My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Butuh kasih sayang bukan kejahilan



Azila berjalan sendirian menyusuri jalan raya, hatinya sangat hancur ketika teringat dengan perkataan Pak Dokter dan Mertuanya, ditambah lagi Candra yang tega membohongi dirinya, dan saat dia teringat dengan wajah Eldar saat keluar dari lift, itu membuatnya muak dengan semuanya.


Azila berhenti di pinggir jalan dan mengusap air matanya, dia melambaikan tangannya untuk memberhentikan taksi yang lewat, setelah taksinya berhenti dia lekas masuk.


"Mbaknya mau diantar kemana?" Tanya supir yang sudah terlihat umur 50 tahun keatas.


"Jalan saja, Pak. Nanti saya kasih tahu kalau mau belok," jawab Azila.


"Baik, Mbak," jawab Pak supir lalu menjalankan taksinya.


Di sepanjang perjalanan, Azila hanya diam dan sesekali berbicara saat menunjukkan kalau akan berbelok, dia terus menatap ke arah luar jendela dengan mata sembabnya.


≈≈≈


Ting, lift yang dinaiki Candra dan Eldar telah sampai di lantai dasar, mata Candra celingukan menyusuri setiap arah mencari Azila, hiruk piruk lobby menambah susah saat mencari Azila.


Candra masih belum sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian semua mata yang ada di sana, bukan hanya paras tampan dan statusnya saja yang menjadi pusat perhatian, namun pakaian yang menempel ditubuhnya pun menjadi pusat perhatian dan diperbincangkan. Candra yang saat itu sudah kacau karena ulah Azila, membuat Candra lupa kalau dia hanya memakai baju pasien rumah sakit yang hanya menutupi sebatas paha.


"Kak, kenapa semua orang menatap kita?" Tanya Eldar yang berbisik ke Candra.


"Mana Kakak tahu," jawab ketus Candra. "Kamu diam aja dan bantu Kakak cari Kakak Ipar mu!" Lanjut Candra yang menyuruh Eldar.


Karena Eldar sangat tidak nyaman dengan tatapan mata semua orang, dia mengecek dirinya sendiri apakah ada yang aneh atau tidak. "Aneh, kenapa mata mereka semua masih menatap ke sini sih? Padahal tidak ada yang salah denganku," ucap Eldar dalam hatinya.


Setelah melihat dirinya sendiri, Eldar melihat Kakaknya yang sedang celingukan kesana kemari, alangkah terkejutnya Eldar saat melihat ke arah Kakaknya yang hanya memakai baju pasien sebatas paha. Baju pasien itu menampakkan paha putih mulus dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di sana.


"Kakak, Kakak," panggil Eldar yang berbisik sambil menyikut tangan Candra.


"Apa lagi sih? Apa kamu sudah menemukan Kakak Ipar mu?" Tanya Candra sembari menoleh ke Eldar.


"Lihat dirimu dulu, Kak," jawab Eldar sambil mengarahkan lirikan matanya ke tubuh Candra bagian bawah.


Candra yang langsung mengerti apa maksud Eldar dengan lirikan matanya, segera dia melihat ke arah bawah dan sontak Candra terkejut bukan main, dia langsung menarik bajunya kebawah dan menutupi area pahanya. "Kenapa baru ngasih tahu sih?" Tanya Candra yang dirundung malu.


"Aku juga baru tahu, Kak," jawab Eldar.


"Gimana ini, aku tidak tahu tadi bajuku dibawa kemana sama Pak Dokter," balas Candra.


"Emm, emm, ahh, kita ke mobil sekarang, Kak," balas Eldar yang baru selesai berpikir.


"Dimana mobilnya? Aku enggak lihat," ucap Candra yang sudah bingung dan malu.


"Ya iyalah, Kak. Mobilnya kan ada di parkiran," jawab Eldar yang merasa Kakaknya mulai bodoh.


"Ayo cepat kita ke parkiran, Kakak sudah malu banget ini," balas Candra sambil berlari keluar dari pintu rumah sakit.


Eldar berlari sambil menenteng tas makanan dan menyusul Kakaknya yang sudah berlari keluar. "Percuma kalau ganteng tapi bodoh kayak kamu, Kak," ejek Eldar dalam hatinya.


