
Ting ...
Ponsel milik Candra berbunyi, namun pemilik ponsel itu sedang tidak berada di sampingnya. Amanda yang masih duduk di sana sambil meminum ice caramel macchiato menjadi penasaran siapa yang mengirim pesan itu.
"Siapa, ya, yang ngirim pesan, kok jadi penasaran," gumam Amanda.
Dengan rasa penasarannya, Amanda mengambil ponsel milik Candra dan melihat siapa pengirim pesan tadi.
"Lovely Wife 💙," ucap Amanda saat melihat nama pengirim pesan.
Amanda tersenyum dengan ujung bibir kirinya yang terangkat, "Ini, pasti Zila," gumam Amanda, "Dia mengirim pesan apa, ya? Jadi penasaran," lanjut Amanda.
Senyumnya semakin lebar saat mengetahui jika ponsel Candra tidak ada sandi ataupun kunci, jadi dia lebih mudah untuk melihat isi pesan dari Azila.
"Sayang, siang, ini, Mamah sama Papah datang ke rumah. Cepatlah pulang setelah meeting mu selesai, Love you😘," ucap Amanda membaca isi pesan dari Azila di ponsel Candra.
"Sepertinya, tidak lama lagi akan ada pertengkaran," gumam Amanda sambil tersenyum menyeringai.
Tangan lentiknya seperti tanpa beban dan dosa, dia menghapus pesan yang barusan dikirim oleh Azila. Senyumnya semakin lebar dan seperti ada kepuasan tersendiri.
Saat Amanda masih memegangi ponsel milik Candra, dia melihat pemiliknya sudah kembali dari toilet, dengan segera dia mengembalikan ponsel Candra ke tempat asalnya dengan posisi yang sama persis.
Candra sudah kembali dan duduk di kursi seberang Amanda, "Maaf, lama," ucap Candra sambil menyunggingkan senyum yang ia paksa.
"Tidak apa-apa," jawab Amanda.
"Oke, bagaimana dengan surat kontrak kerja samanya? Masih adakah yang belum anda mengerti, nona Amanda?" tanya Candra dengan bahasa yang sopan dan formal.
"Sudah mengerti semuanya," jawab Amanda, "Terima kasih," lanjutnya.
"Sama-sama," balas Candra, "Kalau sudah tidak ada urusan lagi, saya mohon pamit undur diri," lanjut Candra sambil berdiri dari duduknya.
Candra berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Amanda.
"Candra !" panggil Amanda. Candra berhenti dan menoleh.
"Bisa antar kan aku ke kantorku dulu? Mobil ku masih dibawa supir ke bengkel," ucap Amanda.
Candra sejenak berpikir, apakah dia akan mengantarkan Amanda kembali ke kantornya atau tidak.
"Baiklah, mari," ucap Candra.
"Terima kasih," jawab Amanda.
Mereka berdua berjalan keluar dengan Candra yang berjalan lebih dulu. Sesampainya di mobil, Candra dan Amanda bergegas masuk karena matahari sudah sangat terik dan panas. Candra segera menancap gas meninggalkan cafe itu.
Di lain tempat, tepatnya di rumah keluarga Wibawa, Azila sedang duduk di tepi ranjangnya sambil menunggu pesan balasan dari suaminya.
"Apa meeting nya masih lama, ya? Tapi, dia sudah membaca pesanku sejak satu jam yang lalu," gumam Azila sambil menatap layar ponselnya.
Tok ... tok ... tok ....
"Kak !" panggil Dara dari luar pintu.
Tok ... tok ... tok ....
"Kak Zila !" panggil Dara lagi.
"Iya, apa, Da?" jawab Azila sembari bangun dari duduknya dan menghampiri pintu.
"Iya, ada apa?" tanya Azila lagi setelah membuka pintu kamarnya.
"Tante Mitha sama Om Hendri sudah datang, Kak. Kakak disuruh turun," ucap Dara.
kegelisahannya terhadap Candra menjadi berkurang setelah kabar Mamah dan papahnya datang, ia segera menutup pintunya dan turun dan dibantu oleh Dara karena perutnya yang semakin besar dan dia masih suka lelah saat naik turun tangga.
"Mamah, Papah !" sapa Azila setelah berada di ruang tamu. Papah Hendri membalas dengan senyum.
