Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 90



Sinful Angel bab 90


Satu porsi mie instant yang baru matang dilengkapi toping telur, sawi putih dan irisan cabai ditaruh di atas nampan. Panci kecil berisi sup ayam kampung panas yang diracik dengan bumbu khas daerah setempat juga ditata di atas nampan. Dua porsi nasi putih, sepiring telur dadar tak lupa bertengger di sana. Menemani beberapa buah pisang ambon, singkong bakar yang masih hangat lengkap dengan sambalnya dan dua gelas wedang jahe ikut memeriahkan isi nampan.


Bu mandor muncul dari dapur villa membawa nampan penuh makanan. Beberapa menit yang lalu, Bisma memintanya membawakan makan siang dan meminta tolong dibuatkan mie instant. Tya yang mendadak ingin makan mie instant. Sempat didebat oleh Bisma mengingat baik Tya maupun dirinya melewatkan sarapan dan baru akan mengisi perut di pukul satu siang ini.


“Pak, wedang yang dibuat Bu Bos kemarin sudah saya hangatkan seperti yang Anda minta. Ini nampannya mau ditaruh di sini saja atau saya antar ke kamar?”


Bu mandor bertanya pada Bisma yang terlihat sedang membukakan gorden-goden dan jendela di ruang tengah villa supaya cahaya matahari dan udara segar masuk ke dalam bangunan. Bisma dan Tya baru beranjak dari acara bergelung selimut dan saling mendekap di tempat tidur ketika adzan Dzuhur berkumandang sedangkan pintu villa terkunci, sehingga gorden dan jendela masih tertutup rapat sampai siang.


“Biar saya saja yang bawa ke kamar. Terima kasih, Bu Mandor.” Bisma mengambli alih nampan dari tangan bu mandor.


“Kalau ada yang kurang dan butuh yang lain lagi, Pak Bos jangan sungkan panggil saya. Tadi suami saya juga berpesan, kalau misalnya Pak Bos butuh sup kambing buat meningkatkan stamina, suami saya siap mencarikan,” cerocos bu mandor yang ikut semringah saat melihat wajah tampan Bisma berseri-seri hari ini. Asumsi pikirannya ikut tercemar akibat diajak bergabung di arena pergosipan Mang Eko juga Hadi tadi pagi.


“Uhuk… uhuk!” Bisma terbatuk kecil saat mendengar tawaran bu mandor padahal tenggorokannya tak gatal. Berupaya meredam salah tingkah yang mendadak merecoki. “Ehm, untuk sekarang ini sudah cukup,” pungkas Bisma cepat agar bu mandor tak semakin ke sana kemari.


“Baik, Pak. Selamat bersantap siang dirapel sarapan. Kalau begitu saya mau berbenah villa sama beres-beres dapur.”


Gegas masuk ke dalam kamar, Bisma menutupkan pintu rapat-rapat. Bisma nyaris terperanjat karena Tya ternyata sedang berada di balik pintu. Tengah terkikik geli sembari membekap mulut.


Bisma menaruh nampan di meja nakas. Menarik Tya untuk duduk di tepi ranjang lantaran terkejut dengan istrinya yang mendadak tertawa sendiri. Berdiri agak membungkuk di hadapan Tya, dia meraba kening istrinya yang masih belum terhenti terpingkal.


“Kenapa mendadak ketawa-ketiwi sendiri, huh? Jangan-jangan kamu kerasukan jin di villa ini!” ujarnya panik.


Tya berusaha menghentikan tawanya. Pipi mulusnya merona merah bahkan sudut matanya ikut berair. Bukan sedang menangis, melainkan karena tak kuasa menahan tawa geli.


“Cie, ada yang salting ditawari sup kambing biar kuat,” godanya pada Bisma. “Biar kuat apa, Pak Bos?”


Bisma yang semula panik, menegakkan punggung dan bersedekap. Memicing curiga pada wanita cantik nan ayu yang memakai kemeja putih miliknya itu. “Kamu barusan ngintip dan nguping ya?”


“Iya. Aku beneran enggak sengaja nguping dan ngintip,” jawab Tya jujur. Tak menutup-nutupi. “Tadinya mau keluar kamar, mau bantuin Mas buka-buka gorden. Tapi enggak jadi waktu kulihat ada bu mandor, rasanya kurang sopan karena aku cuma pakai kemeja sepaha gini kan, kecuali cuma ada Mas. Terus enggak sengaja dengar bu mandor nawarin sup kambing. Mas tahu enggak, ekspresi Mas tadi gemesin banget. Malu-malu kucing gitu.”


Tya lagi-lagi terpingkal. Baru kali ini Bisma melihat Tya tertawa lepas membuat wanita bermata teduh itu semakin cantik dan memesona.


“Haruskah benar-benar kuterima tawaran bu mandor? Tapi, kamu yakin kuat enggak ngerondainnya?” Bisma balas menggoda, menaik turunkan alisnya.


Tya membeliak horor. Menyilangkan kedua lengan di depan tubuhnya. “Mending jangan! Enggak makan sup embe aja Mas udah bikin aku begadang semalaman! Enggak ada capeknya ish!”


Giliran Bisma yang tergelak puas. Meraup sisi wajah cantik Tya dan menciuminya gemas. “Makanya, jangan nantangin. Nyerah duluan, kan. Sebaiknya mengisi perut dulu.”


Bisma mengambil nampan di nakas. Membawanya ke meja berukuran sedang berbentuk bulat dekat jendela yang dibuka lebar-lebar. Sebuah meja antik terbuat dari pohon jati yang dilengkapi sepasang kursi dari jati juga.


