My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Mencoreng harga diri



Di rumah keluarga Yudistira.


30 menit mereka lalui di jalan raya yang lancar tanpa kemacetan, sekarang mobil Candra dan Azila sudah terparkir di depan rumah keluarga Yudistira, Azila turun terlebih dahulu dari mobil, lalu Candra menyusul Azila dari belakang dan memeluk pinggang Azila.


"Apa yang kamu lakukan cowok mesum!" Ucap Azila yang kaget dengan perlakuan Candra.


"Diam dan menurut saja, apa kamu mau bertengkar denganku di depan Mamah dan Papahmu?" Tanya Candra yang tidak ingin melihat kedua mertuanya cemas karena pertengkaran mereka.


Azila tak menjawab pertanyaan Candra tadi, dia lebih memilih diam dan menuruti ucapan Candra, lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah, Azila mencari dimana Mamah dan Papahnya berada.


"Bik, Mamah sama Papah dimana, Bik?" Tanya Azila ke salah satu pelayan di rumahnya.


"Tuan dan nlNyonya sedang di halaman belakang, Non. Den Yasa juga ada di sana," jawab Bibik.


"Oke, Bik. Makasih ya, Zila pergi dulu," ucap Azila sambil menyunggingkan senyum ramah.


"Sama-sama, Non. Silahkan," balas Bibik.


Setelah mengetahui dimana orang yang sedang mereka cari berada, Azila dan Candra berjalan menuju halaman belakang untuk menemui mereka.


Di halam belakang.


"Mamah..!" teriak Azila yang berlari berhamburan ke pelukan Mamahnya.


"Zila kangen, Mah," ucap Azila dalam pelukan Mamahnya.


"Baru kemarin sore kita berpisah, kenapa cepet banget kangennya?" Tanya Mamah Mitha sambil tersenyum.


"Apa Mamah sudah nggak mau aku kangenin?" Tanya Azila sambil menatap wajah Mamahnya.


"Mana mungkin," jawab Mamah Mitha yang langsung di sambut senyum di bibir Azila dan mereka berpelukan lagi.


"Pagi, Pah, Mah, Yasa," sapa Candra dengan ramah dan di balas senyum oleh Papah Hendri dan Mamah Mitha.


"Pagi juga, Kak Candra," balas Yasa.


"Kesini mau packing baju?" Tanya Papah Hendri ke Candra.


"Iya, Pah," jawab Candra.


"Ya udah, sana packing dulu yang mau di bawa, nanti ngobrol lagi," suruh Mamah Mitha sambil melepaskan pelukannya dengan Azila.


"Malam ini Zila mau tidur di sini dulu, Mah. boleh ya?" Ucap Azila dengan wajah memelas.


"Kamu harus izin suamimu dulu, Sayang. Kalau boleh, ya kalian tidur di sini dulu malam ini, tapi kalau tidak boleh, ya kamu harus tetep nurut sama ucapan suamimu," jawab Mamah Mitha sambil mengacak-acak rambut Azila, lalu Azila melihat Candra yang sedang berdiri di belakangnya.


"Boleh ya?" Ucap Azila sambil memasang wajah imut.


"I-iya, boleh kok, nanti aku akan kabari Bunda kalau kita tidur di sini malam ini," ucap Candra yang gelagapan karena tersipu dengan wajah imut Azila tadi.


"Awas aja kamu, Zila. Nanti malam, mungkin akan menjadi malam pertama kita yang tertunda," gumam Candra dalam hatinya.


≈≈≈


Keluarga baru itu mengobrol dengan asik dan di penuhi canda tawa. Azila tidak sadar, jika dari awal dia selalu di perhatikan oleh sepasang mata milik seorang laki-laki, yang kini sudah menjadi suami sahnya.


"Permisi, Tuan, Nyonya, Non Zila, Tuan Candra, Den Yasa," ucap seorang pelayan sambil membungkukkan sedikit badannya.


"Iya, Bik. Ada apa?" Tanya Papah Hendri ke pelayan itu.


"Iya, Bik. Sebentar lagi kita kesana," balas Papah Hendri, lalu mempersilahkan pelayan tadi pergi.


"Ayo, makan siang dulu, kita lanjut lagi perbincangan ini nanti malam," ajak Papah Hendri yang di balas senyum dan anggukan oleh istri dan anak-anaknya, lalu mereka berdiri dan berjalan menuju meja makan, mereka semua duduk di kursi masing-masing dan memakan masakan apa yang telah di sajikan oleh para pelayan.


