My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
My Enemy



Sepanjang perjalanan tangan Azila tidak pernah lepas dari perut Candra, selalu melingkar dengan erat. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit Candra menghentikan sepeda motornya di depan warung makan biasa, tepatnya warung penyet yang banyak dijumpai di pinggir jalan.


"Kamu yakin mau makan di sini?" tanya Candra.


Azila mengangguk, "Aku udah lama nggak makan di pinggir jalan kayak gini," jawab Azila.


"Ya udah, aku ikut kamu aja," ucap Candra.


Candra turun terlebih dahulu lalu Azila ikut turun. Sebelum tangan Azila menyentuh pengait helm, Candra lebih dulu melepaskannya dan membuka helm Azila. Setelah itu dia membuka helmnya sendiri dan menaruhnya menutupi spion sepeda motor.


"Ayo," ajak Candra sambil mengulurkan tangannya.


Azila menggapai tangan Candra yang terulur untuknya. Berjalan berdampingan bak raja dan ratu kerjaan, hanya seperti saja. Tapi mereka memang yang paling tampan dan cantik di antara para pengunjung yang sedang makan di sana.


Pengunjung yang jumlahnya bisa dihitung jari langsung tertarik dengan dua orang yang baru duduk di depan penjualannya langsung. Kebanyakan orang Indonesia yang jarang melihat orang tampan atau cantik pasti akan menggugah jiwa mereka untuk menelisik setiap inci orang itu.


"Sultan nyasar nih," bisik laki-laki dengan penampilan serba hitam ke teman di sampingnya.


"Iri bilang aja sahabat," balas teman laki-laki tadi.


"Anak kelelawar, Lu," ucap laki-laki berbaju serba hitam.


"Apaan tuh?" tanya teman laki-laki itu.


"Kampret, bodoh," jawab laki-laki berbaju serba hitam.


"Item-item di pipi, Lu," balas temannya.


"Apaan?" tanya laki-laki berbaju serba hitam.


"Ta-i," jawab temannya sambil memajukan wajahnya.


"Itu, tahi lalat bodoh," balas laki-laki tadi dengan sedikit ngegas.


"Yang penting sama-sama ta-i," sahut temannya.


"Bodoh," ucap laki-laki berbaju serba hitam.


"Dari tadi bodah bodoh bodah bodoh, nggak ada akhlak, Lu?" tanya temannya dengan sedikit ngegas.


"Kan, itu, nama lu, Bodoh," jawab laki-laki berbaju serba hitam.


"Oh, iya ya, kan, itu, namaku," ucap temannya yang tersadar, "Tapi nama gue nggak pakai h kampret belakangnya," lanjutnya, "Eh!" Bodo memukul jidat laki-laki berbaju serba hitam dengan tangannya yang terkena sambal.


"Bodoh!" ucap laki-laki tadi sambil mengusap jidatnya lalu balik memukul Bodo dengan tangannya yang juga terkena sambal.


"Kampret!" keluh Bodo sambil membersihkan sambal yang menempel di jidatnya.


Sepasang kekasih yang duduk di seberang meja mereka menahan hasratnya untuk mengeluarkan suara yang disebut ngakak. Jarang-jarang mereka makan malam di pinggir jalan dapat tontonan teater real life.


Beralih ke sepasang pasutri yang sebulan lalu dikaruniai dua malaikat dari Tuhan. Candra melepas jaketnya lalu menutup paha Azila yang tidak tertutup sempurna oleh celana pendeknya.


Laki-laki yang benar-benar mencintai wanitanya tidak akan mau berbagi apapun tentang wanitanya.


@anbi_21 ,Juli 2020


"Makasih," ucap Azila. Candra tersenyum manis untuk menjawab ucapan terima kasih Azila.


Azila memang agak risih jika ada orang tidak dikenal yang melihatnya, apalagi sekarang tubuh bagian bawahnya hanya tertutup sampai pertengahan paha saja. Untungnya dia punya suami yang selalu melindungi dan menjaganya. Ya, walaupun terkadang mereka suka seperti Tom and Jerry yang selalu cekcok dalam segala hal.


"Makan apa, Mas, Mbak?" tanya Ibu penjual.


"Em, ada apa aja, Buk?" tanya Azila.


