
Sekedar mengingatkan, sebelum asik membaca, tekan like dulu oke🙏
Kesunyian malam menambah keheningan di antara dua insan yang saling gengsi untuk memulai sebuah obrolan. Desiran ombak bersuara menemani keheningan yang tak diinginkan, angin malam menari dan meniup dingin.
"Kenapa jantungku nggak bisa selow, sih, berdetak nya," gumam Eldar dalam hati sambil memegang dadanya.
"Kenapa jadi canggung banget buat ngomong, padahal nggak ada apa-apa, tapi kenapa rasanya nervous banget, ya," batin Naza sambil memainkan kuku jempolnya yang sedikit panjang.
Naza mengambil botol wine dan memutar-mutarnya, "Jangan jadi penakut, jangan kayak anak kecil yang lagi jatuh cinta, dia nggak suka kamu, dan kamu nggak suka dia. Jadi, biasa aja," ucap Naza dalam hati.
"Mau minum lagi?" tawar Naza yang lumayan menahan gengsinya.
Eldar menoleh dan bingung mau menjawab apa, akhirnya dia hanya mengangguk karena sebotol wine akan sayang jika tidak diteguk secepatnya. Naza tersenyum dan menuangkan wine ke gelas lalu diberikannya ke Eldar.
Gelas demi gelas wine telah mengalir melewati tenggorokan dan menghangatkan tubuh mereka dari tiupan angin malam yang dingin. Naza dan Eldar saling pandang setelah satu botol wine habis diteguk bersama.
"Kamu kuat juga," puji Naza karena Eldar tidak terpengaruh dengan alkohol wine.
"Terlalu sedikit untuk wanita nakal seperti ku," balas Eldar sambil tersenyum sombong.
"Kamu benar-benar sombong, Nona," ucap Naza sambil tertawa.
"Sekali-kali menyombongkan diri tidak masalah juga, kan? Toh, hidup cuma sekali saja, dan sangat sebentar," jawab Eldar yang juga ikut tertawa.
"Aku suka dengan pemikiranmu, Nona," balas Naza.
"Kamu orang kesekian kalinya yang memuji pemikiranku, Tuan," ucap Eldar.
"Apa kamu tidak ingin kembali ke kamarmu?" tanya Naza. Eldar menggeleng.
"Aku masih ingin menikmati pantai di bawah sinar rembulan," jawab Eldar sambil memandang ke laut.
"Mau jalan-jalan?" tawar Naza. Eldar menoleh menatap Naza.
"Ide yang bagus," jawab Eldar dengan menyunggingkan senyum manisnya.
Naza dan Eldar berjalan di bibir pantai ditemani sinar rembulan yang memantul dari air laut, ombak-ombak kecil menerpa kaki mereka yang berjalan tanpa alas. Keheningan kembali tercipta di antara mereka, Naza tiba-tiba menjadi gugup saat berjalan berdampingan dengan Eldar, sedangkan Eldar hanya sedikit canggung dan memilih menikmati ombak-ombak laut di kejauhan.
Mereka berdua sudah terlalu jauh berjalan hingga tempat asal mereka tadi tidak kelihatan dan sekarang mereka sampai di pantai yang memiliki banyak batu-batu besar.
"Sepertinya kita terlalu jauh," ucap Eldar yang berbalik melihat belakang.
"Mungkin kita memang terlalu jauh," balas Naza, "Apa mau kembali sekarang?" tanya Naza.
Eldar mengangguk dan mereka kembali berjalan menuju hotel. Naza sesekali melirik Eldar yang terus menggosok tangannya, tanpa berpikir dia melepaskan sweater nya dan memberikannya ke Eldar yang hanya memakai dress yang cuma menutupi bagian dada sampai lima sentimeter di atas lutut
"Nih pakai," ucap Naza sambil menyodorkan sweater nya.
"Lalu? Kamu cuma pakai kaos oblong, itu, aja?" tanya Eldar.
"Tidak apa-apa, aku tahan udara dingin," jawab Naza. Eldar pun menerima sweater dari Naza dan memakainya.
"Terima kasih," ucap Eldar. Naza hanya tersenyum dan mengangguk.
Naza melihat jam di pergelangan tangannya, samar-samar dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih beberapa menit yang berarti mereka sudah berjalan lebih dari dua jam.
"Apa kamu capek?" tanya Naza.
"Yah, sedikit," jawab Eldar.
"Ahhkkhhh!" teriak Eldar karena tiba-tiba Naza mengangkat tubuhnya, "Kamu mau ngapain?" tanya Eldar sambil memukul pundak Naza.
