My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Masuk



Hari silih berganti. Siang dan malam saling berputar menggerakkan kalender penanggalan. Waktu berlalu menambah memori masa lalu.


Seorang wanita muda dengan perut yang sudah membesar sedang melayani suaminya yang akan berangkat kerja. Ya, wanita itu adalah Azila, dia sedang memasangkan dasi suami tercintanya.


Senyum selalu terpancar di bibir mereka berdua, hari-hari mereka lewati dengan bahagia dan konflik kecil ala rumah tangga anak muda. Walaupun umur mereka sudah menginjak angka dua puluh empat tahun, sisi ABG masih melekat kuat pada diri mereka.


"Kegiatanmu hari, ini, apa saja?" tanya Azila dengan tangan masih merapikan dasi di kerah kemeja Candra.


"Mencintai mu." Candra menjawab dengan cepat.


"Besok?"


"Mencintai mu."


"Lusa?"


"Mencintai mu."


"Lagi?" tanya Azila dengan pipi putih yang sudah bersemu merah.


Candra menarik pinggul Azila dan melingkarkan tangannya di sana, "Semua tentang ku adalah tentang kamu, Sayang," ucap Candra dengan kecupan lembut di kening Azila.


"Gombal," ucap Azila sambil mendorong dada bidang Candra. Pelukan Candra terlepas dan Azila berjalan keluar kamar meninggalkan suaminya sendirian di kamar.


"Huft, kamu makin hari makin membuat ku gemas saja, Sayang," gumam Candra, "Jika saja hari, ini, tidak ada meeting yang penting, aku pasti sudah membuat darahmu memanas," lanjut Candra.


Candra menyusul Azila yang sudah duduk di kursi meja makan bersama Bunda Putri, Ayah Yoga, dan Dara.


"Kenapa kamu meninggalkan ku?" bisik Candra di telinga Azila.


"Jangan banyak bicara, Sayang. Cepat habiskan sarapan di piringmu, dan segera berangkat kerja !" perintah Azila tanpa menoleh ke Candra.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Candra yang semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Azila.


"Jangan begitu bodoh, aku mencintaimu, mana mungkin aku bisa marah karena hal sepele," jawab Azila sambil menatap wajah Candra di sampingnya.


"Be–"


"Ehhemm, ada anak kecil." Bunda Putri memotong ucapan Candra sambil beberapa kali melirik Dara di sampingnya.


Candra dan Azila segera kembali ke posisi normal setelah mengerti deheman dan lirikan Bunda Putri, lalu mereka melanjutkan sarapan dengan canda tawa seperti biasa.


Seusai sarapan, Candra lekas menuju kantornya dengan perasaan yang amat berat, dia sangat tidak suka jika harus meninggalkan istrinya karena urusan pekerjaan, walaupun di rumah sudah ada Bunda Putri, Ayah Yoga, dan para pelayan.


Saat ini Candra adalah pemimpin baru di grup Wibawa, jabatan itu diberikan oleh Ayah Yoga beberapa Minggu yang lalu, Ayah Yoga tidak secara langsung melepaskan perusahaan ke tangan Candra, namun dia akan terus mengawasi dan kembali ke perusahaan jika tenaganya dibutuhkan.


Setelah beberapa menit, mobil yang mengantarkan Candra telah sampai di gedung besar milik keluarga Wibawa. Sesampainya Candra di sana, dia langsung disambut oleh Pak Suryo.


"Selamat pagi, Tuan Candra," sapa Pak Suryo.


"Pagi," jawab Candra sembari terus berjalan menuju ruangannya.


"Orang-orang dari perusahaan grup Mardiana sudah ada di ruang meeting, Tuan," ucap Pak Suryo.


"Persiapkan semuanya, aku akan datang lima menit lagi," jawab Candra sembari mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam ruang kantornya.


"Sepertinya dia sangat terburu-buru, apa dia baik-baik saja hari, ini?" gumam Pak Suryo yang merasa sedikit ada yang berbeda dari pemimpin barunya itu.


Sesampainya Candra di dalam ruangan, dia langsung melempar tas kerjanya dan masuk ke kamar mandi.


