Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 115



Sinful Angel Bab 115


Daksa jangkung Bisma limbung selepas membaca tulisan panjang pada selembar kertas yang digenggamnya. Sebelah tangannya berpegangan ke sisi meja, menopang tubuhnya yang nyaris ambruk. Deru napasnya pun tak beraturan. Paru-parunya mendadak laksana terimpit beban teramat berat hampir tak sanggup ditanggungnya, sesak tiada tara.


Mang Eko dan Teh saling bertukar pandang penuh tanya, penuh kecemasan menyaksikan reaksi tuannya. Tak berani bertanya, hanya mengamati terbungkus kekhawatiran.


Memejamkan mata bersamaan dengan jemari meremas salah satu sisi meja dan menggenggam kuat si selembar kertas surat seolah mencari kekuatan. Kedua netra Bisma yang mengkilap dan memanas membuka kembali, membaca rangkaian aksara yang tertulis di sana sekali lagi. Berharap isinya berubah, berharap matanya salah melihat.


Namun, harapannya hanya sekadar harapan. Dibaca berulang kali pun isinya tetap sama. Yakni ucapan selamat tinggal terbalut cinta juga perih dari si belahan jiwanya yang tengah mengandung buah hatinya. Dari sosok yang telah berhasil mengusir sepi hatinya, pengobat batinnya yang dipenuhi luka pengkhianatan, pembawa keberkahan selepas fase keterpurukannya, membangkitkan kembali gairah hidupnya yang sempat padam tanpa arah tujuan. Si segalanya bagi Bisma.


“Kamu enggak boleh begini padaku, Tya. Ini pasti cuma prank kan?” Bisma meggelengkan kepala berulang-ulang, tak mau percaya, meski tanpa sadar buliran bening dari sudut matanya mulai meluruh berjatuhan.


“Jangan bercanda seperti ini. Enggak lucu, Sayang. Cepat keluarlah, kamu sembunyi di mana? Jangan kayak gini, aku bisa gila!” teriaknya parau dengan bibir bergetar.


Bisma memeriksa kembali isi amplop. Berharap masih tersisa kertas lainnya yang menyatakan bahwa yang sedang terjadi sekarang ini hanya candaan semata. Otak dan hatinya tak sudi menerima, menolak kenyataan ibarat petir di siang bolong di saat harinya cerah ceria. Namun, yang didapatinya hanya ada si foto USG dan sebuah test pack bergaris dua. Semakin meruntuhkan dunianya.


Bisma tak sanggup lagi berdiri, merosot ke lantai dan menjambak rambutnya sendiri.


“Istriku, anakku. Kenapa jadi begini? Kenapa kalian meninggalkanku, kenapa kalian pergi dariku?” racaunya meraung frustrasi.


Sejak kemarin petang hingga fajar memamerkan binarnya, dirinya disenandungkan kidung bahagia, merdu mencumbu jiwa. Seakan dunia pun hanya milik berdua, begitu indah di setiap tarikan napas yang terhela. Akan tetapi, dalam sekejap dunianya indahnya dirampas paksa digantikan sembilu lara, meruncing tajam menghunjam sukma.


Baru saja Bisma mencecap hari terbaik dalam hidupnya saat mengetahui bahwa dirinya akan menjadi ayah, saat mengetahui wanita tercintanya mengandung si buah hati yang telah dinanti dan didamba sekian lama. Tak pernah menyangka segala gegap gempita itu hari ini menguap raib. Seluruh rajut angannya berserak, ibarat istana pasir yang tersapu ombak. Rata, luluh lantak.


Mang Eko yang sedari tadi menahan diri, merangsek masuk saat melihat kondisi tuannya yang mengkhawatirkan, sedang meraung-raung pilu memanggil nama istrinya.


“Den, ada apa sebenarnya dengan Neng Tya? Den Bisma, istighfar,” ucap Mang Eko berusaha mengingatkan meski dirinya sendiri pun saat ini kebingungan entah harus bagaimana.


Bangkit dari lantai bersusah payah mengumpulkan kekuatan dalam kondisi tubuhnya yang seolah tak bertulang. Tak menggubris pertanyaan Mang Eko maupun Teh Erna, Bisma melangkah lebar menuju kamarnya. Membuka-buka semua lemari yang tertanam di dinding, membuka laci meja rias, menyingkap selimut dan seprai.


“Cintya, kamu pasti cuma bercanda kan? Kamu di mana, Sayang. Kumohon, keluarlah,” mohonnya serak dan pilu.


Dengan dada tersengal serta pandangan buram terhalang tirai air mata, Bisma terus mencari-cari si tambatan hati dan bersemoga menemukannya. Masih berharap Tya hanya bersembunyi di ruangan spesial ini, di tempat mereka memadu kasih dan bercengkerama begitu manis tadi malam, tetapi Tya ternyata memang benar-benar pergi.


Rintik hujan berangsur menderas. Petir menggelegar bersahutan. Seketika fokus Bisma teralih ke jendela, air langit tumpah ruah, seumpama ditumpahkan dari langit.


Bisma tersentak dan gulungan syoknya. Seperti orang gila berlari ke garasi, melajukan salah satu mobilnya keluar dari sana. Memacunya tanpa arah tujuan dengan pandangan menyapu kiri dan kanan. Mengamati setiap orang yang tertangkap mata, berharap itu adalah Tya. Berharap istrinya belum pergi terlalu jauh.


