My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Dikerjain



Sudah lima menit lebih berlalu, Candra masih saja memeluk Azila dari belakang sambil sesekali mencium pundak Azila yang dia gigit tadi. Azila hanya diam saja diperlakukan seperti itu karena dia juga merindukan belaian dari Candra.


"Mau sampai kapan kita seperti, ini? Kakiku sakit tau, pegal berdiri terus," ucap Azila.


"Sampai kamu nggak marah lagi," jawab Candra sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Azila.


"Huuftt." Azila membuang napas besar lalu menunduk.


Melihat Azila yang menunduk dan tadi bilang kalau kakinya pegal membuat Candra mulai kasihan, dia melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh Azila menghadapnya. Azila mendongak menatap Candra ketika tubuhnya di putar hingga 180°.


Candra tersenyum ketika melihat Azila masih saja memasang wajah cemberut dengan bibir yang dimanyunkan. Tanpa pemberitahuan atau apapun Candra memegang bagian bawah pantat Azila lalu mengangkatnya dengan sedikit melempar ke atas.


Azila sempat terkejut ketika Candra memegang bagian bawah pantatnya, lagi-lagi dia berpikir kalau tangan Candra mau bermain nakal dengan pantatnya. Azila langsung merangkul leher Candra ketika tubuhnya diangkat oleh Candra, "Bikin orang jantungan aja sih, ini, orang," gerutu Azila dalam hati.


"Kamu mau ngapain lagi sih, Yang? Pakai angkat-angkat aku segala!" gerutu Azila.


"Katanya tadi kamu capek, makanya aku gendong," jawab Candra.


"Tapi badan aku berat, Sayang. Nanti kalau kamu encok gimana?" tanya Azila.


Candra malah tersenyum mendengar pertanyaan Azila barusan. Azila jadi bingung kenapa tiba-tiba Candra tersenyum begitu senang seperti orang gila.


"Kenapa malah senyam-senyum kayak orang gila gitu?" tanya Azila, "Masih waras kan kamu? Jangan gila dulu, Kean sama Lean masih kecil, kasihan kalau mereka tau jika papanya orang gila," lanjut Azila.


Cupp


Tanpa permisi terlebih dahulu Candra mencium bibir Azila, "Ih, apaan sih, main cium-cium aja," gerutu Azila sambil mengelap bibirnya dengan salah satu tangannya.


Candra mulai merasakan pegal di kakinya setelah menggendong Azila yang memang sedikit lebih berat setelah melahirkan. Candra berjalan membawa Azila duduk ke kursi tanpa sandaran yang ada di tengah fitting room.


"Kamu sedikit lebih berat dari sebelum hamil," ucap Candra setelah duduk di kursi dengan Azila yang duduk menghadapnya di atas pangkuannya.


"Kenapa? Kamu bosen kalau aku jadi gendut?" tanya Azila.


Cupp


Lagi-lagi Candra mencium bibir Azila tanpa permisi dulu, "Apa aku pernah bilang kalau aku bosen sama kamu? Apa aku pernah bilang kalau kamu gendut, aku bakal nggak cinta lagi sama kamu? Apa aku pernah bilang kalau aku bakal ninggalin kamu kalau kamu gendut?" tanya Candra dengan wajah serius.


Azila menunduk ketika mendapat pertanyaan itu dari Candra, memang Candra tidak pernah mengeluh tentang tubuhnya yang sedikit melebar setelah lahiran. Tapi, wanita mana sih yang tidak takut kalau tubuhnya tidak sebagus dulu terus suaminya bakal bosen dan melirik wanita lain yang lebih cantik dan seksi.


"Jangan menunduk, lihat mataku, Sayang!" ucap Candra.


Candra mengangkat dagu Azila dengan tangannya karena Azila tidak mau menatapnya, "Percayalah padaku, aku akan selalu mencintaimu bagaimanapun keadaanmu, entah kamu gendutan, entah kamu kurusan, atau apalah, aku akan selalu mencintaimu," ucap Candra.


Azila masih diam saja, "Maafin aku kalau tadi bercanda ku tidak tahu waktu, dan tempat. Tapi, tadi aku benar-benar hanya bercanda, Sayang," jelas Candra, "Maafin aku, jangan marah lagi, ya, aku nggak bisa kalau kita marah-marahan terus debat seperti tadi," lanjutnya sambil mengusap air mata Azila yang tiba-tiba menangis.


"Kenapa baru minta maaf sih? Aku sudah nungguin dari tadi tau," ucap Azila di sela tangisnya.


"Ceh," decih Candra, "Ternyata kamu gengsi minta maaf duluan," ucap Candra sambil tersenyum.


"Masa, iya, cewek minta maaf duluan, mau ditaruh di mana nanti mukaku," balas Azila.


"Iya-iya, udah dong nangisnya, nanti aku ikutan nangis lho," ucap Candra.


