
Malam sudah menutupi langit hingga gelap. Orang-orang yang tadinya ramai-ramai berkumpul bercanda tawa kini sudah pulang ke rumah masing-masing, termasuk Eldar yang juga masih ikut tidur di rumah Naza.
Jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tetapi Kean masih terjaga sambil senyam-senyum di gendongan Candra, begitu pula dengan Lean yang masih di gendongan Azila sambil meminum asi mamanya.
"Nina bobo, oh nina bobo, Kalau tidak bobo, digigit Papa, Nina bobo, oh nina bobo, Kalau tidak bobo, digigit Papa." Candra menyanyikan nina bobo versinya sendiri untuk Kean.
Walaupun digigit Papa, tapi itu berhasil membuat Kean menguap dan mulai terpejam. Azila tersenyum melihat Candra yang selalu membantunya untuk menidurkan Kean dan Lean. Sebenarnya Azila kasihan melihat Candra yang kurang mendapat perhatiannya semenjak Kean dan Lean lahir.
Bukannya tidak peduli lagi terhadap Candra, tetapi Azila sudah dibuat capek oleh dua jagoan mereka. Walaupun sudah dibantu Mamah Mitha dan Bunda Putri, Azila selalu mengajak keduanya atau salah satu dari dua jagoannya ketika dia tidak melakukan apapun. Bukannya tidak percaya pada Mamah Mitha dan Bunda Putri, tapi dia tidak mau merepotkan kedua wanita paruh baya itu.
"Sayang, Kean udah tidur nih, rebahin di mana?" tanya Candra dengan berbisik.
"Rebahin di ranjang bayi aja," jawab Azila dengan berbisik juga.
Candra mengangguk lalu merebahkan Kean di ranjang bayi yang ada di samping ranjangnya. Setelah itu Candra duduk di samping Azila yang masih menyusui Lean.
"Kamu udah makan?" tanya Candra.
Azila menggeleng, "Belum," jawab Azila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kita makan di luar yuk, udah lama kita nggak pergi bareng lagi," ajak Candra.
"Hm," Azila berpikir, "Oke, kita makan di luar," jawab Azila menyetujui ajakan Candra.
"Oke, kalau gitu aku ganti baju dulu," ucap Candra, "Kamu ganti baju juga atau pakai, itu, aja?" tanya Candra sambil melepas kaosnya.
"Gantilah, masa iya aku keluar pakai baju menyusui," jawab Azila.
"Siapa tau, kan aku cuma tanya," balas Candra, "Mau ku siapin baju ganti nggak?" tanya Candra menawari.
"Sekalian siapin aja, aku nidurin Lean dulu," jawab Azila.
"Ya udah, aku kencing dulu, nanti aku siapin," ucap Candra sembari berjalan masuk ke kamar mandi.
Azila bangkit dari duduknya lalu berjalan ke dekat pintu kaca menuju balkon, dia menimang-nimang Lean sambil bernyanyi.
Timang timang anakku sayang
Jangan menangis Papa di sini
Timang timang anakku sayang
Jangan menangis Mama bernyanyi
Bila kelak engkau dewasa
Sayangi saudara sayangi sesama
Dengan cinta
Jujur lakumu jujur ucapmu
Menjalani hidup
Cantik jiwamu cantik parasmu
Kala engkau tersenyum
Timang timang anakku sayang
Cepatlah tidur janganlah nakal
Timang timang anakku sayang
Mimpi yang indah nyenyakkan tidurmu
Suara lembut Azila mengiringi Lean untuk tertidur, setelah dinyanyikan Lean sudah larut dalam tidurnya. Azila membawa Lean ke ranjang bayi lalu membaringkannya di sebelah Kean yang sudah tidur duluan.
Setelah membaringkan Lean, Azila melepas baju menyusuinya lalu berjalan ke fitting room, dia mengambil sweater polos berwarna merah muda. Azila masih bingung mau memadukan sweater merah mudanya dengan bawahan apa, melihat badannya yang masih belum kembali normal membuat semua pakaiannya terasa sesak.
"Sudah," jawab Azila, "Sayang, aku bingung mau pakai baju yang mana? Semuanya sesak," tanya Azila.
Candra melihat Azila, dia baru sadar kalau ternyata Azila belum memakai bawahan. Candra mengambil alih tempat Azila lalu mulai memilih pakaian untuk Azila.
