My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Roof Top



Di hari yang mulia ini, semoga kita senantiasa selalu diberikan kemudahan dan juga keberkahan di setiap langkah ke depannya.


Selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk.


Selamat Hari Raya Idul Adha.


Azila sudah berpuluh-puluh kali menelpon nomor Candra, tapi tidak ada satupun panggilan yang terjawab. Dia melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan lebih 15 menit, yang artinya Candra sudah telat 1 jam 45 menit.


"Kamu di mana sih! Kenapa nggak ada kabar? Pakai nggak angkat telepon pula!" gerutu Azila sambil memukul-mukulkan ponsel ke tangannya.


Azila berjalan mondar-mandir di ruang tamu, di sana ia menunggu kepulangan Candra, sesekali dia membuka pintu dan melihat keluar. Awalnya dia hanya mondar-mandir di ruang tamu, tapi lama-lama dia sering membuka pintu dan pada akhirnya dia mondar-mandir di teras depan pintu.


Kean dan Lean sudah tertidur di kamar, awalnya Azila menemani kedua anaknya di kamar, tapi setelah mendapat telepon dari Pak Suryo dia jadi panik sendiri. Setelah beberapa kali dia menelpon Candra tapi tidak di angkat, Azila meminta Bunda Putri yang sedang duduk-duduk santai di ruang keluarga untuk menemani Kean dan Lean yang sedang tidur.


Di lain tempat, tepatnya di kantor tempat perusahaan Wibawa Group berdiri. Pak Suryo dan Pak Nyu berlarian melihat ke setiap ruangan di kantor. Mereka melakukan itu karena Candra setiap hari setelah jam kerja selesai, dia berkeliling ke setiap ruangan di kantor untuk mengecek apakah ada yang lupa mematikan komputer atau yang lainnya.


"Huh! Huh! Huh!" napas Pak Nyu sudah tersengal-sengal karena berlarian dari lantai ke lantai lain, begitu juga dengan Pak Suryo yang juga sudah kehabisan tenaga, padahal mereka baru mengecek lima lantai dan masih ada 27 lantai lagi.


"Kita harus cepat-cepat temukan Tuan Candra, kalau tidak, kita pasti akan jadi amukannya Tuan besar, dan Nyonya besar," ucap Pak Suryo.


"Apa kita harus cek satu persatu ke setiap ruangan di semua lantai? Bisa-bisa tengah malam nanti kita baru selesai, senior," ucap Pak Nyu.


"Tapi kalau kita tidak cepat, nanti kita yang akan dapat masalah," ucap Pak Suryo yang terduduk di lantai.


"Huft! Huft! Andai saja aku bisa melihat semua ruangan sekaligus, pasti kita tidak usah capek-capek begini, senior," ucap Pak Nyu yang menyandarkan pantatnya ke tembok seperti seseorang yang sedang rukuk.


"Semua ... sekaligus ... melihat ... semua," gumam Pak Suryo dengan mencoba mengutarakan isi otaknya yang serasa sulit diterjemahkan.


"Apa anda mengatakan sesuatu, senior?" tanya Pak Nyu.


"Tadi, ketika kamu bilang kalau kita bisa melihat semuanya sekaligus, aku seperti terpikirkan sesuatu," jawab Pak Suryo yang terus mencoba menerjemahkan isi otaknya.


"Melihat semuanya sekaligus, ya," gumam Pak Nyu yang juga ikut memikirkan sesuatu.


Sejenak suasana menjadi sepi, napas Pak Nyu dan Pak Suryo yang mulai tenang bisa saling terdengar. Beberapa detik berjalan dengan otak yang mencoba mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan. Sampai pada detik sekian Pak Suryo dan Pak Nyu saling pandang.


"CCTV..!" ucap Pak Nyu dan Pak Suryo secara bersamaan.


Tanpa banyak pikir lagi Pak Suryo dan Pak Nyu bergegas lari dari sana menuju ruang kendali yang ada di lantai tiga.


°°O°°


Terlihat seorang laki-laki sedang bersantai-santai di roof top gedung, di sana laki-laki itu rebahan di kursi panjang seperti kursi berjemur di pantai, pandangan laki-laki itu terus menatap bulan yang sendirian di atas sana.


