supaya bisa cepat pulang. Aku punya banyak urusan lain selepas jam kantor mulai hari ini.”
“Agenda Anda hari ini hanya tinggal menghadiri satu pertemuan saja, yaitu pertemuan dengan Pak Markus di jam empat sore nanti terkait pemutusan kerja sama supai air mineral untuk pabrik kita,” tutur Poppy menerangkan sembari menunjukkan catatan jadwal kerja sang bos.
“Restorannya sudah direservasi? Aku tidak suka si Markus itu menginjakkan kakinya di kantorku lagi,” ketus Bisma dengan nada tak suka yang kental.
“Sudah, Pak. Semuanya sudah siap. Cuma begini, Pak. Maaf jika saya bertanya lancang. Apakah langkah pembatalan ini sudah Anda pikirkan matang-matang? Selepas pulang dari liburan Anda mendadak meminta saya mengagendakan jadwal ini. Juga, bukankah seharusnya kita mencari perusahaan pengganti serupa dulu supaya tidak kekurangan bahan baku sebelum pembatalan dilakukan?” Poppy yang penasaran sejak beberapa hari yang lalu, hari ini memberanikan diri bertanya lebih detail.
“Persediaan air mineral untuk bahan baku masih aman sampai satu bulan ke depan. Dan untuk suplai pengganti aku sudah mendapat gantinya walaupun belum seratus persen deal. Dengan salah satu perusahaan air mineral terkemuka tanah air yang tentu lebih besar dari yang dikelola Markus. Kantor pusat serta pabrik pengolahan utamanya berada di Malang. Di Jawa Barat pun mereka sudah memiliki pabrik pengolahan dari sumber mata air berkualitas, jadi bisa menyuplai lebih dekat ke pabrik kita. Dengan Pure Water Company yang saat ini dipimpin oleh seorang presdir yang dikenal sangat teliti dalam setiap pengajuan kerjasama.”
“Maksudnya, Pak Presdir Pure Water yang namanya Gailan Athaa Mahardika? Yang dikenal selalu detail terperinci dalam setiap pekerjaannya dan katanya makin menggila satu tahun terakhir ini. Mungkinkah beliau mengidap OCD? Anda yakin tidak akan sakit kepala bermitra dengannya, Pak? Menurut kabar burung, beliau itu agak rewel.” Poppy meringis di ujung kalimatnya.
Salah satu pekerjaannya memang mengharuskan menjalin komunikasi baik dengan perwakilan dari berbagai perusahaan-perusahaan yang bermitra dengan Agra Prime, bahkan terkadang langsung berinteraksi dengan para pimpinan.
Bermacam-macam karakter para bos yang beragam sudah ditemuinya, ada yang simple saja ada juga yang rewel. Namun, kabarnya Presdir Pure Water Company rewelnya di atas rata-rata dan sudah tentu Poppy pun akan ikut berkecimpung langsung bersama sang bos, mengurusi berkas kerjasama salah satunya, membuatnya mendadak butuh meminum obat sakit kepala saat Bisma memutuskan ingin menjalin kerjasama.
“Kenapa kamu kayak mulas-mulas begitu?” kekeh Bisma meledek Poppy, dapat membaca raut frustrasi si sekretaris. “Produk-produk unggulan mereka sudah diakui kualitasnya sejak dulu. Walaupun proses kerjasamanya terbilang tak mudah, tapi tentang intergritas perusahaan tersebut tak perlu diragukan lagi. Kamu pasti tau kredibiltas Pure Water tanpa harus kujelaskan panjang lebar dan kamu juga pasti tahu seperti apa sengitnya dunia bisnis. Bukan untuk orang-orang bermental tempe.”
Poppy mengangguk membenarkan. Kata-kata Bisma memang benar.
“Saya akan bersiap supaya kuat menghadapi kerewelan bos Pure Water Company. Tapi Pak, ada satu poin lagi yang ingin saya tanyakan. Jika kita membatalkan kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin Pak Markus secara sepihak sebelum kontrak kerjasama jatuh tempo, Anda harus membayar kompensasi yang tidak sedikit. Apakah Anda sudah mempertimbangkan hal ini? Tinggal menunggu delapan bulan lagi kontrak kerjasama berakhir sebelum pembaruan kontrak lanjutan, bagaimana kalau kita menunggu delapan bulan kemudian daripada harus mengeluarkan dana tak terduga dalam jumlah besar.”
