
"Lalu bagaimana kondisi kandungannya, Dok?" Tanya Bunda Putri.
"Kandungan Nona Azila--" jawab Ibu Dokter yang menggantung.
"Kandungannya kenapa, Dok?" Tanya Bunda Putri yang mulai panik.
"Kandungan Nona Azila sangat lemah, Nyonya," jawab Ibu Dokter.
"Syukurlah," ucap Candra, Bunda Putri, dan Pak Dokter yang tak sengaja bersamaan.
"Kenapa kandungannya bisa lemah, Dok? Dan bagaimana cara mengatasinya, Dok?" Tanya Bunda Putri yang sudah lega karena tidak terjadi apa-apa pada Azila dan calon cucunya.
"Penyebab kandungan Nona Azila lemah, itu karena Nona Azila sedang banyak tekanan, banyak pikiran, makan yang tidak teratur, kurang istirahat, dan stress. Lebih baik, Tuan Candra selalu menemani Nona Azila, ajak ngobrol, jalan-jalan pagi, dan yang paling penting adalah family time dan couple time," jelas Ibu Dokter yang panjang kali lebar.
"Tuh dengerin, couple time," ucap ketus Bunda Putri sambil melotot ke arah Candra.
"I-iya, Bun," jawab Candra yang ketakutan.
"Ya sudah, kalau begitu saya dan Ibu Dokter Rizka pamit undur diri dulu, Nyonya, Tuan," pamit Pak Dokter dan Ibu Dokter.
"Oh, baiklah, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya," jawab Bunda Putri sambil menyalami Ibu Dokter dan Pak Dokter, begitupun dengan Candra.
"Tolong di jaga dan di rawat dengan baik istri dan anaknya, Tuan," ucap Ibu Dokter saat bersalaman dengan Candra.
"Siap, Dokter," jawab Candra sambil memberi senyum lebar ke Ibu Dokter.
Setelah Ibu Dokter dan Pak Dokter keluar dari kamar perawatan Candra, hawa di ruangan itu mulai gerah dan panas.
"Gerah banget sih kamar ini, padahal tadi aku kedinginan" gerutu Candra lalu menoleh ke arah Azila yang masih tak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, pantas saja hawa kamar ini jadi gerah dan panas, ternyata ada Malaikat Maut di sini," batin Candra saat melihat Bunda Putri sudah memelototi Candra sambil berkacak pinggang.
Bunda Putri berjalan menghampiri Candra yang sudah diam mematung ditempatnya, "Kemari lah anak nakal," ucap Bunda Putri sambil merenggangkan jari-jarinya yang siap untuk mencengkeram, mencakar, dan mencekik Candra.
"Bu-bunda, ampuni Candra, Can-candra minta maaf, Can-candra enggak bakal mengulanginya lagi, Bunda!" Seru Candra dengan suara yang hampir tertelan oleh ketakutan.
"Baiklah, kamu Bunda maafkan," jawab Bunda Putri yang tiba-tiba berubah dari Malaikat Maut menjadi Bidadari yang anggun.
"Ha?" ucap Candra dengan mulut yang menganga, "Gitu aja, Bun? Candra kira, Bunda mau membunuh ku," lanjut Candra, "Ternyata cu-" ucap Candra yang tiba-tiba berhenti.
"Aduuhh, Bun. Bun, sakit, Bun," teriak Candra yang mengaduh kesakitan, karena telinga Candra sudah di tarik oleh tangan Bunda Putri.
"Kamu sudah dikasih kesempatan, malah belagu. Rasakan akibatnya jika berani bermain-main sama Bunda," ucap Bunda Putri yang makin menarik telinga Candra.
"Bun, lepasin dong, telinga Candra mau lepas ini lho," ucap Candra yang matanya mulai berkaca-kaca karena sudah tidak tahan dengan jeweran Bunda Putri.
