My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Menangislah



Tengah malam Eldar terbangun dari tidurnya yang tidak nyaman, dia mengambil ponselnya untuk melihat jam. Eldar menghembuskan napas besar karena ponselnya menunjukkan pukul setengah 12 malam. Entah kenapa hatinya merasa gelisah terus-menerus.


Eldar turun dari ranjang lalu berjalan masuk ke kamar mandi, dia membasuh wajahnya mencoba untuk mengusir kegelisahan, ditatapnya wajah cantiknya yang terpantul di kaca wastafel.


"Naza, sekarang kamu lagi ngapain? Apa kamu sudah tidur? Pasti kamu sudah tidur, ya," ucap Eldar.


Merasa tidak ada yang berubah sama sekali, Eldar kembali berbaring di atas ranjang dengan hati masih penuh kegelisahan. Eldar memeluk gulingnya sambil senyam-senyum, dia membayangkan guling itu adalah Naza yang sedang tersenyum kepadanya.


"Aku nggak bisa tidur, pengen tidur sambil kamu peluk," ucap Eldar sambil memeluk gulingnya dengan erat.


Tok tok tok


"Sayang," panggil seorang laki-laki.


"Naza!" ucap Eldar.


Eldar sangat mengenali suara lembut milik Naza, dia langsung turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Bibir Eldar terangkat melihat laki-laki yang terus menghantui hati dan pikirannya.


"Panjang umur kamu, baru aja aku ngomongin kamu, eh kamu malah dateng beneran," ucap Eldar yang sudah memeluk Naza.


Tidak ada jawaban, laki-laki dalam pelukannya hanya diam berdiri dengan senyum yang tak berubah.


"Kenapa badanmu dingin sekali? Kamu kehujanan, ya, pas balik ke sini?" tanya Eldar sambil menatap wajah Naza.


Naza terus tersenyum dan hanya menjawab dengan anggukan.


"Aku mau tidur sambil kamu peluk," ucap Eldar dengan suara manja dan wajah yang dibuat seimut mungkin.


Sama seperti tadi, Naza hanya mengangguk sambil tersenyum. Eldar melepas pelukannya lalu menarik tangan Naza, kini Eldar sudah berbaring di samping Naza, dia memeluk Naza begitu erat dan Naza membalas pelukan Eldar.


"Jangan macem-macem, hanya peluk aja, nggak lebih," ucap Eldar.


Naza tersenyum lalu memberi Eldar kecupan yang cukup lama di kening Eldar, "Good night, Sayang," ucap Naza.


Eldar mengangguk, dia juga memberi kecupan selamat tidur untuk Naza, tetapi dia memberi kecupan itu di bibir Naza. Perlahan Eldar tertidur dengan bibir yang terus tersenyum.


≈≈≈


Subuh-subuh Candra sudah dibuat kalang kabut saat mendapat kabar tentang kecelakaan Naza dari Nabila. Candra belum memberitahu Azila ataupun yang lainnya, dia tidak mau membangunkan Azila dan membuatnya banyak pikiran.


Sesudah mendapat telepon dari Nabila, Candra cepat-cepat mengganti pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu. Sebelum keluar dari kamar, tak lupa Candra mengecup kening istrinya.


Saat Candra baru keluar dari kamarnya, dia berpapasan dengan Bunda Putri yang ingin pergi ke dapur untuk masak. Candra memberitahu Bunda Putri apa yang sudah terjadi dan meminta Bunda Putri untuk merahasiakannya dari Eldar, lalu Candra berpamitan ke Bunda Putri untuk pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Candra langsung menghampiri Kevin dan Papah Hendri yang sedang duduk menunggu perkembangan kondisi Naza di ruang ICU.


"Gimana keadaan Kak Naza?" tanya Candra setelah mencium punggung tangan Papah Hendri.


"Masih kritis," jawab Kevin.


Kevin pun baru tahu subuh tadi kalau Naza kecelakaan, kata Dokter ada beberapa warga yang membawa Naza ke rumah sakit sekitar jam 11 malam. Setelah di bawa ke rumah sakit dengan kondisi wajah penuh darah dan pecahan kaca, Naza langsung dibawa ke ruang IGD untuk pemeriksaan.


