My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Positif thinking



15:10 WIB


Candra yang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi telah sampai di sebuah lapangan besar dengan pesawat yang sudah siap lepas landas. Melihat tuannya yang sudah datang, para pengawal dengan setelan jas hitam, dasi merah, dan berkaca mata hitam langsung berjejer di sepanjang karpet merah menuju pintu pesawat.


Mobil Candra telah berhenti di ujung karpet merah yang sudah di siapkan, lalu dia turun dari mobilnya dan berjalan melewati karpet merah dengan sangat gagah dan berwibawa.


"Selamat sore, Tuan Candra," sapa setiap pengawal yang Candra lewati, dan Candra tidak menggubris semua sapaan dari para pengawalnya. Candra dengan cepat menaiki tangga pesawat dan masuk ke dalamnya, lalu para pengawal juga masuk ke dalam pesawat.


Di dalam pesawat.


"Semua sudah siap, segera lepas landas," ucap pengawal dalam HT.


"Siap, pesawat akan segera lepas landas," balas pilot yang sudah bersiap lepas landas. Pesawat telah lepas landas dan sudah terbang tinggi di angkasa.


"Selamat sore, Tuan Candra, apa Tuan ingin makan atau minum?" Tanya seorang pramugari dengan senyum ramah.


"Tidak, panggilkan Pak Nyu kesini!" Jawab Candra dengan nada datar dan tatapan yang dingin. Pak Nyu adalah sekertaris pribadi Candra.


"Baik, Tuan," jawab pramugari cantik tadi, lalu dia mengundurkan diri dan berjalan ke kabin Pak Nyu berada.


≈≈≈


"Permisi, Pak Nyu. Anda di panggil oleh Tuan Candra," ucap pramugari tadi dengan menundukkan kepalanya saat berbicara.


Pak Nyu langsung berdiri dan menuju ke kabin dimana Candra berada dan meninggalkan pramugari tadi.


≈≈≈


"Selamat sore, Tuan Candra, apa Tuan membutuhkan sesuatu?" Tanya Pak Nyu.


Candra mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikan ponsel itu ke Pak Nyu, "Jangan angkat setiap telepon yang masuk dan batalkan semua jadwal ku 5 hari ke depan!" Perintah Candra dengan nada datar dan tanpa menatap Pak Nyu saat dia berbicara.


"Baik, Tuan. Apa ada lagi?" Tanya Pak Nyu lagi.


Candra hanya membalas dengan mengangkat telapak tangannya setinggi bahu dan mengusir Pak Nyu pergi.


"Baik, Tuan Candra. Saya undur diri, jika Tuan Candra membutuhkan sesuatu, saya ada di kebin depan," ucap Pak Nyu yang mengerti dengan isyarat tangan Candra dan lekas pergi menuju tempatnya.


Candra menatap awan yang berhamburan di langit dan memandangi permukaan bumi yang samar karena tertutup oleh awan tipis. Candra mengepalkan tangannya yang ada di atas meja depannya.


"Sial! sial! si..aaal!" dengus Candra dengan kemarahan yang sudah tak kuasa dia tahan lagi, Candra mengacak-acak rambutnya dan sesekali memukul meja di depannya.


"Kenapa aku bisa percaya pada mulut manisnya itu, padahal aku sudah tau kalau dia adalah musuhku sejak dulu," umpat Candra yang tak henti-hentinya memukul meja di depannya.


"Jika kamu bisa main dengan laki-laki lain di belakang ku, maka aku juga bisa bermain dengan perempuan lain, Zila. Semua ini kamu yang memulainya, Sayang. Jangan salahkan aku nantinya, karena aku hanya mengikuti permainan mu," ucap Candra dengan senyum yang menyeringai.


≈≈≈


Azila sudah mengelilingi semua lantai Pondok Indah Mall, tetapi dia masih belum juga menemukan keberadaan Candra, "Dimana sih dia, bikin orang capek aja," dengus Azila yang sudah kecapekan karena sudah berjalan mengelilingi seluruh lantai di Pondok Indah Mall.


