My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Kabar yang tidak mengenakkan



Dengingan suara pesawat di pagi buta yang siap landing di tanah berhektar-hektar dengan landasan pacu di atasnya, seorang marshaller yang sudah berdiri di tengah landasan pacu dengan dua papan di tangannya, pilot yang sudah siap landing mengikuti instruksi marshaller untuk memarkirkan burung besi raksasa yang dia kendalikan.


Pesawat pribadi keluarga Wibawa telah berhasil mendarat dengan mulus, pintu pesawat terbuka tepat di hadapan red carpet yang sudah di gelar sampai ke pintu sebuah mobil sport berwarna hitam dan bercorak emas yang sering Candra pakai kemana-mana.


"Kak, aku di sini sudah seperti Ratu di kerajaan Inggris," ucap Eldar sedikit berbisik.


"Jangan terlalu percaya diri, mereka menyiapkan semua ini untuk menyambutku, jadi jangan kepedean," ejek Candra ke Eldar.


Eldar memukul keras pundak Candra dan menggerutu, "Kakak yang tidak bisa membuat adiknya senang ya cuma Kak Candra seorang."


"Biarin, emang Kakak pikirin," jawab Candra sambil berlari masuk ke mobil sport yang terparkir di depannya.


"Awas aja kamu, Kak!" Seru Eldar yang kesal karena Candra tak mau mengalah.


Candra dan Eldar kini sudah duduk di dalam mobil dan Candra segera memacu mobil sport itu dengan kecepatan yang melebihi 100 KM/jam.


"Kaak, aku masih belum menikah, apa kamu mau mengantar ku ke surga sekarang juga," teriak Eldar yang sudah sangat ketakutan. Tapi Candra malah kegirangan melihat ekspresi Eldar yang ketakutan, lalu Candra menambah kecepatannya hingga membuat Eldar menjerit dengan sekencang kencangnya, "Kaak, aku benci kamu!"


Setelah puas mengerjai Eldar, Candra mulai melambatkan laju mobilnya karena mereka sudah keluar dari kawasan landasan pacu pribadi milik keluarga Wibawa.


"Apa aku sudah di surga?" Tanya Eldar pada dirinya sendiri sambil mengecek tubuhnya.


Mendengar perkataan Eldar barusan membuat Candra tertawa dan melontarkan ejekan, "Tenang saja, kamu belum di surga, malaikat pencabut nyawa sudah kabur saat mendengar jeritan mu yang seperti sambaran petirnya Thor."


Eldar memicingkan matanya menatap Candra yang tertawa bahagia di atas ketakutannya, lalu Eldar menarik hidung mancung Candra dengan sekuat kuatnya hingga membuat mata Candra berkaca kaca seperti orang menangis, "Aauuhh, sakit tau!" Seru Candra yang mengusap usap hidungnya yang memerah karena tarikan Eldar.


"Rasakan itu wahai Kakak yang durjana," ucap Eldar dengan senangnya, "Siapa suruh Kakak berani menertawakan seorang Eldar Safira yang cantik ini," lanjut Eldar sambil mengibaskan rambutnya.


"Dasar Adik durhaka, rasakan pembalasanku ini!" Seru Candra yang menarik hidung pesek milik Eldar, "Aduuhh!" Teriak Eldar yang mengaduh kesakitan.


"Makan tuh hidung merah, gimana? Sakit kan," ucap Candra yang di balas anggukkan oleh Eldar yang mulai menangis karena tak kuasa menahan sakitnya.


Sejenak mata Candra dan Eldar saling menatap dalam hening, hingga tawa ngakak mereka pecah dalam keheningan itu, entah apa yang membuat mereka tertawa dengan gembiranya.


"Kakak, aku kangen dengan suasana seperti ini," ucap Eldar sambil memeluk lengan kekar Candra.


"Apa kamu kira cuma kamu yang kangen? Kakak juga kangen tau, apalagi saat aku mengerjaimu sampai nangis," balas Candra sambil mengusap rambut Eldar yang lembut.


"Oh, ya, Kak. Apa kita jadi melakukan rencana kita?" Tanya Eldar pada Candra sambil melepas pelukannya di lengan Candra.


"Jadi dong, Kakak sudah menyiapkan semuanya dan sudah tertata rapi, tapi Kakak harus mengingatkan seseorang dulu agar rencana kita berjalan lebih mulus lagi," jawab Candra pada Eldar.


