
Melihat Eldar tidur dengan begitu pulasnya, membuat Naza terdiam dan memandang wajah wanita cantik di sampingnya. Entah mengapa saat itu Naza merasa tenang, bibirnya yang jarang sekali melengkung saat melihat semua wanita, namun saat melihat Eldar yang tertidur, bibir Naza seakan ingin selalu tersenyum.
Entah sudah berapa lama Naza terus saja memandangi wajah Eldar yang tertidur, hingga getaran di ponselnya menyadarkan dirinya.
Naza merogoh ponsel dari saku celananya, lalu melihat siapa yang meneleponnya, "Kevin? Ada apa anak, ini, menelpon?" gumam Naza sambil memandangi layar ponselnya.
"Ya, ada apa?" tanya Naza setelah mengangkat telpon dari adiknya.
"Kakak, di mana? Aku sudah di bandara, apa, Kakak, lupa?" tanya Kevin dengan kecemasannya.
Naza langsung menepuk dahinya, "Aduuh, kenapa bisa kelupaan, sih!" dengus Naza dalam hatinya.
karena tidak ada jawaban dari orang yang diteleponnya, Kevin melihat layar ponselnya, "Masih tersambung, tapi, kok, sepi?" gumam Kevin dengan rasa heran. Kevin mendekatkan ponselnya ke bibir, "Kak, apa kamu masih hidup, di sana?" tanyanya dengan tertawa kecil.
"Tiga puluh menit lagi," jawab singkat Naza lalu mematikan sambungan teleponnya.
Tuutt.
"Ha?" Kevin tidak habis pikir dengan sifat kakaknya yang super-super cuek dan acuh itu, "Pantas saja, tidak ada cewek yang betah sama kamu, sifat kayak es batu dipelihara," umpat Kevin untuk kakaknya.
≈≈≈
Naza kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu dia turun dan mengetuk gerbang, agar pak satpam membukanya.
Setelah gerbang terbuka, Naza lekas menjalankan mobilnya memasuki halaman depan rumah keluarga Wibawa. Tanpa pikir panjang dan karena dikejar waktu, Naza langsung mengangkat Eldar yang masih tertidur pulas dengan hati-hati.
Saat Naza sampai di depan pintu, dia merasa sangat bodoh, bagaimana dia bisa membawa Eldar masuk ke dalam jika pintunya tertutup, dan kedua tangannya sudah memiliki kesibukan untuk menggendong wanita cantik itu.
Kleek.
Suara pintu terbuka, lalu keluarlah Candra yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek selutut. Mata Candra yang semula masih sayu tiba-tiba terbelalak lebar melihat seorang laki-laki yang sedang menggendong seorang wanita.
Dalam sekejap, Candra langsung mengenali siapa laki-laki itu, ya, dia adalah Naza dengan tangan menggendong Eldar yang masih tertidur, "Kak Naza? Kakak, kok, bisa sama Eldar?" tanya Candra dengan keterkejutannya.
"Apa, jangan-jangan, kalian, sudah pacaran?" tanya Candra dengan otak penuh opini kalau Naza dan Eldar sedang menjalin hubungan.
"Minggir!" perintah Naza dengan nada datar dan sedikit membentak.
Candra langsung bergeser ke samping untuk memberi jalan Naza, lalu Naza bergegas membawa Eldar masuk.
Setelah melewati pintu, Naza berhenti dari langkahnya, dia berputar dan kembali menghampiri Candra yang masih berdiri di luar pintu, "Ini, bawa dia masuk dan taruh di kamarnya!" perintah Naza sambil menyerahkan tubuh Eldar ke Candra.
Saat Candra ingin menyerahkan Eldar, Candra langsung mundur satu langkah, "Maaf, Kak. Bukannya Candra tidak mau, tapi Candra ada perintah dari Ibu Negara," ucap Candra sambil mengangkat kedua tangannya sebatas pundak.
Mata Naza seketika memicing mendengar ucapan Candra, "Ibu Negara? Apa Pak Presiden ada, di sini?" tanya Naza dengan dahi mengkerut.
Mendengar pertanyaan Naza, seketika itu juga Candra menahan senyumnya, "Tidak-tidak, bukan, itu, maksud ucapan ku, Kak. Perintah Ibu Negara, itu, permintaan Azila, dia lagi ngidam minta beliin rujak," jelas Candra dengan wajah tampannya yang menahan tawa karena kepolosan Naza.
"Alay." Naza menjadi geram dengan penjelasan Candra.
