Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 146



Sinful Angel Bab 146


“Masih adakah informasi lain yang ingin kamu sampaikan atau sudah cukup sampai di sini saja? Jika tidak ada lagi silakan pergi. Atau biar aku saja yang pergi dari ruangan ini, jadwalku sangat sibuk hari ini. Kalau kamu masih betah di ruangan ini silakan saja, tapi tentu suguhannya hanya tetap air putih meskipun kamu kelaparan.”


Bisma berdiri dan merapikan jasnya, hendak beranjak pergi setelah melirik penunjuk waktu di pergelangan tangan.


Untuk sejenak Radhika mengerjap. Reaksi Bisma yang tenang-tenang saja membuatnya mengerutkan kening hingga alisnya nyaris bertaut karena bukan reaksi ini yang diharapkannya.


Bom yang dijatuhkannya teramat dahsyat menurutnya, tetapi kenapa belum meledak juga pikirnya.


“Bisma, kamu tidak tuli kan?” Radhika ikut berdiri, menjegal langkah Bisma. “Istrimu itu dulunya per*k di kelab malam dan kamu malah tampak abai saja dengan fakta semencengangkan ini? Berita ini sudah pasti berefek buruk pada citra baikmu secara personal juga perusahaanmu kalau khalayak umum mengetahuinya! Bisnismu bisa-bisa gulung tikar!” seru Radhika, mengultimatum, menaku-nakuti.


Bisma bersedekap, balik bertanya, “Memang apa hubungannya denganmu kalau sampai khalayak umum tahu tentang masa lalu istriku? Juga, andai perusahaanku gulung tikar, apakah itu merugikanmu? Tentang kehidupan pribadiku, tentang siapa istriku, tentang urusan perusahaanku, tentang nama baik keluarga besarku semuanya sama sekali bukan urusanmu!” tegasnya dengan nada serius.


“Justru aku di sini karena ingin mengingatkanmu supaya tidak merugi akibat masa lalu miring istrimu itu! Daripada berakhir gulung tikar, bukankah lebih baik menyetujui usulan brilianku?” desak Radhika yang terus menerus tak sadar diri. Mendesak Bisma menggunakan senjata yang sudah jelas-jelas tumpul, sudah kehilangan ketajamannya.


“Lalu, apa kabar dengan masa lalumu? Menjalin hubungan terlarang dengan istri dari sahabatmu sendiri kamu pikir itu sebuah prestasi? Jika memang mau membahas masa lalu biar kuingatkan tentang sesuatu. Istrimu juga perusahaan yang kamu pimpin semuanya itu didapat dari hasil mencuri dariku! Jelas-jelas merugikanku walaupun itu semua terjadi tak luput dari kebodohanku yang terlalu percaya pada wanita yang kunikahi juga pada seorang sahabat tak tahu diri yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Sedangkan tentang masa lalu wanita yang kini menjadi istriku, sama sekali bukan porsimu untuk ikut campur!” desis Bisma tajam melalui sela-sela giginya. Sudut bibirnya berkedut terbakar amarah.


“Kamu menantangku?” geram Radhika marah dengan napas berderu karena mangsanya ternyata tak menjinak. Amunisi yang dibawanya benar-benar tak berfungsi, jauh dari espektasi.


"Lantas aku harus diam saja begitu?" Bisma tertawa sumbang.


“Jangan menyesal karena telah menolak tawaran dariku! Ucapanku perihal menyebarkan informasi tentang masa lalu buruk istrimu bukan isapan jempol belaka, Bisma. Kupastikan sebentar lagi kamu akan memohon padaku, merangkak di kakiku, tunggu saja!” teriak Radhika kalap sebab tak menyangka kedatangan pongahnya justru menelan kegagalan.


“Lakukan apapun yang kamu inginkan. Sebarkan saja, aku menunggu. Kupastikan aku tidak akan tinggal diam. Jangan menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen manisnya ya, karena mulai hari ini secara resmi bendera peperangan kukibarkan padamu, Radhika. Jadi, bersiaplah!”


Bisma berderap cepat meninggalkan Radhika yang wajahnya sudah sepenuhnya merah padam dengan tinju penuh emosi terkepal kuat.


“Awas kau Bisma! Kupastikan keangkuhanmu itu tidak lama lagi akan luluh lantak!” hardiknya berteriak-teriak seperti orang gila.


Tak berselang lama, dua orang security masuk ke ruangan tersebut, mencekal lengan juga bahu Radhika tanpa permisi, menyeretnya keluar tak memedulikan makian kotor yang meluncur bebas dari mulut Radhika.