"Kamu harus berjanji dulu, kalau tidak akan membuat Azila sedih lagi dan tidak akan melawan Bunda lagi," ucap Bunda Putri yang mencoba membuat kesepakatan dengan Candra.
"I-iya, Bunda. Candra janji," jawab Candra, "Udah dong, Bun," lanjutnya lagi.
Bunda Putri melepaskan telinga Candra yang sudah sangat merah, "Bun," panggil Candra.
"Apa lagi?" Jawab ketus Bunda Putri yang sudah duduk di sebelah Azila.
"Lihat nih, Bun. Merah banget, sudah seperti bendera Merah Putih aja telinga Candra," ucap Candra sambil menunjukkan telinganya yang sangat merah karena jeweran Bundanya.
Bunda Putri tertawa melihat tingkah Candra yang masih seperti saat dia berumur 7 tahun, "Maafkan Bunda, Candra. Kamu sesekali harus diberi pelajaran, Candra. Agar tidak memiliki sifat jelek yang sangat berlebihan," jawab Bunda Putri.
"Iya-iya, Candra ngaku salah," balas Candra dengan suara lesu dan lemas.
"Kalau begitu, Bunda akan pulang dulu untuk menyiapkan makan siang. Kamu mau makan di sini menemani Zila, atau mengajaknya pulang untuk makan di rumah?" Tanya Bunda Putri yang sudah berdiri di samping ranjang tempat Azila yang masih belum siuman.
"Makan di sini saja, Bun. Kasian Zila, Bun, dia sudah menderita karena Candra, biarkan dia beristirahat dulu di sini," jawab Candra yang masih mengelus-elus telinganya yang masih sakit.
"Baiklah, nanti makanannya Bunda suruh Pak Ujang yang antar ke sini," balas Bunda Putri.
"Oke, Bunda," balas Candra dengan senyum manisnya.
"Kamu, tidak apa-apa Bunda tinggal sendirian bersama Zila?" Tanya Bunda Putri yang kuatir dengan keselamatan Candra.
"Tidak apa-apa, Bunda. Candra udah besar, dan Zila juga istri Candra, mana tega dia menyakiti Candra, Bun," jawab Candra dengan entengnya.
"Jangan terlalu naif, Candra. Zila sedang hamil muda, dan kamu sudah banyak membohonginya, kalau Zila sudah bangun, jelaskan lah secara pelan-pelan dan jangan menutupi apapun, kalau tidak, kemungkinan besar kamu akan kena tamparan dari seorang wanita hamil," balas Bunda Putri.
"Laki-laki tampan tidak akan pernah kena tamparan dari wanita, Bunda," balas Candra sambil bergaya sok cool (walaupun sebenarnya memang cool).
Sebelum membuka pintu, Bunda Putri berhenti sejenak dan berkata sesuatu, sebelum akhirnya keluar dari kamar perawatan Candra, "Semoga keberuntungan menyertai mu, Candra."
Candra berjalan ke arah ranjang lalu naik dan merebahkan tubuhnya di samping Azila yang masih belum sadarkan diri, "Sayang, maafkan kebodohan suami mu ini," ucap Candra sambil mengamati setiap inci wajah Azila yang sudah 3 hari lebih ia tinggalkan.
≈≈≈
"Capek banget berakting sakit kayak tadi, udah capek, badan sakit semua, enggak dapat bayaran pula. Betapa bodohnya aku mau menuruti Kak Candra," gerutu Eldar yang sudah terbebas dari rencana buatannya sendiri.
"Eldar!" Panggil seseorang dari kejauhan.
"Perasaan ada yang manggil namaku deh tadi, tapi siapa? Mana ada orang di sini yang mengenal seorang Eldar Safira ini," gumam Eldar sambil mengibaskan rambutnya ke kiri dan ke kanan.
"Eldar!" Panggil seseorang yang semakin kencang.
