
Candra dan Azila kini sudah sampai di depan rumah sakit besar, dan di sana juga tempat pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu. Candra dan Azila sudah membuat janji dengan Dokter Rizka, mereka berdua berjalan menuju ruangan Dokter Rizka, setelah sampai di depan pintu ruangan Dokter Rizka, Candra mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
Kleek.
Pintu telah dibuka dari dalam oleh seorang suster yang memakai penutup mulut, "Mari, Tuan, Nona," ucap suter sambil memberi jalan untuk Candra dan Azila agar bisa masuk.
Candra dan Azila berjalan masuk dengan bergandengan tangan, "Terima kasih, Sus," ucap Azila saat melewati suster yang membukakannya pintu.
"Sama-sama, Nona," jawab suster dengan senyum yang tertutupi masker di mulutnya.
Candra dan Azila sudah berada di depan meja kerja Dokter Rizka, mereka berdua langsung duduk di kursi yang ada di depannya sambil menunggu Dokter Rizka datang.
"Maaf, Tuan, Nona. Sudah lama menunggu?" ucap Dokter Rizka yang baru keluar dari kamar mandi.
"Baru aja sampai, Dok. Belum ada dua menit kita duduk," jawab Candra dengan tangan yang masih berpegangan dengan Azila, dan terkadang mereka berdua saling bertatap dan tersenyum.
Dokter Rizka yang melihat kelakuan dua orang di depannya merasa miris, bukan miris ke Candra atau Azila, tapi dia miris karena sampai sekarang belum ada yang melamarnya atau mengajaknya berpacaran. Untuk seorang dokter yang masih berusia 23 tahun, mendapatkan pasangan bukanlah sesuatu yang sulit, tapi menemukan yang tulus itulah yang sulit.
"Bisa kita langsung mulai konsultasinya?" tanya Dokter Rizka yang mulai gerah dengan suasana ruangan yang dingin namun ada pemandangan yang bikin iri di depannya.
Candra dan Azila kembali menghadap ke Dokter Azila dan melepaskan pegangan mereka, "Ah, iya, Dok. Saya sama istri ingin menanyakan tentang berhubungan intim disaat hamil, apakah itu aman atau tidak, Dok?" tanya Candra yang mulai memasang wajah serius dan membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar penjelasan Dokter Rizka.
Dokter Rizka memahami pertanyaan Candra itu menjurus ke arah mana, lalu dia menjelaskan ke Candra dan Azila, "Begini, Tuan, Nona. Berhubungan intim disaat istri hamil itu tidak apa-apa, namun jangan terlalu sering. Untuk sekarang, lebih baik Tuan Candra dan Nona Azila jangan berhubungan intim terlebih dahulu, mengingat kandungan Nona Azila masih lebih dan ini masih di trimester pertama," jelas Dokter Rizka yang ikuti anggukan oleh Candra dan Azila.
Candra yang masih kurang ouas dengan penjelasan Dokter Rizka, dia kembali bertanya, "Apakah benar-benar tidak boleh, Dok? Apa kita berdua harus menunggu selama 9 bulan lebih untuk bisa berhubungan intim?" tanya Candra yang begitu polos hingga membuat suster di belakang mereka menahan tawa.
Azila mencubit perut bagian samping milik Candra, dia merasa sangat malu karena pertanyaan suaminya barusan, "Auuh," ucap Candra yang merasa sakit, "Sakit, Sayang," lanjutnya lagi.
Azila menoleh ke Candra dan menatap mata Candra, "Kalau bertanya yang bener," ucap Azila dengan gigi merapat tanpa terbuka sedikitpun, "Lanjut lagi, Dok," ucap Azila ke Dokter Rizka dengan senyum manis di bibirnya.
Melihat tingkah pasangan yang ada di depannya, Dokter Rizka tersenyum sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya, "Di trimester pertama bukannya tidak boleh, tapi, takutnya kondisi ibu hamil yang gampang lelah, suka mual, muntah, itu mempengaruhi berlangsungnya hubungan intim kalian, kami sarankan jika ingin berhubungan intim lebih baik di trimester kedua, dimana rasa mual atau muntah sudah berkurang, dan di trimester kedua juga bisa di sebut olahraga untuk ibu hamil saat berhubungan intim," jelas Dokter Rizka yang panjang lebar.
