
"Kita ke mana, tuan?" tanya pak supir yang sedang mengemudi.
"Jalan saja," jawab Naza ketus sambil menyilangkan kedua tangannya.
Pak supir mengangguk menuruti perintah majikannya ini. Pak supir membawa mobil Naza untuk keliling-keliling mencari di mana warung soto yang ditunjukkan oleh istrinya, lagipula Naza menyuruh jalan saja alias ke manapun terserah pak supir. Maka dari itu dia berpikir sekalian saja membeli soto pesanan istrinya.
Setelah hampir setengah jam mereka berkeliling akhirnya pak supir berhenti di depan warung soto. Naza sedikit bingung kenapa pak supir berhenti di sana, Naza pikir mobilnya kehabisan bensin atau mogok di tengah jalan.
"Ada apa, pak? Kenapa berhenti?" tanya Naza.
"Ma-maaf, tuan. Sa-saya mau beli soto titipan istri saya dulu," jawab pak supir, "Ma-maaf karena saya sudah sangat lancang, tuan," lanjut pak supir.
"Hm, cepatlah," balas Naza.
"Baik, tuan," balas pak supir senang, "Apa tuan juga mau soto? Biar sekalian saya belikan," ucap pak supir menawari.
"Tidak," jawab Naza dengan suara cuek.
"Baik, tuan," balas pak supir sembari segera turun untuk membeli soto.
Naza mengambil ponselnya sembari menunggu pak supir membeli soto. Rencananya dia mencari penjual bakso, dia sangat tidak nyaman jika harus bertengkar dengan Eldar, apalagi sampai saling diam dan saling acuh seperti tadi.
"Beli bakso di mana, ya, aku juga nggak tau tempat orang yang jual begituan," gumam Naza sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.
Tak berapa lama kemudian pak supir kembali dengan membawa dua bungkus soto. Pak supir duduk di kursi kemudi lalu menaruh sotonya.
"Kita ke mana, tuan? Apa masih belum menemukan tempat tujuan?" tanya pak supir.
"Bapak, tau tempat jual bakso yang enak?" tanya Naza.
"Ooh, dari tadi tuan cari tukang bakso toh, kenapa tidak bilang dari tadi," jawab pak supir.
"Tau enggak?" balas ketus Naza.
"Ya, taulah, tuan. Kalau soal tempat makanan, saya jagoannya he he," balas pak supir sambil menyombongkan dirinya.
"Kalau begitu cepat antar saya ke sana!" ucap Naza.
"Siap, tuan," balas pak supir.
Setelah mendapatkan perintah dari majikannya, pak supir langsung memacu mobilnya membelah jalanan beraspal di sore yang semakin redup dan sejuk.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di dekat gerobak penjual bakso. Semua mata para pengunjung yang sedang makan bakso tertuju pada mobil mewah yang baru berhenti di dekat mereka.
"Tuan mau turun beli sendiri atau saya yang turun untuk membeli?" tanya pak supir.
"Ya, bapak dong, kan tangan saya masih sakit," jawab Naza, "Gimana sih," lanjutnya menggerutu.
"Ya, siapa tau tuan mau turun sendiri demi non Eldar," balas pak supir sambil melepas sabuk pengamannya.
Naza sedikit tertegun mendengar ucapan pak supir barusan. Setelah Naza pikir-pikir, ucapan pak supir ada benarnya juga. Eldar kan pacarnya sendiri, bukan pacarnya pak supir.
Tanpa banyak berpikir lagi Naza mengambil dua lembar uang Rp 100.000 lalu turun dari mobil. Pak supir yang sudah membuka pintu dan hendak turun jadi heran dan mengurungkan niatnya untuk turun.
"Mau ke mana, tuan?" tanya pak supir.
Naza yang pas sekali sudah berada di samping pak supir langsung menoleh menatap supir pribadinya itu, "Beli bakso!" jawab ketus Naza.
