
Di ruang keluarga, Candra dan Azila sedang duduk berdua. Azila masih asik dengan film Titanic Yang sudah ia putar berkali-kali sambil memakan keripik kentang di mangkuk yang ia bawa, sedangkan Candra sudah disibukkan oleh pekerjaannya yang sudah ia tinggal berhari-hari, bukan karena malas, tetapi karena masalah salah paham yang sudah selesai dua hari yang lalu.
Seorang wanita cantik dengan daster yang menempel di tubuhnya sedang menuruni anak tangga dan menghampiri Azila yang duduk di lantai, "Titanic lagi, Titanic lagi, nggak bosen?" tanya wanita tadi sembari duduk di samping kanan Azila dan langsung merampas keripik kentang dari pangkuan Azila.
Azila yang merasa kehilangan sesuatu langsung menoleh ke kiri menghadap suaminya, "Yang, keripik ku diambil setan," ucap Azila sambil sekilas menoleh ke Nabila dan kembali mengalihkan pandangannya ke Candra.
Senyum tipis tergambar di bibir Candra, dia menutup laptopnya dan ikut duduk di lantai bersama Azila, "Iya, nih, Yang. Sekarang aku juga merasa ada setan di sekitar kita," ucap Candra sambil memeluk Azila dari samping.
Melihat Azila dan Candra berpelukan, Nabila merasa kalau dia tidak dianggap ada, malahan dia di anggap setan, "Eheem, di sini masih ada manusia yang hidup," sahut Nabila dengan suara berteriak.
Candra dan Azila menahan tawa mereka, mata mereka berdua seketika bertatapan, salah satu mata Candra mengedip seperti mengisyaratkan sesuatu. Melihat mata Candra mengedip sebelah, Azila juga ikut mengedipkan sebelah matanya, mereka berdua seperti sepasang agen rahasia yang hanya membutuhkan kedipan mata untuk melakukan sesuatu.
Cupp.
Candra dan Azila berciuman di depan Nabila yang menatap geram ke arah mereka, tidak ada malu atau jaim diantara mereka sekarang, Candra terus memainkan lidahnya dan Azila terus membalas sambil menggerayangi dada Candra.
Secara tiba-tiba, rasa mual menghampiri Nabila saat melihat Candra dan Azila berciuman dan melakukan aksi yang membuat jiwa kesendiriannya meronta, "Hooeek, hooeek," Nabila memuntahkan udara dari perutnya, "Hei, apa kalian sudah gila? Masa, iya, kalian mau melakukannya di sini," teriak Nabila sambil berdiri dan berjalan meninggalkan dua insan yang masih menikmati aksi mereka.
"Nab," panggil Azila sambil berdiri setelah melihat Nabila pergi, "Mau kemana?" tanya Azila.
Nabila berhenti dari langkahnya dan menoleh ke Azila, "Kemana aja, yang penting tidak ada kalian berdua," jawab ketus Nabila.
"Kembalilah, kita akan memberi mu contoh, agar saat malam pertama dengan Kevin kamu tidak seperti orang bodoh," ucap Azila sambil menahan tawanya, dan Candra ikut tersenyum mendengar ucapan Azila.
Melihat Azila dan Candra yang tertawa puas di atas penderitaannya, Nabila ingin berteriak sekencang mungkin, "A--" teriak Nabila tertahan karena ada suara bel rumah berbunyi, "Siapa, sih, ganggu orang mau teriak aja," umpat Nabila.
"Bik, Bik Inem," panggil Azila yang sekarang sudah duduk di sofa dan tepat di depannya ada Candra yang duduk di lantai.
Bik Inem langsung berjalan dengan cepat ketika Azila memanggilnya, "Iya, Non. Apa, ada yang bisa Bibik bantu?" tanya Bik Inem setelah sampai di samping sofa.
"Ada tamu, Bik. Bukain pintunya," jawab Azila sambil memijit kepala Candra.
"Baik, Non," balas Bik Inem sembari pergi untuk membukakan pintu.
Azila melihat Nabila yang berjalan pergi, "Nab, kenapa pergi? Tadi aku sama Candra cuma bercanda, jangan dimasukin ke hati," teriak Azila sambil terus melihat punggung Nabila.