Kecemasan menyerbunya tanpa jeda. Saat ini hujan semakin deras saja. Membayangkan Tya yang sedang hamil terlunta-lunta sendirian, membawa uang secuil tanpa tujuan, di bawah hujan deras dan petir menyambar-nyambar, sungguh membuat setiap inci hati Bisma remuk redam. Nyeri, sakit tak terperi, disiksa khawatir yang nyaris merenggut kewarasannya di detik ini juga.


“Arghhh!” Bisma meraung penuh lara sembari memacu kendaraannya. Mencengkeram kemudi bersama air mata yang tumpah ruah. “Kalau mau pergi kenapa kamu enggak merampok semua uangku saja, Cintya! Setidaknya kamu kabur dengan kemewahan, bukan membuatku semakin merasa bersalah membayangkanmu dan bayi kita terlantar juga terancam bahaya di luar sana! Kumohon, Sayang. Kembalilah padaku, jangan begini. Kembalilah!"


Dipenuhi pikiran kalut terbelit putus asa. Bisma menghentikan mobilnya sembarang dan turun dari kendaraannya. Air langit langsung menyapa. Kaki panjangnya menyusuri jalanan, mencari dan terus mencari, tak memedulikan dirinya yang sudah basah kuyup seluruhnya, yang diinginkannya adalah menemukan Tya secepatnya.


Sementara itu di sebuah warteg yang berada di depan sekolah Aliyah swasta yang masih berlokasi di daerah Bandung, seorang wanita bergamis biru dengan mata sembapnya sedang duduk di salah satu bangku plastik sembari memeluk sebuah tas.


Itu adalah Tya. Jilbab bagian belakangnya basah terkena cipratan air saking derasnya hujan yang turun. Beberapa kali menggosok lengannya mengusir hawa dingin. Pipinya pun pucat dan permukaan kulitnya sedingin es.


“Neng, nunggunya di dalam saja. Dingin, terus hujannya juga makin deras,” kata si ibu pemilik warteg.


“Tidak usah, Bu. Jangan ngerepotin. Di sini saja. Biar kalau Ustadzah Farhana bubar mengajar kelihatan,” tolak Tya halus. Menyampaikannya dengan sopan.


“Saudaranya Bu Guru Farhana ya?”


Untuk sejenak Tya bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan ini. Guna mempersingkat tanya jawab, Tya memilih mengangguk tipis saja.


“Iya, Bu.”


“Oalah, saudaranya ya. Pantesan auranya sama-sama salihah. Mending masuk, Neng. Nunggunya sambil minum teh hangat. Mukanya kelihatan pucat sekali. Tidak usah nunggu di luar, nanti Bu Guru Farhana pasti ke sini. Tadi soalnya sudah berpesan minta dibungkuskan beberapa lauk buat dibawa pulang. Semua guru-guru yang ngajar di sekolah ini hampir setiap hari beli lauk di warung saya, Neng. Katanya biar pulang mengajar enggak capek masak lagi,” cerocos si ibu paruh baya itu yang tetap menyelipkan promosi dalam kalimatnya.


Pucatnya wajah Tya bukan hanya karena menangis dan kedinginan, tetapi juga dari mual kehamilan yang dialaminya. Buru-buru Tya membuka tas kanvas yang dipeluknya saat mualnya kian menghebat, menghidu aroma kaos polo Bisma yang turut dibawa dalam tasnya satu potong saja. Menghirup aromanya dalam-dalam agar gejolak keinginan muntahnya mereda.


“Sayangku, tolong bantu Mama tetap kuat, Nak,” cicit Tya sangat pelan sembari mengelusi perutnya.


“Tuh kan, Neng kayaknya masuk angin. Ayok di dalam saja duduknya. Kira-kira lima belas menit lagi jam mengajar selesai.”


Didera rasa tak nyaman bergolak di lambungnya paduan mengidam juga hawa dingin, Tya memutuskan menerima tawaran si ibu. Tepat saat ia hendak masuk, terlihatlah sosok yang ditunggunya keluar dari gerbang sekolah, ancang-ancang menyeberang jalan sembari memegang payung.


Tya urung masuk. Ustadzah Farhana yang melihat sosok Tya mempercepat langkah. Menaruh payungnya sembarang,


“Dek Tya? Kenapa ada di sini? Sendirian?” tanyanya cemas, sebab Tya tidak terlihat baik-baik saja.


“Katanya nyari Bu Guru, tadi sama saya sudah ditawari duduk di dalam. Tapi maunya nunggu di luar,“ terang si ibu pemilik warteg.


“Nyari saya? Ada apa, Dek Tya?”


“Saya… saya… mau minta bantuan. Maaf, karena saya lancang, tapi cuma Ustadzah yang terlintas di pikiran saya. Saya… saya_”


Kalimat Tya tersendat sebah nelangsa nestapa di tenggorokan, kalah saing dengan si kristal bening yang mengambil alih kosa katanya lebih cepat. Memetakan segenap kepedihan yang tengah merajam sukma.


Farhana langsung dapat membaca bias bola mata Tya yang tengah dilanda susah hati, lantaran sebelumnya Tya pernah curhat padanya terkait kisruh yang tengah mendera.


“Ayo, ikut saya pulang. Kamu bisa cerita di rumah nanti.”


Bersambung.