My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Peperangan



Sedikit himbauan, jika kalian masih 18 tahun ke bawah, sebaiknya skip bab ini. Tetapi, jika kalian masih mau baca, ya terserah. Yang penting author sudah menghimbau. Dan bacalah bab ini setelah buka puasa.


———————————————


Candra kembali masuk ke dalam kamar, dia tersenyum melihat Azila masih duduk bersandar di sandaran tempat tidur, tetapi Azila sudah menutupi tubuhnya dengan selimut. Candra berjalan mendekat dan naik ke atas ranjang.


"Kenapa ditutup?" tanya Candra dengan senyum nakal.


Bughh ....


Azila memukul wajah Candra dengan bantal di sampingnya karena kesal melihat wajah Candra, "Kenapa wajahmu jadi mesum begitu?"


"Sakit, Sayang. Telinga ku jadi berdenging, nih, gara-gara kamu," keluh Candra sambil memegang telinganya.


"Salah sendiri, siapa suruh kamu jadi mesum," jawab Azila.


Setelah merasa telinganya baikan, Candra duduk di depan Azila dan mulai memajukan wajahnya. Kini wajah Candra sudah tepat berada di depan Azila dengan hanya berjarak kurang dari satu sentimeter. Mereka berdua bisa merasakan hembusan napas yang hangat satu sama lain.


"Kamu sudah tiga hari mengabaikan aku, Sayang. Bagaimana bisa aku tidak berwajah mesum saat melihat mu," lirih Candra.


"Apa kamu hanya tertarik pada tubuhku?" tanya Azila dengan suara lemah.


"Ssttt," Candra meletakkan telunjuknya di bibir Azila, "Aku jatuh cinta padamu, dengan hatimu, dengan dirimu, ragamu hanyalah bonus dari Tuhan untuk laki-laki tampan di depanmu, ini," jawab Candra.


Senyum Azila mengembang dan entah kenapa dia merasa begitu bahagia setelah mendengar jawaban Candra barusan.


"Aku sangat mencintaimu musuhku," ucap Azila setelah menyingkirkan jari Candra dari bibirnya.


Candra tersenyum mendengar Azila memanggilnya musuh, dia kembali teringat bagaimana kacaunya hubungan mereka dulu.


"I LOVE YOU My Enemy," jawab Candra.


"I LOVE YOU TOO My Enemy," balas Azila dengan memberi kecupan di bibir Candra.


"Bisakah, itu, ku artikan jika kamu lagi menggoda ku?" tanya Candra.


"Itu hanya hadiah kecil, masih ada hadiah besar yang sudah ku persiapkan untuk mu," jawab Azila.


"Benarkah?" tanya Candra. Azila mengangguk dengan senyum lebar di sana.


"Berikan padaku sekarang!" balas Candra dengan begitu semangatnya dan kembali duduk dengan tegap.


Azila tersenyum dan membasahi bibirnya menggunakan lidahnya, dia memasang wajah imut yang pasti akan menggoda semua iman para lelaki.


"Apa, itu, hadiah besar ku?" tanya Candra.


"Aku tidak bisa menjawab, itu," jawab Candra sembari menarik maju kepala Candra hingga kedua bibir mereka saling bertemu dan melakukan tugasnya.


Lidah mereka berdua saling menjelajahi setiap rongga mulut satu sama lain, ditambah sesekali Candra menyesap bibir bawah Azila. Ciuman mereka berdua semakin memanas membuat suhu ruangan menjadi gerah karena aksi mereka. Padahal itu baru permulaan.


Ctekk ....


Suara tali penyangga yang baru saja dilepas oleh Candra, perlahan dia melepaskan kain penyangga itu sambil tetap bermain bibir dengan Azila. Candra mulai memainkan tonjolan merah muda sedikit kecoklatan itu dengan jari-jarinya membuat empunya menggeliat keenakan.


Candra terus memuaskan diri dengan aktivitasnya, kini bibirnya mulai turun menyapu leher jenjang istrinya, dia memberi satu tanda cinta di sana. Tangan Candra masih asik dengan dua bakpao besar nan kenyal dengan tonjolan kecil yang sudah mengeras karena sentuhan Candra.


