
Pintu kamar perawatan Candra telah terbuka dan masuklah Azila bersama Bunda Putri, hati Azila yang teramat sedih melihat Candra yang terbaring tak berdaya dengan alat-alat yang menempel pada tubuhnya. Azila berlari mendekat ke arah Candra yang tidak sadarkan diri di atas ranjang, dia menghiraukan kalau ada satu wanita yang juga terbaring lemah di ranjang yang hanya berjarak 2 meter dari ranjang Candra.
Azila duduk diam di kursi yang ada di samping ranjang Candra, tangannya menggenggam tangan Candra dan menempelkan tangan Candra ke pipinya yang basah.
Saat Azila sudah duduk di dekat Candra, Ayah Yoga mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan ke Dokter. Setelah beberapa saat, klek, kriet.. suara pintu kamar terbuka dan masuklah seorang Dokter yang tadi membantu Candra dengan 2 Perawat dibelakangnya.
"Permisi, Tuan Yoga, Nyonya Putri, Nona Zila. Sekarang waktunya pemeriksaan kedua pasien, mohon tunggu di luar terlebih dahulu," ucap Pak Dokter yang baru masuk itu.
"Baiklah, Dok. Saya serahkan mereka padamu," jawab Ayah Yoga.
"Zila, ayo Sayang, kita tunggu di luar!" Ajak Bunda Putri.
Azila berdiri dari duduknya dan melepaskan tangan Candra yang ia genggam, lalu berjalan menghampiri Bunda Putri.
"Dok, sembuhkan suami saya, aku mohon sembuhkan Candra, Dok," ucap Azila yang tiba-tiba menjadi pilu dan air matanya menetes lagi.
"Akan saya usahakan yang terbaik untuk Tuan Candra, Nona," jawab Pak Dokter.
Bunda Putri yang berada di samping Azila, langsung merangkul pundaknya dan menuntunnya keluar kamar.
"Zila ke kamar mandi dulu ya, Bun," ucap Azila meminta izin ke Bunda Putri setelah keluar dari kamar perawatan Candra.
"Apa kamu mau Bunda temani, Sayang?" Tawar Bunda Putri.
"Tidak usah, Bun. Bunda disini saja temani Ayah," jawab Azila.
"Baiklah kamu hati-hati ya, dan kamu jangan nangis di kamar mandi, tadi kamu sudah janji ke Bunda," ucap Bunda Putri yang tidak ingin menantunya menangis terus terusan karena kejahilan anaknya.
"Siap, Bunda," jawab Azila sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum, lalu ia beranjak pergi menuju kamar mandi.
Setelah Azila pergi, Bunda Putri menatap Ayah Yoga dan bertanya dengan suara pelan, "Yah, apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Berlebihan tidak berlebihan, Ayah tidak ngerti Bun, dari dulu kalau mereka berdua udah bersama, tidak ada lagi yang bisa menghalangi mereka untuk melakukan kejahilan," jawab Ayah Yoga.
Bunda Putri menganggukkan kepalanya karena menyetujui perkataan suaminya, "Kamu benar, Yah."
"Semoga Candra tidak kena amukan ibu-ibu hamil ya, Bun," ucap Ayah Yoga yang mendo'akan Candra agar tidak kena amukan Azila yang sudah mereka jahili.
"Biarlah kena amuk, biar kapok sekalian," balas Bunda Putri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
»Flashback selesai«
Azila yang sudah kembali dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih segar dan rambut panjangnya yang tadi dia biarkan tergerai sampai ke punggungnya kini telah ia kuncir, lalu Azila menghampiri Bunda Putri dan Ayah Yoga yang duduk di kursi depan kamar perawatan Candra, Azila mendekat dan ikut nimbrung di samping Bunda Putri lalu memeluk erat Bunda Putri dari samping.
Di dalam kamar perawatan.
"Huh," dengus lega Candra.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Candra?" Tanya Pak Dokter.
"Dok, nanti setelah keluar dari kamar, bilang ke Azila kalau tidak boleh terlalu sering masuk kesini ya, bilang aja 2 jam sekali boleh masuknya!" Perintah Candra.
"Baik, Tuan. Apa ada lagi?" Tanya Pak Dokter.
"Udah, Dok. Itu aja," jawab Candra.
"Dok, Dok," panggil Eldar.
"Iya, Nona. Ada apa?" jawab Pak Dokter sembari menoleh ke arah Eldar.
"Tolong bawa aku keluar, Dok. Aku tidak betah lama-lama begini," Pinta Eldar pada Pak Dokter.
"Apa maksudmu? Apa kamu mau ninggalin kakak sendirian disini?" Tanya Candra dengan suara agak keras.
