
Tak butuh waktu lama untuk Candra sampai di rumah mertuanya. Sekarang dia sudah berdiri tepat di depan pintu besar milik keluarga Yudistira. Dia merasa takut dan bimbang saat akan menekan bel rumah besar itu. Tangan Candra mengepal.
"Ayo, Candra. Kamu harus jadi laki-laki, laki-laki sejati, laki-laki gentle, laki-laki bertanggung jawab," gumam Candra, "Kamu harus bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, kamu adalah pemimpin di keluargamu," lanjut Candra. Dia menyemangati dirinya sendiri.
Saat jari Candra hanya berjarak kurang dari satu sentimeter, pintu besar itu tiba-tiba terbuka dan membuat Candra termundur dua langkah karena kaget dan takut.
"Astaga!" ucap Candra sedikit berteriak.
Dua orang yang berada di seberang pintu ikut terkejut karena adanya Candra dan teriakannya.
"Ya Tuhan!" teriak Mamah Mitha. Papah Hendri hanya terperanjat karena terkejut.
"Candra! Kenapa bikin kaget orang tua, sih," gerutu Mamah Mitha sambil memegang dadanya yang dag dig dug.
"Ma-maaf, Mah," jawab Candra.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Papah Hendri.
"Em, em, em." Candra bingung bagaimana menjawab pertanyaan Papah Hendri. Di hatinya dia sangat yakin jika Azila ada di rumah itu, tetapi reaksi dan ekspresi dari Papah Hendri dan Mamah Mitha seperti tidak tahu apa-apa tentang masalahnya dengan Azila.
"Am em am em, sesulit, itukah, pertanyaan Papah?" tanya Papah Hendri.
"A-anu, Pah." Candra menjadi gugup.
"Anu-anu, anu apa?" tanya Papah Hendri, "Cepat katakan, Papah sama Mamah mau pergi," lanjut Papah Hendri.
"A-anu, Azila nya a-ada di sini nggak, Pah?" tanya Candra yang semakin gugup dan takut. Papah Hendri dan Mamah Mitha menautkan kedua alis mereka.
"Kenapa kau bertanya seperti, itu? Seharusnya kau sudah tahu jika Azila berada di rumahmu terus," jawab Papah Hendri.
Deg ....
"Mati aku. Jika dia tidak ada di sini, pasti Papah akan-" batin Candra.
"A-anu, Pah," ucap Candra yang menjadi sangat takut.
"Dari tadi una anu una anu, bicara yang jelas bisa tidak!" ucap Papah Hendri dengan nada sedikit tinggi.
"Jangan-jangan-" ucap Mamah Mitha tertahan. Papah Hendri kembali menautkan kedua alisnya.
"Mamah juga kenapa menjadi tidak jelas, sih. Jangan-jangan apa, Mah?" tanya Papah Candra yang kebingungan.
"Azila pergi dari rumah, Pah, Mah," sahut Candra dengan kepala yang menunduk dan sudah masa bodoh dengan rasa takut dalam dirinya. Sejak awal dia memutuskan untuk datang ke rumah ini karena harus menyelesaikan masalahnya dan menerima semua resikonya.
"Apa kamu bilang? Azila pergi dari rumah?" tanya Papah Hendri sambil sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Candra yang menunduk. Candra mengangguk.
"Sejak kapan?" tanya Papah Hendri yang sudah mulai memanas. Mamah Mitha hanya sambil mengelus punggung Papah Hendri, dia takut kalau suaminya itu akan lepas kendali saat marah.
"Ke-kemarin siang, Pah," jawab Candra.
Buugh ....
Dengan kepalan keras tangan Papah Hendri, satu buah pukulan mendarat telak di wajah Candra hingga membuatnya terhuyung.
"Pah, sabar, Pah. Jangan terbawa emosi dulu, dibicarakan dulu, dengerin penjelasan Candra dulu," ucap Mamah Mitha sambil menahan tubuh Papah Hendri agar tidak dekat-dekat dengan Candra. Papah Hendri tidak menggubris ucapan Mamah Mitha sama sekali.
"Kenapa dia bisa pergi? Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Papah Hendri dengan emosi yang semakin memuncak.