"Tinggal ayam, bebek, puyuh, sama lele," jawab Ibu penjual, "Gurami, burung dara, sama belutnya udah habis," lanjutnya.


"Aku bebek aja deh, Buk," ucap Azila, "Dada ya, Buk," lanjutnya.


"Oke, Mbak," jawab Ibu penjual, "Masnya apa?" lanjutnya bertanya ke Candra.


"Mau dada atau apa?" tanya Ibu penjual.


"Dada aja, Buk. Lebih empuk," jawab Candra sambil melihat Azila dan tertawa kecil.


"Oke, siap," ucap Ibu penjual.


Ibu penjual mengambil dada ayam dan dada bebek di etalase kaca yang ada di atas meja lalu memasukkannya ke kolam minyak panas.


"Minumnya apa, Mas, Mbak?" tanya remaja laki-laki yang khusus melayani minuman.


"Minumnya ada apa aja, Mas?" tanya Candra.


"Ada es teh, teh anget, es jeruk, jeruk anget, sama es degan, Mas," jawab remaja tadi.


"Kamu apa, Sayang?" tanya Candra.


"Aku es teh aja," jawab Azila. Candra mengangguk.


"Es teh dua, Mas," ucap Candra sambil mengacungkan dua jari tangan kanannya. Remaja tadi mengangguk lalu segera membuatkan pesanan Candra dan Azila.


"Sambalnya mau pedes apa tidak?" tanya Ibu penjual.


"Jangan pedes-pedes, Buk," jawab Azila.


"Siap," balas Ibu penjual.


Dengan pengalaman yang ia dapat selama ini, Ibu penjual memasukkan cabai, bawang merah, garam, micin, dan tomat dengan takaran menurut instingnya sebagai koki jalanan. Ibu penjual tadi mengambil batu yang berbentuk seperti palu lalu mulai menekan dan memutar semua bahan yang ada di cobek. Tidak hanya tangannya yang berputar, tapi pinggulnya pun ikut bergoyang mengimbangi putaran tangannya.


Es teh sudah duduk duduk di depan mereka lalu nasi, sambal, daging bebek, daging ayam, dan ati ampela ayam goreng juga sudah tersaji di depan mereka. Candra dan Azila mulai menyuap ke mulut mereka masing-masing sampai hanya tersisa piring kotor, gelas, dan tulang yang masih tersisa sedikit daging.


Setelah beristirahat sebentar dan membayar makanannya, Candra dan Azila beranjak pergi dari sana.


"Kita pulang atau ke mana dulu?" tanya Candra.


"Beli titipan Ayah sama Bunda dulu," jawab Azila.


"Beliin Pak Ujang juga sekalian," ucap Candra.


"Terserah kamu," jawab Azila.


Candra mengambil helm bogo lalu memasangkannya ke kepala Azila. Memang hanya perlakuan sederhana, tapi itu berhasil membuat Azila senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Candra.


Azila menggeleng dengan cepat, "Eng-enggak, enggak apa-apa," kilah Azila.


"Kok senyum-senyum sendiri kayak orang gila," balas Candra.


"Udah-udah, ayo cepet jalan, keburu kemalaman nanti pulangnya," ucap Azila mengalihkan arah pembicaraan.


"Ya udah, ayo," ucap Candra sembari naik ke sepeda motor lalu memakai helmnya.


"Emang aku udah gila gara-gara kamu," batin Azila sembari naik ke sepeda motor lalu melingkarkan tangannya ke perut Candra.


Candra menyalakan sepeda motornya lalu mulai menjalankannya. Azila memasukkan tangannya ke saku jaket Candra karena dia sedikit kedinginan diterpa angin malam.


"Tuhan memang maha asik, ya. Menyatukan kebencian ke ikatan suci yang akhirnya merubah benci, itu, menjadi benih-benih cinta," ucap Azila dalam hati.


"Hanya dengan perlakuan kecil kamu sudah membuatku selalu tergila-gila padamu, padahal dulu setiap gerak-gerikmu adalah hal yang ku benci, tapi sekarang malah jadi sebaliknya," lanjut Azila.


"My enemy, i love you," gumam Azila mengeratkan pelukannya.


Jangan lupa like.


Oh ya gaes, kalau aku nulis di platform lain , kalian mau baca nggak?