My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Manis



Hari silih berganti, kini kandungan Azila sudah memasuki usia delapan bulan dan beberapa hari lagi akan masuk sembilan bulan.


Sudah satu Minggu Candra tidak berkutat dengan pekerjaannya, dia sudah melimpahkan semua urusan kantor kepada Pak Nyu dan Pak Suryo. Sekarang Candra lebih disibukkan dengan menemani Azila, setiap saat berada di samping Azila dan memenuhi semua permintaan Azila.


Seperti halnya sekarang, Candra sedang menemani Azila yang sedang fokus menonton drama Korea, awalnya Candra seperti merasa jijik atau tidak suka saat menonton untuk pertama kalinya, tetapi setelah menemani Azila menonton beberapa episode dan beberapa judul, Candra mulai suka dan malah dialah yang sering mengajak Azila untuk menonton drama Korea.


Duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Candra, menonton drama Korea favoritnya, dan ditemani setoples wafer coklat kesukaannya, "Nikmat Tuhan mana lagi yang kau sia-siakan?" Begitulah isi hati Azila sekarang.


Tangan kanan Candra memiliki peran sendiri untuk merangkul pinggang Azila sambil mengelus perut Azila, sedangkan tangan kiri Candra hanya diam seperti pajangan pelengkap anggota tubuh. Tangan kiri Candra mulai jahil dengan mencomoti wafer coklat Azila tanpa sepengetahuan pemiliknya.


Azila yang serius menonton drama hanya sekali mengambil sepotong wafer dalam semenit, tapi Candra bisa habis enam potong wafer dalam semenit, hal itu membuat Azila melotot kebingungan saat ia hendak mengambil sepotong lagi namun di dalam toples sudah habis tak bersisa.


"Kok habis? Perasaan aku baru makan beberapa potong aja deh tadi," gumam bingung Azila dalam hatinya.


Azila menoleh menatap Candra, "Yang, kamu nyomotin wafer ku, ya?" tanya Azila. Candra menggeleng.


"Kok kamu nuduh aku? Dari tadi, kan, aku lihat dramanya, Yang," kilah Candra.


"Santai aja dong, jangan ngegas gitu. Aku, kan, cuma tanya doang," ucap Azila sedikit sewot.


"Siapa yang ngegas, aku biasa aja tuh, kamu aja yang mikirnya aku ngegas," balas Candra, "Lagian aku nggak suka tuh sama wafer coklat mu," lanjut Candra.


"Makan tuh toples, emang enak ki kerjain," ucap Candra dalam hatinya.


Azila menjadi bingung kembali, dia berpikir kalau memang semua wafernya sudah dia makan. Kata orang-orang kan gitu, kalau orang gendut itu suka tidak sadar kalau dia sudah makan banyak. Namun, pikiran itu teralih fokus ke samping bibir Candra yang ada remahan entah apa tapi berwarna coklat.


Dengan bibir tersenyum, Azila melirik bibir seksi Candra, "Kena kami, Yang," ucap Azila dalam hati.


Tiba-tiba Azila mencium dan menyesap bibir Candra. Candra jadi kaget karena tiba-tiba Azila mencium bibirnya dengan agresif, dia tidak mau kalah dengan Azila, lalu Candra menakup wajah Azila membalas ciuman itu dengan lebih agresif. Ciuman Azila mulai merembet ke samping bibir Candra menyapu remahan berwarna coklat di sana, setelah remahan itu menyentuh lidahnya, Azila segera menyudahi aksinya dan mencoba merasakan remahan itu.


"Hmm ... gurih ... manis," ucap Azila sambil terus menganalisa remahan yang ia dapat dari samping bibir Candra.


"Apa seenak, itu, rasa bibirku, sampai kamu seperti juri master chef?" tanya Candra sambil mengusap bibirnya yang basah dan menjilat jarinya karena penasaran juga dengan rasanya.


"Hmm ... biasa aja, sih, rasanya, tapi kenapa dia bilang gurih manis, ya?" gumam Candra dalam hati.


Karena dilanda rasa penasaran, akhirnya Candra menyerobot dan mencium bibir Azila tanpa permisi, dia menjelajahkan lidahnya ke seluruh bibir Azila dan berpetualang ke setiap inci mulut Azila.


Setelah semua tempat di bibir dan mulut Azila ia jamah, Candra menyudahi aksinya dan kembali merasakan rasa yang tertinggal dari ciumannya, "Hmm ... ternyata yang bikin manis, itu, bibirmu, Sayang," ucap Candra sambil kembali mengusap bibirnya dan menjilatnya lagi.


