My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Kontraksi



Sudah empat hari berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Naza hingga membuatnya terbaring koma di atas ranjang rumah sakit. Kini Dokter sudah memperbolehkan pihak keluarga untuk melihat Naza dari dekat. Namun, Dokter membatasi maksimal dua orang yang melihat Naza di ruang ICU.


Eldar selalu setia menemani Naza di ruang ICU, sepanjang waktu Eldar duduk sambil menggenggam tangan Naza, dia hanya keluar jika sudah waktunya makan, mandi, dan waktu Dokter memeriksa kondisi Naza.


Pihak keluarga lain merasa sangat bahagia karena Naza memiliki wanita pengertian seperti Eldar, terutama Mama dan Papa Naza. Mereka bergantian melihat keadaan Naza secara langsung dan terkadang mereka membiarkan Eldar sendirian yang menjaga Naza di dalam sana.


Walaupun terlihat selalu tersenyum saat berada di samping Naza, sebenarnya Eldar hanya tersenyum palsu, dia berpikir kalau-kalau tiba-tiba Naza terbangun dari komanya Naza melihat wajah bahagianya Eldar. Entah apa yang membuat Eldar sanggup memendam kesedihan dan menutupi wajah frustrasinya.


Setiap hari Eldar tidur di samping Naza dengan posisi duduk sambil menggenggam tangan Naza. Setiap matanya terjaga, Eldar selalu berdoa di samping Naza, dia tidak meminta hal yang muluk-muluk, dia hanya memanjatkan satu doa yang sama setiap hari.


Eldar memejamkan matanya lalu berdoa, "Tuhan, kembalikan Naza padaku."


Harapan adalah satu-satunya penyemangat hidup Eldar saat ini. Namun, harapan-harapan itu serasa mulai memudar saat Dokter memberitahu dirinya kalau kondisi kesehatan Naza tidak ada peningkatan sama sekali.


Seperti malam-malam biasanya, Mama Okta dan Papa Mark tidur di ruang tunggu. Kevin juga ikut menemani di sana, sudah empat malam Kevin tidur sendirian di ranjang single bed ruang tunggu. Sedangkan Eldar selalu setia menemani Naza.


Hawa malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya, entah kenapa malam ini terasa amat sangat dingin hingga Eldar susah tidur. Matanya terjaga sambil memandang wajah Naza, tubuh Eldar menggigil seperti ada balok es yang menyelimuti setiap inci tubuhnya.


Kevin masuk ke ruang ICU sambil membawa jaket dan selimut tebal yang ia minta antar supir dari rumah.


"Ini, pakailah," ucap Kevin sambil mengulurkan jaket dan selimut tebal di tangannya.


"Ini?" ucap Eldar bingung sambil menerima jaket dan selimut tebal dari tangan Kevin.


"Itu jaket, dan selimut milik Kak Naza," ucap Kevin.


"Iya," balas Eldar.


"Kalau begitu aku kembali dulu," ucap Kevin. Eldar mengangguk.


Sebelum Kevin keluar dari kamar Naza, dia mengatur suhu AC dulu agar lebih hangat. Eldar menciumi aroma jaket dan selimut di pelukannya, lalu dia mengenakan jaket tadi dan menyelimuti dirinya bersama Naza.


Eldar merebahkan kepalanya di samping tangan Naza, "Cepatlah bangun, aku rindu," lirih Eldar.


≈≈≈≈


Pagi sudah datang, tapi sinar mentari masih belum muncul di antara kegelapan malam yang masih menutup dunia. Di pagi buta Candra dan Azila masih terbaring tidur di atas ranjang empuk mereka.


"Eehhh ... emmhh ... emhh," rintih Azila.


Azila menggeliat merasakan nyeri di perutnya bahkan rasa sakit itu melebihi rasa sakit saat menstruasi. Azila memukul-mukul Candra yang tidur membelakanginya.


"Apa, sih, Yang. Masih terlalu pagi lho," gumam Candra dengan suara serak khas orang bangun tidur, dia mengira kalau Azila ingin mengajaknya jalan-jalan pagi seperti biasanya.