Di sela-sela waktu makan mereka, Papah Hendri memulai pembicaraan.


"Zila, Candra," panggil Papah Hendri.


"Iya, Pah. Ada apa?" Jawab Azila sembari memandang Papahnya.


"Kapan kalian berdua akan memberikan Papah cucu?" Tanya Papah Hendri yang seketika membuat Candra dan Azila tertegun.


"Uhuk, uhuk, uhuk," mendengar pertanyaan Papah Hendri, Azila dan Candra terkejut sampai tersedak.


"Kalian pelan-pelan, Nak. Ini, minum dulu," tutur Mamah Mitha sambil memberikan Azila dan Candra segelas air putih.


"Papah juga sih, ngapain tanya begitu, kalau udah waktunya, mereka akan ngasih kok, Pah. Tenang aja," ucap Mamah Mitha memarahi Papah Hendri.


"Iya-iya, Mah. Maaf, kalian berdua tidak apa-apa kan? Udah mendingan?" Tanya kuatir Papah Hendri.


"Tidak apa-apa, Pah," balas Azila dan Candra bergantian.


"Ya sudah, lanjut makannya, yang tadi tidak usah di pikirkan," ucap Papah Hendri yang mencoba menenangkan Azila dan Candra.


≈≈≈


Di kamar Azila.


Azila merebahkan tubuhnya di kasur, sedangkan Candra sedang duduk di sofa yang menghadap langsung ke balkon, dia bersantai sambil memainkan ponselnya.


"Welcome to Mobile Legend," suara game yang di mainkan oleh Candra, Azila sangat tahu suara game itu, karena dia sering mendengar suara game itu saat jam istirahat kantor, para karyawan laki-laki di perusahaan Papahnya selalu memainkan game itu, mereka bilang itu mabar atau main bareng.


"Awas aja kalau dia ngabisin duit cuma buat game itu, ku tenggelamkan dia ke laut Natuna," gumam Azila yang samar-samar terdengar di telinga Candra tetapi tidak jelas.


"Kamu bilang apa, Sayang? aku nggak kedengaran," teriak Candra yang ingin memastikan suara yang di tangkap oleh telinganya tadi.


"Aku nggak ngomong apa-apa, mungkin kamu lagi halu," balas Azila sambil menahan tawanya, sedangkan Candra tak membalas lagi, dia lebih fokus ke game di ponselnya.


20 menit telah berlalu, dan Candra sudah selesai memainkan game di ponselnya, Candra tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan selain dirinya di kamar.


"Zila kemana ya, kok nggak ada," gumam pelan Candra sambil celingukan mencari istrinya, lalu mata Candra tertuju ke arah kasur dengan selimut yang menggunduk ke atas, lalu Candra mendekat dan membuka gundukan selimut itu. Setelah dibuka, ternyata ada Azila di dalamnya, dia sedang tidur dengan pulas nya sambil memeluk kedua lututnya.


"Apa dia kedinginan?" Pikir Candra dalam hati.


"Pantes aja dia kedinginan, dia tidur pakai baju tipis di suhu ruangan yang sedingin ini sih," ucap Candra dalam hatinya.


Lalu Candra mengatur suhu AC dari 16°C menjadi 28°C dan Candra menggendong tubuh Azila untuk di benarkan posisi tidurnya.


Sekarang Azila sudah tidur telentang, lalu Candra melepas kemeja dan celananya, dia berjalan ke arah lemari pakaian milik Azila, Candra mencari-cari celana pendek yang pas untuk dipakainya.


Setelah agak lama dia mengobrak-abrik lemari Azila, akhirnya dia menemukan celana pendek berwarna pink dengan motif Hello Kitty, lalu Candra memakainya celana pendek itu. Setelah dipakai, tubuh seksi Candra terpampang begitu jelasnya, dengan gundukan di pangkal pahanya yang mencuat ke depan menampakkan seberapa besar adik kecilnya. Walaupun celana pendek itu akan mencoreng harga dirinya sebagai laki-laki, tapi celana pendek itu lebih nyaman di gunakan tidur daripada tidur memakai celana kerja.


Setelah itu, Candra naik ke atas kasur dan ikut tidur di samping Azila, dengan tangan kirinya yang di jadikan bantal di kepal Azila, lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Azila. Candra dan Azila tertidur begitu nyaman, dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka dan hanya memperlihatkan kepela mereka.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