"Eh, suara itu lagi, beneran ada yang kenal wanita cantik ini rupanya," ucap Eldar yang menyombongkan dirinya sendiri, lalu dia mengamati sekitarnya dan mencari seseorang yang memanggilnya tadi.
"Eldar, sebelah sini!" Teriak orang yang memanggilnya tadi. Eldar sontak langsung menatap ke arah sumber suara tadi.
"Tante Putri!" Teriak Eldar yang sadar kalau Tante Putri lah yang memanggilnya tadi, Eldar langsung berlari menghampiri Tantenya.
"Tante kok sendirian di sini? Mana Kakak Ipar?" Tanya Eldar yang tidak melihat Azila bersama Tantenya.
"Kakak Iparmu masih tidak sadarkan diri, sekarang dia sedang dijaga sama Kakakmu di kamar perawatan tadi," jelas Bunda Putri.
"Kok bisa pingsan, Tante? Gimana ceritanya? Siapa yang berani membuatnya pingsan? Apa Kakak Ipar terluka? Apa sekarang sudah baik-baik saja?" Ucap Eldar yang menyerbu Tantenya dengan pertanyaan yang dilontarkan dalam satu tarikan nafas.
"Tenanglah, pelan-pelan kalau bertanya," ucap Bunda Putri yang tertawa melihat kepanikan Eldar.
"Eldar kan kuatir, Tante. Ceritain dong, Eldar kepo nih," balas Eldar yang merengek.
"Begini ceritanya, bermula saat ... dan akhirnya, Kakak Ipar mu pingsan," jelas Bunda Putri secara rinci.
"Lalu, bagaimana keadaan dedek bayinya, Tante?" Tanya Eldar yang baru tahu kalau Kakak Iparnya sedang hamil.
"Syukurlah, kandungannya baik-baik aja," jawab Bunda Putri.
"Syukurlah," balas Eldar yang lega karena tidak terjadi apa-apa ke Kakak Iparnya dan calon bayinya.
"Kamu mau kemana sekarang?" Tanya Bunda Putri.
"Emm, Eldar enggak tahu, Tan," jawab Eldar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, kamu ikut Tante pulang, kita masak untuk makan siang dan sekalian kamu tidur di rumah Tante," ajak Bunda Putri.
"Siap, dengan senang hati saya menerima penawaran, Tante," jawab Eldar sambil bergaya seperti seorang Putri kerajaan.
"Tunggu, dimana bajumu?" Tanya Bunda Putri yang melihat Eldar memakai baju pasien.
"Iya ya, dimana bajuku," ucap Eldar sambil melihat baju yang sekarang menempel ditubuhnya, "Oh ya, dibawa Pak Matahari, Tante," lanjut Eldar dengan gembiranya.
"Siapa Pak Matahari itu?" Tanya Bunda Putri yang tidak tahu siap Pak Matahari itu.
"Itu lho, Tan. Asistennya Om Yoga, masa Tante tidak tahu sih," jawab Eldar.
"Asisten Om Yoga itu namanya Pak Suryo, bukan Pak Matahari," jawab Bunda Putri membenarkan.
"Iya, itu maksud Eldar, Tante," balas Eldar yang baru ingat.
"Jauh amat ingatanmu, dari Pak Suryo jadi Pak Matahari, haduh," ucap Bunda Putri sambil mengelus dahinya.
"Dekat, Tante. Banyak puisi yang menggambarkan kalau matahari jadi suryo, Tante," jawab polos Eldar.
"Itu surya, Eldar," balas Bunda Putri yang dibikin kesal sendiri oleh Eldar.
"Salah ya, Tan?" Tanya Eldar yang masih belum mengerti.
"Bodoamat, ayo cepat pulang, Tante udah enggak betah di sini," jawab Bunda Putri sambil berjalan pergi meninggalkan Eldar.
"Tan-tante, tunggu Eldar, Tan," teriak Eldar lalu mengejar Tantenya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