My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Tidak tahu terimakasih



Hari sudah semakin sore, mobil yang dinaiki Candra dan Eldar masih melenggang menyusuri jalan raya, kekuatiran Candra semakin tak terbendung, kegelisahan sudah menyelimuti dirinya saat ini.


Mata yang sudah menyipit karena menahan kantuk yang begitu berat akibat jet lag, dan dengan perut yang masih kosong sejak turun dari pesawat subuh tadi, Eldar masih mencoba untuk terus terjaga dan tidak ketiduran di mobil. Eldar melirik Candra yang hanya diam dan terus fokus melihat depan, "Kalau aku tau bakal jadi kayak gini, mending aku nggak usah kasih Kak Candra ide gila itu," ucap Eldar dalam hatinya.


"Kak, ini sudah hampir magrib, ayo kita pulang dulu, Kak. Aku udah nggak bisa nahan kantuk ku lagi, perutku juga udah keroncongan sejak tadi pagi, Kak. Lagian, kakak juga belum mandi dan makan dari pagi," ujar Eldar dengan suara yang sudah lemas.


"Kamu makan aja makanan di tas itu, kalau kamu ngantuk, tidur aja," balas Candra dengan nada datarnya tanpa menoleh ke Eldar.


"Aku nggak mau, Kak. Tadi siang Tante udah masakin aku rendang, dan aku hanya akan makan rendang Tante aja," balas Eldar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Terserah," balas Candra yang dingin.


"Kenapa Kakak Ipar mau nikah sama orang kayak gini sih, nggak ada perhatiannya sama sekali sama cewek," umpat kesal Eldar dalam Hatinya.


Suasana mobil menjadi hening tanpa ada perbincangan, suara tarikan nafas pun bisa terdengar di keheningan itu. Pak Ujang hanya bisa diam di keheningan sambil sesekali melirik Candra dan Eldar lewat spion.


"Pak, Pak, Pak. Berhenti, Pak!" Seru Candra yang membuyarkan keheningan karena melihat seorang wanita yang sedang berjalan di trotoar.


Pak Ujang meminggirkan mobilnya ke samping trotoar, Candra yang sudah sangat bersemangat langsung berlari turun dan menghampiri wanita yang dilihatnya tadi.


"Zila, kenapa kamu pergi, aku sangat kuatir sama kamu. Jangan pergi-pergi lagi, ya."


Candra memeluk wanita itu dari belakang dan mendekapnya begitu erat.


"Eh, siapa kamu? Lepasin, dasar mesum!" Seru wanita yang ada di pelukan Candra.


"Kenapa kamu masih marah sama aku, Sayang," ucap Candra sembari membenamkan wajahnya di tengkuk wanita itu.


"Tolong! Tolong! Tolong!" Teriak wanita itu sambil meronta-ronta karena takut diperkosa oleh Candra.


Eldar dan Pak Ujang yang melihat Candra sedang memeluk wanita yang tak dikenal, mereka berdua bergegas turun dan menghampiri Candra.


"Kenapa kamu berteriak minta tolong, Sayang?" Ucap Candra yang membuat wanita itu semakin merinding.


"Lepasin! Tolong!" Teriak wanita itu sambil meronta-ronta.


Dekapan Candra yang begitu kuat mampu meredam rontaan wanita itu. Candra yang sudah dirundung oleh rasa kuatir, membuatnya seakan tuli dan buta, dia tidak tahu jika wanita yang ia peluk bukanlah Azila.


"Kakak, lepasin, apa Kakak sudah gila?" Ucap Eldar yang baru datang dan mencoba membuka tangan Candra.


"Diamlah, Eldar. Aku sudah menemukan Azila," balas Candra sambil menoleh ke Eldar.


"Apa mata Kakak sudah rabun? Jelas-jelas dia bukan Kakak Ipar," sahut Eldar sambil memukul-mukul lengan Kakaknya.


"Non Eldar benar, Tuan. Dia bukan Nona Azila," ucap Pak Ujang dengan gugup.


Seorang laki-laki muncul dari belakang dan menarik bahu kanan Candra hingga dia menoleh, Bugh! satu tonjokan keras mendarat di tulang pipi kiri Candra, hingga membuat dekapan Candra terlepas. Bugh! satu tonjokan lagi dari laki-laki itu mendarat di rahang kiri Candra, hingga membuatnya tersungkur ke trotoar. Saat laki-laki itu ingin menghajar Candra yang sudah terduduk di trotoar, Pak Ujang dengan sigap memegangi laki-laki itu.


"Lepaskan, biar ku hajar si brengsek ini!" Seru laki-laki itu.


"Sabar, Tuan. Kakak saya sedang kehilangan akal sehatnya, dia sedang bingung mencari istrinya," jelas Eldar ke laki-laki yang menonjok Candra.


"Sayang, sabar, aku nggak apa-apa kok," ucap wanita yang dipeluk Candra. Ternyata laki-laki yang menonjok Candra adalah pacar si wanita yang Candra peluk.


