
Bosan melihat sepasang suami istri yang sedang tidur sambil berpelukan di atas ranjang, Eldar keluar meninggalkan Candra yang masih betah dengan suasana romantis di ruang tunggu. Ya, memang Candra tampak kuat, namun di dalam dirinya sudah panas ingin segera pulang lalu memeluk Azila seerat mungkin.
Eldar berjalan keluar dari rumah sakit, sebenarnya dia ingin duduk di taman rumah sakit, tapi suasana taman itu tidak kalah dengan ruang tunggu tadi. Banyak keluarga pasien yang berada di sana, dari kalangan anak muda yang baru menikah sampai orang tua pun ada di sana. Terlalu ramai untuk Eldar menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah pergi dari taman, Eldar berjalan melewati gerbang masuk rumah sakit, dia melihat Indomaret yang lumayan sepi di seberang jalan. Mungkin karena masih waktu Maghrib jadi semua orang belum pada keluar untuk menikmati malam di sepanjang jalan.
Eldar menyebrang jalan lalu masuk ke dalam Indomaret, dia membeli roti, beberapa snack, dan minuman dingin. Setelah membayar belanjaannya, Eldar duduk di teras Indomaret yang cukup luas dengan beberapa kursi di sana.
Eldar menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, dia memejamkan matanya sambil bersandar di kursi dan mendongak ke atas.
"Hari yang berat, ya," ucap seorang laki-laki yang berdiri di belakang Eldar.
Perlahan Eldar membuka matanya, dia melihat wajah seorang laki-laki yang berjarak kurang dari setengah meter dari wajahnya. Eldar menegakkan tubuhnya dan mengabaikan laki-laki di belakangnya.
Laki-laki tadi berpindah ke samping Eldar, "Boleh kenalan?" tanyanya, "Nichol," lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
Dengan sedikit ragu, Eldar menyambut uluran tangan laki-laki bernama Nichol itu, "Eldar," ucapnya.
"Udah tau," ucap Nichol sambil tersenyum.
"Tau darimana?" tanya Eldar bingung. Eldar cepat-cepat melepaskan tangannya, "Jangan-jangan dia penguntit," batin Eldar.
"Barusan," jawab Nichol, "Setelah wanita cantik di depanku, ini, memperkenalkan dirinya," lanjut Nichol.
"Ooh, kirain," ucap Eldar lega.
"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Nichol sambil memegang kursi di samping meja Eldar.
"Ya, silahkan," jawab Eldar. Sebenarnya Eldar masih ragu dengan laki-laki yang baru dikenalnya ini, tapi kursi di sini adalah untuk umum. Jadi, siapa saja boleh menempatinya, toh kalau dia memiliki niat jahat, pasti akan berpikir berkali-kali lipat karena orang-orang mulai ramai berlalu lalang.
"Aku nyanyi boleh?" tanya Nichol sambil mengeluarkan gitarnya dari tas gitar.
"Iya, silahkan," jawab Eldar sambil tersenyum lalu menyibukkan dirinya dengan ponselnya.
Nichol menyetel gitarnya sambil pemanasan suaranya, sedangkan Eldar duduk bersandar sambil melihat foto-foto dirinya bersama Naza dari sejak awal pacaran hingga terakhir mereka bertemu.
"Semoga suka," ucap Nichol. Eldar mengangguk dan tersenyum.
Nichol mulai memetik senar gitarnya sambil mencoba mendapatkan feel dan menyalurkannya ke wanita cantik di depannya.
Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa
Tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita
Di saat ku tertatih
Tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti
Demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Kita telah lewati
Rasa yang pernah mati
Bukan hal baru
Bila kau tinggalkan aku
Tanpa kita mencari
Jalan untuk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku
Di saat ku tertatih
Tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti
Demi keyakinan ini
Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Dan ini yang terakhir
Ini yang terakhir
Tak kan ku siasiakan hidupmu lagi
Ini yang terakhir
Dan ini yang terakhir
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang
Membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
Eldar tiba-tiba menitihkan air matanya, dia sangat tahu lagu ini, lagu dari Last Child dan Giselle yang berjudul Seluruh nafas ini. Dari kecil sampai beranjak dewasa Eldar tinggal di Indonesia, baru setelah dia lulus SMA Eldar pindah ke Los Angeles dan tinggal bersama kedua orangtuanya.
