
Sinful Angel Bab 124
“Sial! Lagi-lagi ditolak! Si Bisma ini perusahaannya baru berkibar tapi sudah belagu dan menerapkan peraturan sok ketat. Mau bermitra saja susahnya minta ampun! Padahal kita sudah membuat pengajuan lewat perusahaan-perusahaan kecil yang kita manfaatkan namanya supaya di acc, tapi tetap saja ditolak! Bahkan untuk pengajuan yang ini aku harus menunggu tiga minggu lamanya dan hasilnya tetap sama saja!”
Radhika melempar map ke wajah sekretarisnya, map laporan yang berisi tentang penolakan kerja sama Agra Prime. Radhika dan Prita sudah melakukan berbagai cara untuk menyusup sebagai mitra setelah mencicipi produk teh Agra Prime. Mengajukan kerjasama ingin dipasok bahan baku mentahan yang nantinya tentu akan diproses dan dikemas dengan merek-merek produk teh Sinar Abadi.
Akan tetapi, penolakan demi penolakan harus mereka telan, karena Agra Prime berkomitmen tidak menjual bahan baku mentahan. Agra Prime hanya memasarkan produk yang sudah jadi, yang sudah lengkap dilabeli dan tentu saja harganya tidak ideal untuk dijadikan bahan baku semisal mereka tetap nekat memaksa, karena jelas terlalu mahal.
“Kamu keluarlah!” titah Prita pada si sekretaris yang tampak tertekan itu. Prita juga hadir di ruangan Radhika dan menyaksikan luapan amarah suaminya. Prita baru saja datang sepulang dari pertemuan dengan komunitas sosialita.
“Sepertinya sudah waktunya memakai kartu AS.” Prita menyunggingkan senyum jahat di bibir bergincu merahnya.
Alis Radhika terangkat naik, bersamaan dengan sudut bibit yang birainya juga ikut terangkat miring. “Maksudmu, kartu AS terkait istrinya?”
Prita terbahak hingga kepalanya terlempar ke sandaran sofa.
“Ya. Kita bisa memeras Bisma dan membuatnya tunduk di kaki kita kalau tidak ingin aib istrinya tersebar di kalangan pengusaha dan menjadi bahan olokan. Kita hanya tinggal duduk manis dan Bisma mau tak mau harus menuruti kita. Dia harus merelakan bahan bakunya pada kita untuk dijadikan produk Sinar Abadi. Ah, entah kenapa keberuntungan selalu berpihak pada kita dan Bisma lagi-lagi harus menelan kesialan,” cerocosnya bangga dengan akal bulusnya.
“Kamu benar-benar cerdas. Kalau begitu, kita harus segera mengatur jadwal ke Bandung untuk berkunjung secara resmi pada mantan suamimu. Di penghujung minggu ini bagaimana?”
“Aku setuju. Lebih cepat lebih baik. Mmhh... aku mencium lagi aroma uang berlimpah sekarang. Tugas Mas adalah menjinakkan Bisma. Sedangkan aku akan memprovokasi mantan mertuaku, agar kehidupan Bisma benar-benar seperti neraka!”
*****
Hari demi hari berlalu. Sudah hampir satu bulan berjalan, pencarian semua orang terkait keberadaan Tya belum membuahkan hasil. Perihal pencarian Tya oleh banyak pihak sudah diketahui Farhana sejak beberapa hari lalu, sewaktu mengisi kajian di rumah Khalisa.
Khalisa meminta dengan sangat, memohon Farhana bersedia turut mendo’akan kemudahan pencarian Tya, agar upaya semua orang segera menemui titik terang. Farhana ingin sekali memberitahu Khalisa bahwa Tya ada bersamanya, tetapi dia harus tetap meminta persetujuan Tya, tidak ingin membuat Tya yang sedang hamil semakin stress.
Memang, para pencari pasti agak kesulitan mencari Tya. Selain jarangnya Tya berpergian keluar dari rumah dinas di mana Farhana tinggal, sekalinya Tya keluar dari pintu rumah selalu memakai masker.
Alasan utamanya adalah karena Tya tak tahan dengan aroma-aroma tajam yang membuatnya mual efek dari kehamilannya. Tya juga mengatakan pada Farhana bahwa dia merasa lebih aman saat wajah cantiknya tidak terekspose.