Candra merogoh saku celananya dan mengambil ponsel milik Azila yang sudah retak-retak layarnya. Dia memperlihatkan foto-foto yang entah dikirim oleh siapa melalui nomornya, dalam pikirannya itu pasti Amanda. Namun, dia belum cukup bukti untuk itu. Setelah melihat foto-foto itu, Mamah Mitha seperti lemas dan melepaskan pegangannya pada lengan Papah Hendri. Sedangkan Papah Hendri langsung menepis ponsel itu hingga terjatuh ke lantai.
"Pah, a-"
Buugh ....
Ucapan Candra terhenti saat Papah Hendri kembali memukul wajah Candra, dia terhuyung hingga hampir tersungkur dan darah segar keluar dari ujung bibirnya karena pukulan keras itu. Candra membenarkan posisinya sambil mengusap darah di bibirnya.
"Pa-"
Buugh ....
Satu pukulan keras kembali mendarat di wajah Candra, dia kembali terhuyung dan terjatuh ke lantai. Candra mencoba kembali berdiri untuk menjelaskan semuanya ke Papah Hendri.
Saat Candra sudah kembali berdiri, Papah Hendri menendang perut Candra hingga membuat Candra kembali terjatuh ke lantai. Papah Hendri mendekat ke Candra.
"Yang pertama, kau sudah membuat anak saya pulang ke rumah disaat dia sedang hamil muda, dan sekarang, sekarang kau berselingkuh, dan membiarkannya pergi entah kemana dengan perut yang sudah membesar! Apa otakmu tidak ada isinya hingga membuatmu berpikir menggunakan lutut mu?" bentak Papah Hendri sambil menunjuk Candra. Candra hanya diam duduk di lantai sambil menunduk.
Papah Hendri semakin geram dan emosi dengan sikap Candra yang hanya diam menunduk, lalu dia berbalik dan menarik lengan Mamah Mitha untuk masuk ke dalam rumah.
"Pah!" seru Candra yang sudah berdiri dengan wajah berantakan.
Papah Hendri menghentikan langkahnya di depan pintu dan menoleh ke Candra, "Mulai sekarang jangan memanggilku dengan sebutan, itu, lagi," ucap Papah Hendri, "Sepertinya saya sudah salah memilih seorang laki-laki untuk anak saya," lanjut Papah Hendri. Candra mengerutkan dahinya.
"Apa maksud, Papah?" tanya Candra.
"Segera ceraikan anak saya, dan jangan pernah mengganggunya lagi," jawab Papah Hendri sambil kembali melanjutkan jalannya.
"Tapi Azila mengandung anak saya, Pah. Papah tidak berhak menyuruh saya untuk menceraikan orang yang saya cintai," balas Candra dengan suara tegas hingga membuat Papah Hendri kembali berhenti dan berbalik menghadapnya.
"Jangan letakkan otakmu di lutut, Candra Wibawa. Cinta, itu, mengasihi bukan menyakiti," balas Papah Hendri, "Untuk masalah anak, kau tidak perlu takut, kita akan mengurus, dan merawatnya dengan baik agar tidak tumbuh menjadi orang bodoh sepertimu," lanjut Papah Hendri sambil menekan kata-katanya. Candra kembali terdiam, mulutnya seperti terbungkam rapat-rapat.
"Ceh, bicaramu tentang cinta terlalu tinggi anak muda," ucap Papah Hendri, "Jika kau ingin Azila bahagia, segeralah ceraikan dia saat dia sudah ketemu," lanjut Papah Hendri. Setelah itu, Papah Hendri kembali melanjutkan jalannya dan mengunci pintu rumahnya.
"Pah, apa semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana keadaan anak, dan cucu kita sekarang?" tanya Mamah Mitha.
"Mamah tenang saja, Papah akan mengerahkan seluruh orang-orang Papah untuk menemukan Azila, dan Papah juga akan meminta bantuan polisi untuk, ini," jawab Papah Hendri dengan senyum yang ia paksa agar Mamah Mitha tidak menjadi cemas.
Candra masih berdiri di teras rumah Papah Hendri, pikirannya campur aduk, ucapan Papah Hendri terus terngiang di telinganya.
"Heh, terlalu tinggi," gumam Candra sambil mengusap darah yang masih keluar dari bibirnya.
{≈≈≈≈≈}
Beri author banyak like lah, biar author semangat up nya. Jika episode ini tembus 50 like dan 30 komentar dalam 2 hari, author bakal kasih crazy up buat kalian.
IG : @ahmd.habib_