"Hm, coba, ini!" ucap Candra sambil menyodorkan dress biru muda bermotif pantai dan pohon kelapa.
"Ini, kan dress waktu aku hamil, Sayang," ucap Azila, "Malu tau," lanjutnya.
"Terus kamu mau yang mana? Kamu kan memang habis lahiran, lebih enak pakai yang longgar daripada yang ketat terus sesak, nanti kamu sendiri yang ngeluh nggak nyaman," ucap Candra.
"Enggak mau," balas Azila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dicoba aja dulu, kamu, itu, dasarnya udah cantik, jadi pakai apapun pasti tetep cantik," ucap Candra, "Percayalah sama suamimu, ini," lanjut Candra.
Azila menggelengkan kepalanya dan makin mengerucutkan bibirnya. Candra jadi geram dengan tingkah Azila yang jadi lebih manja dan tidak percaya diri.
Terpaksa Candra memakai cara memaksa agar Azila menurut. Candra meraih ujung sweater Azila lalu mengangkatnya ke atas, tapi Azila menahannya.
"Sayang, ayolah, percaya sama aku, oke," ucap Candra.
Kruyuk kruyuk kruyuk
Perut Azila berbunyi meminta jatah makan malamnya. Candra dan Azila belum sempat makan malam karena ketika semuanya makan malam Kean dan Lean menangis terus. Jadi, mau tidak mau Candra dan Azila mengurungkan makan malam mereka untuk menenangkan dua jagoan yang mulia rewel dan sering menangis.
"Tuh, perutmu udah manggil-manggil," ucap Candra.
Azila menghembuskan napas beratnya, dia mengalah dan membiarkan Candra melepaskan sweaternya. Setelah melepaskan sweater Azila, Candra memakaikan dress pilihannya tadi.
"Coba berkaca sana! Pilihan ku memang selalu, oke," ucap Candra setelah memakan dress ke Azila.
Azila berbalik melihat dirinya di kaca besar di depannya, dia memutar-mutar tubuhnya mencoba mengamati penampilannya, "Hm, lumayan juga," ucapnya sambil tersenyum.
"Makanya, jangan remehkan ilmu fashion suami tampanmu, ini," sahut Candra menyombongkan diri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Belum dipuji aja udah besar kepala, apalagi kalau dipuji, bisa meledak tuh kepala," ucap Azila.
"Tapi bener baguskan pilihan fashion ku," ucap Candra.
"Iya-iya, bagus," jawab Azila, "Kamu juga cepet ganti sana! Katanya mau ganti," lanjut Azila.
"Pilihin kamu dong, gantian," ucap Candra.
"Ih, tinggal pilih baju aja ribet suruh milihin orang lain!" geram Azila.
"Biarin, kamu kan istriku," sahut Candra sambil tertawa lalu mendorong Azila ke sisi fitting room yang jadi area semua bajunya.
"Iya-iya, jangan dorong juga dong, aku belum makan udah didorong-dorong," gerutu Azila.
"Berarti nanti kalau udah makan malem aku boleh ngapain kamu sesukaku?" tanya Candra menggoda.
"Apaan sih, cepat mau baju apa? Kaos atau sweater atau apa?" tanya Azila mengalihkan arah pembicaraan.
"Hm, apa, ya? Aku juga bingung mau pakai apa," jawab Candra, "Gimana kalau gini aja?" tanya Candra sambil memutar tubuh Azila.
"Ha? Pakai kolor, itu, aja?" tanya Azila. Candra mengangguk.
"Oh, kamu mau pamer perut kotak-kotak mu, ini," Azila meninju perut Candra, "Sama dada bidang mu, ini," Azila menampar dada kanan Candra, "Ke cewek-cewek di luar sana? Mau tebar pesona gitu ceritanya!" ucap Azila dengan sewot.
"Dih, kok jelek mulu mikirnya, kan aku cuma tanya doang," balas Candra, "Makanya aku minta pilihin kamu baju," lanjut Candra.
"Terserah!" ucap Azila sambil berjalan keluar dari fitting room.
"Hemh, habis lahiran kenapa malah jadi serem gini sih sifatnya," gerutu Candra pelan, "PMS sama nggak PMS nggak ada bedanya, serem semua," lanjutnya sambil berjalan keluar menyusul Azila.
Jangan lupa like ya, Sayang. Aku jadi nggak semangat nulis kalau kalian nggak kasih aku like.ðŸ˜