
Eldar terbangun ketika merasakan tangannya diremas oleh seseorang, dia tahu kalau itu pasti Naza karena sepanjang malam Eldar selalu menggenggam tangan Naza. Eldar membuka matanya lebar-lebar, beberapa detik dia melihat tubuh Naza kejang lalu berhenti dan kembali tenang.
Dengan perasaan yang tidak menentu Eldar berlari memanggil Dokter yang ruangannya hanya berjarak kurang dari 20 meter dari ruang ICU Naza. Dokter yang memang sudah ditugaskan untuk menangani Naza langsung berlari untuk mengecek kondisi Naza.
Setelah memeriksa semuanya dan dibantu oleh seorang perawat, Dokter pun keluar menghampiri Eldar yang sudah berdiri bersama Kevin, Mama Okta, dan Papa Mark di depan kaca pembatas ruang tunggu.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Mama Okta.
"Maaf, nyonya. Kali, ini, saya akan menyampaikan kabar buruk," jawab Dokter sambil menguatkan dirinya untuk berbicara.
"Naza kenapa, Dok? Di-dia baik-baik saja, kan, Dok?" tanya Eldar yang mulai berpikir ke sana kemari menebak-nebak kabar buruk apa yang akan disampaikan oleh Dokter.
"Kondisi tuan Naza sekarang lagi drop, dan, itu, membuat jantungnya melemah," jawab Dokter, "Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan tuan Naza, dan obat paling ampuh adalah doa dari keluarga," lanjut Dokter.
"Apa saya masih boleh menemani Naza di sampingnya, Dok?" tanya Eldar.
"Boleh, nona. Tapi, kali, ini, hanya boleh satu orang saja yang menemani tuan Naza," jawab Dokter, "Oh ya, seperti yang pernah saya katakan beberapa hari yang lalu, orang koma masih bisa mendengar apa yang kita bicarakan, jadi saya memberi saran agar tuan Naza di ajak bercanda atau memberinya kabar bahagia," lanjut Dokter.
"Baik, Dok," balas Eldar, "Terima kasih," lanjutnya.
"Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu," ucap Dokter, "Permisi," pamit Dokter sembari berbalik dan pergi meninggalkan ruang tunggu.
Setelah Dokter keluar ruangan semua orang terduduk, Mama Okta bersama Papa Mark duduk di tepian ranjang sedangkan Eldar dan Kevin duduk di sofa.
"Mam, apa Mama mau menemani Naza dulu?" tanya Eldar.
"Kamu aja dulu, Mama mau keluar sebentar untuk cari sarapan pagi kita," jawab Mama Okta.
"Biar Eldar aja Ma yang beli sarapan, Mama temani Naza dulu," ucap Eldar yang tidak enak kalau ibu kekasihnya membelikan dan menyiapkan sarapan untuknya.
"Lebih baik Mama sama Papa mandi dulu biar Kak Naza dijagain Eldar terus aku yang beli makanannya," ucap Kevin.
"Ya udah gitu aja," balas Mama Okta.
Mama Okta dan Papa Mark bergantian membersihkan tubuh mereka di kamar mandi ruang tunggu, rencananya pagi ini mereka berdua mau ke sekolah Cindy untuk mengambil rapor, tapi karena kondisi Naza yang menurun membuat mereka harus tinggal di sini satu untuk kemungkinan yang tidak diinginkan, dan Mama Okta lah yang tetap tinggal di rumah sakit karena dia takut sendirian saat di sekolah Cindy.
Eldar kembali menemani Naza yang membuat paginya begitu cemas, dia menitihkan air matanya karena sangat merindukan senyum dari laki-laki gagah di depannya.
Eldar mengecup pelan kening Naza, "Sudah lama kamu tidak tersenyum padaku, aku merindukan senyummu, dan kebiasaanmu yang selalu menggodaku," lirih Eldar di samping telinga Naza.
≈≈≈≈
Mobil Ayah Yoga telah sampai di depan rumah sakit, di sana mereka sudah ditunggu Dokter Rizka dan empat perawat yang sudah siap membantu proses Azila melahirkan. Saat di perjalanan ke rumah sakit Bunda Putri menghubungi Dokter Rizka untuk siap-siap di depan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Candra memangku Azila sampai-sampai celana piyamanya juga ikut basah oleh air ketuban Azila, dia sudah tidak peduli lagi dengan celananya yang penting dia berusaha membuat Azila senyaman mungkin.