Eldar menurut dan menjadi diam tak bisa berkata lagi, memang sih dia sedikit capek dan lumayan syok juga karena Naza tiba-tiba menggendongnya. Pipi Eldar pun bersemu merah, tetapi itu tidak kelihatan karena gelap malam.
"Apa kamu akan terus menggendong ku?" tanya Eldar.
"Jika kamu mau," jawab Naza.
"Kita istirahat dulu di gubuk sana, kasihan kamu pasti capek menggendongku," ucap Eldar sambil menunjuk gubuk pantai tempat orang berjualan saat siang.
"Kamu pengertian juga," ucap Naza.
"Jangan kepedean, aku cuma kasihan," ucap Eldar.
"Oohh, begitu," ucap Naza. Eldar sudah tidak membalas ucapan Naza lagi.
Mereka telah sampai di gubuk, tetapi Naza tidak berhenti dan terus berjalan, "Kenapa nggak berhenti?" tanya Eldar sambil menatap wajah tampan Naza.
"Aku tidak ingin dikasihani, apa aku terlihat begitu lemah?" jawab Naza tanpa menatap Eldar.
"Tidak, bukan begitu maksud ku, tap-"
"Diam, dan menurut saja, jangan banyak bicara atau aku akan melempar mu ke laut," potong Naza dengan nada dinginnya.
Eldar menjadi diam dan tidak berani membantah lagi. Eldar mulai merasakan mengantuk karena dia hanya diam dalam gendongan Naza, tanpa sadar dia menguap dan matanya mulai menyipit. Namun, dia mencoba terus terjaga agar tidak ketiduran.
"Tidurlah jika kamu mengantuk, nanti akan aku bangunkan jika kita sudah sampai di hotel," ucap Naza.
"Aku benar-benar sudah seperti pacarmu yang kamu manjakan," ucap Eldar.
Jantung Naza tiba-tiba berpacu dengan cepat, padahal dia sadar jika Eldar hanya bercanda. Namun, hatinya tidak bisa berbohong jika dia jadi berharap.
"Kalau kamu mau juga boleh," ucap lirih Naza.
"Ha? Kamu bicara apa tadi?" tanya Eldar karena dia tidak mendengar ucapan Naza dengan jelas.
"Tidak, aku tidak berkata apa-apa, sepertinya kamu berhalusinasi karena mengantuk," kilah Naza.
"Sepertinya," balas Eldar.
"Tidurlah," ucap Naza. Eldar mengangguk.
"Em ... apa aku boleh memelukmu?" ucap Eldar yang begitu ragu.
"Em, em, bo-boleh," jawab Naza yang menjadi gugup dan jantungnya berdetak lebih kencang, mungkin suara detakannya bisa di dengar oleh Eldar.
Eldar mulai memeluk dada Naza dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Naza.
"Jadi, dia juga sama-sama gugup, ya," ucap Eldar dalam hati karena dia bisa merasakan dan mendengar detak jantung Naza yang begitu cepat.
Eldar melepas pelukannya dan tangannya memegang dada kanan Naza, kepalanya tetap dia sandarkan di dada kiri Naza. Tangan Eldar mulai mengusap-usap dada bidang Naza yang hanya terbalut kaos oblong yang tipis, dengan jelas dia bisa merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Eldar semakin larut dalam kantuknya sampai tidak sadar apa yang sudah dilakukan tangannya.
Naza tidak tahu apa yang sedang terjadi, tubuhnya terasa geli dan ingin bergetar saat tangan Eldar terus meraba dadanya dan memainkan putingnya, dia menatap wajah Eldar yang sudah terpejam di dadanya.
"Kenapa kamu menjadi nakal saat sedang tidur," gumam Naza, "Kamu wanita pertama yang membuatku salah tingkah, dan satu-satunya yang bisa membuat pikiranku kacau hingga tak bisa mengontrol detak jantungku sendiri," lanjutnya.
Darah Naza terasa mendidih dan mendesir karena ulah tangan nakal Eldar, dia tidak tahan dengan kelakuan nakal tangan Eldar, dia paling sensitif saat dadanya dielus dan dipermainkan seperti saat ini karena itu membuatnya menjadi terangsang.
"Tangan nggak ada akhlak, tuanmu sudah tidur pulas kenapa kau terus bergerak di situ," geram Naza.
Ku ingatkan lagi, jangan lupa tekan like ya. Jangan pelit-pelit buat kasih like.