Candra seperti ketagihan setelah ada rasa manis yang ia dapat, lalu dia menakup wajah Azila dan hendak mencium Azila lagi. Namun, sebelum bibirnya menyentuh bibir Azila, satu pukulan keras dengan empat jari mendarat sempurna di jidatnya hingga tercipta bunyi nyaring yang bisa dirasakan.


"Head shot," ucap Azila sambil meniup tangannya.


"Kok main pukul jidat, sih, Yang? Pusing tau," keluh Candra sambil mengelus dahinya.


"Makanya, jadi orang jangan suka bohong sama mesum. Tadi ditanya makan wafer ku apa enggak jawabnya enggak, terus yang bikin manis, itu, bukan aku, tapi karena remahan wafer yang ketinggalan di samping bibirmu," jawab Azila.


"Iya-iya, aku yang makan wafer mu," ucap Candra mengaku.


Cupp ....


Azila mengecup dahi Candra lalu mengelusnya, "Apa masih sakit?" tanya Azila dengan penuh perhatian.


Candra menggeleng dengan pipi yang mulai bersemu merah, "Sakitnya sudah pindah, ke sini," ucap Candra sambil menunjuk bibirnya dan memasang wajah sedih.


Azila tersenyum melihat wajah Candra yang dibuat sedih dan mencoba membuat poppy eyes namun gagal karena wajahnya tidak cocok.


Cupp ....


Satu kecupan singkat kembali Azila sarangkan di bibir Candra, memang hanya sekedar kecupan dan ciuman yang sekarang bisa ia kasih untuk membendung kebutuhan biologis Candra, mengingat perutnya yang sudah semakin besar dan membuat tenaganya cepat terkuras, bahkan sekarang dia sering menggunakan kursi roda untuk pergi ke mana-mana.


"Terima kasih, Sayang," ucap Candra sembari memeluk Azila.


"Terima kasih juga karena kamu sudah mau merawat, memberi perhatian, mengerti keadaan ku, dan mengesampingkan kebutuhan biologis mu," balas Azila.


"Itu, sudah menjadi tugasku, Sayang," ucap Candra.


Kehangatan pelukan membuat mereka tidak ingin beranjak dan melepaskan pelukan itu. Candra menjilat bibirnya dan merasakan ada remahan wafer yang tersisa.


"Manis," ucap Candra dalam hati, "Ah, aku tahu," ucap Candra dalam hati.


Dengan senyum bahagia dan sebuah ide yang pasti ada unsur mesumnya, Candra melepaskan pelukannya, "Sayang, tunggu di sini, ya, aku mau ke kamar dulu," ucap Candra sembari berlari meninggalkan Azila tanpa menunggu jawaban Azila terlebih dahulu.


"Jangan lari, Sayang," ucap Azila karena takut kalau saat Candra lari akan terjatuh.


Selang satu menit Candra sudah kembali dari kamar yang hanya berjarak 15 meter dari ruang keluarga, Candra dan Azila sudah pindah ke kamar bawah karena kondisi Azila yang tidak memungkinkan untuk naik turun tangga. Candra kembali duduk di sofa dengan satu toples wafer coklat di tangannya.


"Ngapain ambil wafer lagi? Kan tinggal satu toples, itu, aja, Yang, di kamar," ucap Azila.


"Nanti aku suruh orang beli lagi yang banyak," jawab Candra, "Sekarang aku suapin kamu makan wafernya, ya," lanjut Candra sambil membuka segel toples. Azila hanya bisa mengangguk karena memang dia masih ingin ngemil wafer coklat kesukaannya.


"Nah, ayo buka mulutmu," ucap Candra dengan sepotong wafer di tangannya.


Segera saja Azila membuka mulutnya dan memajukan wajahnya.


"Mmhhh...!" Azila terkejut karena Candra menyuapinya dengan cara berbeda, saat Azila memajukan wajahnya, Candra dengan cepat memasukkan wafer itu ke mulutnya dan langsung menyambar bibir Azila.


Wafer yang tadinya berada di mulut Candra kini sudah berpindah ke mulut Azila.


Muchh ....


Suara yang ditimbulkan saat bibir Candra dan Azila berpisah.


"Manis," ucap Candra sambil tersenyum. Azila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Candra.


Jangan lupa like dan komen. Dah tu je.