Dokter Rizka memeriksa terlebih dahulu apakah Azila sudah benar-benar akan melahirkan atau belum. Setelah mengecek semuanya, Dokter Rizka berjalan keluar menghampiri Candra dan Bunda Putri, sedangkan Ayah Yoga diminta pulang lagi sama Bunda untuk mengambil perlengkapan yang memang dibutuhkan setelah cucu pertama mereka lahir, dan pastinya baju ganti untuk Candra dan Bunda Putri karena mereka masih memakai piyama tidur.
"Bagaimana, Dok? Apa anak saya sudah lahir? Kenapa tidak ada suara tangisan, Dok? Istri, dan anak saya baik-baik aja, kan, Dok?" tanya Candra dengan penuh kecemasan.
"Tenang dulu, tuan. Nyonya Azila masih belum melahirkan, kondisi calon bayi, dan calon ibu sangat baik. Tapi, nyonya Azila masih belum siap melahirkan karena baru bukaan satu, jadi jalan tempat bayi keluar masih terlalu kecil," jelas Dokter Rizka.
"Lalu berapa lama lagi untuk istri saya sudah siap melahirkan, Dok?" tanya Candra.
"Itu tergantung, tuan. Tidak ada kepastian, nanti setiap 30 menit sekali saya akan mengecek nyonya Azila," jawab Dokter Rizka, "Kalau nanti nyonya Azila merasakan nyeri di perut, itu, wajar, tuan. Tuan jangan khawatir karena, itu, adalah reaksi untuk mendorong bayi agar bisa keluar, dan jika semakin lama, dan sering nyonya Azila merasakan nyeri, berarti nyonya Azila tidak lama lagi akan siap melahirkan," lanjut Dokter Rizka.
Saat Kevin keluar dari ruang tunggu, dia melihat seseorang di kejauhan yang mirip dengan Candra, karena jiwa penasarannya tinggi, Kevin mencoba menghampiri orang itu.
"Candra, Bunda, kalian ngapain pagi-pagi buta di sini?" tanya Kevin.
"Kalau begitu saya pamit dulu, kalau ada apa-apa saya ada di ruangan saya," pamit Dokter Rizka saat Kevin datang. Candra, Bunda Putri, dan Kevin mengangguk.
"Azila mau lahiran," jawab Candra, "Udah, ya, aku mau nemenin istriku," lanjut Candra sembari pergi masuk ke ruang bersalin.
"I-itu, beneran, Bun?" tanya Kevin yang jadi gugup saat melihat wajah pucat Candra dan rasa takut yang begitu jelas tergambar di wajah Candra.
"Iya, baru bukaan satu, masih lama untuk lahiran," jawab Bunda Putri.
"Semoga lahiran Azila lancar, dan nggak ada apa-apa," doa Kevin.
"Amiin, semoga saja," balas Bunda Putri.
"Cindy gimana, Bun?" tanya Kevin.
"Dia masih tidur sama Dara," jawab Bunda Putri, "Kamu ngapain sepagi, ini, udah keluar ruang tunggu?" lanjutnya bertanya.
"Mau beli sarapan, Bun."
"Bunda nitip juga, ya, buat Bunda, Azila, dan Candra," ucap Bunda Putri. Kevin mengangguk.
"Naza gimana kondisinya?" tanya Bunda Putri.
Kevin tertunduk diam, entah kenapa moodnya jadi sedih kalau ada pertanyaan, itu, setelah kejadian beberapa menit tadi.
"Tadi pagi Naza sempat kejang, Bun. Kata Dokter kondisi Naza memburuk bahkan sekarang dibatasi satu orang saja yang boleh masuk," jawab Kevin.
Bunda Putri menghampiri Kevin lalu memeluknya, "Kamu yang sabar, ya, Bunda tahu kalau Naza, itu, anak yang kuat, dia pasti sembuh," ucap Bunda Putri mencoba menenangkan Kevin.
Jangan lupa like, vote, dan komen ya gaes.