Wajah Candra menjadi merah karena sudah tidak kuat menahan tawanya, "Aku berangkat dulu, Kak. Byee," pamit Candra sembari berjalan dengan ritme seperti berlari. Setelah menuruni tangga teras depan, Candra berhenti dan berbalik menghadap Naza yang masih berada di depan pintu, "Kamarnya ada di sebelah ruang tamu," teriak Candra sembari berbalik lagi dan berjalan menuju garasi rumahnya.
Naza masih berdiri mematung di depan pintu sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak habis pikir, banyak sekali orang alay di dekatku," gumam Naza.
"Akhirnya, pekerjaan untuk mengembalikan cewek, ini, ke habitatnya, beres juga," dengus lega Naza dengan tangan berkacak pinggang.
Naza menurunkan tangannya dan berbalik untuk meninggalkan kamar itu.
Greeeb.
Tangan Naza dipegang dan sedikit ditarik oleh Eldar, lalu dia menoleh tanpa berusaha melepaskan pegangan Eldar. Naza terduduk di pinggir ranjang karena tarikan Eldar yang semakin bertenaga.
Kini tangan Naza telah berada dalam pelukan Eldar, "Jangan pergi, Pangeran. Aku kesepian dan takut," gumam Eldar yang semakin erat memeluk tangan Naza.
Naza merasa sedikit aneh, lalu dia menatap wajah Eldar, "Apa dia mengigau?" ucap Naza dengan kebingungan karena melihat mata Eldar yang masih terpejam.
Perlahan dia mulai mencoba menarik tangannya, namun pelukan Eldar terlalu kuat, dan juga, tempat tangannya berada sangat membuatnya canggung. Naza menjadi bimbang antara melepaskan tangannya atau tidak.
Drrtt drrtt.
Ponsel Naza bergetar di dalam saku celananya, dia mengambilnya dengan tangan yang masih bebas, sejenak dia melihat siapa yang menelpon, "Kevin," ucapnya pelan, lalu Naza mengangkatnya.
"Kakak sudah sampai mana? Apa tidak bisa lebih cepat lagi? Kasihan Cindy, dia sudah lelah menunggumu," ucap Kevin.
Naza membuang nafas besar sebelum menjawab ucapan Kevin, "Kalian berangkat saja, dulu. Aku menyusul besok, ada urusan penting," jawab datar Naza.
"Kenapa mendadak sekali, apa tidak bisa ditunda dulu?" tanya Kevin dengan suara yang semakin keras.
"Jangan banyak bicara! Aku sudah bilang kalau ada urusan penting, dan akan menyusul besok! Apa sekarang otakmu sudah tumpul?" jawab Naza lalu mematikan panggilan teleponnya.
Tuut.
"Halo, Kak. Halo!" ucap Kevin dengan kerasnya, "Sialan, malah dimatikan. Kenapa dia tidak bilang dari tadi, sih. Udah capek-capek nunggu, malah di kasih harapan palsu," umpat Kevin sambil berjalan menemui Cindy dan asisten papanya.
"Gimana, Kak? Apa masih lama?" tanya Cindy setelah Kevin berada di dekatnya.
Kevin menggeleng, "Dia tidak bisa sekarang, ada urusan penting katanya, kita disuruh berangkat dulu. Besok, dia akan menyusul," jawab Kevin dengan kesalnya, "Ayo, Cin, Pak," ajak Kevin sambil berjalan menuju pesawat yang sudah disiapkan.
≈≈≈
Naza masih duduk di pinggir ranjang, perasaannya sudah campur aduk, antara benci, bahagia, kesal, dan nyaman, semua menjadi satu saat itu.
Tanpa sadar, tangan Naza mulai mengelus pucuk kepala Eldar, dia mengelus dengan begitu lembut, bibirnya mulai tersenyum memandangi wajah Eldar yang menyender di lengannya.
Malam semakin larut, kantuk mulai menghampiri dan menggerogoti kesadaran Naza, dia melepaskan sepatunya dan meninggalkan kaos kaki. Naza meluruskan kakinya di atas ranjang, pelukan erat Eldar di tangannya mulai mengendor, dia menarik tangannya dan merangkul Eldar.
Kini mereka tertidur bersama, dengan Eldar yang tertidur dengan memakai dada bidang Naza sebagai bantalnya, tangan Eldar melingkar di perut sixpack Naza. Sedangkan Naza menyenderkan tubuhnya di head board ranjang, tangan kekar Naza sudah memiliki tugasnya, mendekap Eldar agar Eldar dan Naza merasakan kehangatan pelukan tidur mereka.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa, bantu like, comment, share dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