My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Cium



"Astaga," ucap Eldar tidak percaya setelah melihat apa isi kantong kresek itu.


"Kenapa beli sebanyak, ini? Di rumahmu aku masih ada pembalut," tanya Eldar. Siapa juga yang tidak akan terkejut jika dibelikan banyak pembalut, semua merk ada di dalam kantong kresek itu.


"Tadi aku baca di google kalau pacar lagi PMS terus kita belikan pembalut sama coklat dia bakal seneng," jawab Naza, "Karena aku tidak tau kamu pakai merk apa, jadi aku beli semua merk yang ada deh," lanjutnya.


Kan bisa tanya dulu, Sayang. Lagian kenapa kamu cari begituan di google coba," ucap Eldar.


"Ponselmu kan ketinggalan di mobil, mana bisa tanya ke kamu. Karena tadi kamu marah, jadinya aku tanya google aja gimana cara mengatasi pacar yang marah di saat PMS," balas Naza.


"Hm, iya-iya," ucap Eldar, "Lalu, mana coklatnya?" tanya Eldar.


"Nih," ucap Naza sambil memberikan satu kantong kresek lagi, tapi tidak sebesar tadi.


"Waaahh, banyak banget!" ucap Eldar yang sangat senang melihat coklat yang begitu banyak, bukan hanya banyak jumlahnya. Tapi, banyak merk juga seperti pembalut tadi.


"Suka?" tanya Naza.


"Banget," jawab Eldar.


Cupp


Eldar mencium singkat bibir Naza tanpa permisi ke pemiliknya, "Terima kasih," ucap Eldar setelah mencium bibir Naza.


"Kok cuma ditempel doang? Cium yang lebih lama, dan lebih panas lah," ucap Naza yang tidak puas dengan tanda terima kasih dari Eldar tadi.


"Ngarep," balas Eldar sambil mengusap kasar wajah Naza, "Udah ah, aku mau manasin baksonya, udah laper pengen makan," ucap Eldar sembari turun dari mobil.


Semua yang terjadi tidak terlihat oleh siapapun karena tadi Eldar masuk dari pintu kiri mobil, sedangkan orang-orang berkumpul di sisi kanan mobil. Tapi, ada satu orang yang mendengar semua pembicaraan Eldar dan Naza, tidak lain tidak bukan dia adalah pak supir yang berdiri menunggu di samping mobil.


Naza ikut turun dari mobil lalu menyusul Eldar yang sudah berjalan masuk ke rumah keluarga Wibawa. Orang-orang di gazebo yang melihat Naza turun dari mobil jadi bingung, bukannya tadi Eldar dijemput lalu disuruh pulang ke rumah Naza? Tapi kenapa Naza ada di mobilnya sekarang?


≈≈≈


Sesampainya di dapur Eldar mengambil panci lalu menuangkan baksonya ke dalam panci, setelah itu dia menaruhnya di atas kompor dan menyalakannya. Naza membeli bakso dengan saus, sambal, dan kecap yang dipisah, jadi tidak masalah kalau dihangatkan lagi.


"Kamu cuma beli satu aja?" tanya Eldar.


"Iya, kan yang mau bakso cuma kamu," jawab Naza.


"Kamu nggak doyan bakso?" tanya Eldar.


"Em, nggak terlalu suka sih, tapi masih bisa makan," jawab Naza, ."Kamu lupa sesuatu?" tanya Naza.


"Hm? Lupa apa?" tanya Eldar.


"Apa aku harus mengingatkan?" tanya Naza.


"Sepertinya memang harus," jawab Eldar sambil mengaduk-aduk baksonya.


Naza meraih dagu Eldar dan langsung menciumnya dengan lembut. Eldar tidak menolak atau melawan, memang saat ini suasana hatinya sedang bagus. Jadi, dia membiarkan bibirnya dilumat habis oleh Naza.


Blubb blubb blubb


Suara kuah bakso yang sudah mendidih membuat Eldar melepas ciuman mereka, "Udah, ya, nanti ada orang yang melihat," ucap Eldar.


Naza tersenyum melihat wajah Eldar, semakin hari rasanya dia semakin gemas ke Eldar hingga ingin cepat-cepat menikahi pacarnya ini.


Cupp


Naza mencium kening Eldar lalu pergi ke mini bar di dapur dan duduk di sana. Pipi Eldar memerah mendapat perlakuan seperti itu dari Naza, entah kenapa setelah bangun dari koma Naza menjadi lebih romantis dan lucu dalam bertingkah.


"Mbak, baksonya gosong nanti!" teriak Naza.


Eldar yang masih termenung dalam kesenangannya langsung terkejut dan tersadar, dia jadi semakin malu akibat tingkahnya sendiri, "Kenapa aku jadi begini, dia benar-benar membuatku makin tergila-gila," gerutu Eldar dalam hati.


