
Mobil yang membawa Naza dan Eldar sudah berhenti di samping jalan, mereka berdua duduk lesehan di dekat trotoar di mana banyak sekali penjual di samping sepanjang jalan.
"Ini, Mas, Mbak, nasi pecelnya. Silahkan dimakan," ucap ibu penjual.
Ibu penjual itu terlihat sudah tua, jika dilihat sekilas saja pasti orang-orang sudah tahu kalau ibu penjual itu usianya sudah di atas 60 tahun.
"Terima kasih, Buk," ucap Naza. Ibu penjual tadi tersenyum.
"Iya, sama-sama," ucap Ibu penjual lalu kembali ke dagangannya.
Ibu itu menjajakan dagangannya dengan menggunakan bakul lalu digendong dan tanpa ada stand untuk jualan. Bakulnya pun cukup besar karena bukan hanya berisi nasi dan piranti pecel, tapi ibu itu juga menjual nasi kuning.
Naza dan Eldar memilih makan di sana karena mengikuti usulan pak supir. Pak supir mengatakan kalau mencari makan di perjalanan lebih baik mencari yang penjualnya sudah tua. Kebanyakan orangtua itu masakannya lebih enak dan dapatnya pun lebih banyak.
Pak supir memberi saran itu karena Eldar tidak mau makan di restoran, dia meminta pak supir untuk mencari warung pinggir jalan atau penjual yang seperti ibu penjual pecel ini.
"Pak supir nggak kamu ajak makan di sini?" tanya Eldar.
"Belum ngajak," jawab Naza.
"Kenapa kamu belum ajak, Pak supir? Dia udah nyetir mobil dari jam tiga malam lho," ucap Eldar.
"Iya, ini, juga mau ku panggil," ucap Naza sembari beranjak berdiri.
Naza menghampiri pak supir yang sedang bersandar di samping pintu mobil sambil menghisap rokok, melihat lalu lalang pagi hari sambil ditemani rokok memang sebuah kenikmatan tersendiri bagi pak supir.
"Pak, diajak ikut sarapan bareng sama Eldar," ucap Naza yang berdiri di depan mobil.
"Ti-tidak usah, Tuan. Nanti malah ganggu waktunya tuan sama non Eldar," ucap pak supir.
"Hallah, pakai sok-sokan nggak enak, ayo cepet ikut," ucap Naza, "Kalau kamu nolak, nanti bakal kena marah sama dia mau? Terus ku pecat juga mau?" ancam Naza.
"Haduuh, jangan dong, Tuan. Nanti kalau saya dipecat, saya mau kerja apalagi," ucap pak supir dengan nada takut.
"Makanya, kalau diajak sama majikan nggak usah malu-malu, terima aja. Lagian bukan ngajakin yang aneh-aneh juga," ucap Naza.
"I-iya, Tuan. Saya mau," jawab pak supir sambil menunduk.
"Kenapa Bapak malah nunduk gitu? Dari dulu kan udah ku bilangin kalau jangan pernah nunduk di depanku, aku ini, bukan pejabat," ucap Naza.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya lupa," jawab pak supir dengan nada gugup.
"Bapak tuh lebih tua dari Mama sama Papa, jadi jangan pernah nunduk di depan orang yang lebih muda. Walaupun Bapak kerjaannya cuma supir pribadi, Bapak juga tetep punya harga diri sebagai orangtua, dan harus dihormati sama yang lebih muda, bukan malah bapak yang hormat," ucap Naza dengan nada sedikit meninggi.
"Naza, kenapa lama sekali manggilnya?" ucap Eldar dengan sedikit berteriak di trotoar.
Naza berbalik badan, "I-iya, pak supir mau menghabiskan rokoknya dulu katanya," jawab Naza.
"Kalau gitu cepat," ucap Eldar sembari duduk lagi.
"Oke, Sayang," ucap Naza sambil tersenyum lebar.
"Bapak cepet nyusul ya, aku duluan, dan ingat, jangan ngerokok di kalau di dekatku atau di dekat Eldar," ucap Naza sembari berjalan pergi.
"Baik, Tuan," balas pak supir.
