My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Menjadikanmu istriku



Hari sudah mulai siang, matahari sudah mulai memanas membakar kulit dengan teriknya, hingar bingar keramaian pasar semakin nampak, kerumunan orang yang berlalu lalang menyesakkan jalan kecil dengan lebar hanya tiga meter. Terlihat seorang anak muda dengan timbangan dan box sterofom di sampingnya, dan tidak lupa sepeda ontel yang terparkir di belakangnya. Ya, dia adalah Kevin Lewis.


"Ikan gurame, ikan gurame. Ikannya, Buk. Ikannya, Mbak," teriak Kevin dengan kerasnya.


Sudah hampir satu jam Kevin berjualan ikan di pasar, namun dia baru mendapatkan satu pelanggan sejak buka tadi, "Susah banget sih, sudah berjam-jam aku jualan, tapi baru satu orang saja yang membeli," gerutu Kevin sambil melihat dagangannya.


Kevin duduk berjongkok dan menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, "Gimana caranya biar laris, ya?" tanya Kevin dalam lamunannya, "Berpikir Kevin, berpikir. Gunakan otakmu yang seperti pajangan, ini," ucap Kevin sambil menepuk-nepuk dahinya.


Seketika kepala Kevin terangkat dengan mata yang mengisyaratkan harapan dan kebahagiaan, "Ahh, yah, promosi di sosial media, kenapa aku baru kepikiran, ya? Pantas saja banyak teman-temanku yang bilang aku telat mikir," gumam Kevin dengan senyum dari bibirnya.


Kevin merogoh ponselnya dari saku kolor, lalu membuka kunci ponselnya dengan face lock, dia mulai membuka instagramnya yang memiliki tiga belas juta follower, "Hello, gaes. Sekarang, aku lagi jualan ikan di pasar X, ikannya segar-segar, besar-besar, dan masih bagus-bagus semua, jika kalian penyuka ikan atau lagi pengen makan ikan, ayo segera datang ke sini sebelum kehabisan," ucap Kevin di dalam video yang dia kirim ke story instagramnya, "Huh, beres, tinggal menunggu hasilnya saja, semoga follower ku pada menyerbu habis dagangan ku," ucap lega Kevin.


Ibu penjual daging ayam terheran melihat apa yang Kevin lakukan, "Dasar, anak jaman sekarang. Kerjaannya main ponsel, terus. Dulu, jaman aku masih muda, tidak ada, itu, yang namanya main ponsel, setiap hari kerja, terus," gumam ibu penjual daging ayam.


≈≈≈


Terlihat sepasang manusia sedang berjemur di tepi kolam renang, di bawah sinar matahari yang belum terlalu panas, mereka berdua berbaring berdampingan dengan kain tipis yang menjadi alas mereka. Ya, mereka adalah Candra dan Azila yang sedang menikmati hari libur setelah salah paham beberapa hari terakhir.


Azila memakai bikini dengan model minim dan hanya menutupi dada montoknya dan pantat seksinya, sedangkan Candra hanya memakai celana pendek di atas lutut dan bertelanjang dada.


"Sayang, apa bunda tidak menyuruh kita pulang?" tanya Azila yang telentang dengan memakai kaca mata hitam.


Candra yang berbaring tengkurap menoleh menghadap Azila, "Bunda sudah meminta kita untuk kembali. Tetapi, jika kamu masih mau di sini dulu, ya, tidak masalah. Bunda tidak memaksa ataupun melarang," jawab Candra sambil tersenyum.


Azila bangun dan duduk menghadap Candra yang masih berbaring tengkurap, "Bagaimana, kalau nanti malam, kita ajak Bunda, Ayah, Dara, sama Eldar untuk makan malam di sini? Aku juga mau minta maaf sama Eldar," ucap Azila sambil memegang tangan Candra.


Mendengar ucapan Azila, Candra bangun dan ikut duduk menghadap Azila, "Baiklah, nanti aku akan meminta mereka datang. Kamu juga harus beritahu Papah sama Mamah dulu," jawab Candra sambil meletakkan kedua tangannya ke pipi Azila.


"Siap, Bos. Laksanakan," balas Azila sambil tersenyum dan memaparkan wajah imutnya, hingga Candra tidak tahan akan godaan di depannya sekarang.


Cupp.


Kecupan manis mendarat di bibir merah muda Azila, "Kenapa Kamu sangat sempurna, Sayang. Aku sampai tidak bisa menahan diriku saat dekat denganmu," ucap Candra sambil memainkan pipi Azila.


"Ish, apaan sih, Yang. Aku bukan wanita penggoda, tapi kamunya aja yang selalu mesum," balas Azila sambil menjauhkan tangan Candra dari pipinya.


