My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Hantu gentayangan



Mobil sport berwarna merah milik Kevin berhenti di loket masuk sebuah taman bunga, di atas loket tempat mobil Kevin berhenti tertulis Garden Flower. Taman yang luas dengan bunga yang tertanam rapi dengan berbagai klasifikasi, jenis, dan warna.


Mobil sport merah tadi telah terparkir di tempat yang sudah di sediakan petugas, saat pintu terbuka keluarlah dua manusia dengan kaca mata hitam yang menghiasi wajah kece mereka.


Kevin dan Nabila berjalan memasuki kawasan taman bunga mawar yang beraneka macam warna, tinggi bunga-bunga di sana hanya setinggi pinggang orang dewasa tetapi berbunga lebat.


Nabila berjalan di pembatas selokan sambil merentangkan tangannya seperti orang berlatih keseimbangan, sedangkan Kevin berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana layaknya cowok cool, dan Kevin berjalan di jalan biasa mendampingi Nabila.


"Apa kamu tidak takut kepanasan, Nab?" Tanya Kevin.


"Ngapain aku takut?" Jawab Nabila yang memberi pertanyaan balik ke Kevin.


"Kamu nggak takut kalau kulitmu jadi item?" Tanya Kevin lagi.


Nabila mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Kevin, "Cowok ini takut item, ya," ucap Nabila dalam hatinya.


"Mau kulitku item kayak areng, mau putih bening seperti tanpa kaca, itu bukan masalah bagiku ataupun kebanggaan bagiku," jawab Nabila dengan wajah santainya dan mencoba untuk menyeimbangkan langkahnya.


"Lagian, kalau ada cowok yang bener-bener suka sama aku, dan bener bener tulus mencintaiku dari dalam lubuk hatinya, dia pasti menerima aku apa adanya dan bukan ada apanya," imbuh Nabila yang menegaskan jawabannya barusan.


Kevin terdiam sejenak memikirkan ucapan Nabila barusan, "Apa aku benar-benar mencintai dia? Apa aku hanya tertarik dengan kecantikan dan keseksian tubuhnya saja?" Tanya Kevin pada dirinya sendiri di dalam hati.


Sepanjang perjalanan, Kevin dan Nabila saling hening tanpa ada canda tawa seperti di cafe tadi. Kevin yang sedari tadi memikirkan dan menganalisa, apakah perasaannya terhadap Nabila itu tulus atau hanya sekedar tertarik saja.


Akhirnya Kevin mengumpulkan semua keberanian dan kepercayaan dirinya yang sempat pudar di cafe, Kevin menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan-lahan. "Nab, apa kamu pernah pacaran?" Tanya Kevin yang sudah berhasil mengumpulkan kepercayaan dirinya yang hilang.


"Emm," Nabila mengingat-ingat sambil memicingkan matanya ke atas, "Sejauh otak ku mengingat, aku sudah pacaran sebanyak 0 kali," jawab Nabila dengan memanggut-manggutkan kepalanya.


Hati Kevin berdebar merasakan perasaan yang amat bahagia karena dia senang wanita yang sekarang di cintainya belum terjamah cinta orang lain, tapi di sisi lain, kepercayaan dirinya tiba-tiba menurun secara perlahan.


"Tapi, sekarang aku sedang menunggu orang yang benar-benar tulus cinta padaku, aku menunggunya untuk mengungkapkan perasaannya, dan aku akan menerima dia, maybe," imbuh Nabila sambil melirik Kevin sejenak lalu kembali menghadap depan lagi.


Mendengar ucapan Nabila barusan, kepercayaan diri Kevin yang sudah hampir pudar lagi, tiba-tiba melonjak dan memenuhi tubuh Kevin, dia berpikir kalau ucapan Nabila barusan adalah kode buatnya, otak Kevin bekerja lebih cepat untuk menyusun kata-kata indah yang akan di utarakan ke Nabila.


"Nab," panggil Kevin sambil melihat wajah Nabila.


"Hmm," jawab Nabila sembari menengok melihat wajah Kevin.


"Apa kamu percaya dengan cinta pandangan pertama?" Tanya Kevin yang sekarang melihat lurus ke depan.


"Maybe," jawab singkat Nabila, "Kenapa tanya begitu?" Lanjut Nabila bertanya.


"Karena, aku sudah mengalami itu beberapa minggu yang lalu, dan sekarang aku sudah sangat mencintai dia dan ingin segera menjadi pendamping hidupnya sampai mati," jawab Kevin dengan penuh keseriusan di setiap kata yang terucap.


"Dia pasti wanita yang sangat beruntung dan hebat, karena bisa mendapatkan cinta seorang Kevin Lewis," kata Nabila yang memuji wanita itu.


"Apa kamu tidak ingin tahu siapa wanita itu?" Tanya Kevin sambil terus berjalan menatap depan.


"Apa aku boleh berkenalan dengan dia?" Tanya balik Nabila.


"Tentu boleh, mau kenalan sekarang? Dia ada di sini, kok," jawab Kevin sambil memandang Nabila.


