
Azila membuka kotak kayu yang sudah usang dan berdebu itu, kreeeek, suara kotak kayu terbuka.
Mata Azila terbelalak saat mengetahui apa isi kotak kayu itu, di dalamnya terdapat tumpukan kertas yang berisi puisi-puisi, di pojok kanan bawah setiap kertas terdapat nama Candra Wibawa.
"Cowok ini ternyata suka puisi," gumam Azila.
Azila sangat penasaran dan ingin membaca setiap lembar kertas yang berisi puisi, namun pekerjaannya masih belum selesai, akhirnya Azila meletakkan kotak kayu berisi puisi itu di nakas samping tempat tidur, lalu dia melanjutkan menata lemari dan membereskan semua yang terlihat berantakan.
Setengah jam kemudian Azila telah selesai dengan kegiatannya, dia merebahkan tubuhnya yang lelah dan basah karena keringat itu ke lantai kamar.
"Ternyata capek juga, ya, beresin kamar segede ini sendirian, lain kali minta bantuan Bik Ijah aja, lah, biar cepet selesai dan nggak terlalu capek," keluh Azila yang meratapi rasa capeknya.
"Oh, iya, kan, tadi aku mau baca puisinya Candra, jadi makin penasaran aku sekarang," ucap Azila sembari berdiri dan duduk di tepi ranjang, tangan Azila meraih kotak kayu yang tadi dia taruh di atas nakas.
"Tapi, badan ku udah kecut banget, gerah pula, mandi dulu aja lah, biar seger," gumam Azila yang masih memegangi kotak kayu.
Di tutupnya kotak kayu tersebut dan di taruh di atas nakas lagi, lalu Azila berjalan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, Azila menanggalkan semua baju yang menempel di tubuhnya lalu mengguyur tubuhnya yang basah oleh keringat di bawah shower, setelah itu dia masuk ke bathtub untuk berendam air hangat.
"Aaahh, enak banget," ucap Azila sambil memejamkan matanya, dia menikmati rasa yang membuat tubuh capeknya merasa nyaman.
1 jam kemudian, Azila sudah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi dan sudah berganti pakaian santai untuk tidur. Azila naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut, lalu diraihnya kotak kayu yang berada di atas nakas disamping tempat tidurnya, Azila membuka kotak kayu itu dan mengambil beberapa lembar kertas yang bertuliskan puisi karangan Candra.
Azila mulai membaca satu-persatu puisi di dalam kotak kayu itu, setelah Azila membaca beberapa puisi, Azila tertarik dengan satu puisi yang berjudul Tipis Manis.
Tipis Manis
Sore ini hujan gerimis
Aku terngiang ingatan manis
Usai sholat idul adha
Aku dan dia uduk berdua berhadapan
Di tengahi meja bundar berukir kayu
Terik pagi mulai memanas
Bercanda berdua memanjakan rasa
Mengobati rindu yang selalu melanda
Bertukar coklat ala pasangan yang dimabuk cinta
Teringat kemarin hari ulang tahunku
Yang menjadi bullyan teman kelasku
Untung dia datang bak superhero penyelamat
Penderitaan di ulang tahun ku sedikit berkurang
Dia dengan senang hati memandikan tubuhku
Yang berlumuran telur mentah berbalut tepung terigu
Untung saja aku tak di telanjangi temanku yang gila semua
Aku pulang dengan seragam basah kuyup
Tak lupa parfum beraroma amis telur
Hari itu bahagiaku tak bisa ku ukur
Saat mengingat itu aku hanya bisa memukul diriku
Betapa bodohnya aku melepas tangannya yang tulus
Kini kita hanya sebatas ingatan romansa
"Ternyata dia pernah jadi bucin juga ya, aku jadi tidak yakin jika ciumanku dangan dia waktu itu adalah ciuman pertamanya," ucap Azila dengan agak kesal, lalu dia melihat puisi yang lain lagi, entah berapa lama Azila membaca puisi-puisi karangan Candra. Setelah semua sudah di baca oleh Azila, dia menyukai salah satu puisi yang menurutnya sangat lucu, judulnya Kata Sebelah Tangan.