Setelah kurang lebih setengah jam pemeriksaan, Dokter membawa Naza ke ruang operasi karena menemukan retakan tulang di tangan kanan Naza dan hidung Naza yang patah. Masih beruntung Naza bisa terhindar dari tubrukan dengan truk tronton, bisa dipastikan dia akan langsung meninggal di tempat jika itu terjadi.


Lebih dari lima jam Naza berada di ruang operasi. Setelah dari ruang operasi, dia dibawa ke ruang ICU karena kepalanya terbentur keras saat kecelakaan hingga membuatnya kritis.


Candra melihat Naza yang terbaring dengan banyak kabel menempel di dadanya. Naza bernapas dengan alat bantu karena hidungnya tidak berfungsi dengan baik. Hampir setengah wajahnya tertutup perban dan ada bagian kepala Naza yang digunduli karena bocor akibat pecahan kaca.


Kevin mengangguk, "Jam tujuh nanti mereka terbang ke sini," jawab Kevin.


Kevin, Candra, dan Papah Hendri duduk menunggu hingga jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Papah Hendri berpamitan untuk pulang karena dia harus menghadiri meeting.


"Apa kalian mau nitip sesuatu? Nanti Papah sampein ke Mamah Mitha," tanya Papah Hendri.


"Mamah mau ke sini?" tanya Candra.


"Iya, Mamah Mitha nanti ke sini bareng Nabila," jawab Papah Hendri.


"Bawain sarapan aja, Pah," ucap Kevin, "Oh ya, sama handphone ku juga, Pah. Tadi ketinggalan di meja ruang keluarga," lanjutnya.


"Oke, Kalau begitu Papah pulang dulu, nanti sore baru ke sini setelah urusan kantor selesai," ucap Papah Hendri.


≈≈≈


"Hai," sapa Nabila.


Nabila dan Mamah Mitha sudah sampai dengan rantang penuh makanan yang dibawa oleh supir. Nabila melihat senyum terpaksa dari Kevin, bahkan senyum paksaan itu hanya terlihat dalam dua detik, lalu Kevin kembali menunduk.


"Kamu sarapan dulu, ya, jangan banyak pikiran, nanti kamu juga ikut sakit," ucap Nabila yang duduk di samping Kevin.


"Temani aku makan di taman rumah sakit, ya, Sayang," ucap Kevin. Nabila mengangguk.


"Mah, aku temani Kevin makan di taman, ya," ucap Nabila sambil membuka rantang dan menyiapkan sarapan untuk Kevin.


"Hati-hati kalau jalan," ucap Mamah Mitha.


"Kamu sarapan juga? Biar Mamah siapin," tawar Mamah Mitha ke Candra. Candra mengangguk.


"Orang-orang di rumah sudah tahu?" tanya Mamah Mitha.


"Baru Bunda, Mah, yang Candra kasih tau, tapi Candra udah suruh bilangin ke semuanya kecuali Eldar," jawab Candra.


"Kapan kalian berencana memberitahunya?"


"Mungkin nunggu kondisi Kak Naza ada perkembangannya dulu, Mah, supaya Eldar tidak terlalu terpuruk," jawab Candra.


"Kalau kondisinya memburuk?"


Candra diam tidak bisa menjawab, dia tidak tega melihat Eldar saat tahu kondisi Naza sekarang.


"Lebih baik beritahu dia secepatnya, bagaimanapun juga Eldar adalah kekasih Naza, dan Naza pun juga sangat membutuhkan orang tersayangnya berada di sampingnya," ucap Mamah Mitha.


"Nanti kita bicarakan lagi sama Kevin, Mah," balas Candra. Mamah Mitha tersenyum dan mengangguk setuju.


Di taman rumah sakit Kevin duduk berdampingan dengan Nabila. Suasana masih taman sepi, Kevin menyandarkan kepalanya di bahu Nabila. Tangannya memeluk perut Nabila. Bibirnya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.


Nabila meletakkan piring di tangannya ke sampingnya, tangan kanannya mengelus-elus punggung Kevin dan tangan kirinya mengelus-elus pipi Kevin.


"Menangislah, jangan kamu tahan lagi," ucap Nabila.


Bibir Kevin semakin bergetar, dari pelupuk matanya mengalir kesedihan yang ia tahan sejak tadi. Baru kemarin dia bergurau dengan kakaknya dan sekarang kakaknya terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Ayo likenya mana? Author jadi nggak semangat kalau likenya ga kenceng.