
Pagi telah menampakkan wujud cerahnya, menyibak tirai gelap dengan tangan sinar mentari, dingin tidak lagi mendominasi karena selimut tebal yang menyelimuti.
Candra masih terbujur lemas di atas ranjang, dia tidak bergerak sama sekali, hanya terdengar dengkuran pelan nan halus dari mulutnya dan pergerakan dari selimut yang naik turun karena perut Candra yang kembang kempis karena sedang bernapas. Melihat, memang sekarang masih jam lima petang, di mana waktu yang paling enak untuk tidur.
Di ruangan lain, tepatnya di kamar Bunda Putri dan Ayah Yoga, kedua orang paruh baya ini sedang mengangkat telepon dari teman sekaligus besan mereka.
"Ya, Hen. Ada apa pagi-pagi begini telpon?" tanya Ayah Yoga.
"Begini, Yog. Tentang masalah rumah tangga kedua anak kita, kita tidak usah ikut campur, kalian berdua tenang saja, dan jangan mengkhawatirkan Azila serta cucu kita, mereka berdua baik-baik saja, dan sekarang mereka ada di rumah neneknya di Bandung," jelas Papah Hendri.
"Baiklah, kami mengerti maksud mu, Hen," balas Ayah Yoga, "Dan maaf kalau kami tidak bisa menjaga, dan membahagiakan anakmu, di sini," lanjutnya.
"Tidak, Yog. Itu, bukan salah kalian, tetapi salah anak kalian," balas Papah Hendri, "Oh, ya, aku juga minta maaf karena kemarin sudah memukul wajah tampan anak kalian," lanjut Papah Hendri, "Apa dia sekarang baik-baik saja?" lanjutnya lagi.
"Mungkin, itu, memang perlu dilakukan," balas Ayah Yoga, "Lagian, dia juga sudah menjadi anakmu, dan kamu juga harus mendidiknya," lanjut Ayah Yoga.
"Oh, ya, tadi malam Azila berpesan jika jangan memberi tahu Candra tentang kabar, dan keberadaannya," ucap Papah Hendri.
"Aku mengerti," jawab Ayah Yoga.
"Baiklah, kalau begitu aku matikan dulu telponnya, aku mau bersiap untuk ke kantor," balas Papah Hendri.
"Oke," balas Ayah Yoga.
Setelah sambungan telepon terputus, Ayah Yoga dan Bunda Putri melakukan aktivitas rutin di pagi mereka setelah Ayah Yoga tidak bekerja lagi. Dengan pakaian ala kadarnya, Bunda Putri dengan dasternya dan Ayah Yoga dengan celana training dipadukan kaos polos, mereka beranjak pergi dan berjalan kaki menelusuri jalan komplek sekitar rumah mereka.
Waktu terus berputar, kini Candra sudah bangun dan sudah siap pergi untuk kembali mencari Azila. Saat Candra sampai di ruang keluarga, dia dipanggil Ayah Yoga untuk ikut bergabung sarapan dengan mereka, awalnya Candra ingin membeli sarapan di jalan saja, tetapi karena Ayah Yoga sudah mengajaknya untuk sarapan bersama, dia harus menunda sebentar pencarian Azila.
Candra duduk dan langsung mengisi piringnya dengan porsi seperti orang diet ketat, bukan karena sedang menjalani program diet, tetapi karena dia ingin cepat-cepat pergi mencari istrinya.
"Makan yang banyak! Jangan seperti orang kekurangan makanan, tambah lagi porsi makan mu!" perintah Bunda Putri. Candra hanya mengangguk dan segera menambah porsi makannya.
"Kenapa wajahmu?" tanya Bunda Putri lagi. Candra bingung mau menjawab apa, dia takut kalau Bunda dan ayahnya akan marah ke Papah Hendri.
"Em, kemarin habis jatuh, Bun," kilah Candra.
"Apa Bunda sama Ayah pernah mengajari mu untuk berbohong?" tanya Bunda Putri. Candra menjadi diam, dia menduga kalau Bunda dan ayahnya sudah mengetahui penyebab memar di wajahnya.
"Segeralah temukan Azila, dan selesaikan masalah mu, dan juga urusi wanita selingkuhan mu," ucap Ayah Yoga.