"Berarti kita tidak boleh berhubungan intim dahulu, Dok?" tanya Candra lagi.
"Bukan tidak boleh, tapi diusahakan ditahan dulu sampai trimester kedua," jawab Dokter Rizka.
Candra sudah mulai mengerti dengan penjelasan Dokter Rizka, begitupun dengan Azila. Setelah itu, Candra dan Azila menyudahi konsultasi mereka dan langsung kembali pulang ke rumah Mamah Mitha, sebenarnya Candra ingin mengajak Azila untuk bertemu dengan Eldar dulu, namun Azila sudah merasa kelelahan dan ingin segera istirahat di rumah mamahnya dulu.
≈≈≈
Azila memanyunkan bibirnya dan memasang wajah cemberut, "Jangan pergi, aku tidak bisa tidur sekarang, temani aku, ya," ujar Azila dengan mata yang menatap lekat mata Candra, "Kamu suruh Pak Suryo atau Pak Nyu saja untuk mengambil berkas mu dan mengantarkannya ke sini," pinta Azila dengan wajah memelas.
Senyum Candra nampak melengkung ke atas, wajahnya memancarkan kebahagiaan, "Baiklah istriku sayang, aku akan menemanimu tidur siang," jawab Candra, "Aku ganti baju dulu, ya, Sayang," lanjut Candra dan dijawab anggukan oleh Azila.
Candra berdiri dari duduknya dan mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, dia menelepon Pak Suryo untuk mengantarkan beberapa berkas ke rumah keluarga Yudistira. Setelah selesai menelpon, Candra menuju lemari dan mencari baju untuk dipakai tidur.
Dengan celana pendek yang ketat dan bergambar Hello Kitty, Candra berjalan mendekat ke ranjang dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Azila.
Azila langsung menghadapkan tubuhnya ke Candra lalu memeluk suaminya, "Kenapa kamu pakai celana pendek ini lagi?" tanya Azila dengan bibir yang menahan tawa namun masih nampak lengkungan bibirnya.
"Ini akan menjadi celana favorit ku saat tidur di sini, Sayang," jawab Candra yang menatap lekat mata Azila.
"Maaf jika kita belum bisa melakukan, itu," ucap Azila sembari merapatkan jarak mereka, kini Azila memakai lengan Candra sebagai bantal dan membenamkan wajahnya di dada Candra.
Tangan kekar Candra melingkar di punggung Azila, "Aku memakluminya, Sayang. Aku akan berusaha menahannya," balas Candra sambil mengusap-usap rambut halus Azila. Tidak terasa, mereka berdua telah terhanyut dalam kenyamanan dan tertidur dalam kehangatan pelukan.
≈≈≈
Semua anggota keluarga Yudistira telah berkumpul di meja makan, mereka semua menikmati makanan yang tersaji di piring mereka masing-masing, makan malam itu terasa hening karena Papah Hendri yang memasang wajah dinginnya membuat semua orang jadi takut untuk berbicara, makan malam itu berjalan singkat dan hening tanpa ada canda gurau seperti biasanya.
≈≈≈
Minggu, 05:50 WIB
Papah Hendri telah berdiri di depan teras rumahnya, dengan tangan yang ia lipat ke belakang di atas pantatnya, dia sedang menunggu orang yang akan berjuang untuk putri angkatnya.
05:57 WIB
Mobil sport berwarna merah telah berhenti tepat di depan teras rumah keluarga Yudistira, dari dalam mobil itu keluarlah Kevin dengan celana Chino berwarna olive green berikat pinggang coklat, dengan kemeja putih yang lengannya digulung sebatas sikut dan beberapa kancing atas yang teebuka, dan tidak lupa jam tangan hitam dan sepatu model Oxford yang senada dengan ikat pinggangnya.
"Kevin, semangat, kamu harus berjuang untuk mencari restu," ucap Kevin dalam hatinya untuk menyemangati dirinya sendiri.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