"Ssttt, Tuan. Pelan-pelan bicaranya, nanti bisa kedengaran sampai luar," ucap Pak Dokter agak berbisik.
"Astaga, lupa pula aku," ucap Candra sambil menepuk jidatnya.
"Kenapa kamu malah sewot," balas Candra dengan nada sewot pula.
"Kenapa Kakak juga ikut sewot," balas Eldar yang makin sewot.
"Karena kamu mau ninggalin Kakak sendirian disini," jawab Candra.
"Ya buat apa aku disini kalau cuma diem aja," balas Eldar.
"Pokoknya kamu nggak boleh ninggalin Kakak, titik," balas Candra dengan menekan suaranya.
"Kalau gitu, nanti Eldar bakal bongkar sandiwara ini biar Kak Azila tau," ucap Eldar yang mengancam Candra.
"Kamu kok malah ngancem sih," protes Candra.
Di balik perdebatan Candra dan Eldar, ada tiga orang yang diam mematung karena tidak berani melerai apalagi angkat bicara.
"Biarin," jawab ketus Eldar.
"Kok, marah?" Tanya Candra.
"Bodo amat," jawab Eldar yang lebih ketus, "Pokoknya kalau Kakak masih nahan Eldar disini, Eldar bakal bongkar semua sandiwara ini," lanjut Eldar sambil melotot ke arah Candra.
Candra diam sejenak dan berpikir, "Kalau tidak aku turuti, pasti Eldar bakal bongkar semuanya, tapi kalau aku turuti, nanti aku bakal sendirian disini dan bakal kesepian nanti kalau Azila udah keluar," pikir Candra dalam hatinya.
"Cepetan jawab Kak Candra," desak Eldar yang belum mendapatkan jawaban dari Candra.
"Ya ya ya, kamu boleh pergi," jawab Candra dengan pasrah nya.
"Nah gitu dong Kak, kalau jawab dari tadi kan jadi enak," balas Eldar dengan senyum bahagianya.
≈≈≈
"Bun, Ayah ke kantor dulu ya, ada pertemuan dengan tender yang tidak bisa di wakilkan," ucap Ayah Yoga meminta izin.
"Iya, Yah, Ayah hati-hati ya, dan semoga pertemuannya lancar," jawab Bunda Putri yang mengizinkan Ayah Yoga.
"Kalau begitu Ayah berangkat sekarang ya, Bun," pamit Ayah Yoga, "Zila kamu jangan paksakan diri ya, kalau kamu capek tidur aja, di dalam ada ranjang yang bisa kamu tempati untuk istirahat," lanjut Ayah Yoga.
"Iya, Yah, Ayah hati-hati di jalan, jangan sampai kayak Candra," jawab Azila yang tidak ingin kejadian yang menimpa Candra juga menimpa Ayah mertuanya.
"Ayah akan hati-hati," balas Ayah Yoga, "Kalau begitu, Ayah berangkat dulu," pamit Ayah Yoga sambil mencium pucuk kepala kedua wanita yang menjadi penyemangatnya, lalu Ayah Yoga beranjak pergi menuju lift.
"Kok lama banget ya, Bun," gumam Azila yang mulai lelah menunggu.
"Kamu capek ya nak?" Tanya Bunda Putri sambil mengelus pipi Azila yang ada dalam pelukannya.
"Iya, Bun, sejak kemarin Zila suka ngantuk terus, bawaannya pengen rebahan mulu," jawab Azila yang menahan kantuknya.
"Kamu pulang aja, ya, kasian dedek bayinya kalau kamu kecapekan, biar Bunda aja yang jagain Candra disini," ucap Bunda Putri dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa Bunda, Zila bisa istirahat di dalam, tadi Ayah bilang kalau Zila bisa tidur di dalam," jawab Azila, dan Bunda Putri membalas dengan senyum di bibirnya.
≈≈≈
"Heleh, rubah licik, udah sana bawa pergi rubah licik itu pergi Dok!" Perintah Candra pada Pak Dokter untuk membawa Eldar keluar.
"Terima kasih kakak baik," ucap Eldar sambil memberi tanda love dari jari jempol dan telunjuknya.
"Baik, Tuan," jawab Pak Dokter yang lega karena perdebatan mereka telah usai, lalu Pak Dokter dan dua perawatnya mendorong ranjang Eldar keluar beserta meja dorong yang terdapat alat yang menempel di tubuh Eldar, sebelum pintu dibuka, Eldar memejamkan matanya dan berpura-pura masih tidak sadarkan diri.
"Dasar, rubah licik," gumam kesal Candra.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