Kata Sebelah Tangan
Bahasa kata memiliki rasa
Mewakilkan setiap emosi perasaan yang menjajah jiwa dan raga
Jika orang nesu,
Suka memanggil asu
Jika orang dengki,
Suka mengucap t@i
Jika orang sedih,
Suka merasakan perih
Jika orang jatuh cinta,
Suka senyum kaya orang gila
Ketika aku mengungkapkan cinta yang membara
Tapi naas, dia menjawab
"Maaf, aku sudah ada yang punya."
"Apa dia pernah di tolak cewek?" pikir Azila sambil tertawa. "Cewek ini pasti luar biasa seperti aku karena dia sudah menolak Cowok sekeren dan seganteng Candra," ucap Azila sambil tertawa dan menyombongkan dirinya.
Setelah matanya lelah membaca puisi, Azila memutuskan untuk tidur agar tubuhnya kembali segar dan bugar.
Azila telelap begitu lama, hingga jam dinding di kamar Candra dan Azila menunjukkan pukul 15:07 WIB, Azila terbangun karena tubuhnya sudah merasa pegal dan kaku semua karena terlalu lama tidur, Azila beranjak turun dari ranjangnya lalu merentangkan tangannya dan mulai merenggangkan otot-ototnya yang terlalu lama di tidurkan dan menjadi kaku semua.
Kretekk krutukk teekk tuukk.
Suara tulang Azila yang habis di renggangkan. "Enak banget, kapan lagi bisa se-segar ini," gumam Azila yang masih mencoba menggeliat untuk melemaskan otot-ototnya yang masih kaku.
Setelah merasa tubuhnya kembali segar, Azila berjalan menuju balkon dan melihat perkerja yang sedang membersihkan kandang hewan peliharaan Candra, luas kandang peliharaan milik Candra hampir setengah dari luas rumah keluarga Wibawa, mata Azila melihat ada 2 mobil box yang masuk menuju kandang milik Candra.
"Cowok ini ingin memelihara berepa banyak hewan lagi sih?" Gerutu Azila yang melihat beberapa pasang burung merak di keluarkan dari mobil box tadi.
"Apa dia mau mengoleksi semua jenis merak?" Gumam Azila lagi yang melihat beberapa pasang merak yang berbeda jenis.
"Ah, sudahlah, ngapain ku pikirin," ucap Azila sembari membalikkan badannya dan masuk ke kamar lagi.
≈≈≈
Hari sudah mulai gelap dan sekarang adalah malam Minggu, Azila ingin sekali pergi jalan-jalan, karena sejak pindah ke rumah keluarga Wibawa, dia tidak pernah pergi jalan-jalan, hanya pergi berkunjung ke rumah Mamah dan Papahnya 1 minggu 1 kali.
"Ajak Candra jalan-jalan, ah, sesekali keluar biar nggak bosen di sini," gumam Azila lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor telepon Candra, tuuutt tuttt, suara panggilan menyambung.
Di ruang kantor Candra.
Drtt drtt drtt.
Ponsel Candra bergetar karena ada panggilan masuk, Candra meraih ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Azila? Tumben," ucap Candra yang heran karena Azila tidak pernah menelpon Candra duluan, dengan wajah bahagia dan semangat, Candra mengangkat telepon dari Azila.
"Halo, Sayang. Ada apa?" Tanya Candra dengan suara lemah lembut dan terkesan manis.
"Nggak usah sok manis, kamu kapan pulang? Aku pengen jalan-jalan dan refreshing, mumpung sekarang malam Minggu dan besok kamu libur kantor," jawab Azila ketus tanpa belas kasih.
"Sebentar lagi aku pulang, kamu siap-siaplah, nanti aku jemput di kamar," balas Candra dari dalam telepon.
"Oke, jangan lama-lama ya," ucap Azila dengan nada lemah lembut lalu menutup telponnya.
"Dasar, singa betina, selalu galak kalau tidak di turuti dan manis kalau udah di kasih," umpat Candra yang tidak mengerti tentang wanita.
NB: puisi di atas adalah karya author sendiri.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