
Sinful Angel Bab 85
Gerimis ringan berangsur menjadi hujan meski tidak deras. Bisma melongokkan kepala melalui jendela yang hendak ditutup di petang ini. Tadinya, dia hendak pergi ke musola terdekat untuk menunaikan salat Magrib. Berhubung cuaca hujan dan Tya juga cuma sendirian di villa tua ini, Bisma memutuskan solat berjamaah berdua saja dengan Tya di kamarnya.
Ruang kalbu Tya diserbu haru ketika solat dan dzikir usai. Mencium punggung tangan Bisma penuh takzim yang dibalas elusan sayang di kepalanya yang masih terbungkus mukena. Ini adalah pertama kalinya Tya melaksanakan solat berjamaah. Sebelum melaksanakan tiga rakaat tadi, Bisma membimbing Tya tentang tata cara berjamaah yang baik dan benar. Tya menyimak antusias, mendengarkan dengan saksama.
Ibadah Magrib dilanjutkan dengan membaca mushaf nan suci sembari menunggu waktu Isya. Bisma duduk kembali menghadap kiblat di atas sajadahnya, melantunkan syahdu ayat demi ayat dengan tetap memperhatikan tahsinnya. Tya yang duduk di belakang menunduk dalam, meremas kedua tangannya sembari mendengarkan.
Lama-kelamaan lantunan ayat suci nan syhadu berpadu dengan isakan. Bisma menyudahi mendaras, menaruh mushaf kecil yang selalu dibawanya bepergian ke atas meja kayu yang terletak di sisi kanan sajadah. Dia memutar posisi duduk dan ternyata Tya tengah terisak-isak.
“Tya, ada apa? Kenapa nangis?” Bisma yang terkejut mengikis jarak. Mengelus kepala Tya yang menunduk dalam dengan air mata berjatuhan membasahi mukena putih yang dipakainya.
“Aku… aku malu sama Mas. Mendengar Mas mengaji dengan begitu indah membuatku semakin merasa kecil dan aku iri,” lirihnya tanpa mengangkat pandangan.
Bisma mengernyit bingung. “Iri? Iri kenapa?”
“Aku iri karena aku enggak bisa membaca tulisan Al-Qur’an dengan lancar kayak Mas. Bahkan membaca satu ayat saja aku harus tertatih-tatih dan bersusah payah. Aku ingin belajar juga, ingin pandai membaca Al-Qur’an juga seperti orang lain supaya aku bisa mendo’akan Caca dengan benar. Tapi aku malu meminta diajari dan entah pada siapa aku harus meminta tolong. Orang-orang sepertiku seringnya dianggap sebelah mata, diragukan tekadnya saat ingin belajar menjadi lebih baik. Tak diberi kesempatan,” tutur Tya serak sembari sesekali terisak pelan.
Tya tak menutupi penyebab tangisannya tumpah. Mendengarkan lantunan ayat suci secara langsung di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat merupakan kemewahan spesial bagi Tya yang selama ini kebanyakan berada di lingkungan yang jauh dari ajaran agama.
Bisma terpaku sejenak setelah mendengar penuturan Tya, lantas sorot matanya melembut. Terenyuh sekaligus tertampar. Baginya yang sudah diajarkan sejak kecil membaca Al-Qur’an tanpa kendala dan hambatan serta difasilitasi mumpuni oleh kedua orang tua, terkadang ada kalanya merasa malas mendaras andai tak dipaksakan.
Namun, ternyata justru ada sosok yang sangat mendamba ingin belajar di luar sana tetapi tak diberi ruang dan kesempatan. Harus bersusah payah demi bisa membacanya. Juga teringat dengan mantan istrinya dulu yang kerap menolak ketika diajak belajar bersama, beralasan dengan banyak dalih. Yang Bisma anggap sebagai ujian dalam rumah tangga, tak bosan menuntun meski pada akhirnya bahteranya kandas.
“Kalau begitu, aku yang akan mengajarimu. Jadi, jangan nangis lagi,” kata Bisma menghibur. Mengusap lagi kepala Tya dengan lembut. Seumpama seorang kakak menenangkan adiknya yang sedang menangis karena nilai ulangannya jelek.
Tya mengangkat pandangan cepat dan menyusut wajah basahnya. Mengerjap lugu serupa anak kecil yang ditawari permen. “Sungguh? Mas mau ngajarin aku biar ngajinya bagus kayak Mas barusan?” cicitnya antusias.
