My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Mengajak malaikat maut bermain



Di luar kamar.


Setelah keluar dari kamar perawatan Candra, Azila pergi ke toilet meninggalkan Bunda Putri dan Ayah Yoga di depan kamar perawatan, Azila pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang basah oleh air matanya.


"Yah, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Bunda Putri dengan suara pelan.


"Berlebihan tidak berlebihan, Ayah tidak mengerti, Bun. Dari dulu kalau mereka berdua udah bersama, tidak ada lagi yang bisa menghalangi mereka untuk melakukan kejahilan," jawab Ayah Yoga.


Bunda Putri menganggukkan kepalanya karena menyetujui perkataan suaminya, "Kamu benar, Yah."


"Semoga Candra tidak kena amukan ibu-ibu hamil ya, Bun," ucap Ayah Yoga yang mendo'akan Candra agar tidak kena amukan Azila yang sudah mereka jahili.


"Biarlah kena amuk, biar kapok sekalian," balas Bunda Putri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


»Flashback.«


Sebelum menaiki pesawat untuk terbang kembali ke Indonesia, Candra berjalan agak menjauh dari mobil yang ia kendarai ke bandara LAX, terlihat Candra mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


Di rumah keluarga Wibawa.


Drtt..drtt.. ponsel Ayah Yoga bergetar, "Yah, ada telpon tuh," ucap Bunda Putri yang sedang membaca majalah.


Ayah Yoga menghentikan aktivitasnya dengan laptop di depannya lalu mengambil ponsel yang ada di belakang laptopnya.


"Candra," gumam pelan Ayah Yoga yang terdengar sampai daun telinga Bunda Putri.


"Apa Candra yang menelpon Ayah?" Tanya Bunda Putri sambil menutup majalah di tangannya dan mendekat ke Ayah Yoga.


Ayah Yoga menganggukkan kepalanya, "Sini, Yah. Biar Bunda yang angkat," ucap Bunda Putri yang langsung merebut ponsel dari tangan Ayah Yoga.


Bunda Putri mengangkat panggilan dari Candra, "Hai, anak nakal, kemana saja kamu, apa kamu sudah amnesia kalau kamu masih punya dua orang tua dan seorang istri disini?" Kata Bunda Putri dengan nada memarahi dan sedikit berteriak.


"Matilah kamu Candra," ucap Ayah Yoga dalam hatinya.


Sontak Candra menjauhkan ponselnya dari telinganya karena kaget dengan suara teriakan yang memekakkan telinganya, "Bun, Bunda pelan pelan dong, telinga Candra bisa tuli kalau Bunda teriak gitu," balas Candra sambil memegangi telinganya yang masih terngiang oleh teriakan Bunda Putri.


"Bun, sabar, jangan teriak-teriak," ucap Ayah Yoga untuk menenangkan Bunda Putri, "Sini, biar Ayah yang bicara sama Candra," lanjut Ayah Yoga sembari mengambil ponselnya dari tangan Bunda Putri.


"Ada apa, Cand?" Tanya Ayah Yoga dalam Telepon.


"Ah syukurlah Ayah yang bicara," dengus lega Candra dalam hatinya setelah mendengar suara Ayahnya yang berbicara.


"Gini Yah, Candra sekarang sedang bersiap terbang ke Indonesia, kemungkinan besok pagi sampai, dan Eldar juga ikut Candra ke Indonesia, Yah," jawab Candra.


"Baguslah kalau Eldar ikut, Ayah sama Bunda juga udah lama tidak bertemu dia," balas Ayah Yoga.


"Tapi Candra mau ngajak Ayah sama Bunda buat kerja sama dengan ku dan Eldar. Mau ya, Yah," rengek Candra seperti anak kecil.


"Kerja sama apa?" Tanya Ayah Yoga.


"Rencananya Candra sama Eldar mau ngerjain Azila Yah, tapi ini butuh bantuan Ayah dan Bunda juga," jawab Candra.


"Kenapa butuh bantuan Ayah sama Bunda?" Tanya Ayah Yoga lagi.


"Karena Candra sudah menyuruh Pak Suryo untuk besok pagi memberikan video Candra kecelakaan. Ayah sama Bunda tenang aja, itu hanya settingan, Ayah dan Bunda cukup akting aja, oke," jelas Candra dari dalam telepon.


"Ayah tinggal Bundamu nak, kalau Bunda setuju, Ayah juga setuju," balas Ayah Yoga, "Kamu rayu Bunda aja kalau mau Ayah setuju," lanjut Ayah Yang lalu memberikan ponselnya ke Bunda Putri.