Tya pun tak menutupi ketakutannya yang risi dan tak nyaman andai dipertemukan kembali dengan orang-orang dari masa lalu. Tya juga menceritakan bagian pertemuan dirinya dengan Markus. Seseorang yang mengetahui nodanya di masa silam. Dan Farhana yang memang sudah mengetahui perihal kisah masa lalu Tya sewaktu Tya curhat lewat telepon sebelum memutuskan menemui Viona, sangat memahami apa yang dirasakan Tya.
Hari ini Khalisa memiliki janji mengambil baju pesanan di VN Fashion. Nara menyarankan bertemu di butik VN Fashion pusat karena gaun seragam untuk keluarga Khalisa dikerjakan langsung olehnya bersama sang bunda di studio utama.
“Bagaimana? Kalau ada yang kurang pas katakan saja.” Nara sedang menemani Khalisa fitting baju di ruang khusus fitting. Bersebelahan dengan ruangan studio utama.
“Sama sekali tidak ada yang kurang Bu, Nara. Semuanya sudah sangat pas dengan keinginan saya. Saya suka sekali,” sahut Khalisa semringah sembari memindai pantulan dirinya yang memakai gaun muslim cantik di depan cermin.
“Kalau semuanya sudah pas, dua hari ke depan saya pastikan semua gaun yang dipesan sudah bisa diantar ke rumah Anda.” Raut wajah Nara tampak puas saat hasil karyanya sesuai dengan yang diinginkan konsumen.
“Senang bisa membuat konsumen puas dengan karya kami. Akan saya sampaikan ucapan terima kasihnya. Kebetulan Bunda sedang ada tamu, jadi tidak bisa ikut memantau fitting.”
Khalisa hendak berganti pakaian lagi dan sebelum masuk ke kamar di tempat khusus berganti baju, Khalisa menyerahkan sebuah jinjingan yang ukurannya cukup besar kepada Nara. Di dalamnya terdapat botol berisi minuman yang mirip ramuan herbal.
“Bu Nara, ini saya bawa wedang penambah stamina siap minum juga jamu sehat wanita buat Bu Nara, Bu Viona dan untuk karyawan butik pusat ini. Wedang dan jamunya terasa khasiatnya, saya sudah membuktikannya sendiri. Ustadzah Farhana yang semula menawari saya produk ini, ini buatan temannya katanya dan beliau berani menjamin keaslian seta kebersihan bahan bakunya. Dan akhirnya saya malah ketagihan repeat order. Wedang penambah staminya sangat cocok buat Bu Nara yang aktivitasnya padat.”
*****
“Apa ini?” Viona yang sedang menggoreskan stylush pen di atas layer tablet, menghentikan kegiatannya saat Nara menaruh dua buah botol bening bertutup hitam ke atas mejanya.
“Ini minuman kesehatan yang dibawakan Nyonya Yudhis. Beneran enak lho, Bun. Enggak bau menyengat jamu. Terus bikin badan seger ini si jamu dan wedangnya. Peraciknya kayaknya handal walaupun kemasannya masih sederhana,” jelas Nara yang memang sudah meneguk satu botol wedang penambah stamina dua jam lalu.
“Oh ya?”
Viona yang tertarik dengan riview dari putrinya, membuka botol yang menuliskan wedang stamina di luar kemasan botolnya yang hanya ditempel menggunakan selotip. Mencicipi di ujung lidah kemudian meneguknya satu tegukan.
“Mmm, beneran enak,” ucap Viona yang kemudian tanpa ragu menghabiskan satu botol hingga tandas.
“Nah, enak kan, Bun. Kayaknya aku mau ikut order juga lewat Nyonya Yudhis. Ini katanya buatan teman ustadzah yang suka ngisi kajian ilmu di rumahnya.”
Mengernyit seperti tengah menelaah sesuatu itulah reaksi Viona sekarang. Nara yang sedang semringah pun ikut mengerutkan dahi saat melihat raut muka bundanya berubah serius.
“Bunda kenapa?” tanya Nara keheranan.
“Entah kenapa Bunda merasa tidak asing dengan citarasa wedang ini.”
“Tidak asing gimana?” Nara makin tak mengerti.
Viona menatap dalam-dalam bola mata putrinya yang menuntut penjelasan.
“Wedangnya… wedang ini, entah kenapa citarasanya mirip buatan Tya,” imbuh Viona yang sama-sama membiaskan berbagai macam tanya di sorot matanya.
“Yang benar, Bun?”
“Iya, benar. Bunda harus memberitahu Bisma tentang hal ini sekarang juga. Semoga wedang ini bisa jadi petunjuk."
Bersambung.