Nabila kembali berhenti dan menoleh, "Apa, ada, sejarah yang menuliskan, kalau kita pernah saling marah, dan bertengkar? Dan, apakah ada, peramal yang berani bilang, kalau kita akan marahan, dan bertengkar?" ucap Nabila dan diakhiri senyum manis dari bibir seksinya.
"Pintar," balas Nabila sambil memberikan acungan jempol kanannya, dan Azila juga membalas dengan senyum dan kedipan salah satu matanya.
Setelah percakapan singkat dengan Azila, Nabila kembali melanjutkan jalannya sambil menunduk menghadap bawah, "Kevin, sekarang kamu lagi di mana? Apa yang sedang kamu lakukan? Apa Papah menyuruhmu aneh-aneh? Aku, khawatir sama, kamu, aku kangen," gumam Nabila dalam langkahnya.
Tanpa sadar dia berhenti di depan pintu kamar tamu, "Kenapa aku di sini? Tadi, kan, aku mau buang air kecil di kamarku. Kok, malah ke sini," ucap Nabila sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, "Ah, sudahlah, mungkin aku terlalu memikirkan Kevin. Mending aku buang air kecil di sini saja," ucap Nabila sambil memegang bagian yang terhimpit pangkal pahanya.
Nabila segera masuk dengan buru-buru dan menutup pintunya lagi, karena sudah tidak tahan, Nabila langsung masuk ke kamar mandi dan lupa menutup pintunya, dia memakai kamar mandi yang digunakan Kevin ganti baju tadi pagi.
Nabila mengangkat dasternya sampai di atas dada, lalu melepaskan celana dalamnya dan ditaruh di samping wastafel kamar mandi, Nabila segera berjongkok di bawah shower dan membelakangi pintu, lalu dia mulai mengeluarkan apa yang sudah dia tahan sejak tadi.
≈≈≈
Rasa gerah dan keringat yang mulai membuatnya tidak nyaman dan merasa gatal, Kevin langsung menggaruk bagian yang terasa gatal. Bik Inem yang melihat Kevin menggaruk-garuk tubuhnya langsung berkata, "Tuan Kevin, tadi sebelum Tuan besar pergi, beliau memberi pesan kalau Tuan Kevin sudah datang. Tuan, disuruh mandi terlebih dahulu," ujar Bik Inem, "Pakaian Tuan Kevin juga masih ada di kamar tamu. Tadi, setelah Tuan Kevin pergi, Non Nabila masuk dan merapikan pakaian, Tuan," kata Bik Inem yang menambahi ucapannya barusan.
"Saya pergi dulu, ya, Bik. Kevin sudah tidak tahan lagi," ucap Kevin sambil melewati Bik Inem yang berdiri di depan pintu.
Kevin berlari melewati ruang tamu dan ruang keluarga, di sana dia melihat Candra dan Azila sedang menonton film, Kevin memilih tidak menyapa mereka karena dia takut kalau ditertawakan oleh Candra dan Azila.
Dengan berjinjit dan berjalan agak cepat, Kevin segera masuk ke kamar tamu. Di kamar tamu, Kevin melihat bajunya sudah terlipat rapi di atas ranjang, senyum bahagia terpancar di bibir Kevin, dia membayangkan bagaimana kalau nanti sudah menikah dengan Nabila.
Rasa gatal yang keluar lagi, membuat Kevin begitu tersiksa, lalau dia menaruh kresek hitamnya dan langsung melucuti pakaiannya sendiri dan membuangnya sembarangan entah kemana.
Tiit tiit.
Suara klakson mobil yang terdengar sampai ke kamar di mana Kevin berada, "Itu, pasti mobil Om Hendri, aku harus cepat mandi, dan segera menemui Om Hendri," gumam Kevin sambil berjalan ke kamar mandi.
Karena pintu kamar mandi sudah terbuka, Kevin langsung masuk dan terhenti tepat di belakang wanita yang berjongkok dengan daster berada di atas dadanya.
Wanita di depannya berdiri dan berbalik setelah selesai dengan urusannya, "Mati aku, cobaan apalagi, ini, Tuhan," ucap Kevin dalam hati.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