My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Selamat Tinggal



Eldar masih berdiri di teras walaupun mobil Naza sudah pergi sekitar lima menit yang lalu, hatinya merasa resah dan tidak nyaman setelah kepergian Naza. Malam ditambah gerimis membuat Eldar kedinginan, dia memutuskan untuk masuk ke dalam.


Rasa ingin buang air kecil tiba-tiba menghampiri Eldar, dia berlari menuju kamarnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Eldar tersenyum karena merasa lucu, beberapa saat yang lalu dia menangis di lantai kamar mandi karena mengira dirinya sudah tidak perawan lagi.


Eldar begitu tidak menyangka keliarannya saat dikuasai oleh nafsu membuat dia lupa segalanya. Kalau saja dia tidak menggigit tonjolan kecil di dada Naza, mungkin dia akan benar-benar tidak perawan lagi sekarang.


Di tengah perjalanan hujan mulai turun perlahan dan mulai deras, ada sedikit kekhawatiran di hati Naza, dia sudah merasa begitu rindu dengan seorang wanita yang banyak memberi warna pada hidupnya.


Jalanan nampak sepi, sejak tadi Naza hanya mendapati truk tronton dan kendaraan besar. Naza mengambil benda pipihnya lalu menelpon wanita tercintanya.


Di tengah aktivitasnya di kamar mandi, ponsel Eldar berbunyi, cepat-cepat dia menyelesaikan kegiatannya dan mengangkat telpon itu.


"Kamu datang di waktu yang tepat," ucap Eldar saat Naza menelponnya.


Tuutt


"Halo, Sayang!" ucap Naza begitu senang.


"Apa kamu sudah sampai?" tanya Eldar.


"Belum, ini masih di jalan, hujan deras banget makanya aku nggak berani kenceng-kenceng," jelas Naza.


"Ngapain telpon, mending fokus nyetir aja," balas Eldar.


"Kok gitu, aku cuma mau mastiin kalau kamu baik-baik aja," ucap Naza.


"Uhh, co cweet banget deh kamu, makin cinta makin sayang sama kamu," balas Eldar, "Kamu tenang aja, aku baik-baik aja kok, di sini cuma gerimis biasa aja," lanjutnya.


Naza membuang napas lega, "Syukurlah, kalau begitu aku matikan dulu telponnya," ucap Naza, "Cepatlah tidur," lanjut Naza.


"Siap, Komandan tampan," balas Eldar, "I love you," lanjut Eldar seperti orang berbisik.


"I love you too, bidadariku," balas Naza.


Eldar menarik selimut setelah sambungan telepon dengan Naza terputus, senyum di bibirnya terus mekar. Rasa rindu yang dalam dia lampiaskan ke guling, memeluknya begitu erat, walaupun belum ada 15 menit mereka berpisah, rindu sudah menjangkiti hatinya.


Tidak jauh dengan apa yang dirasakan Eldar, Naza pun juga sudah dijangkiti rindu hingga menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.


"Kenapa aku sudah begitu merindukanmu, Sayang," gumam Naza.


Untuk menghilangkan kebosanan di sepanjang jalan, Naza memutar lagu dengan volume lumayan keras agar suara hujan kalah.


"Sepertinya kita harus cepat bertemu, Sayang," gumam Naza sembari membuka ponselnya.


Naza mencari nomor seseorang lalu menelponnya, setelah telepon tersambung Naza mengecilkan suara musiknya.


"Kamu sudah sampai?" tanya Naza.


"Belum, Kak. Ini, masih beli martabak, kenapa?" tanya balik Kevin.


"Besok Kakak mau pergi, ada urusan penting, kamu handel semua urusan perusahaan selama Kakak pergi, ya," jawab Naza.


"Urusan apa? Perjalanan bisnis?" tanya Kevin.


"Nggak, besok Kakak mau nemenin Eldar belanja, he he," jawab Naza sambil tertawa.


"Dasar bucin," ejek Kevin, "Aku mau nyetir dulu," lanjutnya.


"Ingat, besok Kakak nggak masuk, perusahaan aku serahin kamu dulu," ucap Naza.


"Ya ya ya," balas Kevin.


"Adik pintar," balas Naza sembari mematikan sambungan telepon.


Naza kembali mengencangkan volume musiknya lalu sedikit bergoyang dan mengetuk jarinya ke setir mengikuti irama.


Duaarr


Petir menyambar dengan kencang hingga membuat Naza kaget dan menjatuhkan ponselnya.


"Shit," umpat Naza.


Naza mencoba meraih ponselnya namun tangannya tidak sampai, sesekali Naza melihat ke depan untuk memastikan tidak ada kendaraan. Namun, malam sudah gelap ditambah hujan lebat membatasi jarak pandangnya.


Sejauh matanya memandang, tidak ada kendaraan sama sekali lalu dia merunduk untuk mengambil ponselnya. Naza tidak sadar kalau tangan kanannya yang memegang setir sedikit belok ke kanan, mobilnya mulai bergerak ke tengah jalan.


"Ah, dapet, bikin susah aja," ucap Naza yang belum fokus melihat depan.


Ttooottt


Truk tronton melaju berlawanan arah dengan mobil Naza. Naza yang terkejut dan spontan membanting setir ke kiri hingga menabrak pembatas jalan dan mobilnya terbalik.


Tubuh Naza menggantung terbalik dengan wajah penuh darah dan ada serpihan kaca yang menancap di wajahnya.


"Maafkan aku," lirih Naza, "Selamat tinggal, Eldar."


Jangan lupa like.