My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Semakin nakal



Candra duduk di sofa yang tadi pagi dia pindahkan, dia duduk di sana seperti orang yang sedang banyak pikiran, rambutnya diacak-acak hingga berantakan, "Emang boleh, ya, berhubungan intim saat Istri sedang hamil?" tanya Candra pada dirinya sendiri, "Ahh, jangan dululah, tahan dulu, dari pada terjadi apa-apa pada anakku," gumam Candra yang mencoba menahan sesuatu yang membuat batinnya bergejolak terus-menerus.


"Adik, kamu sabar dulu, ya, kita konsultasi dulu sama Dokter, nanti kalau boleh sama Dokter, kita langsung main kalau sudah sampai rumah, oke," ucap Candra yang berbicara sendiri sambil melihat ke bawah.


Candra yang telah selesai berbicara entah dengan siapa, dia lekas berdiri dan masuk ke kamar mandi.


≈≈≈


Mamah Mitha dan Azila kini telah kembali setelah berbelanja sayuran di komplek, mereka berdua memang sangat suka berbelanja sendiri walaupun banyak pelayan yang sudah menawarkan diri untuk menggantikan mereka berbelanja.


Nabila yang masih duduk di sofa sambil main HP melihat kedatangan dua wanita kesayangannya, dia lekas memanggil saudara angkatnya, "Zila."


Nabila sedikit berdiri dari duduknya, "Sini!" teriak Nabila saat Azila sudah menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Azila yang masih diam di tempat dengan kresek sayur di tangan kanannya.


"Ada masalah besar!" teriak Nabila lagi, "Dan penting!" teriak Nabila lagi.


"Haish, mereka ini, kalau sudah kumpul pasti bikin telinga sakit," gerutu Mamah Mitha yang sudah berjalan duluan ke dapur.


Azila yang penasaran dengan masalah besar dan penting yang diucapkan Nabila, dia langsung berjalan menghampiri Nabila yang duduk di sofa.


Setelah sampai di sofa, Azila meletakkan kresek yang dia bawa ke meja depan sofa, "Masalah besar apa?" tanya Azila setelah dia duduk.


Nabila celingukan mengawasi sekitar mereka, lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Azila dan menutupi bibir dan telinga Azila, "Candra," bisik Nabila pelan.


Azila menarik kepalanya karena tidak mengerti apa maksud bisikan Nabila, "Candra kenapa? Apa Papah juga memarahi dia? Apa Papah juga tidak merestui pernikahan ku dengannya? Apa Papah minta Candra buat pisah sama aku?" tanya Azila yang mulai berpikir kalau papahnya tidak merestui pernikahan mereka.


Tangan Nabila langsung mengetuk dahi Azila sambil menahan tawanya, "Mana ada, kalian sudah punya buah cinta, mana mungkin Papah suruh kalian pisah," jelas Nabila dengan tawa yang masih dia tahan.


Dahi Azila mengkerut menampakkan lipatan, "Lalu?" tanya Azila dengan berbisik pelan.


Nabila mendekat lagi, "Candra mau ngajakin main, dia bilang udah nggak bisa nahan, mau lanjut yang tadi pagi," ucap Nabila yang berbisik.


Azila berdiri dari duduknya dan mengambil kresek yang tadi dia bawa, tanpa berbicara apapun, Azila bergegas meninggalkan Nabila yang sedang tertawa bahagia di sofa, "Zila," panggil Nabila, "Mau kemana?" tanyanya dengan wajah memerah karena tertawa.


Azila menoleh ke arah Nabila dan sedikit tersenyum, "Mau main bola di kamar, mau ikut? Kita jadi penjaga gawang bareng," jawab Azila dengan tawa yang mulai keluar dari mulutnya.


"Sial, salah menggoda aku, jadi kena batunya sendiri," gumam Nabila sambil merapatkan bibirnya yang tertawa.


Azila kembali berjalan meninggalkan Nabila yang ada di sofa, di bergegas ke dapur untuk menaruh kresek belanjaan yang dia bawa. Setelah dari dapur, Azila langsung meluncur ke kamarnya, entah kenapa dia jadi sangat semangat jika akan bertemu Candra suaminya.


≈≈≈


"Sayang," panggil Azila yang sudah di dalam kamar, mata Azila mulai celingukan mencari-cari keberadaan Candra, "Dimana sih dia, pinter banget kalau ngilang," gumamnya, "Sayang," panggil Azila lagi dengan suara lebih keras dari tadi.