"Apa kamu kesepian?" ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya ke atas.


Laki-laki itu ternyata Candra yang sedang mencoba untuk berkomunikasi dengan bulan. Dari arah belakang terdengar suara sepatu yang berjalan mendekat ke arah Candra. Namun, Candra tidak begitu tertarik dengan siapa orang yang berjalan mendekatinya, dia lebih tertarik dengan bulan yang sendirian dan kadang hilang tertutup awan gelap.


"Hai, Brother! Sedang apa kau di sini?" tanya seorang laki-laki yang kini sudah berdiri di samping Candra sambil memegang rokok.


"Ternyata, itu, kau ... Dava," ucap Candra sembari menurunkan tangannya.


"Ya, memang aku mengharapkan orang lain yang datang ke sini," jawab Candra sambil memikirkan tiga orang tercintanya, "Tapi, jika kau yang datang juga tidak buruk," lanjutnya sambil tersenyum ke Dava.


"Siapa yang kau harapkan? Apa mereka penting bagimu?" tanya Dava sambil menghisap rokoknya.


"Ya, mereka penting ... saangat penting, bahkan lebih penting dari pencapaianku sekarang," ucap Candra sembari bangkit dari tidurnya lalu berjalan ke tepi gedung.


Candra memandang mobil yang lalu lalang di bawah gedungnya, cahaya-cahaya di bawah terpantul ke mata Candra. Candra menopangkan dagunya ke tembok pembatas atap gedung, entah kenapa dia selalu risau dan sedih di setiap keheningan dalam hidupnya.


"Apa mereka keluarga kecilmu, itu?" tanya Dava yang menyusul Candra ke tepi atap gedung.


"Ya, istri, dan kedua jagoan kecilku," jawab Candra, "Mungkin akan tambah lagi," ucap Candra sambil tertawa kecil.


"Kalau kau kehilangan semua hartamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dava.


Candra menoleh menatap Dava dengan tatapan yang kurang suka dengan ucapan Dava.


"Kita tidak tau masa depan apa yang akan kita lalui nanti, semua yang berada di dunia, ini, pasti akan hilang pada waktunya," ucap Dava, "Seperti harta berhargaku yang telah hilang dua tahun lalu," lanjutnya sambil melihat ke bawah.


"Maaf," ucap Candra yang terdengar sendu.


"Tak apa, aku masih ada pacarku yang memberiku cinta, dan kasih sayang," ucap Dava.


"Cinta ... kasih sayang ... jadi begitu, ya," gumam Candra.


"Jika aku kehilangan semua hartaku, sepertinya tidak buruk juga, karena aku masih memiliki keluarga yang ku cintai," ucap Candra, "Tapi, hidup tanpa banyak uang juga merepotkan," lanjut Candra sambil tertawa.


"Begitu, ya," ucap Dava sambil membuang puntung rokoknya ke bawah.


Craakk! Aaarrggghhhh!


Candra menjerit sekencang-kencangnya, dia melihat tangannya yang sudah tertancap oleh pisau.


"Dava! Apa kau gila? Kenapa kau menusuk tanganku menggunakan pisau?" tanya Candra dengan nada tinggi.


Craakk! Aaarrggghhhh!


Tangan Candra yang satunya juga ikut ditusuk lagi ketika ingin mencabut pisau yang tadi menancap di tangannya.


"Dava! Kau benar-benar sudah keterlaluan!" ucap Candra yang sudah emosi dan dicampur rasa sakit di kedua tangannya.


Candra memisahkan tangannya yang tertumpuk karena tertusuk pisau, darah merah segar terus-terusan mengucur keluar karena dua pisau berhasil membuat kedua tangannya bolong. Setelah tangannya terpisah dan dia berhasil mencabut kedua pisau tadi, dia segera membungkusnya menggunakan jas dan saputangannya.


Ketika Candra sudah selesai membungkus kedua tangannya, Candra kembali melihat Dava yang ternyata sudah berdiri di depannya sambil tersenyum menyeringai.


"Oh, shit!" ucap Candra ketika melihat di kedua tangan Dava sudah ada dua pisau lagi.


Ayo like, komen, dan kasih tip ya wkwkwk. Tapi terserahlah, author cuma membutuhkan like kalian doang hehe. Terima kasih