"Loh, tadi tuan, kan, nyuruh saya yang beli," ucap heran pak supir.
"Enggak jadi, situ lemot!" balas ketus Naza sembari meneruskan niatnya untuk membeli bakso.
Sementara itu Naza dengan santainya memesan bakso, "Pak, baksonya satu," ucap Naza memesan bakso.
"Makan di sini atau dibungkus, Mas?" tanya penjual bakso.
"Dibungkus aja," jawab Naza.
"Oke, tunggu sebentar, ya, Mas," balas penjual bakso.
"Hm," balas Naza.
"Ini, Mas. Duduk dulu," ucap istri penjual bakso sembari memberikan kursi plastik.
"Iya, terima kasih, Buk," ucap Naza sembari duduk.
"Tangannya kenapa, Mas?" tanya penjual bakso. Ya, basa-basi lah untuk membuat konsumen tidak bosan saat menunggu.
"Tulangnya retak, Pak," jawab Naza.
"Habis kecelakaan?" tanya penjual bakso.
"Iya, Pak. Udah sebulan yang lalu," jawab Naza.
Menurut Naza penjual baksonya memang ramah dan enak diajak bicara, tapi para pembeli baksonya yang membuat Naza ingin cepat-cepat pergi dari sana. Bagaimana tidak ingin cepat-cepat pergi, sejak turun dari mobil sampai sekarang dia selalu dilirik dan ditatap oleh semua mata pembeli lain.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau kedatangan Naza akan menyita banyak perhatian. Seorang laki-laki muda berwajah tampan dengan mobil mewah dan pakaian yang serba branded pasti mengundang banyak mata untuk memandang.
"Ini, Mas, baksonya," ucap penjual bakso sambil mengulurkan sebungkus bakso.
"Ini, Pak. Terima kasih," ucap Naza sambil mengambil baksonya dan memberikan dua lembar uang seratus ribuan tadi lalu pergi.
"Eh, mas-mas, uangnya lebih banyak!" teriak penjual bakso sambil mengejar Naza.
Naza berhenti di depan mobilnya karena penjual bakso tadi menghadangnya, "Ada apa, Pak? Saya sudah bayar baksonya," tanya Naza.
"Iya, masnya sudah bayar, tapi uangnya kebanyakan," jawab penjual bakso, "Baksonya cuma 10 ribu aja, Mas," lanjutnya.
"Oh, kalau begitu buatkan anak-anak, itu, bakso sampai mereka kenyang, nanti kalau uangnya masih lebih, ambil Bapak aja," ucap Naza, "Ya sudah, Pak. Saya pergi dulu, lagi buru-buru," lanjut Naza sembari meninggalkan penjual bakso.
"Terima kasih, Mas!" teriak penjual bakso, lalu Naza membalas dengan mengacungkan jempolnya.
Pak supir membukakan pintu mobil lalu Naza masuk ke dalam. Sebenarnya dia kembali ke mobil karena mau mengambil uang untuk membelikan tiga anak kecil yang berada tidak jauh dari penjual bakso.
Naza merasa kasihan melihat tiga anak itu menghitung uang receh yang bisa Naza pastikan kalau jumlahnya tidak sampai 20 ribu. Kebetulan sekali harga baksonya sangat murah dan uangnya tadi masih lebih banyak, jadi dia tidak perlu balik lagi ke tempat banyak mata yang melihatnya.
"Jalan, Pak!" perintah Naza.
"Langsung pulang atau menyusul nona Eldar ke rumah tuan Candra, tuan?" tanya pak supir.
"Pastinya menyusul Eldar lah, Pak!" jawab Naza yang jadi geram terhadap pak supir.
"Siap laksanakan, tuan," balas pak supir.
"Supir banyak tanya!" gerutu Naza.
Jangan lupa like ...!!!
Hola-hola, aku ada sedikit pengumuman buat kalian. Kalian bisa lihat episode bab 73, di sana author memperbarui beberapa visual cast novel My Enemy is My Soulmate.