Setelah mengangkat baksonya, Eldar menuangkannya ke mangkuk lalu membawanya ke meja makan. Naza yang duduk di mini bar beranjak mengekori Eldar ke meja makan.


"Kamu nggak ikut makan?" tanya Eldar sembari duduk.


Naza menarik kursi lalu duduk berdempetan dengan Eldar, "Enggak, aku lihat kamu makan aja udah ikut kenyang," jawab Naza.


"Maksudku habis, ini," jelas Naza.


"Buka mulutmu! Aaaaaa," ucap Eldar sambil menyodorkan sesendok kuah bakso.


"Kamu aja yang makan, aku belum laper," ucap Naza.


"Jangan membantah, cepat buka mulutmu!" ucap Eldar dengan sedikit tegas. Naza menjadi kikuk setiap Eldar sudah mulai bernada tinggi saat bicara, lalu dia membuka mulutnya dan sesendok kuah bakso masuk ke mulutnya.


"Gimana? Enak?" tanya Eldar.


"Kuahnya seger sih," jawab Naza, "Kenapa nggak kamu aja dulu yang icip enak nggaknya?" tanya Naza.


"Ya, kalau nggak enak kan aku tau sebelum icip, dan kalaupun ada racunnya atau apa biar kamu duluan yang kena, he he," jawab Eldar sambil tertawa.


"Sialan, aku jadi manusia uji coba," gerutu Naza dalam hati.


"Ya lah, aku emang bahan uji coba," ucap Naza sambil merebahkan kepalanya ke meja makan.


"Utututu, sayangku ngambek," ucap gemas Eldar sambil memainkan pipi Naza.


"Males ah males," ucap Naza sembari membenamkan wajahnya ke meja makan.


"Marah, ya," Eldar kembali duduk tegap, "Padahal kalau nggak marah mau aku kasih lanjut yang tadi lho," ucap Eldar sambil menyeruput kuah bakso dan sengaja mengeraskan suara sesapannya.


"Ayo lanjut!" ucap Naza yang langsung mengangkat kepalanya dan dipenuhi oleh semangat.


"Ih, lanjut apaan? Tadi ngambek gitu, sekarang kenapa semangat banget," ucap Eldar sambil menahan tawanya.


"Katanya tadi mau lanjut," jawab Naza.


"Lanjut apaan? Suapi bakso?" tanya Eldar. Naza menggeleng, "Lanjut apaan dong?" tanya Eldar memancing. Naza memanyun-manyunkan bibirnya.


"Apaan?" tanya Eldar. Naza kembali memanyun-manyunkan bibirnya, "Cium?" tanya Eldar. Naza mengangguk-angguk dengan cepat sambil tersenyum.


"Dasar mesum," ucap Eldar sambil mengusap kasar wajah Naza.


"Ciiuum," rengek Naza.


"Nggak mau!" jawab Eldar dengan menekan kata-katanya.


"Kok gitu? Tadi bilangnya mau dilanjutin, apa dong yang dilanjutin?" tanya Naza dengan wajah melas.


"Lanjut suapin kamulah, apalagi," jawab enteng Eldar.


"Ya udah deh, aku ngambek lagi kalau gitu," ucap Naza sembari membenamkan wajahnya ke meja makan lagi.


"Ya udah, sana ngambek aja! Aku tak peduli," balas Eldar sambil terus menyantap baksonya.


Naza tidak lagi membalas ucapan Eldar, dia hanya diam sambil merebahkan kepalanya di meja makan dan menatap ke arah lain. Setelah menghabiskan baksonya Eldar menoleh ke Naza, dia kira Naza tadi hanya bercanda ngambeknya karena sejak tadipun yang ia katakan juga candaan semata.


"Hei, marah beneran, ya?" tanya Eldar dengan suara lembut.


Tidak mendapat jawaban dari Naza, Eldar mendekatkan tubuhnya ke Naza. Eldar memeluk tubuh Naza dan mencoba melihat wajah pacarnya yang sedang ngambek.


"Sayang, jangan marah, aku jadi sedih," ucap Eldar dengan manja.


Cupp


Eldar mencium pipi Naza, "Udah ku cium tuh, jangan marah lagi dong," rengek Eldar.


Naza bangkit membuat Eldar melepaskan pelukannya, lalu Naza menunjuk bibirnya. Eldar mengerti dengan apa yang diminta Naza sekarang, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menuruti permintaan Naza.


Cupp


"Udah kan?" ucap Eldar.


Tanpa menjawab Naza meraih kepala Eldar dengan tangan kanannya lalu mencium bibir Eldar dengan sedikit kasar. Eldar merangkulkan kedua tangannya ke leher Naza, dia menikmati permainan Naza dengan senang hati karena ciuman itu memang sangat menggoda tubuhnya untuk terus melakukannya.


Jangan lupa like, komen, dan share yups. Mau vote apa enggak terserah kalian. Terima kasih.