Ceersssshhh,


"Ahh, akhirnya bisa keluar juga," gumam Candra, "Sangat melegakan sekali," lanjut gumamnya.


Di dalam ruang meeting, seorang wanita tersenyum dan memandang lekat wajah tampan pemimpin grup Wibawa itu. Ya, dia adalah Amanda Mardiana, pewaris satu-satunya dari perusahaan grup Mardiana.


Candra sedikit bingung dengan lawan meeting nya kali ini, sekaligus dia sangat tidak suka dengan tatapan Amanda yang terus terarah kepadanya.


"Selamat pagi, Pak Candra," sapa Amanda sambil berdiri dan sejenak menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi juga, Bu Amanda," balas sapa Candra dengan kepala yang sejenak menunduk.


Amanda, Candra, dan yang lainnya segera duduk di kursi mereka masing-masing.


"Em, Pak Candra," panggil Amanda. Candra menoleh menghadap Amanda dengan sedikit kerutan di dahinya.


"Sebelumnya, saya meminta maaf atas ketidak hadiran Ayah saya saat, ini. Maka dari, itu, di soni saya akan menggantikan sementara posisi beliau," ucap Amanda setelah semua orang menatapnya.


"Apa Ayah anda baik-baik saja, Nona?" tanya Pak Suryo.


"Em, Ayah saya terkena tipes. Jadi, saya yang akan menggantikan posisi Ayah saya untuk beberapa hari kedepan sampai beliau sembuh total," jawab Amanda.


"Semoga Ayah anda cepat sembuh, Nona," balas Pak Suryo.


"Terima kasih," balas Amanda.


Meeting sudah dimulai, slide demi slide presentasi sudah mereka lewati. Di antara mereka ada yang begitu serius dengan persentase dan ada juga yang menguap sambil sesekali menutup mata mereka.


Setelah kurang lebih satu jam setengah Candra meeting, akhirnya kegiatan itu selesai juga. Wajah gembira dengan senyum lebar terus terpasang di sana.


"Akhirnya selesai juga," gumam Candra, "Kabar istri, dan anakku bagaimana, ya?" ucap Candra dalam hati.


Baru saja dia keluar dan baru melangkah beberapa jengkal dari ruang meeting, seorang wanita memanggilnya dari belakang.


"Candra !" panggil wanita itu.


"Haish, siapa, sih, yang panggil-panggil? Tidak tahu orang lagi kangen sama istrinya apa?" gerutu Candra, lalu dia menoleh dan mendapati Amanda berlari ke arahnya. Candra menarik napas dalam-dalam lalu menghembuska nya perlahan.


"Hai, apa kamu sibuk sekarang?" tanya Amanda sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah.


"Tidak terlalu," jawab Candra.


"Bisakah kamu membantuku untuk lebih memahami surat kontrak kita tadi? Aku masih belum mengerti di beberapa bagian," ucap Amanda.


"Biar asisten ku saja yang menjelaskannya padamu," jawab ketus Candra.


"Aku terlalu malu untuk berdiskusi dengan orang yang umurnya dua kali lipat dari umurku," kilah Amanda.


Di dalam hati dan otak Amanda hanyalah bagaimana dia bisa berlama-lama dengan Candra, dia menghalalkan segala cara agar keinginannya bisa tercapai.


Candra diam sejenak, dia memikirkan istrinya yang pasti sudah menunggu telepon darinya, karena setiap jam sembilan pagi dia akan menelpon istrinya. Tetapi, dia juga memikirkan nasib perusahaan jika rekan kerja samanya tidak memahami isi kontrak, bisa-bisa akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Dia menjadi bingung untuk memilih yang mana.


"Baiklah, aku hanya memiliki waktu sebentar untuk, ini, karena aku harus mengerjakan yang lain," ucap Candra setelah kebingungan menghampirinya.


"Baiklah, tidak masalah. Aku akan mencoba memahaminya dengan cepat," jawab Amanda, "Kita bahas di cafe dekat kantor, ini, saja," ajak Amanda.


"Terserah," jawab Candra.


Amanda dan Candra berangkat ke cafe yang tidak jauh dari perusahaan Candra.


"Masuk," ucap Amanda dalam hatinya.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