
Di dalam mobil, Azila masih saja terdiam dan sesekali menyeka air matanya, Pak Ujang yang melihat majikannya menangis membuatnya canggung dan takut untuk bertanya.
Sudah hampir tiga puluh menit Pak Ujang melajukan mobilnya, hingga kini berhenti di bawah lampu merah. Pak Ujang kembali melirik Azila dari spion, kini dia merasa lega karena majikannya sudah tidak menangis seperti tadi.
"Pak," panggil Azila.
"Iya, Non. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Ujang.
"Sebelum ke rumah Mamah, nanti kita ke mall deket sini, ya, Pak," ucap Azila.
"Baik, Non," jawab Pak Ujang.
Setelah lampu merah berubah menjadi hijau, Pak Ujang mulai menjalankan mobilnya lagi menuju mall yang tidak jauh dari lampu merah tadi. Sudah sepuluh menit Pak Ujang membelah jalan yang tidak begitu ramai, hingga akhirnya mobil yang mengantarkan Azila telah sampai di depan mall besar.
Pak Ujang turun dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Azila.
"Pak Ujang, tolong turunkan koper saya, Pak !" perintah Azila. Pak Ujang mengkerutkan dahinya, dia merasa bingung dan tidak mengerti maksud majikannya itu.
"Maksudnya, Non?" tanya Pak Ujang sambil mengerutkan dahinya dan membuat matanya menjadi sipit.
"Maksudnya, itu, tolong Pak Ujang turunkan koper saya yang ada di bagasi mobil,' jawab Azila.
"Lhoh? Katanya mau minta antar ke rumah mamahnya, Non. Kok barangnya malah minta diturunin?" tanya Pak Ujang yang dibuat heran oleh Azila.
"Nanti aku dijemput sama Candra, kok, Pak," jawab Azila.
"Ooh, baik-baik, Non," ucap Pak Ujang mengerti, "Tunggu sebentar, ya, Non. Saya turunkan dulu koper," lanjut Pak Ujang.
Setelah beberapa menit Pak Ujang sudah menurunkan dua koper milik Azila. Azila memanggil seorang satpam yang berada di pintu masuk mall, satpam itu segera menghampiri Azila yang memanggilnya tadi.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pak satpam.
"Tolong bantu saya angkat koper-koper, ini, Pak," jawab Azila.
"Oke, Mbak," balas pak satpam. Pak satpam lalu membawakan kedua koper Azila masuk.
"Pak Ujang, Bapak sudah bisa kembali, dan terima kasih sudah membantu saya, ya, Pak," ucap Azila.
"Baik, Non. Saya permisi dulu," balas Pak Ujang. Azila mengangguk dan berbalik masuk ke mall meninggalkan Pak Ujang.
Azila berjalan lebih cepat untuk mengejar pak satpam yang membawakan koper-koper nya, setelah dekat dengan pak satpam Azila meminta pak satpam untuk menitipkan koper-koper nya di tempat penitipan barang.
Setelah menitipkan barangnya, Azila meminta pak satpam untuk mengantarkannya ke toko gadget yang ada di mall itu. Azila sudah kembali ke tempat penitipan barang dengan membawa ponsel barunya.
"Pak, bisa bantu saya bawa kopernya lagi keluar?" pinta Azila.
"Oh, baik, Mbak," jawab pak satpam, dia langsung mengambil koper-koper Azila di tempat penitipan.
Lima menit sudah Azila menunggu taksi online pesanannya, dan akhirnya taksi itu pun sudah datang menjemputnya.
"Mbak Azila?" tanya pak supir memastikan.
"Iya, Pak," jawab Azila.
Melihat perut Azila yang besar, pak supir langsung turun dan membukakan pintu untuk Azila, lalu Azila masuk, tak lupa dua koper besar milik Azila juga di angkut ke dalam bagasi mobil.
Sebelum taksi online pesanan Azila berjalan, dia memanggil pak satpam tadi, lalu pak satpam itu mendekat ke Azila.
"Ini, Pak," ucap Azila sembari memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
"Ini, untuk apa, Mbak?" tanya pak satpam.
"Ini, untuk, Bapak, karena sudah membantu saya," jawab Azila.
"Tidak usah, Mbak. Membantu pengunjung mall, ini, adalah tugas saya, dan saya juga sudah digaji untuk, itu," balas pak satpam.
"Ini, bukan gaji, Pak. Ini, adalah tip dari ku untuk, Bapak," ucap Azila.
"Apa, Bapak, mau menolak rezeki dari Tuhan?" tanya Azila.
