My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Anak Pintar



Mobil yang membawa Naza dan Eldar sudah memasuki perkotaan lagi. Di dalam mobil keduanya masih berpelukan sambil menutupi tubuh mereka dengan selimut.


Pak supir masih enjoy-enjoy saja walaupun diterpa rasa kantuk dan dinginnya udara. Semua itu memang tergantung jam terbang mereka masing-masing.


"Sekarang udah jam berapa?" tanya Naza.


"Nggak tau," jawab Eldar sambil menggelengkan kepalanya yang sejak bangun tadi sudah nyaman di bahu Naza.


"Handphoneku kamu taruh mana?" tanya Naza.


"Di kursi depan," jawab Eldar.


"Bentar, aku ambil handphoneku dulu," ucap Naza.


"Tolong ambilin punyaku juga," ucap Eldar sembari memisahkan tubuhnya dari Naza.


"Kamu taruh mana?" tanya Naza.


"Di samping punyamu," jawab Eldar.


Naza berjalan maju lalu mengambil ponselnya dan ponsel Eldar yang ada di kursi.


"Nih," ucap Naza sambil memberikan benda pipih mahal milik pacarnya.


"Makasih," ucap Eldar.


Naza kembali duduk di kursi belakang yang sudah di setting seperti kasur, ya walaupun tidak sepanjang dan selebar kasur pada umumnya, tapi masih oke untuk dibuat tidur.


Eldar duduk bersandar ke bagian samping mobil, begitu juga dengan Naza, mereka duduk saling berhadapan tapi tidak saling menatap, melainkan saling menunduk melihat layar ponsel masing-masing.


"Sayang!" panggil Naza.


"Apa?" tanya Eldar sambil mengalihkan pandangannya ke Naza.


"Kita mau ke mana sebenarnya? Kenapa main rahasia-rahasiaan sama aku?" tanya Naza.


"Ke tempat yang indah pokoknya," jawab Eldar.


"Iya, semua tempat memang indah kalau datangnya sama kamu," ucap Naza.


Seketika itu juga pipi Eldar mulai memerah, bibirnya seperti kewalahan untuk menhan senyumnya yang terus memberontak ingin dibebaskan. Eldar mengalihkan pandangannya ke bawah agar Naza tidak melihat pipi merahnya.


"Masih lama kah sampainya?" tanya Naza.


"Lumayan, lima jam lagi mungkin," jawab Eldar tanpa melihat Naza.


"Em," balas Naza sambil manggut-manggut.


Eldar kembali menatap Naza setelah detak jantungnya kembali normal, itu pertanda kalau pipinya juga sudah tak merah lagi.


"Kenapa? Kamu bosen, ya?" tanya Eldar.


"Siapa yang bilang aku bosen?" tanya balik Naza.


"Tadi, tadi kamu cuma bales 'Em' aja," jawab Eldar.


"Memang 'Em'' itu, pertanda kita bosen ya?" tanya Naza. Eldar menggelengkan kepalanya.


"Nah, itu tau," ucap Naza sambil sedikit mengangkat ujung bibirnya.


"Ya, maaf, aku cuma tanya aja," ucap Eldar sambil kembali menunduk menatap layar ponselnya.


Naza menatap Eldar dengan rasa gemasnya, rasanya dia ingin mencubit kedua pipi Eldar seperti mencubit pipi bayi, lalu ingin memeluk sambil mengangkatnya seperti sedang mengangkat dan memeluk kucing. Tapi, semua itu ia tahan karena tangan masih dalam masa pemulihan.


"Hei, Sayang!" panggil Naza.


"Hm? Apa lagi?" jawan Eldar tanpa menatap Naza.


"Jangan murung begitu," ucap Naza.


"Biasa aja, siapa juga yang murung," ucap Eldar dengan nada sedikit kesal.


"Sini, duduk di sini," ucap Naza sambil menepuk tempat di depannya.


"Ngapain?" tanya Eldar.


"Udah, duduk aja dulu," balas Naza sambil menarik-narik jempol kaki Eldar.


Eldar membuang napas kesalnya, setelah itu dia menuruti ucapan Naza untuk di tempat yang ditepuk Naza tadi. Mereka duduk berhadapan dengan jarak lumayan dekat, Naza membuka kakinya lebih lebar agar Eldar bisa duduk di depannya.


"Udah, terus mau apa?" tanya Eldar dengan nada sedikit jutek.


"Balik badan, kamu hadap sana," ucap Naza sambil menunjuk ke belakang Eldar.


"Mau ngapain? Mau macem-macem, ya?" tanya Eldar sambil menunjuk Naza.