Sepintas ada ide nakal di otak Azila, sudah lebih dari dua bulan dia tidak memberi servis plus-plus untuk suaminya ini. Azila mulai nakal dengan menggoyangkan pantatnya yang berada tepat di atas kejantanan Candra.


Selain menggoyangkan pantatnya, Azila juga mulai menciumi leher dan pundak Candra. Perlahan Azila bisa merasakan kejantanan Candra yang semakin besar dan mengeras. Walaupun Azila masih menggunakan celana dalam dan Candra yang masih memakai celana pendek dan celana dalam, Azila masih bisa merasakan kehangatan yang dari batang keras itu.


"Tepat di tengah," bisik Azila.


"Berhentilah bergerak, Sayang," ucap Candra.


Azila menghentikan aktivitasnya, "Kenapa? Apa aku tidak menarik lagi?" tanya Azila.


"Bukan, bukan itu maksudku," jawab Candra.


"Lalu?"


"Kita belum makan malam, Sayang. Bagaimana kalau nanti kita pingsan di tengah permainan?" tanya Candra.


"Hm," dehem Azila sembari turun dari pangkuan Candra.


Candra ikut berdiri sambil membenarkan batang kerasnya yang sesak dan kepanasan di dalam sana. Azila yang melihat itu langsung tersenyum dan mendapatkan ide jahil untuk Candra, dia merapikan rambutnya ke belakang lalu berlutut di depan Candra.


Kini wajah Azila berada tepat di depan adik kecil Candra yang masih tegak berdiri, dia kembali merapikan rambutnya ke belakang. Melihat itu membuat Candra sampai kesulitan untuk menelan ludahnya.


"Sa-sayang, ka-kamu mau ngapain?" tanya Candra yang jadi gugup ketika tangan Azila mulai meraba pahanya.


Azila mendongak menatap wajah Candra lalu tersenyum nakal, dia kembali melanjutkan aksinya dengan mulai meraba batang keras di balik celana Candra.


"Sayang, kita cari makan dulu yuk," ajak Candra sambil menghentikan kedua tangan Azila yang makin nakal.


Azila kembali menatap Candra sambil tersenyum nakal, dia melepaskan tangan Candra yang menghentikan aksinya. Setelah terlepas Azila mulai menarik celana pendek Candra hingga melorot sampai di bawah lutut. Tidak sampai di situ saja aksinya berhenti, dia kembali meraba dan mengelus-elus kejantanan Candra yang semakin terasa hangat dan berkedut.


Candra tidak tahan lagi, dia menatap langit-langit fitting room ketika darahnya mulai mendesir akibat sentuhan-sentuh dari Azila. Melihat suaminya yang sudah keenakan dibuatnya, Azila mulai melorotkan celana dalam Candra hingga ke bawah lutut.


Tuingg!!! Adik kecil Candra mencuat setelah terbebas dari rumah sesak dan pengapnya. Azila tersenyum melihat adik kecil Candra yang memang sudah dia rindukan juga. Tapi, bukan sekarang waktunya untuk bermain dengannya karena dia belum makan dan ingin mengerjai pemilik Candra kecil itu.


Azila berdiri dari jongkoknya lalu pergi meninggalkan Candra yang terpejam ingin mendapatkan lanjutan dari aksi istrinya. Candra merasa ada yang aneh karena tidak kunjung mendapatkan perlakuan yang dia inginkan dari Azila.


Candra membuka matanya lalu melihat ke sekelilingnya, dia begitu terkejut ketika Azila sudah mengenakan sweater merah muda tadi dan sekarang sedang memakai celana pendek milik Candra yang ternyata pas di pahanya.


"Sayang, kenapa pakai baju?" tanya Candra, "Nanggung nih," lanjutnya. Wajah Candra sudah merah karena suhu badannya naik.


"Tadi katanya mau beli makan dulu? Ya, ayo, sekarang beli makan," jawab Azila sambil tersenyum senang melihat kondisi Candra saat ini.


"Lalu, adik kecilku, ini, gimana?" tanya Candra sambil mengacungkan adik kecilnya ke Azila.


"Suruh tidur lagi aja, kasih tau kalau kita mau makan dulu," ucap Azila, "Ayo, cepat pakai bajumu, udah jam sembilan lewat, ini," lanjutnya, lalu Azila berjalan pergi meninggalkan Candra yang telanjang bulat dengan juniornya yang masih berdiri tegak.


"Sialan, bisa-bisanya aku dikerjain sampai begini, emangnya mudah suruh dia tidur lagi?" gerutu Candra, "Awas aja kamu nanti, ku bikin begadang sampai subuh biar tau rasa kamu," lanjutnya.


Ayo semuanya yang sudah baca jangan lupa like sama komen. Dengan like dan komen kalian saja bisa memberi author semangat untuk rajin update.