
Siang yang penuh kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran, kini telah berakhir dengan kebahagiaan abadi dan senyum yang terus terpatri. Gelap malam telah datang menggantikan jingga senja, hiruk pikuk dan tawa terdengar dari meja makan. Sekitar sebelas orang sudah duduk di kursi kayu dan dihadapkan dengan makanan yang sudah tersaji di depan mereka.
Dua pasang mata saling menatap, sorot mata mereka mengisyaratkan jika ingin duduk berdampingan sambil berpegangan tangan, namun status dan meja penuh makanan menjadi penghalang mereka saat ini.
Tentang hubungan Kevin dan Nabila, mereka telah mendapatkan restu dari Papah Hendri. Ayah Yoga dan Bunda Putri yang baru mengetahui tentang hubungan Kevin dan Nabila, mereka berdua terkejut akan hal itu.
Walaupun tidak ada hubungan darah antara Kevin dengan keluarga Wibawa, tapi Kevin telah menjadi bagian dari keluarga Wibawa, "Apa kita akan menjadi besan lagi, Hen?" celetuk Ayah Yoga.
"Mungkin, takdir ingin keluarga kita bersatu," balas Papah Hendri sambil tertawa, dan diikuti semua orang yang juga ikut tertawa.
Papah Hendri berhenti tertawa dan mengajak semua orang yang hadir untuk segera menikmati makanan di meja, "Ayo, kita mulai makan malam yang penuh dengan kebahagiaan, ini."
"Tu-tunggu!" seru Kevin sambil berdiri dan memajukan tangannya agar semua orang berhenti dengan aktivitas mereka.
Seketika itu juga, mata semua orang menatap heran Kevin yang berdiri, tidak terkecuali Nabila dengan banyak tanda tanya di otaknya. Bunda Putri bertanya pada Kevin yang masih berdiri di samping Eldar, "Ada apa, Kevin? Apa ada yang salah?"
Kevin sekilas menoleh menatap Bunda Putri dan beralih menatap Papah Hendri, "Sebelumnya, saya mau meminta maaf ke, Om Hendri, Tante Mitha, dan semua orang yang hadir, di sini. Karena, kelancangan saya, ini. Sebenarnya, saya meminta kedua orangtua saya untuk datang, ke sini," jelas Kevin sambil sedikit menunduk karena takut Papah Hendri marah.
Tangan kekar yang tadinya sudah memegang sendok dan garpu, kini telah menaruhnya ke piring dan telapak tangan kirinya menggenggam tangan kanannya, "Apa tadi siang kamu tidak mendengarkan perkataan ku, Kevin?" tanya Papah Hendri sambil menatap Kevin, "Jangan panggil aku 'Om', tapi panggil aku 'Papah'. Paham!" ujar Papah Hendri dengan sedikit membentak.
Kepala Kevin semakin menunduk setelah mendengar ucapan Papah Hendri, "I-iya, Pah," jawab Kevin dengan rasa gugupnya.
"Berapa lama lagi mereka sampai, ke sini?" tanya Papah Hendri.
Kevin menaikkan wajahnya menghadap Papah Hendri, "Mungkin, lima sampai lima belas menit lagi, Pah," jawab Kevin.
"Apa mereka dari Amerika langsung, ke sini?" tanya Ayah Yoga, karena setahu Ayah Yoga, kedua orangtua Kevin sudah menetap di Amerika beberapa tahun belakangan ini.
"Tidak, Yah. Kemarin, Papa sama Mama memang berkunjung, ke sini," jawab Kevin, "Minggu depan, mereka sudah kembali ke Amerika," ujar Kevin menambahi jawabannya barusan.
"Apa hanya Papa sama Mama mu saja yang, ke sini?" Ayah Yoga kembali bertanya.
Sekarang Kevin sudah sedikit lega, dia kira Papah Hendri dan yang lain bakal marah sama dia, dan ternyata tidak ada kemarahan di wajah mereka. Kevin menatap Ayah Yoga yang tempat duduknya berhadapan dengan Papah Hendri, "Tidak, Yah. Nanti Kak Naza sama Cindy juga ikut," jawab Kevin sembari tersenyum.
Papah Hendri menghembuskan nafas berat, "Baiklah kita akan menunggu kedatangan orangtua Kevin," ucap Papah Hendri ke semua orang.
Setelah Papah Hendri berbicara seperti itu, seorang pelayan berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Papah Hendri, "Permisi, Tuan," ucap pelan pelayan itu setelah sampai di samping kursi Papah Hendri.
"Ada apa?" tanya singkat Papah Hendri dengan sedikit berbisik.
"Ada tamu dari keluarga Tuan Kevin, Tuan," jawab pelayan itu.