Telinga Candra menangkap suara yang begitu ia kenali sedang memanggilnya dengan panggilan sayang, Candra yang masih menghujani dirinya dengan hujan buatan dari shower langsung menghentikan aktivitasnya, "Apa!" sahut Candra dari dalam kamar mandi yang menyembulkan kepalanya di pintu kamar mandi.


Mendengar jawaban dari Azila, Candra sudah menduga jika itu ulah Nabila, "Sini," panggil Candra sambil menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya ke atas dan ke bawah.


Tanpa berpikir, membantah, ataupun bertanya dulu, Azila langsung saja menuruti panggil Candra dan mendekat ke pintu kamar mandi, "Apa?" tanya Azila yang sudah berdiri tepat di depan kepala Candra yang menyembul keluar.


Candra masuk ke kamar mandi sebentar dan keluar lagi dengan memakai handuk yang sudah terlilit menutupi area pinggangnya, Candra meletakkan kedua tangannya di pipi Azila dan mengarahkan pandangan Azila ke wajah Candra, saat itu juga mata mereka bertemu, "Sayang, kita ke Dokter dulu, ya. Kita konsultasi dulu perihal kehamilan, aku tidak mau jika terjadi apa-apa saat kita berhubungan nanti, sekarang kamu juga cepat lelah juga, maka dari itu, kita konsultasi dulu ke Dokter, kedepannya baiknya gimana, oke," ucap Candra sambil mengelus pipi Azila dengan jari jempolnya.


Azila terdiam sejenak sebelum akhirnya memangut-manggutkan kepalanya, bibirnya tersenyum tipis karena Candra sangat perhatian dengan anaknya dan juga dirinya, "Baiklah, aku mengikuti saran dari suamiku yang paling tampan ini," jawab Azila lalu mencium tangan Candra yang ada di pipinya.


Mendengar jawaban dari Azila, bibir Candra tertarik ke atas dan menampakkan senyum manis yang menambah persentase ketampanannya, "Ya udah, aku lanjut mandi dulu, kamu siapin bajuku selagi aku mandi, nanti ganti," ucap Candra sembari mengecup kening Azila dan kembali masuk ke kamar mandi.


Azila berjalan menuju lemari pakaian dengan bibir yang masih menampakkan senyum kebahagiaannya, lalu dia membuka lemari dan menyiapkan baju untuk Candra dan juga dirinya. Azila sudah tidak sabar ingin segera pergi untuk konsultasi ke Dokter, dia berpikir kalau mandi bergantian pasti akan lama, tidak banyak pikir lagi, Azila lekas melepas satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhnya, setelah semua pakaiannya terlepas, Azila langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengetuk ataupun bilang ke Candra dulu, kebetulan pintu kamar mandinya tidak dikunci oleh Candra.


Candra yang masih asik memainkan busa sabun di tubuh kekarnya sontak terkejut saat melihat Azila berada di depannya, "Kenapa kamu nyelonong masuk terus, sih, Sayang. Tadi pagi udah, sekarang lagi, kenapa nggak bilang kalau pengen mandi bareng terus," ucap Candra yang masih memainkan busa di tubuhnya.


Azila menoleh ke belakang, "Jangan kepedean," jawab ketus Azila lalu membalikkan pandangannya.


"Ch, kamu selalu membuat ku ingin memakan mu setiap saar, Sayang. Please, sekarang jangan menggodaku dulu," balas Candra sambil menarik Azila ke belakang dan dia sekarang berdiri membelakangi Azila.


Azila merasa kesal karena dia dituduh menggoda, padahal dia hanya ingin mempercepat waktu untuk segera konsultasi ke Dokter.


Pleess.


Satu pukulan keras di pantat Candra hingga meninggalkan cap telapak tangan beserta jari-jarinya.


Candra berbalik badan sambil memegangi pantatnya yang terasa panas, "Kenapa kamu jadi semakin nakal, Sayang?" tanya Candra sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Azila.


"Sebaiknya cepat keluar dari kamar mandi, atau kita tidak akan jadi konsultasi dan kamu tidak akan aku kasih jatah," jawab Azila dengan mata yang menatap tajam mata Candra.


Candra menarik tubuhnya dan kembali berdiri tegap, "Baiklah, aku udah selesai," balas Candra sambil berjalan melewati Azila.


Azila langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower, dia mulai menggosok semua tubuhnya, Candra yang sudah melilitkan handuk di pinggangnya berjalan menjinjit mendekati Azila.


Plaass.


Candra balas dendam dan memukul pantat Azila dan meninggalkan cap tapak di pantat putih Azila, lalu berlari keluar kamar mandi.


"Candraa ..!!" teriak Azila yang merasa sangat kesal pada Candra


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