Bisma terkekeh, merekahkan senyum tampannya. “Iya. Kita bisa bikin jadwal rutin buat kamu belajar. Sebagai suamimu tentu merupakan tanggung jawabku juga saat istriku ingin belajar. Atau, kalau kamu ingin belajar dituntun orang lain, aku bisa memanggil guru secara privat.”
“Jangan!” Tya menggeleng cepat. Memegangi tangan Bisma. “Aku maunya sama Mas saja, kalau sama orang lain malu,” aku Tya jujur saja, karena rasa minder masing kerap menghantuinya. Ia sedang tertatih-tatih merangkai rasa percaya diri. Tak ingin fondasi mental rapuh yang sedang dibangunnya supaya kokoh hancur berantakkan.
“Baiklah, kamu tentukan waktunya. Yang pasti aku baru bisa ada waktu senggang selepas Magrib ke sana.”
*****
“Mana si bos? Katanya tadi abis Isya kita diminta siap-siap jalan kalau hujannya reda. Ini hujan udah reda, tapi kira-kira jadi pergi enggak ya?" Popy celingukan di teras villa. Pintu utama masih tertutup rapat. Belum terdapat tanda-tanda akan terbuka.
“Kelonan kali, enggak jadi pergi walaupun udah enggak hujan. Lagian dingin-dingin begini enaknya kan selimutan berdua,” celetuk Hadi sembari mengeratkan jaketnya, melindungi diri dari hawa dingin.
Poppy hanya mendengus sebal. Memberanikan diri mengetikkan pesan yang hendak dikirimkannya ke ponsel sang bos bertepatan dengan pintu utama villa yang dibuka dari dalam.
Bisma muncul menggenggam tangan Tya begitu mesra. Senyum keduanya berbeda dari yang sudah-sudah, lebih merekah dan semanis gula. Membuat Hadi iri ingin menggandeng pasangan juga, apalagi cuaca puncak super dingin.
“Mana Mang Eko dan pak mandor?” tanya Bisma pada Hadi juga Poppy.
“Mang Eko lagi manasin mobil. Pak mandor dan bu mandor juga sudah siap dengan jeep mereka,” jawab Poppy, mengarahkan tangan kanannya sopan ke arah Fortuner putih juga mobil jeep hijau yang mesinnya menyala.
“Aku akan pergi disopiri Mang Eko. Dan kamu Hadi, bawa Poppy pakai mobilku. Kita pergi makan malam ke tempat Sate Maranggi terenak yang ada di puncak. Tya lagi kepingin makan kuliner itu katanya, sambil jalan-jalan di Puncak. Iya kan, Sayang?” ucap Bisma mesra, lantas menyerahkan kunci mobil Terios hitam yang biasa dipakai untuk operasional kantor kepada Hadi.
Tya merona juga tersipu dipanggil mesra di depan Hadi juga Poppy. Sebelumnya Bisma memang pernah memanggilnya demikian di depan orang-orang, hanya saja berbeda konteks dengan saat ini. Sebelumnya hanya untuk kepentingan sandiwara, sedangkan kini bersumber dari getar rasa hati.
Poppy terbatuk-batuk padahal tidak sedang terserang flu, sementara Hadi mengusap-usap tengkuknya. Antara kesal juga merana. Merasa teraniaya disuguhi tontonan romantis yang membuat jiwa jomblonya meronta.
Tya mengangguk pelan yang direspons Bisma dengan membenarkan topi hoodie yang dipakai Tya. Mengeratkan talinya, memastikan Tya tidak kedinginan. “Iya, lagi kepingin makan itu.”
Tya tak berani berterus terang bahwa sebelumnya ia hanya pernah melihatnya di televisi juga Youtube. Untuk itulah saat Bisma mengajak makan malam tadi, Tya yang memang sejak lama ingin mencicipi sate Maranggi asli khas daerah puncak langsung mengusulkan menu makanan tersebut dan Bisma ternyata setuju.
“Sebaiknya berangkat sekarang, Pak. Semakin malam biasanya resto marangginya makin penuh pengunjung.” Poppy menginterupsi tanpa melupakan kesopanan. Selain karena angin semakin dingin menusuk, lambungnya mulai bergemuruh, adegan di depannya pun membuatnya panas dingin.
“Oke. Ayo berangkat.”
Bersambung.