
Sinful Angel Bab 19
Mobil putih milik Bisma melaju keluar dari area parkir Hotel The Ritz Carlton. Meninggalkan tempat di mana para biang kerok luka hatinya tengah berpesta pora. Bisma yang sewaktu di pesta tadi begitu manis dan hangat, kini kembali pada setelan awalnya, kaku dan terlihat tak enak hati.
Hening membentang, hanya deru mesin mobil mengisi telinga. Tya yang sudah berniat hendak melayangkan protes saat keluar dari ranah pesta terkait konsep yang melenceng, kini malah terdiam mengamati Bisma yang sedang mengendalikan kemudi.
Menyadari Tya menatap sisi wajahnya lekat seolah menuntut penjelasan. Bisma menelan ludah sebelum akhirnya memecah sunyi di dalam kendaraan.
“Maaf,” kata Bisma sembari tetap fokus ke depan, memperhatikan jalanan padat di depan.
“Untuk?” tanya Tya.
“Maaf untuk berubahnya rencana dari yang sudah dibicarakan di awal, juga maaf perihal poin skinship,” jelas Bisma, kentara menyesal, merasa melewati batas-batas peraturannya sendiri.
Tya mengubah posisi duduk, mneyerong miring, bersedekap dan menatap lurus pada kliennya. “Ya, Anda memang harus minta maaf. Yang terjadi di lapangan kali ini sangat jauh melenceng dari konsep yang sudah kita sepakati, seluruhnya. Kenapa Anda malah memperkenalkan saya sebagai istri? Anda tahu, refleks Anda itu bikin orang jantungan, Pak. Untung jantung saya sehat!” tegas Tya, meluapkan keberatannya.
“Untuk itulah saya minta maaf. Saya pun tidak menyangka dengan kalimat saya sendiri. Sekaligus, saya juga ingin berterimakasih karena kamu bersedia mengikuti situasi dadakan tadi walaupun melenceng jauh dari konsep yang telah disepakati,” kata Bisma, sungguh-sungguh bersyukur.
Ucapan terima kasih tulus dari dasar hati Bisma tersampaikan dengan baik pada jiwa lembut Tya yang tersembunyi di balik sanubarinya. Tya menelengkan kepala, mengulum senyum.
“Saya memang kaget juga keberatan, harus berakting sebagai istri sama sekali belum pernah saya lakukan, itulah masalah utama keberatan saya. Tapi, sejujurnya tadi itu cukup menyenangkan, dan saya menikmati setiap momen saat kita terutama Anda membuat Nyonya Radhika terlihat sangat kesal. Dari tabiatnya, dia terlihat pantas mendapatkannya.”
Bisma tertawa kecil. Melirik sebentar pada Tya saat mobil melaju pelan sebab terhambat padatnya lalu lintas. “Mungkinkah kamu punya indra ke enam? Kenapa tidak membuka praktek cenayang saja?” Bisma berujar berkelakar, meledakkan tawa riuh Tya yang ikut menular padanya.
“Dijamin gulung tikar, Pak,” imbuh Tya saat tawanya mulai mereda. “Tapi, karena Anda banyak melanggar kesepakatan, maka Anda harus membayar kompensasi.”
“Tentu, saya sudah memikirkan kompesasi sejak tadi. Tips dan kompensasi akan saya berikan langsung padamu sebagai permintaan maaf juga ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kinerja profesionalmu malam ini. Hanya saja saya enggan membahasnya lebih dulu, takut kamu tersinggung.”
Tya termangu. Mengamati Bisma laksana artefak langka. Bisma adalah pria baik-baik pertama yang pernah menyewanya, memperlakukannya dengan begitu terhormat, karena kebanyakan sebelumnya para kliennya adalah para pria minim akhlak.
Sejenak Bisma terdiam, tersenyum tipis. “Semoga,” sahutnya yang entah kenapa lidahnya terasa hambar saat menyemogakan kata-kata Tya. “Kirimkan nomor rekeningmu ke nomor ponsel saya. Saya akan mentransfer uang tips dan kompensasi.” Bisma menyerahkan selembar kartu namanya pada Tya.
Raut wajah Tya agak kebingungan saat menerima selembar kartu kecil tersebut. “Pak, maaf. Bisakah Anda memberi saya uang tunai saja? Saya tidak punya rekening bank,” ungkap Tya terus terang.
Bisma melirik sekilas, lantas menganggukkan kepala. “Boleh. Saya akan ambil tunai. Setelah nanti uangnya diterima, saya antar kamu pulang. Berbahaya wanita pulang malam-malam sendiri, belum lagi sambil bawa uang cash. Di mana alamatmu?”
“Yang benar, Pak?” Tya bertanya semringah. Menegakkan punggung.
“Iya, memangnya saya ini kelihatannya tukang ngibul?”
“Wah. Makasih banyak lho, Pak. Saya jadi bisa ngirit ongkos. Antarkan saja saya ke RSUD Kebayoran Baru. Ada saudara yang lagi sakit, mau negok sekalian aplus nunggu,” jelas Tya singkat saja, tak panjang lebar apalagi menjabarkan. “Tapi, baju dan sepatu saya yang dibelikan Mami Marsha masih ada di kamar hotel Anda, Pak. Kalau Anda tidak keberatan, bolehkah saya ambil dulu? Soalnya harus saya kembalikan lagi ke Date House besok pagi,” pinta Tya. Terdengar terlalu banyak menuntut dan tak tahu diri, tetapi mau bagaimana lagi, memang beginilah situasinya.
“Oke.” Bisma langsung menyanggupi tanpa tawar menawar, merasa bertanggung jawab dan berhutang maaf pada Tya telah menempatkan wanita bayaran itu pada posisi sulit di pesta mantan istrinya.
Bisma memerhatikan sisi kiri dan kanan jalan. Mencari mesin ATM untuk menarik sejumlah uang tunai yang akan diberikannya pada Tya, lantaran dompetnya lebih banyak diisi jejeran kartu ketimbang lembaran cash. Kira-kira lima meter di depan, Bisma melihat sebuah mesih ATM di sisi kiri jalan, tepatnya berada di antara sebuah minimarket 24 jam dan sebuah toko bunga yang terlihat sedang berbenah hendak menutup lapaknya.
“Tunggu di sini sebentar,” kata Bisma pada Tya setelah mobil terparkir rapi.
“Baik, Pak.”
Bergegas, Bisma mengambil uang tunai sepuluh juta rupiah untuk diberikan pada Tya. Hanya saja saat hendak keluar dari kotak tempat menarik uang tunai itu, ekor matanya menangkap penampakan sebuah sedan mercy hitam yang pelat nomornya sangat familiar berhenti di seberang jalan, mobil yang dulu dibeli Prita satu bulan sebelum semua kebusukan mantan istrinya itu terbongkar.
Seketika intuisi tajamnya bekerja, Bisma sadar dirinya sedang dibuntuti. Keluar dari mesin ATM. Dia melangkah tenang dan malah menyambangi toko bunga yang hampir tutup itu. Membeli sebuket besar mawar merah, melenggang dengan senyum merekah lantas masuk kembali ke dalam mobilnya.
Bersambung.