"Percayalah padaku, Yah, Bun. Wanita itu bukan selingkuhan ku, dia menjebak ku, dan berencana merusak pernikahan ku dengan Azila," balas Candra, "Percayalah pada anak kalian, ini," lanjut Candra.
"Kalau begitu, buktikan omongan mu, ini," ucap Ayah Yoga.
"Pasti akan aku buktikan," balas Candra.
Setelah Candra selesai sarapan, dia langsung pamit dan pergi mencari Azila. Hari ini dia masih bingung mau mencari istrinya ke mana lagi, dia hanya berputar-putar menelusuri jalan raya.
Pagi sudah berganti siang, hari ini cuaca sedang redup dan tidak sepanas biasanya. Candra memberhentikan mobilnya di dekat pedagang kaki lima yang berjualan es cendol dawet di pinggir jalan.
Penjual kaki lima itu menyalakan sound kecil di gerobaknya, tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan, pas volumenya, enak di dengar. Lagu penyanyi legendaris Indonesia mulai terdengar.
Dudu klambi anyar sing neng njero lemariku,
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku,
Nengopo seneng aku yen mung gawe laraku,
Pamer bojo anyar neng ngarepku.
Koyo ngene rasane wong nandang kangen,
Rino wengi atiku rasane peteng,
Tansah kelingan kepingin nyawang,
Cidro janji tegane kowe ngapusi,
Nganti sprene suwene aku ngenteni,
Nangis batinku nggrantes uripku,
Teles kabes netes eluh!
Cendol dawet, cendol, dawet seger,
Cendol cendol, dawet dawet,
Cendol cendol, dawet dawet,
Cendol cendol, dawet dawet,
Cendol, dawet seger,
Piro!
Lima ngatusan,
Terus!
Ga pakai ketan
Ji, ro, lu, pat, limo, enem, pitu, wolu,
Tak gin tak gin tak
Tak gin tak gin tak
Tak gin tak gin tak
Lolo, lolo, yes!
Satu lagu dari Didi Purwadi (Didi kempot) telah membuat beberapa pemuda di dekat Candra berjoget ria sambil bernyanyi dengan suara teriak-teriak mereka, pemuda itu tidak tahu se-fales apa suara mereka, yang penting asik, pikir para pemuda itu.
Pesanan Candra sudah datang, segelas es cendol sudah siap menghilangkan dahaga tenggorokannya. Dia masih menikmati es cendol miliknya sambil memvideokan para pemuda yang masih asik berjoget itu.
Saat tengah merekam video, ponsel Candra tiba-tiba berdering karena ada panggilan masuk, dia lekas mengangkat telpon itu karena dia memang menunggu kabar dari penelpon itu.
"Halo, selamat siang, Pak Candra," sapa orang dari dalam telpon.
"Selamat siang juga, Pak," balas Candra.
"Untuk kasus yang Pak Candra laporkan, kami sudah mendapatkan hasilnya," ucap Pak polisi, "Untuk kejelasannya, Pak Candra bisa datang ke kantor kami," lanjut Pak polisi.
"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana sekarang juga," balas Candra dengan wajah berbinar nya, tentu saja dia berharap kasus itu dapat diungkap dan itu bisa menjadi penjelasan untuk kedua orangtuanya, kedua mertuanya, dan yang pasti untuk istri tercintanya yang sedang pergi karena salah paham.
"Baik, Pak. Kami menunggu kedatangan anda," balas Pak polisi. Lalu sambungan telpon itu sudah berakhir dan Candra bergegas menuju kantor polisi dengan hati berbunga-bunga. Dia meninggalkan dua lembar uang 100.000 di meja tempat ia duduk, dia tidak tahu berapa harga es cendol itu, namun dia memberi lebih untuk pedagang es cendol karena hatinya lagi gembira.
Tidak seperti biasanya, Candra memutar musik dengan volume sedikit keras di dalam mobilnya, dan yang pasti, dia sedang sangat suka lagi yang baru dia dengar di sound pedagang kaki lima tadi.
"Cendol dawet!" teriak Candra dalam mobil.
{≈≈≈≈}
Budayakan memberi author like, sama vote, kalau mau komen juga boleh. Kalau kalian bikin author seneng, author bakal rajin up dan kasih kalian crazy up.
Terima kasih.