Bibir Candra mulai menyusup ke bawah menyapu dada Azila yang sudah tidak tertutupi apapun. Kini gantian bibir Candra yang memainkan tonjolan kecil itu, tak lupa dia mengikutsertakan lidahnya untuk bermain bersamanya.


Azila yang sudah seperti orang gila hanya mampu menikmati setiap sentuhan dan permainan dari Candra, tangannya tak kuasa jika hanya diam saja saat anggota tubuh lainnya dipermainkan oleh Candra. Tangan Azila mulai mengacak-acak rambut Candra dan sesekali menjambak pelan karena permainan lidah Candra membuatnya tidak tahan akan sesuatu.


Candra meninggalkan beberapa tanda cinta di dada Azila, dia sangat puas dengan hasil kerjanya yang membuat istrinya mendapat kenikmatan duniawi.


"Apa kamu suka dengan permainan baru ku, Sayang?" tanya Candra dengan mesra.


"Sejak kapan kamu pintar bermain seperti, ini? Biasanya kamu langsung tancap, dan goyang aja," tanya balik Azila yang masih merasakan nikmat dunia.


"Aku mendapatkan ilmu, ini, dari Papah, dia memberitahu ku semuanya, dan menurunkan ilmunya padaku," jawab Candra.


"Ceh, Papah memang diam-diam menghanyutkan," ucap Azila.


"Apa kamu tidak memiliki kejutan untuk ku di situasi seperti, ini?" tanya Candra.


"Aku wanita polos, Sayang," jawab Azila sambil merapatkan kakinya dan menutupi bakpao kembarnya dengan kedua tangannya.


"Maka aku akan membuat mu tidak polos lagi, Sayang," balas Candra dengan senyum yang merekah.


Candra mulai membuka kaki Azila dan sedikit memajukan tubuhnya, dia meraih tangan Azila dan membebaskan dua bakpao yang sempat terkurung oleh tangan Azila. Candra mulai memutar-mutar tonjolan kecil tadi dengan jempol dan telunjuknya, bergantian dengan lidah Candra.


Azila kembali gila dengan kelakuan Candra, napasnya mulai memburu lagi, dia sedikit lega saat Candra berhenti dengan aktivitasnya. Mata Azila yang sayu tiba-tiba membulat saat Candra membuka kemeja yang ia kenakan.


"Aku begitu merindukan tubuh kekar, itu," lirih Azila.


Candra juga mulai melepaskan celananya dan menyisakan kain putih bertuliskan Calvin Klein. Azila menggigit bibir bawahnya melihat Candra dengan tubuh atletis dan hanya tertutup kain putih di area kebesarannya.


Melihat Azila menggigit bibir bawahnya membuat Candra semakin semangat untuk melancarkan aksi selanjutnya. Candra mengangkat kain segitiga berwarna merah yang dikenakan Azila, dia melepaskan kain itu dan membuangnya entah kemana.


Lidah Candra mulai beraksi di lubang yang selalu dijaga oleh Azila, beberapa menit sudah Candra bermain di sana hingga tubuh Azila kembali bergetar untuk kedua kalinya.


Candra merebahkan tubuh Azila yang masih lemas karena mencapai puncak dunia. Candra melepaskan kain putihnya dan membebaskan adik kecil yang sudah berdiri tegak siap untuk berperang.


Azila tersenyum melihat Candra yang sangat menikmati tubuh gendutnya. Candra mulai melancarkan penyerangan dan membuat Azila merasakan benda hangat masuk ke dalam tubuhnya. Perlahan Candra bergerak dan membuat benda itu ikut bergerak.


Entah sudah berapa lama mereka saling menikmati siang yang panas dengan kamar ber-AC tetapi tetap panas karena aksi mereka siang itu. Tidak banyak posisi yang mereka lakukan karena kondisi Azila dengan perut besarnya. Candra tidak memaksakan gejolak api di dalam dirinya, setelah mencapai puncak dunia untuk yang pertama setelah beberapa hari, Candra menyudahi peperangan itu karena lawannya sudah terkapar lemas dengan bibir melengkung ke atas.


Ini yang pertama dan terakhir kalinya saya menulis bab full 21+ di novel ini. Otak author tersiksa memikirkan bab ini, apalagi jiwa author juga ikut tersiksa saat menulis setiap kata di bab ini. Jadi, kalian berilah author like yang banyak. Oke.