"Sungguh tidak akan, Mbak," jawab pak satpam.
Pak satpam terdiam, lalu dia menerima uang pemberian Azila karena pertanyaan Azila tadi.
"Terima kasih, Mbak," ucap pak satpam.
"Kembali kasih, Pak," balas Azila, "Jalan, Pak," ucap Azila pada supir taksi, "Mari, Pak," lanjut Azila sambil tersenyum pada pak satpam.
Taksi yang ditumpangi Azila sudah melaju membelah jalanan Jakarta yang sudah semakin macet. Di sepanjang perjalanan, Azila sibuk bermain dengan ponsel barunya.
Setelah beberapa saat, taksi yang ditumpangi oleh Azila sudah sampai di depan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Turun dari taksi, dia dibantu oleh petugas Bandara untuk membawakan dua kopernya.
Setelah semua beres, Azila menunggu keberangkatan pesawat di ruang tunggu.
Hari semakin malam dan sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Di rumah keluarga Wibawa sedang gaduh karena menantu mereka pergi entah ke mana.
"Bun, yang tenang, ya. Kita tunggu Candra pulang, siapa tahu Azila sedang bersama Candra," ucap Ayah Yoga untuk menenangkan Bunda Putri.
Bunda Putri terlihat sangat khawatir, takut, dan gelisah karena dia menemukan kamar Azila yang berantakan dan ponsel menantunya yang tergeletak di lantai dengan kondisi sudah pecah dan mati.
Tak berselang lama, Pak Ujang yang setelah mengantarkan Azila tadi langsung pulang ke rumahnya dan baru kembali malam ini merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang terjadi di rumah majikannya itu, Pak Ujang melihat banyak pelayan yang berdiri di dekat Ayah Yoga dan Bunda Putri dengan wajah menunduk.
"Pak Ujang !" panggil Ayah Yoga yang melihat kedatangan Pak Ujang.
Pak Ujang segera menghampiri Ayah Yoga, "Iya, Tuan," ucap Pak Ujang.
"Pak Ujang lihat menantu saya pergi ke mana?" tanya Ayah Yoga.
"Ooh, tadi siang non Zila minta dianterin ke rumah mamahnya,"
"Pak Ujang yang nganterin?" tanya Bunda Putri yang mulai tenang setelah mendengar jawaban Pak Ujang.
"Iya, Nyonya. Tapiโ" jawab Pak Ujang menggantung.
"Tapi? Tapi apa, Pak?" tanya Bunda Putri yang kembali merasa takut.
"Tadi, non Azila meminta saya untuk diantar ke rumah mamahnya. Namun, non Azila mengajak ke mall terlebih dahulu, setelah itu saya disuruh pulang karena non Azila bilang beliau akan dijemput tuan Candra," jelas Pak Ujang, "Dan juga, saat pergi tadi non Azila membawa dua koper besar bersamanya," lanjut Pak Ujang.
"Tuh, kan, Bun. Ayah bilang apa tadi? Dia pasti sedang bersama Candra, mungkin mereka ingin liburan tanpa sepengetahuan kita," ucap Ayah Yoga.
"Yah, pinjam ponselnya," ucap Bunda Putri sambil menengadahkan tangannya.
Tanpa banyak tanya, Ayah Yoga langsung memberikan ponselnya. Setelah mendapatkan ponsel suaminya, Bunda Putri mencari kontak anaknya di ponsel Ayah Yoga, setelah menemukan kontak Candra, Bunda Putri lekas menelponnya.
Tuutt ....
Di dalam kamar yang gelap, Candra terbangun setelah mendengar ponselnya yang berbunyi, dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa penelpon itu.
"Ayah? Ada apa dia menelpon?" gumam Candra, lalu dia mengangkat telpon itu.
"Halo, Can. Ini, Bunda," ucap Bunda Putri dalam telepon.
"Iya, Bun. Ada apa?" tanya Candra dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Candra meraba tangan dan tubuh yang sedang memeluknya saat ini, "Iya, Bun. Ini, Azila ada di samping ku," jawab Candra.
"Berikan ponselnya ke Azila !" perintah Bunda Putri.
"Iya, bentar," jawab Candra.
"Sayang, bangun. Bunda mau bicara sama kamu," ucap Candra, "Sayang, ayo bangun," ucapnya lagi.
Karena tidak ada jawaban, Candra menyalakan lampu tidur di sampingnya. Setelah lampu tidur menyalaโ,
Duaarrr ....
"Kamu ..!" teriak Candra.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, komen, share dan favorit ya ๐ค dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author ๐๐๐