"Apa mungkin dia pulang duluan kali ya? Tapi, masa dia tega ninggalin aku sendiri di sini?" Tanya kebingungan Azila pada dirinya sendiri.


"Telpon aja kali ya," gumam Azila, lalu dia merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya dan mencari kontak Candra yang di beri nama "My Husband 💙", setelah menemukan kontak yang dia cari, Azila langsung menelponnya.


"Mohon maaf, nomor yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan, mohon hubungi beberapa saat lagi," suara wanita dalam panggilan tersebut.


Setelah beberapa menit Azila menunggu, akhirnya taksi online yang dia pesan sudah datang, "Mbak Azila ya?" Tanya mas supir taksi online yang kisaran berumur 25-28 tahun.


"Iya, Mas," jawab singkat Azila.


"Mari, silahkan masuk," ucap Mas supir dengan ramah.


Azila masuk ke dalam taksi online dan duduk di kursi belakang, lalu Mas supir langsung menjalankan mobilnya menuju titik yang ditujukan oleh aplikasi.


Waktu telah berlalu, dan kinj taksi online yang di naiki Azila sudah sampai di depan gerbang rumah keluarga Wibawa.


"Berapa, Mas?" Tanya Azila sambil membuka tasy.


"Sesuai aplikasi, Mbak. 82 ribu rupiah," jawab Mas supir dengan senyum ramah.


"Ini, Mas!" Balas Azila sambil menyodorkan satu lembar uang 100 ribuan.


"Oh, iya, Mbak. Kembali 18 ribu ya, Mbak," ucap Mas supir sambil menerima uang dari Azila dan mencari uang kembalian untuk Azila.


"Tidak usah, Mas. Buat Mas aja kembaliannya," ucap Asila yang sudah membuka pintu dan melangkah keluar.


"Ohh, terima kasih banyak, Mbak," balas Mas supir.


"Sama-sama, Mas," balas Azila, lalu beranjak pergi meninggalkan taksi online.


"Gini nih enaknya punya penumpang orang kaya, selalu di kasih lebih, nggak seperti emak-emak jaman sekarang yang selalu protes, he he, laris manis," ucap Mas supir yang bahagia sambil memukul-mukulkan uang pemberian Azila ke setir kemudi, lalu dia menancap gas sambil menunggu orderan penumpang lain.


Di dalam rumah keluarga Wibawa.


"Selamat sore, Bundaku sayang," sapa Azila sambil memeluk pundak Bunda Putri yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, Bunda Putri bersantai dengan ditemani majalah di tangannya dan teh di meja depannya.


"Ehh, menantuku tersayang, kok udah pulang? Mana Candra?" Balas Bunda Putri.


"Candra belum pulang kah, Bun? Tadi Azila di tinggal sendirian di mall, Bun. Sama Candra," jawab Azila yang mulai bingung.


"Bunda baru duduk di sini, Sayang. Mungkin Candra sudah sampai duluan sebelum Bunda duduk di sini," jawab Bunda Mitha.


"Kalau begitu, Zila ke kamar dulu ya, Bun," pamit Azila sambil mencium pipi Bunda Putri lalu berlari pergi ke kamarnya.


≈≈≈


Di kamar Azila dan Candra.


"Sayang," panggil Azila yang baru membuka pintu kamar, tetapi suasana kamar masih sepi, "Yang," panggil Azila lagi sambil celingak-celinguk mencari Candra. Azila sudah mencari ke setiap ruangan di kamarnya dan di ruang kerja Candra, tetapi semua nihil, dia tidak menemukan Candra.


"Kamu kemana, Candra," lirih Azila yang duduk di ranjangnya.


"Apa yang kamu pikirkan Azila, jangan berpikir macam-macam, mungkin dia ada kerjaan mendadak yang tidak bisa di tinggal," ucap Azila pada dirinya sendiri agar positif thinking dan tidak memikirkan hal yang aneh-aneh.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