Poppy, untuk urusan sedekah berkah Jum’at jam sebelas ini aku dan Tya tidak jadi ikut terjun langsung. Ada hal darurat, tolong urus semuanya dan laporkan padaku nanti. Aku akan kembali ke kantor selepas salat Jum’at dan makan siang.


Setelah bepesan pada Poppy, Bisma gegas berlari ke parkiran. Tancap gas menuju rumahnya dengan gawai menempel di telinga, diapit bahu dan kepala.


“Sayang, rencanamu datang ke kantor bersama Mang Eko dibatalkan saja. Aku sedang dalam perjalanan pulang, ada hal darurat. Pastikan gerbang terkunci dan pintu bagian depan rumah jangan dibiarkan terbuka. Tunggu aku datang.”


Bisma melajukan mobilnya dalam kecepatan di atas rata-rata saat jalanan lengang, menolak diantar sopir kantor yang biasanya mengantarnya bepergian. Meminta si sopir tetap siaga di perusahaan untuk membantu Poppy melaksanakan tugas darinya.


Bukan tanpa alasan Bisma mendadak pulang. Setelah bendera peperangan nyata dikibarkan, dia harus mengantisipasi sesuatu, yaitu mengamankan sang istri yang sedang mengandung si buah hati.


Waalaupun sudah ada dua ajudan terlatih yang menjaga keamanan Tya, tetap saja rasanya tidak cukup, lantaran tidak menutup kemungkinan pasangan manusia serakah yang kini mengusiknya menggunakan masa lalu Tya, bisa saja nekat mencelakai Tya sebagai ajang pelampiasan saat ambisi jahat mereka membusuk tak mendapat untung.


Bisma membunyikan klakson Fortuner putihnya gaduh begitu sampai di gerbang depan rumahnya, Mang Eko gegas berlari, membuka kunci pagar dan membuka gerbang secepat mungkin.


Ucapan salam Bisma langsung disahuti Tya lantang dari dalam rumah. Tya menghambur saat melihat kemunculan sang suami. Sejak tadi dia diserbu kecemasan hebat setelah Bisma meneleponnya dan memintanya membatalkan kedatangan ke kantor, duduk tak tenang menunggu kedatangan Bisma. Dilanda resah, takut terjadi hal buruk pada suaminya.


“Sebenarnya ada apa, Mas? Mas sakit? Atau terjadi hal gawat?” sembur Tya cepat, kentara sangat khawatir.


Bisma meremas bahu Tya lembut, menenangkan istrinya yang terlihat jelas terbungkus rasa takut serta terkejut.


“Maaf, aku bikin kamu kaget. Ini berkaitan dengan persoalan yang kuceritakan padamu kemarin malam. Tentang mantan istriku dan mantan sahabatku yang ternyata mengetahui masa lalumu dari si bangsat Markus dan berniat busuk menggunakan hal itu sebagai senjata untuk menyerangku. Tapi jangan khawatir, aku sudah punya banyak amunisi untuk menghadapi mereka. Langkah pertamaku sekarang adalah melindungi kalian berdua, sebagai seorang suami juga ayah itu adalah tugas utamaku. Demi keamanan maksimal juga ketenangan jiwaku, untuk sementara waktu maukah kamu tinggal di rumah Bunda sampai semua peperangan ini mereda? Jujur saja, jika kamu bersama Bunda di situasi seperti ini, aku merasa lebih tenang.”


Tya dapat menangkap riak keresahan mendalam dari manik suaminya. Berpadu kekhawatiran yang begitu besar terhadapnya juga si buah hati. Dan kebetulan permintaan Bisma merupakan kesempatan yang sangat dinantinya, sebagai ikhtiar menjalin hubungan yang lebih dekat dengan ibu mertuanya.


Tya mengulas senyum hangatnya. “Aku mau, Mas. Mas sedang berperang dengan sebuah masalah besar dengan jejak masa lalu kelamku ikut terlibat di dalamnya dan memperkeruh situasi. Aku juga harus ikut andil dan berperan aktif membantu, jangan cuma berpangku tangan. Tapi, apakah bunda setuju kalau aku tinggal sementara di rumahnya?”


Bisma mengangguk cepat. “Bunda tentu setuju. Tadi aku sudah menghubungi di perjalanan. Bawa baju secukupnya saja, semua keperluanmu dipastikan sudah siap sedia di rumah bunda. Aku juga akan pulang ke rumah Bunda selama kamu di sana. Rumah ini biar Mang Eko dan security komplek sini yang menjaga. Ayo kita berkemas, kita berangkat ke rumah bunda sekarang juga.”


Bersambung.