≈≈≈


Di parkiran mobil rumah sakit.


"Eldar, mana mobilnya!" Seru Candra ke Eldar yang tertinggal di belakang.


"Hosh, hosh, hosh. Kakak cepet banget sih larinya, Eldar ngos-ngosan nih ngejarnya," ucap Eldar yang baru sampai parkiran dengan nafas ngos-ngosan.


"Itu, yang warna hitam, tuh ada Pak Ujang di dalam," jawab Eldar sambil menunjuk ke mobil hitam yang tadi mengantarnya ke rumah sakit. Mata Candra mengikuti arah yang ditunjukkan oleh jari Eldar dan segera berlari menuju mobil hitam yang terparkir agak jauh dari tempat Eldar dan Candra berdiri sekarang.


"Heh, ditinggal lagi," umpat Eldar yang sudah capek berlari, lalu dia menyusul Candra dengan berjalan seperti orang malas.


≈≈≈


Tok tok tok, Candra mengetuk kaca mobil karena pintunya dikunci oleh Pak Ujang, Pak Ujang yang mendengar ketukan di kaca mobil segera menoleh dan melihat siapa yang mengetuk kaca mobil majikannya itu.


"Tuan Muda," ucap Pak Ujang setelah melihat siapa yang mengetuk kaca mobil, lalu Pak Ujang membuka kunci pintu mobil dan Candra bergegas membuka pintu dan masuk.


"Huhh," dengus lega Candra.


"Tuan Muda kenapa?" Tanya Pak Ujang yang melihat Candra membuang nafas besar berulang kali.


"Apa Pak Ujang tidak lihat bajuku?" Tanya balik Candra yang sudah malas untuk menjelaskan. Lalu Pak Ujang melihat dari balik kaca spion dan dia tidak bisa menahan tawanya. Candra yang mendengar tawa Pak Ujang merasa kesal. "Ehem," dehem Candra dengan suara berat dan tatapan dingin.


"Maaf, Tuan Muda," ucap Pak Ujang yang menyadari kelancangannya.


"Huuhh, hari ini aku sangat sial sekali, tidak Tante, tidak Kakak Ipar, tidak Kakak, semuanya membuat ku susah hari ini," gerutu Eldar yang baru masuk ke mobil.


"Jalan, Pak. Kita cari Azila, mungkin dia belum jauh dari rumah sakit!" Perintah Candra ke Pak Ujang.


"Baik, Tuan," jawab Pak Ujang, walaupun Pak Ujang tidak tahu apa yang sudah atau sedang terjadi, Pak Ujang tidak berani bertanya dan memilih untuk menuruti perintah Candra.


"Kita mau cari kemana, Kak?" Tanya Eldar.


"Kamana aja, yang penting ketemu," jawab ketus Candra.


"Kakak Ipar itu udah besar, Kak. Dia pasti tahu jalan pulang," balas Eldar dengan santainya.


"Masalahnya bukan itu, Eldar," balas Candra sambil menoleh ke arah Eldar.


"Lalu?" Tanya Eldar dengan rasa penasaran yang mulai tumbuh.


"Kakak Ipar mu sedang hamil," jawab Candra.


Eldar baru ingat kalau Azila sedang hamil setelah Candra bilang kalau Kakak Iparnya sedang hamil, dia sangat tahu kalau wanita yang sedang hamil di trimester pertama itu sangat sensitif, mudah marah, dan sering bad mood.


"Kenapa Kakak jadi bodoh sih? Wanita hamil itu butuh kasih sayang bukan kejahilan, apalagi di trimester pertama. Aku tidak habis pikir apa yang ada di otakmu, Kak," balas Eldar sambil memalingkan wajahnya lagi ke depan.


"Kakak mana tahu kalau dia hamil, Kakak aja baru tahu tadi," jawab jujur Candra.


"Kakak yang buat masa Kakak enggak tahu sih, aneh," balas ketus Eldar.


"Masa Kakak tahu kalau Kakakmu ini sangat tokcer," balas Candra sambil bercanda.


"Inget, Istri lagi ngilang, jangan banyak bercanda, cari yang bener," balas ketus Eldar yang membuat Candra kembali murung.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