Sejenak Papah Hendri terdiam, "Pergilah!" perintah Papah Hendri ke pelayan di sebelahnya, lalu Papah Hendri menoleh menghadap Mamah Mitha, "Mah, ayo, kita sambut calon besan kita," ajak Papah Hendri sambil memegang pergelangan tangan Mamah Mitha.
Dengan senyum manis dari bibir yang dipoles lipstik merah, Mamah Mitha menjawab, "Ayo."
Lalu, Papah Hendri dan Mamah Mitha berdiri, "Yog, Put. Kita tinggal sebentar, ya. Kita akan menjemput calon besan kita," ucap Papah Hendri yang langsung dijawab dengan anggukan dan senyum oleh Ayah Yoga dan Bunda Putri.
Setelah itu, Mamah Mitha dan Papah Hendri berjalan berdampingan menjemput keluarga Kevin yang menunggu mereka di luar.
Kevin kembali duduk, bibir yang terus melengkung menambah ketampanan wajah bulenya, begitu juga dengan Nabila yang tidak kalah bahagianya, sampai-sampai dia melupakan kejadian tadi siang.
Namun, semua itu langsung hilang dan berganti dengan kebahagiaan dan rasa gugup karena dia akan bertemu dengan orangtua Kevin.
≈≈≈
"Selamat malam, Tuan, dan Nyonya Lewis," sapa Papah Hendri sambil bersalaman dengan keempat orang yang baru datang.
"Mari," ucap Papah Hendri mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Mereka berenam berjalan masuk menuju meja makan, di mana semua orang sudah berkumpul dan menunggu mereka.
Setelah sampai di meja makan, mereka langsung duduk di kursi masing-masing. Eldar yang sejak tadi hanya diam sambil bermain dengan Dara, kini dia terfokus dengan seorang laki-laki berkulit putih dengan wajah Asia khas orang Korea.
Di balik jas abu-abu, Eldar bisa menerawang tubuh kekar laki-laki itu. Bunda Putri yang duduk di samping Eldar menyadari kalau keponakannya ini sedang tergoda oleh ketampanan anak pertama dari keluarga Lewis.
"Namanya Naza, kalau kamu mau berkenalan, Tante bisa bantu kamu," bisik Bunda Putri di telinga Eldar.
Seketika itu juga Eldar tersadar dari godaan pesona Naza Lewis, "Apa, sih, Tan. Siapa juga yang pengen kenalan," balas Eldar dengan berbisik, namun mereka berdua tidak sadar jika Kevin mendengar percakapan mereka.
"Mari, kita mulai makan malam kebahagiaan, ini," ucap Papah Hendri, lalu mereka semua mulai menyantap makanan di depan mereka.
≈≈≈
Setelah makan malam selesai, mereka berbincang-bincang dan bercanda gurau satu sama lain, bahkan mereka sudah menentukan tanggal pernikahan Kevin dan Nabila.
"Eldar, bisa ikut aku sebentar?" panggil Azila lalu dijawab anggukan oleh Eldar.
Mereka berdua berjalan bersama menuju halaman belakang. Malam itu bulan bersinar terang dengan bentuk sempurna, air kolam renang memantulkan cahaya bulan purnama, langit terlihat sangat indah dengan berjuta-juta bintang yang bertaburan.
"Ada apa, Kak?" tanya Eldar memulai percakapan.
Azila membalikkan badannya dan menatap wajah Eldar, lalu dia meraih tangan Eldar, "Maafkan aku waktu di rumah sakit, waktu itu, aku sudah sangat marah, dan tidak mau mendengarkan penjelasan Candra. Maafkan aku, karena sudah menampar, dan melontarkan kata yang tidak pantas diucapkan," jawab Azila dengan air mata yang mulai keluar.
Tangan Eldar langsung menyeka air mata Azila, "Jangan menangis, Kak. Nanti aku bisa dibunuh oleh Kak Candra. Tenang saja, aku sudah memaafkan, Kakak," bala Eldar sambil tersenyum.
Azila memegang tangan Eldar yang menempel di pipinya, "Apa kamu tidak marah?" tanya Azila.
"Waktu, itu, aku sangat marah, karena aku tidak kenal siapa yang menamparku. Tapi setelah tahu, itu, Kakak Ipar. Aku tidak marah lagi, karena awalnya aku, dan Kak Candra yang memulai semuanya. Jadi, jangan dipikirkan lagi, oke," jelas Eldar.
Mendengar penjelasan Eldar, Azila langsung memeluk Eldar, "Terima kasih," lirih Azila.
"Sama-sama. Ayo, kita kembali, atau semua orang akan curiga kalau kita bertengkar," ajak Eldar sambil melepaskan pelukannya. Lalu, Azila dan Eldar kembali ke meja makan dengan wajah bahagia mereka.
Malam ini adalah malam penuh kebahagiaan untuk semua orang, terutama Kevin dan Nabila. Walaupun ada seorang Kakak yang harus didahului oleh adiknya dalam urusan cinta.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