"Beneran? Dimana dia sekarang?" Tanya Nabila sambil celingukan mencari wanita yang menurutnya bisa menaklukkan hati Kevin pada pandangan pertama. Nabila terheran karena sejauh matanya memandang, dia tidak menemukan wanita yang menurutnya bisa membuat Kevin jatuh hati, mata Nabila hanya menemukan ibu-ibu yang sedang berfoto ria dengan keluarga mereka. "Apa kamu penyuka ibu-ibu seperti Raffi Ahmad?" Tanya Nabila.


Kevin tersenyum dengan kepolosan yang di tunjukkan oleh Nabila. Kevin menarik nafas dari hidungnya dan dihembuskan perlahan-lahan lewat mulut.


Mendengar ucapan Kevin barusan membuat Nabila terkejut dan berhenti seketika, detak jantung Nabila yang sebelumnya normal dan biasa-biasa saja, tiba-tiba berdetak begitu kencang dan semakin kencang hingga membuatnya kehilangan keseimbangannya.


Nabila terjatuh dari pembatas selokan dan jalan, Kevin yang melihat Nabila kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke jalanan, dengan sigap Kevin membalikkan badannya dan menangkap tubuh Nabila, karena posisi kaki Kevin yang kurang pas saat menerima tubuh Nabila yang kehilangan keseimbangan, akhirnya mereka berdua jatuh ke jalanan dengan posisi Kevin tertimpa tubuh Nabila.


Pandangan mereka bertemu satu sama lain, jantung mereka berdua saling berpacu sampai suara detak jantung mereka terdengar nyaring ke telinga.


Kevin dan Nabila semakin masuk ke dalam tatapan mereka, perlahan wajah mereka saling mendekat, semakin dekat dan dekat hingga berjarak setengah senti saja. "Ehem," deheman beberapa ibu-ibu yang sedang berkarya wisata dengan anak-anak mereka.


Merasa ada adegan yang belum pantas di lihat anak kecil, para ibu-ibu segera menutup mata anak mereka masing-masing. "Jangan ngintip, Nak. Ada hantu gentayangan di depan," ucap salah satu ibu ke anaknya.


Kevin dan Nabila yang terkejut, sontak langsung berdiri dan merapikan pakaian mereka lalu berjalan pergi dari kerumunan ibu-ibu itu.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi menuju tempat tertinggi di taman itu, di sana terpampang dengan jelas semua keindahan bunga-bunga yang sedang bermekaran.


"Nab, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Kevin yang kuatir.


"Emm," jawab singkat Nabila.


Mendengar jawaban Nabila, hati Kevin menjadi sedikit tenang, "Aku minta izin boleh?" Tanya Kevin.


"Izin apa?" Balik tanya Nabila.


"Aku mau minta izin ke kamu, kalau aku akan mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati, apa kamu mengizinkan ku untuk itu?" Tanya Kevin lagi sambil memandang lekat mata Nabila.


Tangan Kevin kini menggenggam erat kedua tangan Nabila dan kini tubuh mereka saling berhadapan.


Nabila tersipu malu bercampur dengan perasaan tidak menyangkanya, setelah sekian ratus laki-laki yang mengungkapkan cintanya pada Nabila, hanya Kevin lah yang berhasil memporak-porandakan hati Nabila.


Dinding yang membentengi hati Nabila kini sudah hancur lebur tak bersisa karena ulah Kevin, pandangan Nabila menjadi tidak fokus, sesekali dia menatap wajah Kevin dan sesekali membuang muka ke samping dan atas sambil menahan air matanya agar tidak keluar.


Nabila manarik nafas dalam-dalam lalu perlahan di hembuskan, "Apa kamu benar-benar tulus mencintaiku, Kevin?" Tanya Nabila yang sekarang menatap lekat manik hitam milik Kevin.


"Apa kamu menemukan kebohongan di mataku ini, Nabila? Aku sudah menaruh hatiku sejak aku melihatmu malam itu, aku sudah melabuhkan hatiku di pelabuhan terakhir yang ada di depanku ini," jawab Kevin dengan keseriusan yang terpancar dari setiap kata dan sorot matanya.


Nabila sudah tak kuasa menahan air mata bahagianya, dia melepaskan genggaman Kevin dan langsung memeluk tubuh Kevin.


"Kamu berhasil, Kevin. Kamu berhasil memporak porandakan hati yang sudah aku jaga selama ini," ucap Nabila di sela isakan tangis bahagianya.


"Apa ini berarti kamu menerima ku, Nabila?" Tanya Kevin yang masih belum percaya.


"Aku harus memberimu jawaban yang bagaimana, Sayang?" Jawab Nabila sambil mengeratkan pelukannya dan sedikit tertawa.


Kevin yang mendengar Nabila memanggilnya sayang, saat itu juga dia tahu kalau Nabila menerima cintanya dan Kevin mebalas pelukan Nabila.


"Kamu terlalu kencang memelukku, Sayang," bisik Kevin di telinga Nabila, lalu Nabila mengendurkan pelukannya.


Mereka berpelukan cukup lama dan tidak sadar kalau ibu-ibu yang memergoki mereka tadi, sekarang melihat mereka.


"Jangan ngintip, hantu gentayangan tadi pindah kesini," ucap seorang ibu sambil menutup mata anaknya.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