"Waduh, kayaknya salah lagu nih aku," ucap Nichol dalam hati.
"Kenapa menangis? Suaraku nggak enak, ya?" tanya Nichol.
Eldar menggeleng, "Enggak kok, suaramu enak banget," jawab Eldar.
"Kok malah nangis kalau enak?" tanya Nichol.
"Nggak apa-apa, cuma ingat seseorang aja," jawab Eldar sambil cepat-cepat mengusap air matanya.
"Baiklah, karena kamu nangis gara-gara aku, maka aku harus tanggung jawab," ucap Nichol.
"Caranya?" tanya Eldar.
Nichol kembali memainkan gitarnya, dia menyanyikan lagu romantis berjudul I Like You So Much, You'll Know It* versi bahasa inggris, OST dari drama A Love So Beautiful*.
Eldar sedikit terhibur karena suara Nichol yang lembut dan mulus membuatnya tersenyum, bahkan dia lupa akan kesedihannya saat ini.
"Mission completed," ucap Nichol saat melihat Eldar tersenyum.
"Misi apaan?" tanya Eldar bingung.
"Membuat bidadari tersenyum," jawab enteng Nichol.
"Hebat dong bisa bikin bidadari tersenyum," balas Eldar.
"Hebat sih hebat, tapi sayang, bidadarinya sedikit telmi," ucap Nichol.
"Emang ada bidadari yang telmi?" tanya Eldar.
"Mungkin," jawab Nichol, "Untung cantik," gumam Nichol dalam hati.
"Oh ya, aku mau pergi dulu, ya, mau jengukin teman kerjaku yang masuk ke rumah sakit," ucap Nichol sambil memasukkan gitarnya ke tas gitar.
"Oke, semoga temanmu cepet sembuh," ucap Eldar.
"Dia memang harus cepet-cepet sembuh karena harus mengajari pacarnya agar lebih pintar sedikit," balas Nichol beranjak pergi meninggalkan Eldar.
"Pasti temanmu sangat susah saat pacaran dengannya," ucap Eldar.
Nichol berhenti setelah melangkah beberapa jengkal lalu berbalik, "Mungkin," jawabnya.
"Semoga temanmu kuat mengajarinya, dan pacar temanmu, itu, mudah diajari," ucap Eldar lagi.
Nichol tersenyum mendengar ucapan Eldar, "Semoga saja," jawab Nichol sembari kembali beranjak melanjutkan langkahnya.
Eldar kembali menghadap depan, bibirnya tersenyum dan entah mengapa apa setelah bertemu laki-laki tadi hatinya merasa sedikit lega walaupun tidak sepenuhnya.
Ting ting tung tung.
Ponsel Eldar berdering, lalu dia melihat siapa yang menelponnya.
"Kak Candra," gumam Eldar setelah melihat layar ponselnya, lalu dia mengangkatnya.
"Ada apa, Kak?"
"Kamu di mana?" tanya Candra.
"Di Indomaret depan rumah sakit," jawab Eldar.
"Cepatlah kembali! Temani Nabila di sini! Kakak mau keluar sebentar," ucap Candra.
"Kan sudah ada Kak Kevin," jawab Eldar.
"Kevin baru saja pergi menjemput calon mertuamu di bandara," ucap Candra.
"Masih lama, Kak," balas Eldar dengan suara males karena semua orang sudah mendesak agar dia dan Naza segera menikah.
"Yang penting bakal jadi mertuamu," balas Candra, "Sudah, cepatlah kembali! Kakak harus segera pergi," lanjut Candra.
"Iya-iya, laki-laki bawel," balas Eldar sembari langsung menutup sambungan teleponnya.