"Sakit, Yang," gerutu Candra karena Azila terus memukulinya.


"Yang!" ucap Candra sedikit meninggi.


Tadi malam Candra baru pulang jam setengah tiga malam karena menggantikan Kevin untuk jaga di rumah sakit. Kevin meminta Candra menggantikannya sebentar karena Nabila minta dibelikan lontong pecel.


Sekarang masih jam empat pagi dan Candra baru tidur kurang dari satu setengah jam, pantas saja dia sedikit emosi saat tidur singkatnya terganggu, bahkan hampir semua orang akan kurang suka saat dia baru tidur lalu diganggu.


"Pe-perutku sa-sakit, Yang," rintih Azila sambil mencengkram lengan Candra.


"Ada apa, sih, Yang?" tanya Candra dengan nada sedikit malas.


"Pe-perutku sa-sakit," rintih Azila, air matanya tiba-tiba mengalir karena tidak kuat menahan rasa nyeri di perutnya.


"Ka-kamu mau lahiran?" tanya Candra yang ikut gugup.


"Ja-jangan banyak bicara, cepat bantu aku," rintih Azila.


"Tunggu ... tunggu sebentar, aku akan manggil Bunda, tunggu sebentar," ucap Candra yang semakin gugup karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Candra berpikir kalau bundanya lebih tahu tentang apa yang harus dilakukan disaat-saat seperti ini, mengingat bundanya sudah dua kali berada di fase ini.


"Ce-cepatlah," rintih Azila. Candra segera turun dari ranjang lalu berlari ke lantai dua di mana kamar Bunda dan ayahnya berada.


Tok tok tok ... tok tok tok


"Bunda, Bun, Bunda," teriak Candra sambil terus mengetuk pintu kamar bundanya dengan keras.


Tak berapa lama pintu kamar itu terbuka, Bunda Putri dan Ayah Yoga yang sudah kaget karena pintunya diketuk berkali-kali dan anaknya memanggilnya dengan teriak-teriak.


"Ada apa, Nak?" tanya Bunda Putri.


"Azila, Bun. Azila mau melahirkan sekarang," jawab Candra.


"Kenapa kamu malah ke sini, kenapa tidak membawanya langsung ke rumah sakit," ucap Bunda Putri, "Ayah, cepat siapkan mobil!" perintah Bunda Putri sambil berjalan melewati Candra.


"La-lalu, aku?" tanya Candra.


"Kamu, ya, ikut Bunda bawa Azila ke mobil," jawab Bunda Putri sedikit emosi karena anaknya begitu telat untuk berpikir dan bertindak.


Ketika Bunda Putri dan Candra sampai di kamar, mereka kaget kaget bukan kepalang melihat Azila yang tergeletak di lantai dengan kaki dan daster bagian bawah yang sudah basah.


"Cepat angkat istrimu ke mobil!" perintah Bunda Putri. Dengan sigap Candra mengangkat Azila.


"Di mana ponselmu?" tanya Bunda Putri.


"Di atas nakas," jawab Candra sembari menggendong Azila lalu membawanya ke mobil yang sudah disiapkan oleh Ayah Yoga.


Setelah Candra, Azila, dan Bunda Putri masuk ke mobil, Ayah Yoga langsung menjalankan mobilnya ke rumah sakit.


"Berapa password ponselmu?" tanya Bunda Putri.


"1-1-1-1," jawab Candra.


Bunda Putri menelpon Mamah Mitha untuk mengabarkan kalau sekarang Azila akan melahirkan. Mamah Mitha yang senang bukan main karena cucu pertamanya akan lahir, dia langsung membangunkan Papah Hendri dan mengajaknya untuk ke rumah sakit.


≈≈≈≈


Di ruang ICU Eldar terbangun setelah merasakan tangannya diremas oleh seseorang, dia langsung berlari keluar mencari Dokter yang ruangannya tidak jauh dari ruangan Naza.


Ayo vote, like, komen dong. Kasih author semangat biar bisa update tiap hari. Dan maaf karena jarang update karena lagi sakit. Terima kasih.