"Dia mungkin sedang frustasi karena ditinggal istrinya, Sayang. Makanya sampai salah mengenali orang," jelas wanita itu ke pacarnya.


"Pak Ujang, lepaskan Tuan ini," ucap Eldar setelah melihat laki-laki itu sudah bisa mengontrol emosinya.


"Kalau Kakaknya baru keluar dari rumah sakit jiwa, jangan dibiarkan sendirian di luar, Nona." ucap laki-laki itu yang melihat pakaian Candra, dia mengira kalau Candra baru keluar dari rumah sakit jiwa.


"Baik, Tuan. Maafkan kelancangan Kakak saya, Tuan," balas Eldar sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, laki-laki itu tidak memberi respon dan berlalu pergi sambil menggandeng pacarnya.


Eldar dan Pak Ujang segera memapah tubuh Candra yang masih terduduk di trotoar, lalu membawanya masuk kedalam mobil.


"Apa kita bawa Tuan Candra ke rumah sakit saja, Non?" Tanya Pak Ujang yang menolehkan tubuhnya ke belakang.


"Tidak, Pak. Kita pulang saja, Kak Candra tidak bawa baju ganti," jawab Eldar.


"Baik, Non," balas Pak Ujang sambil sekilas melihat pakaian yang digunakan Candra, lalu menghadapkan tubuhnya ke depan dan mulai menjalankan mobil.


≈≈≈


Azila sedang duduk sendirian di kursi balkon, dengan ditemani suara genjrengan gitar yang ia mainkan sambil menikmati senja yang sudah mulai berubah hitam, Azila memainkan gitarnya dan bernyanyi dengan bergumam sambil menatap langit.


"Kakak!" Kejut Yasa dari belakang sambil menepuk pundak Azila.


"Eh, Kakak, eh, copot, eh, Kakak, eh, copot," teriak Azila yang menjadi latah. "Yasa! Apa kamu mau mencopot jantung Kakak?" Teriak Azila sambil mengelus dadanya.


"Ha, ha, ha, sejak kapan Kakak jadi latah gitu?" Tanya Yasa yang belum bisa berhenti tertawa.


"Emang, Kakak latah ya, tadi?" Tanya Azila yang tidak sadar kalau dirinya latah.


"Ayam goreng!" Seru Yasa sambil menepuk pundak Azila.


"Eh, ayam, eh, goreng, eh, ayam, eh, goreng," teriak Azila yang latah, "Hish, bikin Kakak kaget aja sih," lanjut Azila sambil memukul tangan Yasa.


"Tuh, kan, Kakak latah," ungkap Yasa sambil menunjuk Azila.


"Iya ya, kenapa aku jadi latah sekarang?" Tanya Azila yang bingung.


"Bawaan hamil kali, Kak. Kata orang-orang, kalau wanita hamil itu sifat, tingkah, kebiasaan, dll bisa berubah, Kak," jelas Yasa.


"Emang, bisaa gitu?" Tanya Azila dengan alis kirinya yang naik.


"Masa Yasa paham, Yasa cuma kata orang, coba Kakak tanya Mamah aja. Secara, Mamah udah dua kali hamil," jawab Yasa.


"Oke-oke, nanti Kakak akan berguru ke Mamah," balas Azila. "Btw, kamu ngapain ke kamar Kakak? Pakek ngagetin Kakak pula," lanjut Azila.


Yasa membuka tasnya dan mengambil kantong kresek hitam, "Nih," ucap Yasa sambil menyodorkan kantong kresek hitam dengan tusuk bambu yang mencuat keluar.


"Apa ini?" Tanya Azila sembari menerima kantong kresek yang diberikan Yasa.


"Buka aja sendiri," jawab Yasa.


Azila membuka kantong kresek hitam pemberian Yasa, saat dia sudah tahu isi kantong kresek itu, mulutnya ternganga dan matanya berkaca-kaca, "Sempol!" Seru Azila sambil mengangkat keluar semua sempol yang lebih dari 50 tusuk bambu banyaknya.


"Suka?" Tanya Yasa pada Kakaknya.


"Suka banget, makasih. Kamu memang adik terbaik sepanjang masa," balas Azila.


"Cuma dipuji doang, gitu? Nggak ada pelukan terima kasih gitu?" Ucap Yasa sambil merentangkan tangannya.


Azila berdiri dari duduknya dan mendekat ke Yasa, "Mandi dulu sono, bau kecut mu sudah mengganggu penciuman hidungku," ucap Azila yang berlalu pergi meninggalkan Yasa sendirian di balkon.


"Bau keringat cowok yang habis olahraga itu enak tau!" Seru Yasa sambil membalikkan badannya menatap Azila.


"Bodo amat!" Teriak Azila yang sudah keluar dari kamarnya.


"Dasar, tidak tahu terima kasih," umpat Yasa sambil menyusul Kakaknya.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