Ucapan Naza memang selalu membuat Eldar luluh dan menurut saja, itu karena Naza memang tidak pernah macam-macam terhadapnya, kecuali mereka berdua saling kelepasan seperti di rumah sakit. Untungnya setiap mereka hampir melakukan sesuatu yang di atas batas pasti ada orang yang tidak sengaja memergoki lalu mereka berhenti, atau salah satu dari mereka tersadar dari jurang napsu.


Eldar memutar tubuhnya hingga kini sudah duduk membelakangi Naza, "Sudah, sekarang apa?" tanya Eldar.


Tiba-tiba Naza maju lalu memeluk Eldar dari belakang, hanya tangan kanannya yang melingkar di perut Eldar.


"Kamu tau nggak?" tanya Naza sambil menopangkan dagunya di pundak Eldar.


"Nggak tau," jawab Eldar dengan cepat.


"Kok nggak tau," ucap Naza.


"Kan kamu nggak jelas nanyanya," sahut Eldar.


"Oh, iya ya, aku lupa," ucap Naza sambil tertawa kecil.


"Hm," dehem Eldar.


"Kamu marah, ya?" tanya Naza.


"Siapa yang bilang aku marah?" tanya balik Eldar.


"Lah, tadi kamu balesnya cuma 'Hm' aja," jawab Naza.


"Emangnya 'Hm' itu, pertanda kita bosen ya?" tanya Eldar. Naza menggelengkan kepalanya.


"Nah, itu tau," ucap Eldar sambil menahan tawanya.


"Kayaknya aku kenal kata-kata, itu," ucap Naza sambil mencoba mengingat-ingat.


"Dah, lupakan kata-katanya, tadi kamu mau tanya apa?" ucap Eldar sambil memeluk tangan kanan Naza yang memeluk perutnya.


"Kamu tau, ke manapun aku pergi bersamamu, aku selalu bahagia, dan tempat yang kita kunjungi pun akan sangat indah. Jika, kamu berada di sampingku, aku tidak pernah merasakan apa, itu, yang namanya bosen," ucap Naza.


"Jangan menggombal," ucap Eldar dengan wajah yang sudah kembali memerah.


"Siapa juga yang menggombal, aku serius tau," ucap Naza sambil menengok menatap wajah Eldar.


Tidak hanya pipinya saja yang sekarang memerah, tapi hampir seluruh wajahnya jadi memerah akibat ucapan Naza yang membuatnya tersipu.


"Kenapa wajahmu merah, El? Apa kamu sakit?" tanya Naza.


"E-eng-enggak apa-apa, mungkin karena di sini terlalu panas," kilah Eldar.


"Mana ada panas? Ini baru jam tujuh pagi, AC mobil juga udah nyala, dari mana panasnya," ucap Naza.


"E-ee--" Eldar kebingungan mau jawab apa, otaknya serasa tiba-tiba kosong dan tidak mampu mengolah kata jawaban.


"Jangan-jangan kamu sakit beneran," ucap Naza sembari melepaskan tangannya lalu memegang dahi Eldar.


"Hm, tidak panas," ucap Naza.


"Kan tadi aku sudah bilang kalau nggak sakit," ucap Eldar.


"Kamu salah tingkah, ya," ucap Naza sambil menatap wajah Eldar dari samping.


"Si-siapa yang salah tingkah, bi-biasa aja tuh," kilah Eldar yang jadi gugup.


"Ih, pacarku masih malu-malu nih ya," ucap Naza yang mencoba menggoda Eldar.


"Siapa yang malu-malu, aku nggak tuh," ucap Eldar.


"Udah, jujur aja, aku suka kok kalau kamu malu-malu gitu," ucap Naza sambil kembali melingkarkan tangannya ke perut Eldar, "Kamu tambah lucu tau," lanjutnya sambil mencium pipi Eldar.


"Naza!" teriak Eldar dengan kesalnya.


"Makin sayang kamu rasanya," ucap Naza sambil mengeratkan pelukannya.


Eldar mulai tenang setelah Naza membenamkan wajahnya di samping lehernya. Perlahan tangan kiri Eldar mulai mengelus pipi Naza, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus tangan Naza di perutnya. Tangan Eldar mengelus punggung tangan Naza, lalu jari-jari lentiknya mulai menyelip di antara sela-sela jari besar Naza.


"Kita cari makan dulu yuk," ajak Eldar.


"Terserah kamu, aku ikut ke manapun kamu pergi, dan ikut apapun rencana yang sudah kamu buat," ucap Naza sambil memberi Eldar satu ciuman di pipi.


"Anak pintar," ucap Eldar. Naza semakin mengeratkan pelukan yang nyaman itu.


"Pak, kita cari sarapan dulu!" perintah Eldar.


"Siap, Non," jawab pak supir.


Ayo jangan lupa buat like ya sahabatku 😇🙏