Bisma mengembangkan senyum lebar yang berangsur menjadi seringai. “Tentu saja sudah kupertimbangkan. Tentang kompensasi jangan khawatir. Kupastikan kerjasama kita dengan perusahaan Pak Markus berakhir baik tanpa kita harus mengeluarkan uang sepeser pun. Aku punya sesuatu selain uang yang bisa digunakan sebagai biaya kompensasi pembatalan dan aku yakin Pak Markus tidak akan mengajukan keberatan sama sekali. Jadi, keuangan perusahaan takkan tersentuh sedikit pun.”
“Lalu, bagaimana dengan jalinan pertemanan Anda dengan Bu Resya? Bisa saja pembatalan kerjasama ini berpengaruh kurang baik terhadap komunikasi Anda dengan teman lama Anda itu, Pak?” Poppy tetap mengingatkan poin-poin yang menurutnya krusial, jangan sampai Bisma terlupa yang membuahkan sesal di kemudian hari.
“Tentang jalinan pertemananku dengan Resya aku yakin akan tetap baik-baik saja. Dia tumbuh di keluarga yang juga hampir sama sepertiku, aku yakin dia pasti memahami yang namanya gelombang naik turun dunia bisnis. Walaupun memelihara ikatan pertemanan tak kalah penting, tapi bagiku rasa aman istriku jauh lebih penting di atas segalanya,” tukasnya tanpa ragu secuil pun.
*****
Radhika baru saja undur diri dari pertemuannya dengan Markus. Kedongkolannya pada Bisma sedikit mereda setelah meneguk dua sloki Vodca dingin yang disuguhkan Markus.
Radhika langsung tancap gas menuju hotel di mana dia membuat janji dengan Cyra. Dia butuh merilekskan sarafnya yang tergang terpicu kejengkelan. Memacu kendaraannya secepat mungkin dan memarkirkannya asal di basemen hotel.
Nomor kamar yang dipesannya langsung terpampang tak jauh dari area pintu lift di lantai empat hotel. Dengan tak sabaran Radhika mengetuk dan tak perlu menunggu lama pintu dibukakan sosok yang sejak tadi ingin segera digagahinya.
“Ah, Pak Bos. Aku sudah menunggu dari tadi,” rajuk Cyra binal. Melingkarkan lengan ke leher Radhika setelah pintu terkunci.
Radhika menelan liur mendapati Cyra hanya memakai kimono transparan tanpa dalaman saat menyambutnya.
Ponselnya bergetar di saku kemeja. Radhika berdecak kesal saat nama Prita terpampang di layar. Pasti Prita hendak bertanya tentang misinya memprovoksi Bisma apakah berhasil atau tidak.
“Ck, bawel banget punya istri. Bikin bad mood !” kesalnya.
“Diangkat dulu saja. Tapi jangan lama-lama, aku ingin segera dibelai,” ucap Cyra merayu.
"Oke, tapi kamu diam ya, cantik."
Radhika menggulir tombol hijau di layar. “Halo, Ta. Ta, halo… halo. Kenapa enggak kedengaran, Ta. Halo… halo. Kayaknya sinyal di sini lagi jelek dan handphoneku lowbat. Nanti kuhubungi lagi ya. Halo... halo!"
Tanpa menunggu jawaban Prita, Radhika mematikan ponselnya dan melemparkannya sembarang ke atas sofa. Dia malas berdebat dengan Prita juga sudah tak sabar ingin segera bergumul panas dengan Cyra di atas ranjang yang melambai-lambai padanya.
“Kenapa dimatikan?” ujar Cyra seduktif.
“Karena cuma mengganggu saja. Sudah, biarkan saja. Aku sudah enggak tahan.” Radhika menerjang Cyra tanpa basa-basi, meluapkan hasrat terlarangnya tak ingat berhenti.
Bersambung.