"Halo Bunda, Bunda pasti udah denger semuanya kan?" Ucap Candra.


"Bunda setuju ya, ya, ya, ya," pinta Candra sambil merengek ke Bundanya.


"Kalau kamu sudah memiliki rencana seperti itu dengan Eldar, tanpa persetujuan Ayah dan Bunda pun kalian bakal tetep melakukannya," jawab Bunda Putri yang sangat mengerti kelakuan Candra saat sudah bersama dengan Eldar.


"Tapi kamu harus ingat, jangan sampai mencelakai dan jangan berlebihan, karena Azila sedang tidak enak badan karena kamu telantarkan selama 3 hari, dan Bunda juga sudah tau apa alasan kamu menelantarkan Azila dan pergi ke Los Angeles tanpa pamit," ucap Bunda Putri dengan nada serius.


"Bunda kok bisa tahu?" Tanya Candra yang kebingungan.


"Azila sudah memberitahu Bunda kalau kamu sudah salah paham waktu di mall, dan kamu sudah membuat Bunda malu di depan Azila," jawab Bunda Putri dengan nada ketusnya.


"He he, maafkan anakmu yang masih belum dewasa ini, Bunda. Niatnya Candra ingin melihat seberapa cintanya Azila ke Candra dan sekaligus Candra mau minta maaf ke dia," jelas Candra dengan sejujurnya.


"Terserah kamu, Bunda dan Ayah akan menuruti kejahilan mu ini. Bunda dan Ayah. tidak akan ikut campur jika ada masalah kedepannya dan semoga Azila bisa memaafkan kejahilan mu ini," balas Bunda Putri.


"Siap Bunda, do'akan anakmu ini supaya rencananya berhasil," balas Candra dengan tawa bahagianya.


"Y," jawab singkat Bunda Putri dengan sangat ketus dan cuek.


"Cuek amat sih, Bun. Ya udah, Candra matikan ya Bun, assalamualaikum," ucap Candra.


"Waalaikumsalam," jawab Bunda Putri dan Ayah Yoga bersamaan lalu Candra menutup teleponnya.


Setelah urusan dengan Ayah dan Bundanya beres, Candra bergegas masuk ke dalam pesawat karena sudah tidak sabar menanti hari esok di Indonesia, pesawat Candra mulai bergerak maju dan perlahan mulai terbang tinggi ke angkasa.


≈≈≈


Candra dan Eldar telah sampai di Indonesia, karena sudah cukup istirahat saat berada di pesawat, Candra dan Eldar langsung berangkat ke tempat tujuan mereka selanjutnya.


Di dalam mobil Candra.


"Beres," ucap Candra sambil tersenyum setelah berbicara via telepon dengan orangnya yang sudah bersiap untuk melancarkan rencananya.


"Pintar juga kakak menyusun rencananya," puji Eldar pada kepintaran kakaknya.


"Siapa dulu dong? Candra," ucap Candra dengan menyombongkan dirinya.


"Tapi jika terjadi apa-apa ke Kakak, Eldar tidak mau ikut tanggung jawab ya," ucap Eldar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa maksudmu? Ini semua berawal dari rencana yang keluar dari otak jahil mu," kata Candra.


"Tapikan Kakak yang setuju, dan aku cuma memberi ide, lagipula kalau Kakak tidak menyetujui ide ku juga enggak apa-apa kok," balas Eldar sambil memanyunkan bibirnya.


"Apa kamu mau berkhianat dari rencana yang sudah kamu buat dan yang sudah Kakak tata dengan rapi?" Tanya Candra sambil memacu mobil sportnya lebih kencang.


"Kaak, iya-iya. Aku tidak akan berkhianat!" Seru teriakan Eldar yang takut saat Candra memacu mobil sportnya dengan kecepatan tinggi.


"Nah gitu dong, itu baru yang namanya adik yang berbakti," ucap Candra sambil tertawa dan memacu mobil sportnya lebih kencang dari tadi.


"Kaakk!" Teriak Eldar yang melihat truk melaju dari arah berlawanan.


Ckiitt.. suara rem yang di injak secara mendadak, "Ha ha ha ha," tawa Candra yang kegirangan setelah melihat ekspresi Eldar yang ketakutan.


"Hei, apa Kakak sedang mengajak malaikat maut bermain?" Bentak Eldar sambil memegang dadanya yang berdegup sangat kencang.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