"Emang siapa, Kak?" Tanya Eldar sambil mengerutkan dahinya.


"Kamu pasti taulah," jawab Candra sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.


Candra terlihat menghubungi seseorang, setelah tersambung, Candra memberitahu orang yang di teleponnya dan memberitahu kalau dia dan Eldar sudah sampai di Indonesia dan sedang dalam perjalanan menuju tempat perjanjian mereka, setelah itu Candra mematikan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke saku jasnya lagi.


"Beres," ucap Candra sambil tersenyum.


"Pintar juga kakak menyusun rencananya," puji Eldar pada kepintaran Kakaknya.


"Tapi jika terjadi apa-apa ke Kakak, Eldar enggak mau ikut tanggung jawab ya!" Ucap Eldar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa maksudmu? Ini semua berawal dari rencana yang keluar dari otak jahil mu," kata Candra.


"Tapikan Kakak yang setuju, dan aku cuma memberi ide, lagipula kalau Kakak tidak menyetujui ide ku juga enggak apa-apa kok," balas Eldar sambil memanyunkan bibirnya.


"Apa kamu mau berkhianat dari rencana yang sudah kamu buat dan yang sudah ku tata dengan rapi?" Tanya Candra sambil memacu mobil sportnya lebih kencang.


"Kaak, iya-iya, aku tidak akan berkhianat!" Seru teriakan Eldar yang takut saat Candra memacu mobil sportnya dengan kecepatan tinggi.


"Nah gitu dong, itu baru yang namanya adik yang berbakti," ucap Candra sambil tertawa dan memacu mobil sportnya lebih kencang dari tadi.


"Kaakk!" Teriak Eldar yang melihat truk melaju dari arah berlawanan.


≈≈≈


Azila dan Bunda Putri terlihat sedang sibuk dengan menu sarapan pagi mereka, dan soto ayamlah yang menjadi pilihan sarapan kedua wanita cantik itu untuk di hidangkan ke meja makan keluarga Wibawa.


Panas kompor membuat pagi yang dingin menjadi sedikit hangat, aroma kuah soto yang segar dan sedap menyeruak memenuhi hidung mereka, suiran daging ayam, bawang goreng, mie, dan irisan telur rebus sudah tertata di atas mangkuk mereka sendiri sendiri.


06:30 WIB


Azila, Bunda Putri, Ayah Yoga, dan Dara sudah berkumpul di meja makan, mereka menikmati soto buatan Bunda Putri dan Azila yang masih hangat.


"Zila, apa kamu masih suka mual atau muntah?" Tanya Ayah Yoga.


"Masih Yah, tapi sudah tidak sesering kemarin," jawab Azila.


Mendengar jawaban Azila, Ayah Yoga memanggut manggutkan kepalanya. Azila nampak merenung saat menikmati sarapannya, hingga membuat Bunda Putri melontarkan pertanyaan, "Zila, apa kamu sedang tidak enak badan?"


"Azila hanya kepikiran sama Candra, Bun," jawab Azila, "Candra sudah 3 hari ini tidak pulang, dan diapun sama sekali tidak memberi Azila kabar apapun," lanjut Azila.


Mendengar jawaban Azila, mata Bunda Putri dan Ayah Yoga saling menatap, seakan sedang berunding untuk siapa yang akan memberitahu ke Azila, karena tadi malam mereka telah berbicara soal Candra, akhirnya Ayah Yoga lah yang angkat bicara.


"Zila, kamu harus tetap berpikir positif dan menjaga emosi kamu, sekarang kamu juga sedang mengandung, emosi yang tidak stabil akan mempengaruhi kesehatan janin mu," ucap Ayah Yoga.


"Sebenarnya Candra sed--" ucap Ayah Yoga yang terpotong karena melihat kepala pelayan sekaligus asisten pribadi keluarga Wibawa berjalan agak berlari ke arah mereka.


"Selamat pagi, Tuan Besar, Nyonya, Nona Azila, Nona Dara," sapa Pak Suryo ke para majikannya yang sedang sarapan.


"Ada apa, Pak Suryo?" Tanya Ayah Yoga.


"Ada kabar yang tidak mengenakkan, Tuan," jawab Pak Suryo sembari memperlihatkan sebuah video di iPad kerja yang ia bawa.


Video itu memperlihatkan sebuah kecelakaan mobil sport dengan truk pengangkut sayuran. Azila yang melihat video itu seketika jatuh pingsan karena dia sangat mengenali mobil sport itu.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