“Ayo sini, makan dulu, mumpung masih hangat. Atau mau kamu yang kumakan hmm?”


Bisma mengacak rambut Tya gemas. “Makanya cepat makan. Sebelum aku enggak bisa menahan diri melahapmu. Nih, mie instant pesanan kamu. Lain kali enggak boleh makan mie pedas begini di saat kamu melewatkan sarapan. Tapi hari ini pengecualian karena di sini enggak banyak banyak pilihan makanan. Cuma ada menu-menu sederhana.”


“Makasih suamiku, Sayang. Mas memang yang terbaik.” Tya mencubit sayang pipi Bisma, membuat si tampan berjambang tipis itu salah tingkah, senang bukan kepalang diapresiasi demikian.


Mereka berdo’a bersama sebelum bersantap. Tak lupa memanjatkan syukur atas makanan yang disajikan. Keduanya makan lahap karena memang benar-benar lapar. Tya menyendok mie instannya penuh sukacita. Sedangkan Bisma menyantap nasi dengan sup ayam kampung lezat menggoda selera.


Di sela-sela makannya, Bisma sesekali menyuapi Tya menu sup ayam kampung kaya manfaat itu mengingat mie instant yang dimakan Tya minim nutrisi. Tidak ingin istrinya kekurangan gizi. Tak lupa membujuk Tya menghabiskan satu buah pisang ambon, agar kebutuhan vitamin dan mineral terpenuhi mengingat Tya belum lama pulih.


*****


“Gimana lengannya, masih sering sakit?” Bisma mengusap sisi lengan kanan Tya saat istrinya itu sedang berganti pakaian. Mereka tengah bersiap-siap kembali ke Bandung sore ini.


“Sudah enggak begitu kerasa, Mas. Bekas lukanya juga sudah memudar signifikan,” sahut Tya yang hendak memasukkan celana jeans longgar di kakinya.


“Tunggu.” Bisma berjongkok. Di suasana benderang begini Bisma baru menyadari bahkan Tya memiliki bekas luka di area betis yang pastinya bukan bekas luka sederhana. “Ini luka kapan? Apakah sewaktu kecelakaan juga? Kenapa enggak bilang supaya bisa ditangani intensif seperti luka di lenganmu, luka ini pasti sakit kan?” cecarnya khawatir.


“Ah, bukan, Mas. Itu bukan bekas kecelakaan. Kisahnya panjang, nanti kuceritakan. Tapi berkat luka itu juga aku dipertemukan dengan Caca,” kata Tya sembari tersenyum.


Tya melanjutkan berpakaian hingga selesai kemudian mengambil jaket Bisma dan membantu Bisma memakainya. Mendongak setelah memastika jaket sang suami terpasang sempurna. Menatap lembut penuh syukur.


“Maafin aku ya, Mas. Banyak sekali ketidaksempurnaan dan kekurangan dalam diriku ini. Entah itu dari segi fisik maupun kisah masa lalu. Padahal Mas Bisma bisa memilih wanita manapun yang diinginkan. Yang lebih segalanya dari aku. Tapi aku tetap berharap besar, Mas bersedia memaklumi semua kekuranganku ini. Aku memaksa. Apakah aku serakah?”


Bisma memegang kedua bahu Tya. “Aku mungkin memang dapat memilih wanita manapun yang kuinginkan. Tapi yang hatiku mau itu kamu. Getar dalam jiwaku memilih kamu, bukan yang lain. Jujur saja awalnya aku hanya merasa kasihan padamu, pada nasibmu. Tapi lama-lama ternyata yang kurasakan sebenarnya lebih dari itu. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat dijabarkan nalar dan teori, lebih pada debaran merdu yang dirasakan hati. Kamu mungkin enggak menyadari, kebaikan hatimu menguar jelas. Dan sebagai informasi, aku suka dipaksa kamu,” ujarnya mengekeh, mencubit sayang hidung bangir Tya.


“Hei, gombal!”


Tya ikut tertawa renyah. Memeluk Bisma kemudian. Gema syukur menggaung dalam kalbu. Tya sempat berpikir Bisma akan merasa jijik menyentuhnya di saat tengah sadar sepenuhnya, berbeda dengan situasi ketika di Bali. Akan tetapi, semua kegundahannya sirna saat semalam Bisma benar-benar menghargai setiap inci dirinya dalam kondisi sesadar-sadarnya.


“Aku ingin membawamu bertemu Bunda secepatnya. Sudah saatnya aku memperkenalkanmu pada ibuku. Gimana kalau besok? Kita menemui bundaku sambil bawakan oleh-oleh Puncak,” usul Bisma tiba-tiba.


Senyum merekah Tya surut. Berganti keresahan di bias bola matanya. Menengadah mempertemukan pandangan sembari menelan ludah.


“Bertemu ibunya Mas? Bukannya enggak mau. Tapi, aku… aku malu. Mas dan aku bagaikan langit dan dasar lautan. Apa yang harus kulakukan kalau ibu Mas enggak suka aku,” lirihnya tak percaya diri.


Tya tertunduk. Bisma mencium ubun-ubun kepala Tya mesra, memberi ketenangan.


“Bundaku bukan orang yang berpikiran sempit semacam itu. Selalu menghargai keputusan dan pilihanku. Tapi beliau pasti marah karena aku menikah tanpa meminta izin terlebih dahulu darinya. Tapi itu urusanku, jadi tenangkan hatimu. Sudah waktunya kamu bertemu keluargaku. Lebih cepat lebih baik. Bukan hanya itu. Aku juga ingin meresmikan pernikahan kita secara negara, agar semua orang tahu bahwa kamu adalah istriku yang sah. Bukan hanya sah sebatas siri.”


Bersambung.