
Sinful Angel Bab 37
Mendengar kata-kata Bisma, Tya tertawa kering. Balik menatap Bisma yang sedang menatapnya serius.
“Kenapa Anda gemar sekali membuat lelucon yang tak lazim, Pak? Kalimat semacam itu tidak cocok dijadikan bahan candaan. Logika saja, Pak, dipikir dengan akal sehat. Kalau pun iya Anda memang ingin punya istri, bukankah masih banyak yang layak untuk dipinang. Seperti misalnya artis, model, teman sejawat, pengusaha lagi maupun karyawan di perusahaan Anda, yang sama-sama dari kalangan tinggi, bukan dari kalangan rendah berjejak kelam seperti saya.”
Bisma membuang napas nyaring lantas menimpali. “Tidak ada yang namanya kalangan rendah dan kalangan tinggi, Tya. Semua manusia di dunia ini sama saja bukan? Sama-sama tercipta dari saripati tanah,” sahut Bisma terdengar agak tak suka dengan pernyataan Tya.
“Tentang hal asal muasal itu, saya yang tidak pintar dan kurang wawasan ini juga tahu, Pak. Tapi, tetap saja saya harus selalu sadar diri dan tahu diri. Jadi, katakan saja yang apa sebenarnya balasan yang Anda inginkan dari saya atas semua hal yang telah Anda korbankan untuk saya walaupun semua ini bukan saya yang meminta. Saya tahu, tidak ada yang gratis untuk sebuah bantuan besar. Sebagai balas budi, bekerja di perusahaan Anda pun rasanya mustahil, saya hanya mengenyam pendidikan paket C yang tidak rampung. Atau, apakah Anda berniat mengajak saya tidur? Kalau iya, tidak perlu repot-repot melakukan banyak hal seperti ini. Karena sudah pasti jawaban saya adalah tidak. Sudah pernah saya tegaskan sebelumnya, saya sudah berhenti dari profesi itu, Pak.” jelas Tya menegaskan. Tya benar-benar sangat serius sekarang, menanti mulut Bisma menuturkan penjelasan sejelas-jelasnya.
Bisma menarik kursi kayu yang terdapat di sisi ranjang dan duduk di sana. Menggosok ujung hidung, dia maklum dengan reaksi Tya. Pasti tak mudah memahami dan menerima permintaanya yang tidak umum diminta pria asing pada wanita yang baru ditemui sekilas.
Tya tercenung. Kalimat Bisma masuk di akal, tetapi tak menuntaskan rasa penasarannya. “Bukan rahasia lagi, semua klien yang memakai jasa Date House memang orang-orang yang tidak punya gandengan. Tapi, kenapa Anda mendadak meminta tolong pada saya untuk menjadi istri Anda? Meminta seseorang menjadi istri saat konteksnya terjadi bukan di antara dua orang saling cinta sangatlah tidak lumrah. Sama sekali tidak masuk dalam daftar tolong-menolong sesama manusia, Pak.”
Kepala Bisma mengangguk mengiyakan. “Ya, saya sangat tahu itu. Saya juga tahu kamu sedang berduka dan tak sepantasnya saya mengungkapkan masalah pelik saya. Tapi, kamu pasti butuh penjelasan. Saya meminta tolong demikian sebab terbelit masalah rumit dan cuma kamu yang bisa membantu saya. Prita juga teman-teman serta kolega kenalan saya yang ada di pesta yang pernah kita hadiri minggu lalu itu, tahunya bahwa istri saya itu adalah kamu, Tya, bukan wanita lain. Sudah terlanjur. Saya kira imbas dari terpeleset lidah sebab tersulut emosi pada malam itu sederhana, akan langsung selesai malam itu juga. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Beberapa hari yang lalu, mantan istri saya bahkan berkunjung ke Bandung dan datang ke perusahaan untuk memastikan dan mencari-cari info tentang pernikahan saya dengan kamu,” tutur Bisma mengungkapkan masalah memusingkan yang melandanya sekarang.
Tya membelalak tak percaya mendengar cerita Bisma, terutama pada bagian tentang mantan istrinya yang bernama Prita itu benar-benar kepo dan hobi mengusik. “Mantan istri Anda sungguh benar datang ke perusahaan Anda hanya untuk memvalidasi tentang kehidupan pribadi mantan suaminya? Wah, ada apa dengan mantan istri Anda, Pak? Jangan-jangan dia masih cinta,” celetuk Tya tak habis pikir.
“Tentang itu saya tak tertarik untuk tahu. Yang pasti, dalam beberapa waktu ke depan, Prita pasti akan terus mengusik dan menelisik terkait kehidupan pribadi saya. Masalah lainnya yang timbul, beberapa kolega mengundang saya menghadiri beberapa acara penting terkait bisnis dalam waktu dekat dan meminta mengajak serta para istri setelah beredar kabar saya sudah menikah diam-diam. Semua buntut persoalan ini memang murni salah saya. Semua bantuan saya buat kamu memang pamrih, Tya. Karena saya sangat membutuhkan balasan dari semua bentuk bantuan itu. Untuk itulah saya memintamu jadi istri saya, Tya. Saya harap kamu tidak salah paham. Ini bukan tentang perasaan, melainkan tentang kesulitan saya yang hanya kamu yang bisa membantu merealisasikan jalan keluar.”
Bersambung.