Azila berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Candra yang masih terduduk di pinggir kolam, "Mau kemana?" tanya Candra.


Azila membalikkan badannya sambil berjalan mundur, "Mau ngasih tahu Mamah, kamu juga cepat kasih tahu mereka," jawab Azila lalu berbalik lagi dan berjalan normal. Candra lalu ikut berdiri dan masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamarnya untuk memberitahu Bunda Putri dan Ayah Yoga.


≈≈≈


Sudah lima belas menit berlalu, lapak Kevin masih juga sepi dan belum ada lagi yang membeli dagangannya, "Nak, yang sabar. Orang sabar disayang Tuhan," ucap ibu penjual daging ayam.


Kevin menoleh menghadap si ibu penjual daging ayam, "Iya, Buk. Do'akan laris, ya, Buk," balas Kevin sambil memberi senyum.


"Amin," sahut ibu penjual daging ayam.


Tidak berselang lama, ada sekumpulan wanita cantik yang terlihat bingung mencari-cari sesuatu, "Eh, sini-sini." Wanita berhijab merah memanggil teman-temannya sambil menunjuk ke satu arah.


"Iya, bener, bajunya sama," sahut wanita berambut ash blue.


"Ayo, cepat ke sana, sebelum kehabisan," ajak wanita berhijab merah muda.


"Ayo," jawab yang lain secara bersamaan.


Para wanita tadi bergegas menghampiri orang yang mereka cari sejak tadi, sesampainya di sana, para wanita itu langsung tersenyum bahagia karena bisa melihat idola mereka secara langsung.


"Kak Kevin," teriak gemes wanita berhijab hitam.


Kevin langsung berdiri dari duduknya, "Kalian kenal aku?" tanya Kevin.


"Jelas kenal, dong, Kak. Kita, kan, penggemar Kak Kevin dari dulu," jawab wanita berhijab hitam.


Kevin tersenyum mendengar jawaban wanita berhijab hitam, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin kebetulan ini, Kevin langsung memasang wajah gantengnya dan menawarkan dagangannya dengan senyum yang memabukkan para wanita tadi.


"Kak, aku mau satu kilogram," ucap wanita berhijab hitam yang sudah terpesona dengan ketampanan Kevin.


"Aku juga," sahut wanita berambut ash blue.


"Aku juga mau satu kilogram, Kak," sahut wanita berhijab merah muda.


"Aku juga, Kak," sahut wanita berhijab merah.


"Baiklah, satu kilogram semua, ya," ucap Kevin sambil menimbang ikan dan di masukkan kantong kresek. Setelah membungkus pesanan para wanita cantik, Kevin menyerahkannya ke masing-masing wanita cantik itu, "Ini."


"Berapa, Kak?" tanya wanita berambut ash blue sambil merogoh dompet di tasnya.


"Satu kilogramnya seratus ribu Rupiah," jawab Kevin, lalu para wanita cantik itu memberikan uang ke Kevin, "Boleh minta foto nggak, Kak?" tanya wanita berambut ash blue.


"Boleh dong," jawab Kevin yang disambut senyum bahagia para wanita cantik.


Mereka bergantian berfoto dengan Kevin, sampai Kevin lelah untuk berpose dan senyum. Setelah para wanita cantik itu pergi semua, dagangan Kevin dikerumuni banyak pembeli hingga dia kuwalahan untuk melayani para pembeli, belum lagi jika ada yang meminta foto dengannya.


Sejak Kevin membuat story di instagramnya empat puluh menit yang lalu, dagangan Kevin sudah ludes dan hanya tersisa box sterofom dan es yang sudah mulai mencair. Ibu penjual daging ayam sampai terkejut melihat pembeli yang berkerumun di lapak Kevin, dia merasa kalau do'anya tadi sangat manjur.


Kevin mulai mengemasi barang-barangnya dan menaruhnya ke sepeda ontel yang dia bawa, dan tidak lupa dia mengembalikan alat timbang milik si ibu penjual daging ayam, dia juga memberi ibu penjual daging ayam tadi sedikit uang karena telah membantu dan meminjaminya alat timbang.


"Akhirnya, aku menyelesaikan tugas dari Om Hendri. Bahkan sekarang masih jam sebelas siang, sebaiknya aku cepat kembali dan menemui Om Hendri, supaya aku lebih cepat dapat restunya, he he he," gumam Kevin saat menuntun sepeda ontelnya keluar dari pasar.


"Tunggu aku Nabila, aku akan segera menjadikanmu istriku di dunia dan akhirat."


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