Setelah Naza pergi, pak supir kembali menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Selama aku jadi supir pribadi keluarga-keluarga kaya, baru kali ini aku mendapatkan majikan yang nggak mau dihormati," gumam pak supir sembari menghisap rokoknya sampai habis.
Setelah selesai merokok, pak supir pergi menemui Naza dan Eldar untuk memenuhi ajakan kedua majikannya itu.
"Bapak pesen aja, terserah mau makan apa aja, biar nanti Naza yang bayarin," ucap Eldar.
"Yang punya banyak duit kan kamu," ucap Eldar sambil tertawa kecil.
"Hm, iya-iya, aku yang bayar," ucap Naza dengan nada melas.
"Enggak usah, Tuan. Biar saya bayar sendiri aja," sahut pak supir.
"Eits, siapa yang nyuruh bicara? Pak supir diam aja, kalau nggak ditanya atau nggak ada yang nyuruh bicara, Bapak nggak usah bicara, oke," ucap Naza.
"Ba-baik, Tuan," jawab pak supir.
"Sekarang pesen sana! Nanti keburu panas di sini," perintah Naza.
Pak supir menuruti ucapan Naza lalu memesan nasi kuning ke ibu penjual tadi. Setelah selesai sarapan Naza membayar semuanya lalu mereka melanjutkan perjalanan yang baru setengah jalan.
Di tengah perjalanan Naza dan Eldar saling sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sudah dua jam setengah mereka melintasi jalan raya tanpa berhenti, kecuali saat lampu merah menyala membuat mereka harus berhenti di belakang garis marka.
"El!" panggil Naza.
"Apa?" jawab Eldar.
"Sebenarnya kita mau ke mana? Dari jam tiga pagi sampai sekarang jam setengah 10 siang masih aja belum sampai," ucap Naza.
"Coba kamu lihat Google maps!" ucap Eldar.
Naza segera membuka ponselnya lalu mencari aplikasi Google maps. Setelah membukanya dia mengecilkan layarnya untuk mengetahui dia ada di mana.
"Jogja?" ucap Naza sambil menoleh ke Eldar.
Eldar mengangguk dan tersenyum, "Gimana? Udah puas sama jawaban Google maps?" tanya Eldar sambil tersenyum cengengesan.
"Sejak kapan kamu membuat rencana ke Jogja?" tanya Naza.
"Baru tadi malam," jawab Eldar.
"Nggak ngajak diskusi aku dulu?" tanya Naza dengan suara sedikit meninggi.
"Maaf, karena rencananya aku mau bikin kejutan untukmu," jawab Eldar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa nggak bilang kalau mau bikin kejutan?" tanya Naza.
"Kalau bilang-bilang itu, namanya bukan kejutan," ucap Eldar dengan nada sedikit geram.
"Oh, iya juga ya," ucap Naza sambil menertawakan kebodohannya.
"Lalu, kenapa tadi aku tanya mau ke mana malah kamu kasih tau?" tanya Naza.
"Anggap aja itu uang tutup mulut untuk mulutmu yang terus-terusan bertanya pertanyaan yang sama," jawab Eldar sambil membuka bungkus snack lalu memakannya.
"Uang tutup mulut apaan? Kalau cuma kata Jogja, ya, masih kurang," ucap Naza.
"Ini nih yang sering diucapin sama orang Indonesia, dikasih hati malah minta jantung," ucap Eldar sambil menggigit snacknya dengan keras.
"Siapa peduli, yang penting uang tutup mulutnya masih kurang, dan kamu harus tambahin kalau kamu tidak mau aku selalu bertanya sepanjang jalan," ucap Naza sambil merebut snack dari tangan Eldar.
"Coba, pacarku yang tampan ini, minta ditambahin apa," ucap Eldar dengan nada manja dan tatapan yang seakan menggoda.
Gleekk! Naza menelan ludahnya ketika melihat Eldar seperti itu, "Kenapa pacarku bisa seperti anime hentai begini," batin Naza.
Sahabat, jangan lupa tekan like dan tinggalkan komentar ya. Beri author semangat untuk lebih semangat lagi updatenya. Sehari udah dua bab masa kalian nggak kasih like.