"Hai, Sayang !" sapa balik Mamah Mitha. Azila berhambur ke pelukan Mamah Mitha.
"Mah, Zila kangen banget," ucap Azila dalam pelukan mamahnya.
"Apa kami pikir Mamah tidak kangen sama anak Mamah yang cerewet, ini?" balas Mamah Mitha sambil mengelus-elus punggung anak perempuannya.
Azila melepaskan pelukannya dan gantian memeluk papahnya.
"Papah, kangen," ucap Azila di dalam pelukan Papah Hendri.
"Kalau kangen, ya, datang saja ke rumah, apa jangan-jangan kamu sudah lupa jalan ke rumah Papah?" balas Papah Hendri sambil mengelus kepala putrinya.
"Mana mungkin Zila lupa jalan pulang, Zila hanya tidak ada teman pergi ke sana," jawab Azila.
"Di mana suamimu? Apa dia jarang pulang? Atau tidak pernah pulang?" tanya Papah Hendri lagi.
"Dia selalu pulang tepat waktu, kok, Pah. Hanya Zila saja yang tidak tega mengajaknya, dia terlalu capek bekerja," jelas Azila. Papah Hendri tersenyum mendengar penjelasan Azila.
"Kamu memang istri yang sangat pengertian, Candra pasti sangat bahagia bisa mendapatkan kamu sebagai istrinya," ucap Papah Hendri sembari mengecup kepala putrinya.
Papah Hendri dan Azila melepas pelukan mereka, Azila duduk di samping Mamah Mitha sambil menyenderkan kepalanya di pundak mamahnya dan mengelus perut besarnya.
"Eheem, kayaknya ada yang terlupakan, nih," ucap Yasa dengan nada menyindir sambil melihat ke langit-langit ruang tamu.
Azila baru teringat kalau ada adiknya yang ikut ke rumah keluarga Wibawa, dia langsung menoleh ke adiknya yang pura-pura tidak melihatnya.
"U tu tu tu, adikku yang paling ganteng juga ikut, toh. Kakak kira dia lagi sibuk pacaran," ucap Azila sambil mencolek Yasa yang hanya terhalang oleh Mamah Mitha.
"Mah, sepertinya ada yang berbicara barusan, tapi siapa, ya? Jadi merinding aku," ucap Yasa sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu.
"Sepertinya ada yang mulai berani sama kakaknya," ucap Azila sembari melirik Yasa, "Mungkin, dia sudah bosan menjaga rahasia," lanjut Azila.
"Oh, ada Kak Azila yang cantik jelita, toh. Maaf, ya, Kak, tadi nggak kelihatan," ucap Yasa sambil meraih tangan Azila.
"Ceh, laki-laki penakut," ledek Azila.
"Damai, ya, Kak? Please," ucap Yasa sambil menggoyang-goyangkan tangan Azila.
"Heeeh, jangan seperti anak kecil terus, kalian sudah besar," sahut Mamah Mitha sambil menjewer Yasa dan menariknya agar kembali ke duduknya semula.
"Kalian, ini. Satu keluarga yang begitu bahagia," ucap Ayah Yoga di sela tawanya.
Abyasa memang sangat takut jika kakaknya membongkar semua rahasianya, apalagi rahasia tentang hubungannya dengan teman wanitanya saat ini. Azila adalah tempat curhat Abyasa setiap harinya, dia selalu bercerita semua tentang kehidupannya ke kakaknya.
Di ruangan yang penuh kebahagiaan itu, Azila kembali merasakan kecemasan di dadanya, pikirannya terus menerus terbayang Candra.
"Kenapa dia juga belum memberi kabar, apa dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan?" ucap Azila dalam hati, "Ah, mikir apa, sih, aku. Dia pasti baik-baik saja, dia mungkin sangat sibuk di kantor," ucapnya lagi untuk mengusir pikiran jelek tadi.
Ting ...
Satu chat masuk di ponsel Azila. Wajah bahagia langsung terpancar di wajahnya karena chat itu adalah chat dari Candra, dia dengan semangat langsung membuka chat itu.
Wajah yang tadinya sangat sumringah, tiba-tiba berubah bingung sekaligus marah.
"Apa-apaan, ini?"
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